
"Aku tidak bisa. Perempuan itu akan kembali menganggapku sebagai pria lemah saat dia melihatku dalam keadaan seperti ini." Kata Lorano menghela nafas.
"Mana mungkin begitu? Saya saat ini sangat khawatir dengan Senya, dia jatuh sakit juga karena kelelahan memikirkan cara untuk menemukan Tuan." Ucap Aran.
"Hah,, aku akan memikirkannya lagi." Ucap Lorano kembali menyuap buburnya yang hambar.
"Kalau begitu saya permisi untuk pergi. Saya harus kembali mengurus perusahaan Tuan Saga." Ucap Aran meninggalkan kamar Lorano.
Begitu keluar dari ruangan Lorano, Aran langsung bertemu dengan Dewa yang duduk di kursi roda.
"Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa Tuan Lorano berada di sini? Aku hampir mati memikirkan Tuan Lorano, tapi kau malah menyembunyikannya dariku!!" Ucap Dewa memandang marah pada Aran, dia sudah membantu pria itu tapi ternyata pria itu sama sekali tidak memiliki rasa terima kasih untuknya.
Kalau bukan Dita yang mengatakan keberadaan Lorano, maka dia masih akan hidup seperti orang gila yang terus berpikir bahwa Lorano telah meninggal.
"Bukan, aku sendiri juga tidak tahu dan baru tahu ketika aku tiba di sini membawa Senya. Nona Dita sengaja menyembunyikan keberadaan Tuan lorano dari Senya, jadi saya pun--"
"Apa katamu?!!" Suara seorang perempuan menyelah ucapan Aran.
"Senya?" Aran sangat terkejut melihat perempuan itu, ternyata Senya sudah bisa keluar dari kamar.
"Dimana Lorano??" Tanya Senya dengan nafas tersengal sembari memegangi tiang penyangga infusnya.
"Kau salah dengar,, aku hanya--"
__ADS_1
"Jangan berbohong!! Katakan padaku,, dimana pria itu??" Tanya Senya mulai meneteskan air matanya.
Dia sudah mencari pria itu kemana-mana, dia sudah memikirkannya selama berhari-hari tapi ternyata semua orang yang ada di sisi-nya berkomplot untuk menyembunyikan Lorano darinya!!
Apa itu masuk akal??
"Senya, tolong dengarkan aku dul--"
"Diam!! Jangan berbicara padaku ketika kau tidak mau mengatakan di mana Lorano berada!!" Teriak Senya pada Aran lalu perempuan itu mengalihkan pandangannya pada pria yang duduk di kursi roda.
"Dewa,, kau pernah bilang Kalau tuan Lorano sangat mencintaiku,, kau ingin aku dan dia bersama 'kan?? Sekarang tolong,, katakan padaku,, dimana dia??" Tanya Senya mengeratkan pegangannya pada tiang infusnya sebab dia merasa tubuhnya semakin lemah dari waktu ke waktu.
Berbicara dengan Aran sudah menguras terlalu banyak tenaganya.
Namun saat ini, dia tidak mengetahui bagaimana keadaan Lorano.
Bagaimana kalau ternyata Aran sengaja mencegah mereka bertemu sebab ada suatu alasan kuat?
"Tidak usah,, aku akan mencarinya sendiri." Ucap Senya mengusap air matanya lalu perempuan itu melihat pintu di belakang Aran.
Senya lalu berjalan ke sana sembari berpegangan pada tiang infus nya.
Arah dan Dewa saling bertatapan selama beberapa detik sebelum Aran bergerak menahan handel pintu yang hampir di pegang oleh Senya.
__ADS_1
Segera, dengan tatapan penuh kemarahan nya Senya melototi Aran "Pergi!"
"Tenanglah dulu, Tuan Lorano memang ada di ruangan ini, tapi aku tidak akan mengijinkan mu bertemu dengannya dalam kondisi seperti ini. Bagaimana kalau--"
"Siapa kau berani menghalangiku?!!" Gertak Senya dengan tubuh gemetar.
Dia semakin kelelahan dan pria di depannya masih terus menghalanginya?
Keterlaluan!!!
"Biarkan saja Aran, kau tidak pernah jatuh cinta jadi kau tidak akan mengerti bagaimana perasaan mereka berdua!" Tiba-tiba kata Dewa membuat Aran langsung menoleh pada pria itu.
Tidak pernah jatuh cinta?
Benar,,, dia tidak tahu bagaimana rasanya.
"Minggirlah," kembali suara Dewa terdengar saat melihat Aran masih belum menyingkir dari pintu.
"Baiklah," kata Aran menghela lalu pria itu memutar handle pintu dan membuka pintu kamar Lorano.
Begitu pintunya terbuka, tatapan Senya langsung tertuju pada seorang pria yang sedang menatap kearah mereka.
Lorano!!
__ADS_1
Pria sialan itu benar-benar ada di sana!!!