
Begitu pintunya terbuka, tatapan Senya langsung tertuju pada seorang pria yang sedang menatap kearah mereka.
Lorano!!
Pria sialan itu benar-benar ada di sana!!!
"Kau baik-baik saja?" Tanya Aran saat melihat Senya benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya.
Baru saja Aran selesai bertanya Ketika kedua kaki Senya menjadi tidak kuat menopang berat badannya hingga perempuan itu terkulai lemas.
Untung saja Aran dengan sigap menangkap tubuh Senya lalu pria itu menggendong Senya ke dalam kamar Lorano.
"Lorano,," Senya meneteskan air matanya ketika dia semakin mendekat pada pria yang sedang menatapnya dengan wajah datar.
"Kemarilah,," akhirnya suara Lorano keluar juga, sedari tadi tenggorokannya tercekat karena terkejut melihat senyumnya.
Melihat lurah membuka tangannya untuk menerima hanya, Aran kemudian meletakkan Senya pada pangkuan Lorano lalu kedua orang itu berpelukan dengan erat.
Aran memperhatikan dua orang itu lalu menelan air liurnya sebelum membereskan tempat tidur Lorano, dimana alat makan pria itu masih berada di tempat tidurnya.
"Hiks,,, hiks,,," dengan napas tersengal-sengal, Senya sesegukan di pelukan Lorano karena tidak menyangka dia benar-benar masih memiliki kesempatan bertemu dengan Lorano.
Padahal, 1 minggu yang lalu dia sudah mengira bahwa pria itu telah mati,, tapi nyatanya....
__ADS_1
"Tenanglah,, kau sedang sakit," kata Lorano mengelus punggung Senya dengan perasaan berkecamuk.
"Saya akan keluar," Aran dengan tahu diri keluar dari ruangan itu ketika melihat dua orang yang ada di atas ranjang membutuhkan waktu untuk berduaan saja.
Setelah menutup pintu kamar, Aran tidak langsung meninggalkan pintu kamar, dia dan Dewa berada di sana mendengarkan isakan Senya dari kamar Lorano.
'Mengapa aku merasa tidak nyaman?' pikir Aran dalam hati karena mendengar suara tangisan Senya mengingatkannya pada suara tangisan yang ia dengar dari mulut Topia.
Sementara dalam kamar, Lorano menjadi semakin cemas sebab perempuan di pelukannya tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti menangis.
"Hei,, apa kau mendengarku?" Tanya Lorano mengulurkan tangannya memegang wajah Senya lalu memaksa perempuan itu menatapnya.
Mata sembab dan wajah pucat dengan kantung mata yang besar terlihat sangat menyesakkan hatinya.
"Kita sudah bertemu, Apakah pertemuan kita memang harus diisi dengan tangisan?" Tanya Lorano sembari menggerakkan tangannya menghapus air mata yang terus keluar dari mata sinya.
"Apa maksudmu? Tentu saja takut," jawab Lorano.
"Lalu mengapa kau bersembunyi di sini dan tidak pernah mengabari ku?? Apakah kau tahu seberapa berat hariku saat mengetahui kau sudah meninggal lalu kembali tahu bahwa peti yang dikubur itu adalah peti kosong?? Harus sampai begini memperlakukanku?!!" Bentak Senya dengan air mata terus membanjiri pipinya.
Siapa yang tidak marah jika sudah ditipu habis-habisan seperti dirinya?
"Maaf,, ini di luar kehendak ku,," kata Lorano kembali memeluknya Senya dengan erat.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kau lakukan?!! Sekarang kau bahkan masih terlihat baik-baik saja dari pada aku!" Kesal Senya memukul pelan dada bidang Lorano.
"Maaf," ucap Lorano.
"Pokoknya mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu jauh-jauh dariku, pokoknya aku akan melekat padamu seperti lem!! Kau harus tetap di sisiku karena aku tidak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya!!! Kau harus bertanggung jawab karena sudah mempermainkan ku!!!" Ucap Senya dengan tegas.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa,, aku tidak bisa mengikutimu kemanapun." Kata Lorano semakin membuat Senya menjadi kesal lalu perempuan itu mengangkat wajahnya menatap Lorano.
"Kau mau bersembunyi dariku untuk yang kedua kalinya?!! Kenapa?? Kau tidak mau bertanggungjawab padaku?!!" Tanya Senya dengan tegas.
"Bukan,, tapi karena racun yang ada di tubuh belum sepenuhnya pulih maka aku tidak bisa meninggalkan pulau ini. Aku tidak bisa bejalan," ucap Lorano membuat Senya tak mampu berkata apapun.
Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya melihat kedua kaki Lorano "Ka,, kakimu?"
"Ya,, ini tak bisa digerakkan." Jawab Lorano.
"Bagaimana bisa??" Senya kembali meneteskan air matanya.
"Hmm, tidak apa,, ini masih lebih baik dari pada kehilangan nyawaku." Ucap Lorano.
"Tetap saja,, aku tidak aku berpisah lagi!! Aku akan membawamu kemanapun aku pergi dan aku akan terus melekat padamu!!" Ucap Senya kembali memeluk Lorano, "Pokoknya aku tidak mau kehilangan kamu,, atau kau akan menyesal seumur hidupmu."
"Kau tidak keberatan dengan pria lumpuh?" Tanya Lorano.
__ADS_1
"Aku keberatan kalau kau tidak mencintaiku!! Pokoknya kau harus bertanggung jawab padaku dengan mencintaiku!! Kalau kau tidak bisa, maka kau harus memaksakannya!!!" Ucap Senya dengan suara pelan namun tegas.
Lorano tersenyum, "Aku menjanjikannya,"