
Sore harinya Dewa mengatur beberapa orang untuk menjaga Lorano di kediamannya.
Lalu ia sendiri membawa sebuah mobil dan pergi meninggalkan Lorano dengan beberapa informasi di tangannya.
"Dewa, aku tidak akan pernah menerima nama itu. Nama itu adalah nama asli Tuan Lorano. Pokoknya aku akan terus hidup tanpa sebuah nama, aku akan mengakhiri semuanya dengan segera." Ucapnya sembari menancap gas dengan kencang.
Ia kemudian tiba di sebuah perusahaan bernama A Farmasi.
"Ternyata baru selesai di bangun." Komentar Dewa yang memarkirkan mobilnya di depan perusahaan itu.
Ia terus mengamati, sampai menjelang malam ia melihat Arga tiba bersama beberapa rombongan mobil.
"Wakil CEO? Mengapa wakil CEO sangat memperhatikan anak perusahaan seperti ini?" Ucap Dewa menatap beberapa pria berbaju hitam yang keluar dari dalam mobil.
Setelah beberapa pria itu masuk, Dewa juga turun dari mobil dan menyelinap masuk ke dalam perusahaan.
__ADS_1
'Seharusnya semua orang sudah meninggalkan tempat ini karena sudah lewat dari jam kantor. Tapi kenapa masih ramai sekali di sini?' pikir Dewa mengamati perusahaan itu.
Ia berjalan ke sebuah tempat yang sepi dan tak sengaja melihat seorang pria sedang kencing di sembarang tempat.
Dengan mengendap-endap ia mendekati pria itu dan membuatnya pingsan. Dewa mengambil pakaiannya dan menyamar menjadi pria itu.
"Office Boy?" Ucapnya sambil tersenyum getir.
Ia kemudian memasuki perusahaan dengan menyamar sebagai office boy.
Dewa kemudian mengikuti orang-orang berseragam hitam dan melihat mereka berkumpul di sebuah lorong yang sepi.
"Sampai hari ini tidak ada satupun orang yang datang bertanya mengenai obat itu. Kemungkinan mereka juga mengembangkan obat itu namun merahasiakannya." Jawab pria berbaju putih.
"Tidak mungkin. Beberapa hari lagi mereka pasti akan datang. CEO juga tahu mengenai hal ini, jadi dia pasti membantu kita. Kalian teruskan saja penelitiannya dan segera kabari kami jika ada seseorang yang mencurigakan." Ucap Arga.
__ADS_1
"Baik Tuan." Jawab Pria berbaju putih itu sebelum pergi meninggalkan Arga.
"Bos, mungkinkah kita harus melakukan rencana kedua? Lorano bukanlah orang yang patut kita cobai. Tapi pria itu akan tunduk di hadapan kita jika kita menargetkan orang-orang di dekatnya." Sala satu bawahan Arga memberi usul.
"Tidak bisa. Lorano ialah pria yang ahli dalam menggunakan racun, kalau kita menargetkan orang terdekatnya, maka ia bisa menyembuhkannya dengan mudah. Tapi dirinya sendiri, akan sulit baginya. Saat ini waktunya tinggal 3 hari lagi, kalau dia tidak segera datang mencari penawarnya, maka dia akan segera lenyap dari dunia ini."
"Tapi Bos, Bagaimana kalau dia memilih untuk mati? Tujuan kita tidak akan tercapai." Lagi kata bawahan Arga.
"Aku akan membicarakannya dengan Nona. Sekarang, ayo kita pergi." Kata Arga lalu semua pria berbaju hitam itu pergi meninggalkan tempat itu.
Dewa yang sedari tadi menguping langsung bersembunyi 'Jadi benar, Nona Senya yang merencanakan semuanya. Dia ingin mengendalikan Tuan. Tapi apa tujuannya?' gumamnya.
Setelah Dewa memastikan orang-orang berpakaian hitam itu telah menghilang dari perusahaan, Dewa kembali ke dalam mobilnya dan terus menunggu sambil mengamati perusahaan itu.
Setelah 2 jam menunggu, ia akhirnya melihat salah satu ilmuwan keluar dari perusahaan dan menaiki sebuah mobil.
__ADS_1
Dewa langsung menancap gasnya dan mengikuti salah satu ilmuwan itu.
"Aku tidak percaya kalau dugaan Tuan memang benar. Beraninya Nona Senya, dia pikir dia sudah berkuasa setelah menjadi CEO?" Ucap Dewa sambil terus mengikuti mobil di depannya.