MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
53. Curiga pada Lorano


__ADS_3

"Maaf Pak, kita di hadang." Lapor Aran saat ia tiba-tiba mengerem mendadak hingga ponsel Saga terlempar sembarang arah.


Saga tetap duduk dengan tenang sambil memperhatikan ponselnya yang sudah terselip ke bawah kolong kursi.


Kemarahan memenuhi tatapannya mengingat ia sedang menelpon bersama istrinya dan seseorang berani merusak momen manis mereka.


Para pengawal Saga sudah mengelilingi mobil dan memberi jalan bagi mobil Saga untuk lari.


Aran baru akan menancap gasnya saat Saga berbicara "Buka pintunya."


Aran berpikir selamat 1 detik sebelum keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Saga.


Saga keluar dari mobil dengan kaca mata hitam yang ia gunakan untuk menghalangi sinar matahari dan mata orang menjijikkan melihatnya secara langsung.


"Siapa pemimpinnya?" Langsung tanya Saga dengan suara penyambutan untuk kematian seseorang.


"Aku," seorang pria bertubuh gemuk berdiri di urutan paling depan sambil memegang sebuah pisau daging.


Hal itu membuat Aran tersenyum kecil menahan tawanya 'Apakah dia pikir dia di sini untuk melawan sapi? Sungguh selera yang buruk untuk sebuah senjata.' pikirnya.


"Anak muda, kau menertawakan apa?" Tanya pria gemuk itu saat ia mengeryit melihat Aran.


'Dia menyadarinya. Tapi sayang sekali hari ini bukan milikku.' gumam Aran cukup tahu diri kalau saat ini adalah kesempatan Saga untuk melakukan sesuatu.


"Cari ponselku." Kata Saga dengan acuh saat ia mengetahui siapa yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan?! Beraninya kau mengabaikan ku saat aku di depanmu?" Bentak pria gemuk yang merasa tak dihargai.


Tapi Aran tak menghiraukannya, ia langsung masuk ke mobil dan mendapatkan ponsel milik Saga.


"Ini Tuan." Katanya memberikan ponsel itu pada Saga.


Terlihat layar ponsel itu retak, sepertinya tak bisa lagi di gunakan.


Saga dengan cepat mengeluarkan memori card dan SIMnya lalu memainkan ponsel itu di tangannya.


"Kau bermain-main saat kematianmu di depan mata?" Tanya pria gemuk lalu tertawa keras.


"Haha... Aku akan memberiku waktu selama 1 menit untuk menikmati udara segar di bumi." Lagi kata pria itu lalu kembali tertawa keras.


"Hahaha...."


Ponsel yang awalnya masih dimainkan Saga kini tertancap di kening pria gemuk itu.


Seketika pria itu terpental ke belakang lalu jatuh ke aspal dengan mata bulat penuh.


"Kembali ke rumah." Ucap Saga dengan santai sembari memasuki mobil.


Aran mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia berlari ke kursi kemudi dan menjalankan mobilnya.


'Sial! Itu lemparan yang sangat bagus. Aku bahkan tak melihatnya dengan jelas!" Sesal Aran yang telah menyia-nyiakan sebuah tontonan berharga dari seorang Saga.

__ADS_1


Aran terus mengemudi dengan perasan kesalnya hingga mereka tiba di kediaman dan melihat rumah itu sangat bersih dari penjaga.


Ia mengeryit namun tak mengatakan apa pun. Ia hanya membukakan pintu bagi Saga lalu mereka masuk ke dalam rumah.


Terlihat Lorano sedang duduk dengan santai di sofa. "Dimana istriku?" Segera tanya Saga.


"Di kamarnya." Ucap Lorano dengan santai.


Saga langsung berlari ke atas lantai dua dan memeriksa kamar, tapi ia tidak menemukan siapa pun di sana.


"Tuan," ucap Senya yang baru saja tiba saat ia bertemu dengan Saga di depan pintu kamar.


"Dimana istriku?" Tanya Saga.


"Dia,," Senya baru ingat dan langsung berlari ke balkon. Benar saja, Dita ada di sana, sedang terbaring di lantai.


Saga langsung membawa Dita ke gendongannya lalu membawa gadis itu ke kamar.


"Panggil Lorano." Ucap Saga pada Senya.


Senya berdiri sesaat menimbang perintah Saga. 'Pria itu, aku belum menceritakannya pada Saga dan Senior.' pikirnya.


"Ada apa?" Tanya Saga pada Senya yang tidak juga pergi memanggil Lorano.


"Saya sebenarnya curiga kalau Tuan Lorano adalah orang yang sudah mencelakai Nona." Ucap Senya membuat Saga langsung menoleh ke arah Senya.

__ADS_1



__ADS_2