
Tetua memegang I-Pad itu dengan tangan gemetaran saat videonya mulai terputar.
Video itu berisi Roni yang sedang berbicara dengan para pembunuh bayaran tentang negosiasi untuk membunuh semua saudaranya.
"Ayah itu!" Roni langsung berteriak merebut iPad itu dan melemparkannya ke lantai.
"Kalian berdua pasti sudah merencanakan semua ini!" Teriaknya melototi lorano karena ia tidak percaya pria itu bisa mendapatkan video seperti itu.
Ia sudah menyembunyikan kegiatannya secara rapat-rapat Bagaimana bisa Lorano mendapatkan videonya?
"Haha, Kenapa kau tidak memperhatikan sudut pandang video itu? Menurutmu siapa yang merekamnya?" Tanya Lorano dengan senyum menghiasi wajahnya.
Roni langsung melihat kearah iPad yang sudah jatuh di bawah lantai video itu masih terputar dan memperlihatkan sudut pandang pengambilan gambar itu tepat direkam dari sampingnya.
Pria itu langsung menoleh kearah tangan kanannya yang juga berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Kau!" Gertaknya penuh kemarahan sembari mengayunkan tangannya untuk memukul pria yang telah menghianatinya.
Namun belum sempat ia melakukannya ketika sebuah tongkat malah memukul kepalanya hingga ia terjatuh ke lantai.
"Anak bajingan!" Teriak ketua merasa sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh putranya yang paling ia percayai.
"Hahaha,, Ayah! Kau tidak tahu Bagaimana cara aku menahan semua kekesalan ku selama ini. Aku adalah pewaris tunggal dan satu-satunya yang seharusnya menjadi ahli waris mu tapi kau malah mengadopsi begitu banyak anak untuk menjadi pesaingku! Kau pikir aku sebagai anak kandungmu tidak akan marah dengan hal itu?" Kata Roni sambil menggertakkan giginya menatap dengan marah pada ayahnya.
"Baiklah, ini adalah masalah internal keluarga kalian tapi karena kami sangat baik hati kalian boleh menggunakan ruangan ini untuk berdebat sebentar. Saya permisi untuk pergi ke dapur." Ucap Lorano lalu pria itu berdiri tanpa rasa bersalah bergabung bersama Saga dan Dita untuk sarapan.
"Ayah! Apa yang ingin aku lakukan?!" Tanya Roni sambil mendekati Tetua.
"Haha,," Tetua tertawa keras sambil terus memegang tombol di tangannya bersiap untuk menekan nya kalau kalau pria didepannya tidak bisa lagi dikendalikan.
"Kau tidka tahu, selama kau berada disisiku maka kau akan terus menjadi orang ku, tidak ada yang namanya hubungan darah di dunia ini. Yang ada hanyalah hubungan saling menguntungkan atau saling merugikan. Di belakang telingamu aku sudah menaruh chips yang sangat berguna untuk membunuh kapan saja ketika kau menghianatiku. Saat aku menekan tombol ini hanya dalam waktu 1 detik kau tidak akan punya tenaga bahkan untuk membuka kelopak matamu saja." Ucap Tetua membuat Roni menjadi semakin terkejut.
__ADS_1
Ia pikir selama ini ia telah membodohi pria tua itu tapi ternyata pria itu jauh lebih cerdik darinya!
Dan sekarang tidak ada lagi yang bisa diharapkan karena kaki tangannya pun orang yang paling ia percaya telah berkhianat dan berpihak pada Lorano dan Saga.
"Ayah juga tidak bisa membunuhku dengan begitu mudah. Sejak tahun-tahun yang lalu aku telah memberi ayah ramuan yang bisa membunuh ayah. Paling dalam satu minggu lagi Ayah tidak akan melihat lihat harta Ayah lagi. Tapi kalau Ayah ingin bernegosiasi denganku, aku bisa memberikan penawarnya dan ayah bisa memberikan kendali chips itu padaku.
Bagaimana Ayah?" Tanya Roni.
Tetua baru saja akan menjawab ketika suara dari ruang makan menyelanya.
"Sayang, apa kau bangun subuh subuh untuk memasak ini? Sarapan pagi ini jauh lebih enak dari pagi-pagi yang sebelumnya." Komentar Dita membuat kedua pria yang sedang marah di ruang keluarga begitu terkejut.
Mereka berdua sudah mengabaikan ketiga orang yang sedang sarapan itu, akhirnya mereka tersadar siapa yang akan menikmati akhir dari semua kejadian ini.
Pewaris sesungguhnya yang sedang sarapan di ruang sebelah!
__ADS_1