
Aran masih terus memikirkan masalah Topia di dalam mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba bergetar.
Adalah telepon dari seorang bawahannya yang sedang menangani masalah Topia dan tetua.
"Ada apa?" Tanya pada orang di seberang telepon ketika dia sudah menekan tombol terima untuk panggilan tersebut.
"Tuan, kami sudah siap untuk melemparkan dua orang ini ke dalam kandang buaya, tetapi Nona Topia--"
"Aran!!! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!! Aku calon istrimu!! Kau harus mempercayaiku karena aku benar-benar berkata dengan jujur!!" Terdengar suara Topia berteriak dari seberang telepon.
Aran yang mendengarnya langsung memijat keningnya yang sudah berdenyut, sudah berapa kali Topia mengatakan hal itu, tetapi tidak ada bukti yang mendukung bahwa perempuan itu berkata jujur.
"Lemparkan saja mereka!" Katanya kemudian.
"Kau akan menyesal! Lihat saja nanti!! Kau akan menyesal kalau mengetahui kebenarannya!!" Kembali teriak Topia dari seberang telepon.
Teriakan perempuan itu sangat memilukan untuk Aran karena bagaimanapun sudah lama dia bersama Topia.
Miskin dia tidak memiliki perasaan untuk perempuan itu, tetapi kebersamaan mereka selama menjadi pengawal Tuan Saga sudah sangat banyak.
Jadi bagaimana pun, dia memang sulit menipu perasaannya.
__ADS_1
"Tutup kepala mereka dan lemparkan tetua ke kandang buaya. Tahan Topia hingga aku tiba di sana." Ucap Aran.
"Baik Tuan," jawab pria dari seberang telepon tanpa mematikan panggilan mereka.
Aran terus meletakkan ponselnya di telinganya dan mendengar suara Topia berteriak-teriak sampai akhirnya dia tidak tahan lagi lalu mematikan panggilan itu.
"Baiklah, ini yang terakhir," ucapnya lalu melajukan kendaraannya.
Pria itu menyetir dengan cepat ke kandang buaya dan tiba di sana mendapati Topia sedang diikat di kursi beserta kepala yang ditutup dengan kain hitam.
"Buka penutupnya." Perintah Aran.
"Aran,, aku tahu kau tidak akan melakukan ini padaku, kita sudah bekerja bersama-sama selama bertahun-tahun, aku tahu kau tidak mungkin tega menjadikanku sebagai makanan buaya buaya itu!!" Langsung kata Topia ketika melihat Aran berdiri di depannya.
"Bukan aku tidak tega,, tapi aku melakukan ini karena perintah nyonya. Dia menyuruhku untuk memberimu kesempatan terakhir mengatakan kebenarannya." Ucap Aran.
"Apa?? Ini,, perintah Nyonya Dita?" Tanya Topia dengan suara gemetaran.
Dia benar-benar tidak menduganya, ternyata alasan kenapa dia tidak jadi dilemparkan ke kandang buaya adalah karena Dita? Bukan karena Aran sendiri yang memutuskan?
Ini mengecewakannya.
__ADS_1
"Ya, Jadi sekarang aku memberimu kesempatan terakhir untuk mengaku." Ucap Aran menatap datar pada Topia.
"Tapi, apalagi yang harus kuakui? Aku sudah mengatakan segalanya, bahwa aku hanya dijebak oleh Tetua. Awalnya aku berniat untuk berpura-pura berdekatan dengan ketua supaya jika dia punya rencana terselubung lagi, aku bisa memberitahukan kepada kalian. Tapi,, siapa yang mengangkat kalau pria tua itu sangat licik? Dia malah menjebakku juga!!" Ucap Topia dengan nafas tersengal.
"Apakah kata-katamu bisa di percaya?" Tanya Aran.
"Kau tidak percaya? Kalau begitu aku tidak bisa mengatakan apa pun lagi, aku benar-benar tidak punya bukti perbuatan Tetua sebab aku juga dijebak oleh Nya!! Dia berniat menjadikanku sebagai kambing hitam dalam masalah ini!" Ucap Topia dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa mempercaiumu tanpa bukti." Ucap Aran kembali memberi kode pada bawahannya lalu sang bawahan kembali menutup kepala Topia dengan kain hitam.
"Aran tidak!!! Tolong dengarkan aku!! Aku benar-benar tidak bersalah!!!" Teriak Topia dengan panik.
Aran tidak mengatakan apapun, pria itu hanya berbalik pergi, tetapi dia baru akan meninggalkan kandang buaya saat bertemu dengan seorang pria yang duduk di kursi roda.
Dia adalah Dewa, asisten pribadi Lorano.
"Apa kau ingat ketika aku disekap oleh orang-orang dan aku menelponmu? Saat itu mereka sedang berbicara dengan Tuan mereka dan mereka memanggil dengan sebutan Nona. Mengapa tidak menyelidikinya? Kalau saat itu Topia juga sedang menelpon maka kemungkinan besar Topia terlibat dalam hal ini, tetapi jika tidak, maka sepertinya perempuan itu berkata dengan jujur." Ucap Dewa.
"Kau benar,, aku akan menyelidiki ulang," ucap Aran akhirnya teringat akan kejadian itu.
__ADS_1