
Setelah mengantar Topia ke apartemennya, Aran juga kembali ke apartemennya membersihkan diri lalu pria itu berbaring memikirkan hubungannya dengan Topia.
Dia begitu kebingungan. Apakah dia harus membuka hati untuk topik atau tidak?
Bagaimanapun mereka sudah lama bersama dan dia hanya menganggap Topia sebagai rekan kerjanya saja, mungkin akan sulit baginya untuk merubahnya.
Sementara memikirkan masalahnya, tiba-tiba ponselnya bergetar jadi pria itu langsung meraih ponsel pada nakas..
"Halo, Nyonya" jawabnya pada orang di seberang telepon yang tak lain adalah Dita.
"Sekarang juga berangkat ke luar negeri dan cek kondisi Senya! Bawa dia ke pulau xx untuk dirawat di sana," Ucap Dita dengan nada suara terburu-buru.
"Baik Nyonya." Jawab Aran lalu pria itu segera mengambil kopernya, mengisi barang-barang penting kedalamnya lalu pria itu melesat ke bandara.
Menaiki pesawat selama berjam-jam lamanya, pria itu akhirnya tiba pada dini hari.
Masih gelap untuk melihat langit terang jadi di Aran hanya diam di dalam mobil sembari mobilnya melaju ke sebuah apartemen di tengah kota.
"Tuan Aran," seorang pengawal langsung menyambut Aran ketika dia tiba di apartemen luas yang merupakan unit apartemen hunian Senya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Aran sembari melangkahkan kakinya ke lantai 2 mengikuti pengawal yang ada bersamanya.
__ADS_1
"Nona Senya tak sadarkan diri ketika kembali dari kantor," jawab Pengawal itu.
"Apakah Dokter sudah melihatnya?" Tanya Aran.
"Sudah, dokter mengatakan bahwa Nona Senya menderita asam lambung akut karena jarang makan dan mengkonsumsi alkohol berlebihan, serta beban pikiran yang terlalu banyak." Jawab Sang bawahan.
"Segera atur penerbangan ke pulau xx, atur secara rahasia." Perintah Aran.
"Baik Tuan." Jawab sang bawahan.
Saat Aran tiba di kamar Senya, ia melihat seorang perempuan tertidur di tempat tidur dengan infus menggantung di sampingya.
"Akhirnya dia tumbang juga," pikir Aran tanpa belas kasihan menatap perempuan itu.
Pria itu itu duduk memikirkan Topia sampai ketika ponselnya berdering memperlihatkan Topia yang melakukan video call padanya.
BIP!
Panggilan itu terhubung memperlihatkan seorang perempuan sedang duduk di ruangan berwarna jingga dengan wajah yang masih sedikit pucat.
"Kau dimana?" Langsung tanya Topia dari seberang telepon saat ia melihat Aran berada di sebuah kamar yang mirip seperti kamar perempuan.
__ADS_1
"Di kamar Senya," jawab Aran memutar kameranya memperlihatkan senya yang sedang terbaring di tempat tidur dengan infus menggantung di sampingnya.
Langsung saja wajah Topia berubah menjadi tegang, tetapi perempuan itu berusaha menutupi ketegangannya.
Kenapa Aran ada di kamar Senya? Berduaan saja?
"Apakah kau di luar negeri?" Tanya Topia.
"Ya, aku baru tiba satu jam yang lalu. Ada apa menelponku?" Tanya Aran.
"Oh,," suara Topia tampak tercekat lalu perempuan itu terlihat memandang kesembarang arah sebelum mengganti kamera ponselnya ke kamera belakang menampakan tumpukan obat yang diletakkan di atas meja.
"Ini,, Aku ingin bertanya mengenai obat ini, berapa kali aku harus memakannya?" Terdengar suara Topia agak gemetar.
"Ya,, yang berwarna oranye 3 kali sebelum makan lalu yang BLA BLA BLA..." Aran menjelaskan satu-persatu obat yang ada pada kamera.
"Ahh, baik, terima kasih atas informasinya, kalau begitu aku tutup teleponnya sekarang." Ucap Topia lalu menekan tambah reject tanpa menunggu persetujuan dari Aran.
Perempuan itu langsung lemas di sofa memikirkan Aran sedang berduaan dengan Senya.
'Jadi kemarin malam setelah dia mengantarku ke sini dia langsung pergi ke bandara? Sepertinya Senya sangat penting untuknya.' pikir Topia merasa lemas.
__ADS_1