
Halo," ucap Aran mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Hah, kau pasti sudah tahu siapa ini. Sekarang Tuan Lorano sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengan Senya. Kau bilang aku harus memisahkan mereka, jadi katakan padaku bagaimana caramu dulu menghadapi Tuan Saga?"
"Ak,, aku," Aran begitu gugup tidak tahu harus menjawab apa karena ia langsung berhadapan dengan orang yang sedang mereka bicarakan.
Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Saga menatapnya dengan tajam mengisyaratkan agar Aran segera menjawabnya.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya memperhatikan mereka dari jauh." Jawab Aran.
"Tidak melakukan apa pun? Haha, jangan bercanda, aku tahu kau adalah orang yang paling repot setelah Tuan Saga menjadi budak seorang perempuan."
Aran menelan air liurnya, ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi saat panggilan itu berakhir.
"Tidak ada yang perlu ku katakan padamu, urus saja urusanmu sendiri." Ucapan dengan cepat lalu ia menutup panggilan itu secara sepihak.
"Hahaha,,, jadi kamu merasa direpotkan setelah aku mengenal istriku? Kau juga menyetujui kalau aku menjadi budak seorang perempuan?" Tanya Saga pada Aran.
"Tuan, saya tidak bermaksud-"
"Tinggalkan kami berdua!" Lagi kata Saga lalu Aran segera meninggalkan mereka berdua.
Saga kemudian menoleh ke arah istrinya terlihat perempuan itu sedang tersenyum seolah Ia mendapat berita yang sangat menggembirakan.
"Lekukan apa yang dibentuk oleh bibirmu?" Tanya Saga sambil memaksa istrinya menatap matanya.
__ADS_1
Dita semakin mengembangkan senyumannya lalu memeluk Saga dengan erat "Aku tidak menyangka kalau sejak menikah aku menjadikan suamiku sebagai budak."
"Cih! Kau begitu senang sekarang?" Tanya Saga yang merasa sangat konyol dengan istrinya yang tersenyum bahagia pada sesuatu yang biasa saja.
"Sayang, aku rasa kita harus mewujudkan dugaan Aran. Kebetulan aku sekarang sedang mengidamkan sesuatu." Ucap Dita sambil tersenyum miring menatap suaminya.
"Mengidam? Apa yang kau idamkan?" Tanya Saga.
"Mengontrol suamiku dalam permainan panas." Ucap Dita mengedipkan matanya lalu ia berjinjit menciumi Saga.
Saga hanya mematung memperhatikan kelakuan Dita. Perempuan itu terus menciuminya dengan liar dengan tangan yang yang menggelitik telinganya.
Sesekali Dita menghentikan ciumannya lalu memandangi suaminya dan kembali menciumnya lagi.
Dita kemudian mendorong Saga hingga pria itu kemudian duduk di salah satu kursi di pinggir kolam.
"Simpan tanganmu!" Kata Dita gerakan kedua tangan Saga di belakang kepala pria itu.
Dita tersenyum saat ia melihat celana pria itu telah mengacung ke atas karena sesuatu yang berdiri di dalamnya.
"Suamiku sangat perkasa." Komentar Dita dengan suara menggodanya lalu kembali menciumi Saga.
Sembari mencium Saga, tangannya berkutat pada kancing kemeja pria itu dan membukanya satu persatu.
Akhirnya dada bidang itu terpampang jelas di depan Dita lalu ia menciuminya kebawah.
__ADS_1
"Hmm!" Geram Saga yang merasakan kenikmatan dari sentuhan-sentuhan basah istrinya.
Dita tersenyum lalu menggigit pelan jamur kecil berwarna coklat di dada pria itu.
Tangan kanannya memainkan jamur yang lain sementara tangan kirinya merayap ke arah selatan.
"Akkh!" Saga menggigit bibirnya dengan tangan berusaha ditahan agar tidak terulur merengkuh istrinya.
Bagaimana tidak, ia sudah tidak tahan dengan permainan lambat yang dilakukan oleh Dita. Dirinya ingin sekali menyambar perempuan itu dan memberinya pelajaran.
"Nggghhh!" Suara berat yang ditahan oleh Saga menarik perhatian Dita hingga perempuan itu duduk menatap suaminya yang sedang menahan diri.
"Aku belum selesai." Ucap Dita turun dari pangkuan saja dan melorotin celana pria itu.
"Bisakah kau lebih cepat?" Ucap Saga yang sudah tidak tahan ingin menjumpai junior mereka.
"Kita harus pelan, kalau tidak, anak kita bisa terkejut." Kata Dita seraya tersenyum lalu ia mulai bermain di bagian selatan Saga.
Permainan itu sangat lembut, padahal milik Saga sudah dari tadi menegang sempurna.
"Ahhhkk! Sayang ku mohon!" Raung Saga dengan suara seperti orang kesakitan.
Suara Saga yang terdengar seperti orang yang disiksa membuat Aran yang sementara menelpon langsung berjalan ke arah kolam.
Tapi ia langsung menghentikan langkahnya saat melihat adegan panas di pinggir kolam. "Astaga, Tuan benar-benar menjadi budak Nyonya. Apa aku juga akan begitu ketika menikah nanti? Perempuan memang mengerikan!" Komentarnya.
__ADS_1