
"Istrimu adalah anak dari seorang perempuan bernama Rora yang merupakan saudara ayah.
Rora adalah adik ayah, jadi sesungguhnya istrimu adalah keponakan ayah. Dan adik ayah itu, dia menjadi pewaris tunggal yang disingkirkan oleh ayah dengan manipulasi kecelakaan." Ucap Lorano membuat Saga terkejut.
"Jadi maksudmu, kakak pertama mengincar semua orang karena,,"
"Karena semua orang adalah penghalangnya. Kalau istrimu tidak meninggal, ia akan menjadi pewaris yang sesungguhnya, tapi kalau ia meninggal, maka semua anak ayah akan menjadi pewaris dengan aset yang dibagi rata. Bila Dita mengembalikan identitasnya sebagai keponakan ayah, maka semua milik ayah sekarang ini akan diberikan padanya."
"Itulah sebabnya ayah menyuruhku pergi mengembangkan bisnis di tempat terpencil, ia mau membunuh aku dan istriku di sana." Ucap Saga.
"Kau sudah mengerti semuanya, tapi ayah juga sudah melangkah lebih maju dari kakak pertama. Ia menanam chips di tubuh kakak pertama, kalau pria itu macam-macam dengannya, maka kakak pertama juga tidak akan selamat."
"Jadi maksudmu, kita hanya perlu membiarkan mereka berdua saling perang lalu mereka sendiri yang saling membunuh?" Tanya Saga yang sudah mengesampingkan kecurigaannya pada Lorano. Mengorek informasi jauh lebih penting.
"Tidak, saat ini, kakak pertama telah menuduh kita sebagai orang dibalik pembantaian semua anaknya di luar negeri."
Saga tersenyum, "Jadi ayah dan kakak pertama akan kembali bekerja sama untuk menyingkirkan kita bertiga, sebelum akhirnya mereka berdua akan bertarauh tentang siapa yang hidup atau mati."
__ADS_1
"Kau lumayan pintar." Ejek Lorano.
"Mereka berdua, bagaimana kau mendapat informasi sepenting ini?" Tanya Saga kembali.
"Dengan ini," kata Lorano memperlihatkan jarum di tangannya.
"Apa maksudmu?" Lagi tanya Saga.
"Semua pengawal kakak pertama berada di bawah kendaliku. Semuanya harus mendapatkan obat penawar setiap 1 bulan." Kata Lorano dengan santai.
"Jadi tentang penyerangan tadi sore, kau sudah mengetahuinya?" Tanya Saga kembali.
Saga kembali terdiam dan merenungkan semuanya. Ada begitu banyak informasi hari ini, jadi ia harus mengambil langkah paling tepat di keesokan harinya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Lorano saat melihat Saga berpikir begitu dalam.
"Aku rasa kita perlu bicara besok." Ucap Saga lalu pria itu berdiri meninggalkan Lorano sendirian.
__ADS_1
"Ya,, ini memang sangat rumit." Hela Lorano ketika Saga sudah menjauh darinya.
...
Di sebuah ruangan yang dipenuhi ornamen keemasan, seorang pria sedang duduk dengan santai untuk mendengarkan laporan dari pekerjaan anak buahnya hari ini.
"Tuan, semua saudara Tuhan yang berada di luar negeri berhasil kami singkirkan. Tapi Lorano dan Saga, serta istri Saga tidak bisa kami sentuh. Pembunuh bayaran yang kita kirim untuk mereka tewas di tempat." Lapor seorang bawahan Roni yang merupakan tangan kanan pria itu dan sebagai orang yang paling Roni percayai.
"Haha,,, mereka mau mempersulit ku?" Roni menggertakan giginya dan mengepalkan tangannya mengingat kedua saudaranya yang paling sulit ditangani itu.
"Bagaiman dengan ayah? Apa kalian sudah menambahkan dosis untuknya?" Tanya Roni lagi.
"Ya, kami perkirakan umurnya tidak akan sampai sebulan lagi." Jawab kaki tangan Roni.
"Bagus, kalau begitu kalian tidak perlu mengincar Saga dan Lorano. Hanya perlu mengincar gadis bernama Dita, tapi aku mau kalian menangkap hidup-hidup. Aku aku ingin melihat seperti apa gadis yang bisa meluluhkan hati Saga yang sekeras batu itu."
"Baik Tuan."
__ADS_1