
Setelah menerima telepon dari Saga, para anak buah Saga langsung pergi ke rumah Lorano.
Mereka terkejut melihat Lorano sudah tidak sadarkan diri, sementara para pengawal Lorano yang betugas hanya diam di depan pintu, mereka tidak berani masuk ke dalam kamar karena tidak ada perintah.
Orang-orang Saga kemudian membawa Lorano ke rumah sakit.
"Katakan?!" Ucap Saga dari seberang telepon setelah salah satu anak buahnya menelponnya.
"Kami sudah menemukan Tuan Lorano dan membawanya ke rumah sakit. Dia tidak sadarkan diri dan sedang ditangani di UGD." Lapor anak buah Saga.
Setelah selesai melaporkan keadaan pada Saga, anak buah Saga kemudian melihat telepon milik Lorano.
Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Pria itu sempat ragu-ragu namun ia mengangkatnya juga.
"Halo?" Katanya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya seorang perempuan.
"Maaf, ini siapa?" Hanya orang suruhan Saga.
"Dimana Lorano?" Lagi tanya perempuan itu membuat orang suruhan Saga merasa kesal dan mematikan ponsel itu.
Tak berapa lama pria itu terus menunggu di luar UGD, tiba-tiba ia terkejut melihat kedatangan Senya.
__ADS_1
"Nona," kata pria itu memberi hormat.
"Dimana dia?" Tanya Senya.
"Di dalam." Tunjuk pria itu ke UGD.
Senya langsung masuk ke UGD dan menemui sala satu suster yang berjaga.
"Bagaimana kondisi Tuan Lorano?" Tanya Senya terburu-buru.
"Maaf, Nona siapa?" Tanya suster itu.
"Hmm, saya kekasihnya." Jawab Senya.
"Maaf, kalau Nona tidak ada hubungan yang lebih dekat dengan Tuan Lorano maka saya tidak bisa memberikan informasi apa pun." Jawab suster itu.
Suster yang bertugas mengamati senya sesaat sebelum ia mengambil teleponnya.
"Keluarga Tuan Lorano ada disini." Katanya pada orang di seberang telepon.
Setelah menutup teleponnya, suster kemudian melihat pada Senya "Silahkan ikuti saya."
Senya kemudian mengikuti suster itu hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang dikelilingi oleh kaca. Dibalik kaca terdapat seorang pria yang berbaring di atas ranjang dengan para dokter mengerumuninya.
__ADS_1
"Silakan menunggu disini, saya permisi dulu." Ucap sang suster lalu meninggalkan Senya sendirian.
"Dia sangat menderita. Dasar pria merepotkan!" Ucap Senya lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi Aran.
"Halo? Bagaimana? Kau sudah bertemu dengan Tuan Lorano?" Tanya Aran begitu sambungan teleponnya terhubung.
"Kau benar, dia masuk rumah sakit. Aku sedang melihatnya dari luar kaca." Jawab Senya.
"Benarkah? Bagaimana perasaanmu?" Lagi tanya Aran.
"Perasaanku? Hm,, Aku tidak tahu." Jawab Senya.
"Aku memberitahumu tentang kabar Lorano supaya kamu punya kesempatan untuk bertobat. Banyak pengawal yang mengawasimu di situ, aku harap kamu memilih keputusan yang tepat." Ucap Aran sebelum mematikan panggilan itu.
"Dia bicara apa sih?" Ucap Senya sambil memandangi layar ponselnya.
"Permisi Nona," ucap seorang dokter yang sudah selesai memeriksa Lorano.
"Iya dokter, bagaimana keadaanya?" Tanya Senya pada dokter itu.
"Nona harus tabah. Kondisinya memburuk karena penanganan yang sangat terlambat. Kita hanya bisa melihatnya dan membiarkannya pergi dengan tenang." Jawab dokter itu membuat Senya sangat terkejut.
"Tidak mungkin! Dia tidak boleh mati Dok!" Ucap Senya kembali memandangi Lorano di balik kaca.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu." Kata dokter yang tadi berbicara dengan Senya.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi! Dia tidak mungkin meninggal! Pria brengsek itu belum menerima balasan yang setimpal dengan perbuatannya!" Ucap Senya segera meninggalkan tempat itu.