MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
54. Pewaris sesungguhnya


__ADS_3

"Saya sebenarnya curiga kalau Tuan Lorano adalah orang yang sudah mencelakai Nona." Ucap Senya membuat Saga langsung menoleh ke arah Senya.


"Aku akan menjelaskannya nanti." Kata Senya lalu ia keluar dari kamar meninggalkan dua orang itu.


'Aku tidak punya pilihan sekarang. Orang paling dekat yang bisa segera menolong Senior adalah Lorano.' pikir Senya lalu ia menghampiri Lorano.


"Tuan Saga memanggil Anda ke kamarnya." Kata Senya.


Lorano tidak menjawab apa pun dan langsung pergi ke kamar Saga.


"Ada apa?" Tanya Lorano saat ia tiba di kamar Saga.


"Periksa dia." Ucap Saga lalu ia berdiri memberi akses bagi Lorano. Saga menoleh ke arah Senya sebelum kembali memperhatikan Lorano yang sedang memeriksa denyut nadi Dita.


"Dia hanya pingsan saja." Ucap Lorano lalu ia berdiri.


Saga mengangguk lalu ia kembali menyelimuti Dita.


"Aku akan keluar." Ucap Lorano lalu meninggalkan kamar itu.


"Tunggu aku di ruang kerjaku." Saga memberitahu Senya lalu gadis itu juga keluar.

__ADS_1


Saga memperhatikan Dita selama beberapa saat, memastikan gadis itu benafas dengan teratur.


Setelahnya, ia pergi ke ruang kerja dan menemui Senya yang sudah menunggunya di sana.


"Katakan." Ucap Saga.


"Tadi sore, seorang pembunuh bayaran muncul di rumah, ia diperintahkan untuk membunuh semua orang. Tapi Tuan Lorano hanya berjabat tangan dengan pria itu lalu pria itu sudah terpapar virus mematikan. Hal ini serupa dengan cara Senior di racuni di hotel M." Ucap Senya tanpa mau menjelaskan lebih lanjut. Ia tahu, Saga akan mengerti dengan sendirinya.


"Kau boleh pergi." Kata Saga yang masih perlu waktu mencerna ucapan Senya.


Sekarang Ia benar-benar kuwatir dengan keselamatan Dita, terlebih orang yang berniat mencelakai istrinya itu selalu musuh dalam selimut.


Pertama rekan bisnis Dita, kemudian Senya, pengawal pribadi Saga. Lalu sekarang, apa mungkin Lorano yang merupakan kakak yang paling dipercayai Saga juga berniat mencelakai Dita?


Setelahnya ia pergi ke kamar Lorano dan mendapati pria itu sedang memainkan sebuah benda aneh di tangannya.


"Masuklah." Ucap Lorano begitu menyadari kedatangan Saga.


"Kenapa pintunya tak di kunci?" Tanya Saga.


"Tempat ini terlalu aman untukku." Ucap Lorano dengan acuh.

__ADS_1


"Benda apa yang kau pegang itu?" Tanya Saga.


"Ini bernama jarum mini, aku biasa menggunakannya di saat darurat." Jawab Lorano.


Saga memperhatikan benda kecil itu, sepertinya benda itulah yang digunakan Lorano saat berjabat tangan untuk mengkontaminasi tubuh seseorang dengan virus.


"Aku dengar seorang tamu tak diundang menemuimu sore ini?" Tanya Saga.


"Ya, gadis itu pasti sudah menceritakannya. Dia adalah suruhan kakak pertama, kakak pertama ingin membunuh smeua anak ayah demi warisan. Semua saudara kita sudah menjnggal." Kata Lorano yang tidak terlihat sedih.


"Lalu?" Lagi tanya Saga yang ingin mendapat lebih banyak informasi.


"Dia juga mengincar istrimu." Ucap Lorano membuat Saga mengepalkan tangannya.


"Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Mengapa harus melukai orang luar?" Kata Saga tak mengerti dengan permainan kakak pertama dan ayahnya.


"Aku sudah menyelidikinya, kakak pertama telah memberi obat pada ayah. Mungkin umurnya tidak akan lama lagi." Kata Lorano dengan acuh.


"Obat?" Saga mengerutkan keningnya.


"Ya, sepertinya kakak pertama hanya menunggu pembantaian sebelum membunuh ayah, tapi itu tidak penting, lagi pula lelaki tua itu selalu memihak pada kakak pertama, jadi apa salahnya kalau ia menikmati kekejaman anaknya sendiri? Tapi yang harus kau pikirkan sekarang ialah melindungi istrimu, Karena ternyata pewaris sesungguhnya adalah dia."

__ADS_1


"Pewaris sesungguhnya? Apa maksudmu?" Tanya Saga tak mengerti.



__ADS_2