
Saga menggelapkan tatapannya. "Jelaskan racunnya."
"Itu, racun Inis sebenarnya jika dalam dosis kecil dan digunakan dalam jangka waktu yang tepat maka ini bukanlah racun. Sayangnya, Nona Dita memakan racun itu terlalu banyak, bahkan diberikan sangat sering, itulah yang membuatnya menjadi lemah. Tapi efek yang lain, yaitu gemuk, karena racun ini merupakan obat yang juga digunakan untuk menggemukkan. Biasanya dilakukan pada ternak, namun itu, dosis dan jangka waktunya sangat perlu diperhatikan."
"Beri penawarnya." Ucap Saga dengan tidak sabaran.
"Itu,, meski saya memberi obat, belum tentu bisa berefek cepat. Harus di lakukan secara perlahan." Ucap Dokter Yang sedikit takut akan kemarahan Saga.
"Sayang, tidak apa. Aku baik-baik saja kok." Ucap Dita menenangkan Saga yang sudah menggila mendengar penjelasan Dokter.
"Kau boleh keluar." Ucap Saga dengan kesal.
"Ayo tidur. Aku mengantuk." Kata Dita sembari menguap.
Topia dengan tahu diri keluar dari ruangan itu, sementara pasangan yang di atas ranjang kini tidur berpelukan.
"Sayang,," ucap Dita.
"Hmmm?"
"Bukankah bagus aku sedikit lebih gemuk?"
"Hmm, enak di sentuh." Ucap Saga membuat Dita terkikik dengan pikiran Saga yang selalu menuju ke arah hmmm...
"Oya, kenapa kau tadi bilang istri? Aku sering mendengarmu menyebutku istri. Kapan kita menikah?" Tanya Dita yang penasaran.
"Memang harus menikah baru jadi istri?" Tanya balik Saga.
__ADS_1
"Ya,, kan aku liat semua orang begitu." Kata Dita menatap lekat mata Saga membuat pria itu tak bisa menahan lebih lama untuk menciumi Dita.
Ia menundukkan kepalanya dan membungkam bibir gadis itu. "Kita belum bisa mengadakan resepsi pernikahan sekarang." Ucap Saga setelah pangutan mereka berakhir.
"Kenapa?"
"Aku belum bisa." Jawab Saga lalu memeluk erat tubuh Dita. "Kau bilang tadi mengantuk. Tidurlah.".
"Mm, tapi aku rasa tak nyaman dengan ini," ucap Dita menyentuh topeng luka palsunya.
Sudah berhari-hari tidak pernah di lepas, terasa begitu pengap kulit Dita.
"Tidurlah, saat bangun nanti itu akan hilang." Kata Saga.
Setelah memastikan Dita sudah tidur, Saga menelpon Topia untuk mendapatkan alat make up Dita.
"Kau sangat cantik sayang." Ucap Saga mengagumi wajah Dita.
...
Setelah 3 hari di rumah sakit, Dita akhirnya di bolehkan pulang ke rumah.
Hal pertama yang ia lakukan adalah menikmati daging panggang di belakang rumah.
"Sayang udah matang belum?" Teriaknya setelah menghabiskan sepotong daging.
"Bentar," jawab Saga yang kini sedang mengipas daging yang di panggang.
__ADS_1
"Tapi di sini udah habis!" Kata Dita yang duduk bersama Topia.
"Iya, kalian lambatnya kebangetan! Kan kami pengen makan lagi." Kata Topia yang masih mengigit sepotong daging ayam.
"5 menit lagi." Jawab Aran yang merasa terharu bisa melakukan hal seperti ini bersama bosnya yang kaku.
'Aku harus berterima kasih pada Nona Dita, berkat dia Tuan yang dulunya kaku kini sedikit-sedikit mulai mencair.' pikir Aran.
Setelah 5 menit, kedua pria itu membawa semua daging terakhir yang mereka panggang ke pada dua wanita yang sudah menunggu.
"Terlihat sangat enak!" Seru Dita mengulurkan tangannya namun di cegah oleh Saga.
"Masih panas." Ucap pria itu membuat Dita menelan air liurnya.
Saga hanya berwajah datar dan mulai mengiris daging itu dengan ukuran 2,5cm.
Ia kemudian mengambil garpu dan mengambil sepotong daging.
Fuh,,, fuh,,, Saga meniup dagingnya sebelum mengarahkannya ke mulut Dita.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak, seperti daging panggang!" Ucap Dita sambil cengingiran.
"Lain kali kita harus memanggang sayuran lagi." Ucap Topia.
"Ide yang bagus!" Kata Dita sembari tertawa.
__ADS_1