
Pagi hari, Dita terbangun dan menguap berkali kali sembari meregangkan punggungnya. Saga yang terganggu langsung menarik Dita ke pelukannya dan memberi ciuman di wajah gadis itu.
"Sayang, apa kau alergi?" Tanya Saga saat memperhatikan ada beberapa jerawat di wajah Dita.
"Hmm? Aku tidak alergi apa pun!" Jawab Dita merasa heran.
"Baguslah." Ucap Saga merasa cuek, mungkin jerawat Dita karena Dita telah kelelahan selama beberapa hari terakhir.
"Awas, aku akan ke kamar mandi." Kata Dita lalu ia turun dari tempat tidur.
Baru beberapa detik pintu kamar mandi di tutup, Dita sudah berteriak kencang dari dalam.
"Ahhhh!!!!!" Teriaknya.
Saga langsung berlari memasuki kamar mandi dan melihat Dita sedang menyentuh wajahnya.
"Ada apa?" Tanya Saga merasa heran, jerawat adalah hal lazim bagi semua orang.
"Sayang!! Apaan ini!?" Tanya Dita tak percaya. "Aku terkena penyakit aneh!"
"Penyakit aneh?" Tanya Saga mendekat dan memandangi wajah Dita. "Ini hanya jerawat biasa, akan sebuah dalam beberapa hari." Katanya.
"Kau yakin?" Tanya Dita tak tenang.
"Iya istriku!" Ucap Saga lalu menggendong Dita dan membanya ke pancuran.
Mereka mandi bersama, hanya mandi saja, Saga tak berani mengundang selatan untuk bangkit. Ia begitu takut tubuh rapuh Dita akan hancur karenanya.
__ADS_1
Setelah Saga berangkat kerja, Dita terus memegangi cermin dan melihat jerawatnya.
"Topia, apa kau pernah berjerawat?" Tanyanya.
"Tidak pernah Nona." Jawab Topia.
"Apa kau punya teman yang memiliki jerawat?" Lagi tanya Dita.
"Ya, ada beberapa orang."
"Apa yang mereka gunakan untuk menghilangkan jerawat?" Tanya Dita lagi.
"Ada banyak, tapi sebaiknya Nona berkonsultasi dengan dokter."
"Panggil dokter." Ucap Dita.
1 bulan telah berlalu sejak Dita terus dikurung oleh Saga di dalam rumah. Sebenarnya bukan keinginan Saga, tapi dia sendiri yang menginginkannya karena mulai hari di mana ia memberi pelajaran pada semua keluarga tirinya tubuhnya terus melemah.
Saat ini Dita sedang berkonsultasi dengan dokternya, ia mengundang dokter itu ke rumah sebelum Saga pulang dari kantor.
"Bagaimana Dok?" Tanyanya dengan cemas.
"Ini,, saya sudah mencoba yang terbaik tapi sepertinya jerawat di wajah Nona tidak bisa disembuhkan dengan semua kosmetik yang saya miliki. Apakah belakangan ini Nona makan sesuatu yang yang memicu terjadinya pertumbuhan jerawat?" Tanya Dokter yang sudah berusaha menyembuhkan jerawat di wajah Dita tapi tidak pernah berhasil.
"Ahh, ya, ini mungkin efek racun dalam tubuh saya." Ucap Dita dengan wajah cemas lalu ia mempersilahkan dokter itu kembali.
"Sayang," ucap Saga dari balik pintu yang sedari tadi melihat aktivitas Dita dengan dokter itu.
__ADS_1
Saat melihat Saga mendekat ke arahnya, Dita langsung menangis dan berdiri memeluk Saga.
"Bagaimana ini? Aku semakin gemuk seperti babi dan wajahku,, Aku bahkan tidak mau melihat wajahku sendiri." Isak Dita dalam pelukan Saga.
"Kau tetap yang paling cantik di mataku." Kata Saga menepuk pelan punggung Dita.
Ya kini Dita menjadi sangat gemuk karena sepertinya racun dalam tubuhnya tidak bisa dihilangkan lagi, bahkan wajahnya dipenuhi jerawat yang diakibatkan oleh racun itu.
Ia sudah mencoba berbagai cara untuk memperbaiki semuanya, tapi tak ada yang pernah berhasil, semuanya sia-sia.
"Sudah, ayo makan malam." Kata Saga yang mendengar suara perut Dita di tengah-tengah isakan gadis itu.
"Tidak!" Ucap Dita sambil terisak "Kalau aku makan lagi, aku akan semakin gemuk. Baru tadi aku menimbang berat badanku, kini bertambah 1 kg lagi."
"Ini menu diet, tak akan membuatmu gemuk." Kata Saga mengusap air mata Dita.
"Jangan! Jangan sentuh wajahku!" Kata Dita yang kuwatir akan jerawat di wajahnya.
"Kau melarangku menyentuh wajah istriku? Hmm?" Saga tak perduli larangan Dita ia dengan tulus mengelap air mata Dita.
"Bagaimana pun kondisimu, kau adalah istriku, kau mengerti?" Kata Saga memberi ciuman di wajah Dita.
"Aku,, aku tidak pantas lagi untukmu. Kau sangat tampan dan berotot. Tapi aku,, aku gemuk seperti babi, bahkan wajahku kasar seperti parut!" Ucap Dita menahan sesaknya.
"Kau! Kau berani menghina istriku? Aku akan menghukummu!." Lagi kata Saga lalu memeluk erat Dita, memberi tembakan ciuman di wajah Dita.
"Ahh!! Hentikan! Itu geli!!!" Teriak Dita namun tak dihiraukan oleh Saga.
__ADS_1