
"Apa yang terjadi?" Tanya Lorano pada pria bertopeng.
"Kau bertanya padaku? Akulah yang harus menanyakan itu padamu, mengapa ayahmu sendiri menyuruhmu untuk menyusup ke dalam kediamanmu? Apa kalian bertengkar?" Tanya pria bertopeng itu sembari membuka topengnya.
"Kemarilah," kata Lorano lalu keduanya berjalan ke arah sofa dan duduk saling berhadapan."
"Siapa target mu di rumah ini?" Tanya Lorana masih dengan gayanya yang selalu mengamati sikap lawan bicaranya.
"Ayahmu menyuruhku membunuh semua orang di sini, tapi aku terkejut begitu melihat mu disini."
"Hahaha... Ayahku sungguh perhatian!" Tawa Lorano. "Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" Lagi tanya Lorano.
"Menurutmu? Aku tidak semudah itu untuk membunuh mu."
"Sayang sekali, tapi aku tidak tertarik dengan muslihat yang sedang kau katakan. Sebaiknya kau berkata jujur sekarang, mumpung aku masih berbaik hati!" Ucap Lorano dengan wajah yang serius sambil melihat acuh pada pria di depannya.
"Apa maksudmu? Kau tidak percaya padaku? Kita teman lama!"
"Aku benci pada orang yang suka membuang-buang detik berhargaku." Lagi, Morano dengan sikap dingin penuh peringatan pada lawan bicaranya.
"Haha, ayolah kawan, kau tahu aku tidak mungkin bohong."
Lorano terkekeh, "Sejak berjabat tangan tadi, aku sudah menyuntikkan virus ke tubuhmu.
Dalam beberapa menit, kau akan menderita jika tidak mendapat penawarnya." Ucap Lorano dengan santai membuat pria di depannya sangat terkejut.
__ADS_1
Bahkan Senya yang tadinya hanya diam memperhatikan mereka kini mengeryit. 'Trik ini, sama dengan yang dialami senior. Apa mungkin orang yang tidak tertangkap itu adalah dia?' gumamnya.
"Waktumu kurang dari 10 menit." Lorano kembali memperingatkan pria di depannya.
"Kau!! Kau bukan manusia!" Teriak pria yang mulai kesulitan bernafas.
"Efeknya mulai muncul. Kau terus membuang waktumu." Lagi kata Lorano memperingatkan.
Saat itu juga, Dita muncul dari lantai atas. Ia terkejut saat melihat pemandangan aneh di lantai bawah. Tapi ia tetap tenang dan berjalan ke samping Lorano untuk duduk.
"Sepertinya ada pertunjukan menarik." Komentarnya.
"Ya, kau akan menikmatinya." Jawab Lorano.
"Kalian! Aku tidak akan mengatakan apa pun!" Teriak pria yang kini berdiri sebelum berbatuk keras lalu memuntahkan darah ke lantai.
Ia berusaha menjernihkan pikirannya, tapi begitu ia ingin berbicara, dorongan untuk muntah kembali lagi.
Hoek!! Hoek!!
Pria itu memuntahkan lebih banyak darah dari yang sebelumnya.
"Jika kau muntah sekali lagi, maka itu adalah yang terakhir kalinya kau muntah." Ucap Lorano dengan bosan.
"Hah,, hah,, baik, aku tahu. Aku di suruh oleh kakak pertamamu. Dia ingin membunuh semua pewaris agar ia sendiri yang nantinya mendapatkan semua warisan dari Ayah kalian. Dan saat ini, mungkin semua saudaramu yang lain sudah meninggal." Ucap pria menyedihkan itu sebelum ia kembali muntah lalu jatuh di lantai.
__ADS_1
"Menyedihkan." Ucap Lorano lalu ia memberi kode pada sekretarisnya untuk membersihkan semua kotoran.
"Aku akan ke kamar." Ucap Dita lalu ia berdiri diikuti Senya ke lantai dua.
Mereka tiba di balkon dengan Dita yang cemas segera menelpon Saga.
"Sayang," jawab seorang pria dari seberang telpon membuat Dita bernafas lega.
"Kamu dimana?" Tanya Dita.
"Aku sedang di jalan untuk pulang."
"Kau bersama pengawal 'kan? Kau harus waspada." Lagi ucap Dita merasa kuwatir.
"Ada apa sayang?" Tanya Saga.
"Baru saja ada penyusup di sini, ia dikirim oleh kakak pertamamu untuk membunuh semua orang yang akan masuk dalam daftar warisan ayahmu." Ucap Dita.
"Tenang saja semua baik-baik saja. Aku akan seg,, Tut... Tut... Tut..."
Sambungan telpon tiba-tiba terputus membuat Dita bergetar di tempatnya.
"Halo? Sayang? Kau masih di sana 'kan?" Ucap Dita sebelum ia menoleh dengan gemetaran ke arah Senya.
"Cepat ambil tindakan."
__ADS_1
"Baik Senior." Jawab Senya sebelum berlari meninggalkan Dita yang sudah tersungkur di lantai.