
Pukul 14.30.
Saat itulah Lois mulai panik ketika orang-orang Saga sudah melepaskan rompi mereka dan berubah menjadi layaknya penjaga keamanan biasa.
Mereka kemudian berpencar di rumah-rumah itu sampai akhirnya sebuah mobil tiba di pekarangan rumah.
Topia dan Aran langsung bergegas membereskan semua tempat di rumah itu "Tuan, silakan temui tamu Tuan dan Kami tidak akan mengganggu kalian. Cukup ingat kalau nyawa keluarga Tuan berada di tangan kami bahkan kediaman ini ada di dalam kendali kami." Kata Aran lalu ia menyusul Saga dan Topia yang sudah naik ke lantai 2.
'Sial!!! Jadi ini rencana mereka!' gerutu Lois dalam hatinya, tapi ia tidak punya pilihan lain selain keluar dan menyambut Afgan seolah semuanya baik-baik saja.
Awalnya Ia berpikir meskipun Aran sedang menguasai rumahnya, Afgan akan datang menyelamatkannya. Namun di saat seperti ini ia seperti seekor kelinci dan afgan seekor harimau yang sedang berada di dalam kandang singa.
Dengan semua pasukan Aran menguasai rumah itu maka 1 harimau tidak akan cukup menyelamatkan seekor kelinci.
"Sial!!" Gerutunya mulai keringat dingin.
'Sekarang Aku tak punya pilihan lain, hanya bisa berharap pria ini tidak akan membahas Dita untuk hari ini.' pikir Lois.
Tapi ia sebenarnya sudah ketakutan, karena memang tujuan mereka bertemu karena Afgan ingin mengunjungi Dita. Ya, lelaki itu akan menyiksa gadis milik Saga.
Ia bahkan sudah menyiapkan semua peralatan yang diinginkan Afgan untuk menyiksa gadis itu.
__ADS_1
"Tuan Afgan, selamat datang di kediamanku." Ucap Lois dibalas anggukan Afgan.
Keduanya kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Lois duduk dengan gemetaran.
Afgan tertawa kecil "Hah, kau sebegitu gemertarannya? Tenang saja, asal kau bisa memenuhi permintaanku, maka perusahaanmu tak akan ku bangkrut kan."
Seketika Lois merasa heran, tapi ia juga merasa lega karena pria itu membahas masalah lain.
'Apakah kedatangan Saga di sini sudah diketahui oleh Afgan?' pikir Lois.
"Tuan, apa yang tuan inginkan?" Tanya Lois masuk dalam sandiwara Afgan.
"Mata-mata? Mata-mata seperti apa?" Tanya Lois lagi.
"Kau tahu kan, perusahaan ayahku di negara ini sedang di pimpin oleh Saga. Aku hanya kuwatir kalau ia menyalahgunakan kepercayaan yang telah di berikan untuknya."
Lois mematung di tempatnya. Ia lolos dari jebakan satunya, tapi kini ia tahu maksud pria di depannya.
Afgan ingin mendorongnya sendirian ke dalam kemarahan Saga.
__ADS_1
'Kalau aku tidak mengiyakan, maka perusahaanku akan hancur. Kalau aku mengiyakan maka aku akan hancur oleh Saga.'
"Saya,, tidak berani memata-matai Tuan Saga. Ia adalah pemimpin organisasi terbesar, saya tidak akan punya kesempatan untuk melakukannya." Jawab Lois.
"Baiklah. Sepertinya kau masih ragu mengambil kesempatan. Aku memberimu waktu 3 hari untuk memikirkannya." Ucap Afgan lalu rpia itu berjalan pergi meninggalkan Lois.
"Tuan," ucap Aran pada Saga. Ia meminta perintah selanjutnya.
"Siksa dia." Kata Saga.
"Baik Tuan." Jawab Aran lalu pria itu keluar dari ruangan mana Saga duduk dengan santai.
Satu menit kemudian terdengar teriakan memilukan dari lantai bawah.
"Bagaimana analisamu?" Tanya Saga pada Topia yang berdiri di depan Saga.
"Saya rasa ada musuh di balik selimut. Afgan sepertinya tahu rencana kita. Ia tidak mungkin datang ke ruangan ini hanya untuk bernegosiasi tentang sebuah perusahaan kecil. Lagi pula, jika ia memilih Lois menjadi mata-mata, itu pilihan paling buruk yang bisa dilakukan orang seperti Afgan. Kemungkinan terbaiknya, saat ini Afgan berusaha membersihkan tangannya dari penculikan Nona Dita. Saya yakin, Nona berada di tangan Lois, tepat di rumah ini."
"Bongkar rumah ini!" Ucap Saga setelah mendengar penjelasan Topia.
"Baik Bos."
__ADS_1