
"Tuan memanggil saya?" Tanya Aran memasuki ruang kerja Saga.
"Bagaimana kabar Afgan?" Tanyanya.
"Dia masih belum kembali. Sepertinya dia tidak tenang karena belum berhasil mencelakai Nona Dita." Jawab Aran yang masih kagum dengan strategi Saga untuk membongkar keterlibatan Afgan dalam penculikan Nona mereka.
Seandainya dulu mereka terburu-buru membongkar rumah Lois, maka mereka tak akan pernah tahu mengenai keterlibatan Afgan. Tapi Afgan bukan yang sebenarnya, ada pion lain di belakangnya.
"Bagus kalau begitu. Kau pimpin pasukan khusus untuk membasminya. Kau punya waktu 24 jam. Aku ingin lihat bagaimana reaksi Pak Tua itu jika tahu anaknya mati di tanganku." Ucap Saga lalu membiarkan Aran keluar.
Aran keluar diganti masuknya Topia. "Bos." Ucap Topia.
"Urus urusan perusahaan istriku. Selesaikan besok sore."
"Baik Bos." Jawab Topia lalu keluar dari ruangan Saga.
Saga masih tinggal memikirkan semua kesinambungan yang terjadi dari penculikan Dita.
Ia memiliki beberapa hal untuk di selidiki, tapi ia akan menugaskannya pada Aran, setelah misi pria itu selesai.
Ia kemudian pergi ke kamar dan mendapati Dita sedang menimbang berat badannya.
Gadis itu langsung menyembunyikan timbangan saat Saga memasuki kamar.
"Sayang," kata Dita langsung mendekat ke arah Saga dan memeluk pria itu.
__ADS_1
"Hmm, apa yang kau lakukan?" Tanya Saga.
"Hmm, aku sedang mencoba timbangan, tapi itu sudah rusak. Besok belikan aku yang baru." Kata Dita.
"Ok," ucap Saga menggendong Dita lalu menghempaskan tubuh gadis itu di atas ranjang.
Ia kemudian menunduk dan menggosokkan hidungnya dengan hidung Dita.
"Beri aku ciuman," protes Dita yang tidak puas dengan sentuhan hidung.
Cup,, cup,, cup,,.
Dita tersenyum dan menatap Saga dengan perasaan menggebu-gebu.
"Jangan menatapku seperti itu." Kata Saga membaringkan diri di samping Dita dan tidur memeluk Dita.
"Istri nakal! Kau lupa kata dokter?" Tanya Saga pada Dita.
"Baiklah, tapi kalau kau sudah tidak tahan, bangunkan aku ya?" Kata Dita menggoda Saga dengan membaut garis abstrak di dada pria itu menggunakan telunjuknya.
"Tidurlah." Ucap Saga lalu memeluk Dita dnegan erat.
'Kau bertanya apa aku mau? Jelas sangat,,, sayangnya tubuhmu masih lemah. Kau mungkin akan kesakitan jika melakukannya sekarang.' Gumam Saga smabil menghirup dalam aroma rambut Dita.
Pagi harinya Dita terbangun dan mendapati Saga telah berangkat ke kantor.
__ADS_1
Ia langsung turun mendapati sarapan telah siap di atas meja. Setangkai mawar di letakkan di meja.
Dita tersenyum mencium mawar itu sebelum mulai menikmati sarapannya.
Setelah sarapan, Topia menghampirinya "Nona, Tuan Saga menyuruh saya memastikan Nona mendapatkan semua kebutuhan Nona sebelum saya berangkat ke kantor." Katanya.
"Oh, kau mau ke kantor Saga?" Tanya Dita.
"Tidak Nona, saya harus pergi ke kantor Nona menyelesaikan masalah di sana." Ucap Topia.
"Tunggu aku, aku harus pergi juga." Ucap Dita langsung berdiri.
Topia tidak bisa menolak jadi ia hanya menurut saja kalau mereka pergi bersama ke kantor.
Saat tiba, mereka di halangi masuk atas perintah Merlin, ibu tiri Dita.
Topia hanya tersenyum lalu melumpuhkan penjaga dan menerobos ke ruangan lama Dita.
Begitu masuk, suara tepuk tangan langsung menyambut mereka.
"Mantan Senior kita sudah tiba," Ucap Merlin dan Sita sambil tersenyum merendahkan.
Di sana ada juga Senya yang sepertinya sedang mengerjakan beberapa berkas.
Topia langsung tersenyum ke arah penghianat itu, tapi Senya hanya berwajah datar melihatnya.
__ADS_1