MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
49. Pelayan yang berhianat


__ADS_3

Saga keluar dari kamar saat memastikan Dita telah tidur dengan lelap.


Saat itu ia terkejut saya melihat Lorano berada di depan pintu kamarnya.


"Kau sudah selesai?" Tanyanya.


"Ya, dimana istrimu?" Kata Lorano dijawab Saga yang membuka pintu lalu keduanya memasuki kamar.


"Dia di culik oleh Afgan, lalu mereka memberi racun padanya. Sejak saya itu berat badannya terus bertambah dan jerawat muncul di wajahnya." Kata Saga menjelaskan.


Lorano tidak berkata apa pun, ia hanya menyentuh pergelangan tangan Dita dan merasakan denyut nadinya.


"Selama sebulan lebih, konsentrasi obat dalam tubuhnya terus bertambah.


Apa kau tidak pernah memperhatikan apa yang dia makan? Atau siapa yang berada di sekitarnya?" Tanya Lorano pada Saga.


"Apa menurutmu ada,,"


"Kau bodoh! Tentu saja itu yang ku maksud. Besok pagi saat sarapan biarkan aku memeriksanya." Kata Lorano lalu pria itu keluar dari kamar.


"Jangan ganggu aku sampai besok." Lagi kata Lorano saat ia berjalan keluar.


Sementara Saga, ia duduk di samping Dita Saga memegang tangan Dita "Sebentar lagi, kumohon bersabarlah. Semuanya akan segera berakhir." Katanya.


...


Pagi hari, Topia sudah kembali dari perjalanan dinasnya. Ia menyiapkan sarapan bersama para pelayan.


"Omelet?" Ucap Dita sat ia melihat sarapan yang ditata rapi di atas meja.


Ia langsung duduk di kursinya sembari menunggu dua pria yang masih beberes di kamar mereka.


"Kau sudah lama menunggu?" Tanya Saga saat ia datang bersama Lorano.

__ADS_1


"Baru saja." Jawab Dita pada Saga lalu ia menoleh ke arah Topia.


"Duduklah. Kita sarapan bersama." Kata Dita pada Topia.


"Maaf Nona, saya masih harus menyelesaikan beberapa tugas." Ucap Topia lalu ia meninggalkan ketiga orang itu.


Sementara Saga, ia langsung melihat ke arah Lorano.


"Oh baiklah," jawab Lorano dengan malas lalu ia berjalan mendekati kedua orang itu.


Dita memandangi mereka dengan tatapan bingung, tapi ia hanya diam saja.


Setelah duduk di samping Saga, Lorano mencicipi satu per satu makanan.


"Tidak ada yang aneh." Ucap Lorano.


"Lalu, apakah dari obat?" Tanya Saga.


"Aku belum selesai." Ucap Lorano lalu ia meraih piring di depan Dita.


"Berikan sendokmu," katanya pada Dita.


Dita langsung memberikan sendoknya lalu Morano memeriksanya.


"Ada racun di sendok ini." Katanya membuang sendok itu.


"Kau yakin?" Tanya Saga.


"Kau meragukanku?"


"Aku akan mengambil sendok baru," ucap Saga lalu ia mengambil sendok baru untuk Dita.


'Anjing-anjingku akan senang hari ini.' gumamnya lalu mereka melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Setelah sarapan, Saga mengumpulkan semua pelayan yang bekerja di ruang, termasuk Topia.


"Siapa yang menyiapkan sarapan pagi ini?" Tanya Saga dengan nada menekan membuat beberapa pelayan bergetar di tempat mereka.


"Jawab!" Lagi ucap Saga saat tak ada yang mengaku.


"Sa,, saya Tuan." Jawab sala satu pelayan sambil maju kedepan.


Lalu seorang pelayan lain maju juga.


"Apa yang kalian siapkan?" Tanya Dita memandangi pelayan itu. Ia tidak tega kalau Saga yang berbicara, suara pria itu saja sudah cukup membuat orang ingin menggali kuburannya sendiri.


"Saya menyiapkan omelet dan juga jus."


"Dan saya menyiapkan roti dan selainya." Jawab keduanya.


"Siapa yang bertugas menata peralatan makan?" Tanya Dita.


"I,, itu saya." Jawab seorang pelayan yang bertubuh gemuk.


"Benar hanya kau?" Lagi tanya Dita sembari memperhatikan pelayan itu.


"I,, iya." Jawab pelayan gemuk dengan kaki gemetaran.


"Jadi kau tahu kesalahanmu?" Tanya Dita.


"Apa maksud Nona?" Tanya balik pelayan itu dengan keringat sudah memenuhi seluruh wajahnya.


"Tidak usah repot-repot membuatnya mengaku. Anjingku akan makan kenyang hari ini." Kata Saga menarik Dita ke pelukannya lalu pelayan gemuk itu langsung terjatuh ke lantai.


"Tuan!! Tidak!! Saya tidak bersalah! Saya tidak tahu apa pun! Saya tidak menaruh racunnya, tolong lepaskan saya!" Teriaknya setengah menangis.


"Hmmm, kau tahu tentang racun? Kami bahkan tak pernah mengatakannya!" Ucap Lorano memandangi pelayan itu.

__ADS_1


"Sa,, saya,, sa,, saya mengaku!" Kata pelayan itu lalu ia bersujud ke lantai meratapi nasibnya.



__ADS_2