MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
97. Tidak berani bertemu Senya


__ADS_3

Aran akhirnya membawa senya ke pulau xx di mana Lorano juga di rawat di pulau itu.


Beberapa jam setelah tiba di sana, senya akhirnya sadar dan perempuan itu terkejut mendapati dirinya berada di tempat asing.


"Kau sudah sadar?" Aran berdiri di samping ranjang memperhatikan perempuan yang tampak pucat dan lemas itu.


"Hah, dimana kita?" Tanya Senya berusaha untuk duduk, tetapi Aran menghalanginya.


"Tetaplah berbaring, tubuhmu masih sangat lemah untuk digerakkan.


"Pekerjaanku,," Senya berkata dengan lirih ketika Senya mengingat dia telah meninggalkan pekerjaannya lalu tak sadarkan diri di lift gedung apartemen nya.


"Jangan pikirkan itu, seseorang sudah menanganinya untukmu. Tugasmu sekarang adalah menyembuhkan diri sampai Nyonya memberimu perintah untuk meninggalkan pulau ini." Ucap Aran lalu pria itu berjalan untuk keluar dari kamar meninggalkan perempuan yang tampak terdiam di tempat tidur.


"Tunggu!!" Ucap Senya dengan suara pelan ketika Aran hendak meraih handle pintu.


"Ada apa?" Tanya Aran kembali melirik ke arah Senya.

__ADS_1


"Aku sudah mencari Lorano kemana-mana, tapi aku belum menemukan pria itu, dapatkah kau membantuku?" Tanya Senya dengan wajah memelas nya sebab dia sudah melakukan berbagai cara yang ia tahu tetapi dia tidak bisa menemukan Lorano.


Mungkin saja asisten Saga memiliki cara tersendiri untuk mencari seseorang.


Aran memperhatikan raut wajah kehilangan Senya langsung menghela nafas lalu berkata "Aku akan mencarinya kalau kau sudah sembuh."


Setelah berkata demikian, Aran langsung meninggalkan kamar Senya tanpa menoleh lagi pada perempuan yang berbaring di atas ranjang.


Senya menghela nafas, 'Bagaimana bisa aku akan sembuh kalau aku tidak tenang memikirkan pria itu?'


Selama satu minggu dia berusaha untuk menjaga kesehatannya, tetapi ketika dia hendak makan, makanan terasa seperti duri yang masuk ke mulutnya sebab dia terlalu cemas akan Lorano.


Satu-satunya hal yang membuatnya bisa tenang adalah mengkonsumsi alkohol atau pun merokok, tapi ternyata tubuhnya tidak sekuat itu untuk terus bertahan.


"Dimana pria itu??!" Ucapnya memejamkan matanya berusaha mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Sedangkan Aran yang keluar dari kamar Senya langsung berjalan ke samping ruangan Senya, ia mendapati seorang pria yang sedang duduk di atas ranjang mengkonsumsi bubur tawar.

__ADS_1


"Tuan," ucapan pada pria yang terlihat pucat.


"Senya ada di sebelah?" Tanya Lorano.


"Ya, dia sudah sadar, tetapi tubuhnya masih tampak lemah, saya sudah menyuruh dokter untuk memeriksanya." Ucap Aran.


"Begitu ya, baguslah." Jawab Lorano tersenyum.


Dia sangat ingin menemui Senya, tetapi dia tidak bisa melakukannya karena dia tidak mau membuat perempuan itu cemas ketika saya melihatnya dalam kondisi yang buruk.


"Tuan, saya pikir sebaiknya Tuan segera menemui Nona Senya sebab penyebab utama penyakit nya adalah pikirannya. Dia terlalu cemas memikirkan Tuan hingga membuatnya tertekan." Ucap Aran.


Lorano tertegun, perempuan itu memikirkannya?


"Hah,, aku tidak bisa. Perempuan itu akan kembali menganggapku sebagai pria lemah saat dia melihatku dalam keadaan seperti ini." Kata Lorano menghela nafas, sudah berapa kali perempuan itu menghinanya hanya karena dia terlihat lemah?


Sekarang seluruh otot-otot yang telah Ia bentuk sudah menghilang dari tubuhnya karena racun mematikan yang menggerogoti tubuhnya.

__ADS_1


Perlu berapa bulan lagi untuk membangun semuanya, barulah dia berani untuk muncul lagi di hadapannya Senya.


__ADS_2