Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 123


__ADS_3

" Kau minta maaf untuk yang mana ?". Tekan Ruby seolah mengingatkan Agatha jika dirinya banyak sekali kesalahan yang telah di perbuat nya.


" Untuk semuanya Al, aku bingung harus mengatakan apa, semua kesalahan ku terlalu banyak padamu untuk itu aku bingung harus apa !". Serunya menunduk kembali, terdengar isak tangis dari nya. " maaf, maafkan aku ". Agatha sedikit melangkah mundur dan BRUGHHH


Agatha berlutut meminta maaf di hadapan Ruby sembari tangan nya di satukan, tangis nya tersedu.


" Kenapa kau tidak membunuhku saja Al, mungkin untuk itu semuanya akan kembali seperti awal dan keluarga mu pun akan tentram seperti sebelum aku datang ! maaf telah menghancurkan kebahagiaan mu Al, hatiku dikuasai oleh iri dan dengki padamu hanya karena kau beruntung di lahir kan dalam keluarga yang begitu baik dan juga harmonis, tapi apa yang aku lakukan ? hiks,,,hikss,,hiks, tidak tahu diri, aku begitu tidak tahu diri dan malah menghancurkan semuanya. maaf,, maaf,, maaf,, maaf kan aku yang bodoh ini Al !". Agatha terus meracau ke sana ke mari dengan air mata yang terus berhamburan lengkap kedua tangan yang masih menyatu.


Ruby masih tetap menatap nya dengan datar tanpa ekspresi sedikit pun entah apa yang sedang dia rasakan dan dia pikirkan tidak ada yang bisa menebak jalan pikirnya, Ruby mengepalkan tangan nya sesekali tangan nya memijit kening nya yang kembali terasa pening.


Di luar, Edward, Kenzi dan juga Lucky masih duduk di kursi tunggu setelah selesai merencanakan penyerangan terhadap Mafia yang berada di negara X yang masih memiliki ikatan dengan mante.


tak,,,tak,,tak,,tak


Suara langkah kaki melangkah dengan cepat dan itu tidak hanya suara satu orang saja, langkah cepat terdengar semakin terdengar dari lorong panjang menuju ruangan Ruby yang berada di ujung.


" Dimana adik ku ?". Tanya Revan dengan tak sabarnya, mereka bertiga langsung bergegas berangkat ke rumah sakit setelah Key dan juga Maxim memberitahu mereka tanpa menceritakan apapun. Dengan tidak mendengarkan ataupun melihat apapun Revan melajukan mobil nya dengan sangat cepat.


Revan Revin di cegah oleh Edward saat mereka akan menerobos masuk ke dalam.


" Tidak, jangan masuk dulu !". Seru Edward merentangkan tangan nya. Wajah panik mereka masih saja terpancar, Edward pun tak memungkiri itu, apalagi mereka adalah saudara sedarahnya.


" Apa hak mu melarang kami hah ?". Sentak Revin mendorong Edward sampai tubuhnya sedikit bergeser.

__ADS_1


Di luar masih terdengar keributan tapi Ruby tak begitu ingin tahu, Ruby menghembuskan nafas nya perlahan seraya mengatur nafasnya agar kembali normal.


" Berdiri, berdirilah leherku pegal melihat ke bawah terus ! ". Keluh Ruby dengan ekspresi manjanya dan juga suara manjanya yang dulu pernah Agatha dengar. " Apa kau sengaja ? membuat leherku keram !". Cemberut Ruby membaringkan memalingkan kepalanya.


" tidak tidak, maaf, maafkan aku ". Agatha langsung berdiri mendekati Ruby. " Maaf, maaf !". Ucapnya kembali.


" Ka ". Cemberut Ruby kembali menatap Agatha dengan wajah imutnya. " bisakah kau tak meminta maaf terus, telingaku sakit ". Keluh nya menggoyangkan tangan Agatha yang baru saja di raih nya dengan kedua tangan nya.


" Al, hiks,,hiks,,hikss !". Tangis haru Agatha memeluk erat tubuh Ruby.


BRAKKKKKK


Suara pintu terdorong dengan keras nya, siapa lagi kalau bukan ulah kedua kaka nya.


Ruby dan juga Agatha terkejut sampai jarum impus yang tertancap di lengan kiri Ruby mengeluarkan darah.


" Ada apa, ada apa ?". Panik Edward.


" tangan Ruby berdarah, jarum impusnya,,,, !". Panik Agatha, Edward langsung mencari Sasya tanpa mendengar lengkap perkataan Agatha.


Terlihat Sasya berlari terpongoh-pongoh dengan high hills nya yang saling bertautan.


" Minggir ". Terobos Sasya pada ketiga kaka Ruby yang masih berdiri berjejer padahal masih ada jalan menuju ranjang Ruby.

__ADS_1


Ruby masih enggan mengalihkan tatapan nya dari kaka nya, Sasya dengan cekatan mengobati Ruby dan kembali menancapkan jarum impus nya.


" Tinggalkan aku, aku mau istirahat !". Marah Ruby membaringkan tubuhnya dan menaik kan selimutnya sampai menutupi wajahnya.


" Sayang ". Lembut Revan memanggil Ruby dan mendekatinya. " Al ". Panggil nya lagi mencoba membuka selimut yang menutupinya.


" Pergilah, kalian mengganggu ". Marah nya, tapi marahnya Ruby membuat mereka begitu gemas apalagi suara nya begitu manja.


" Tidak, kaka tidak akan pergi !". Tegas Revin malah duduk di samping Ruby.


" Ayolah Ri, jangan seperti ini ! Apa kau tahu kaka mu yang tampan ini mengkhawatirkan mu hmm !". Tutur Ronald dengan narsis nya membuat Sasya mengulum senyum nya tidak kuat ingin tertawa terbahak saat itu juga begitupun Kenzi dan juga Lucky.


" tch kalian menyebalkan ". Kesal Ruby membuka kasar selimut nya menampakkan wajah yang sedang cemberut dengan hidung mancung menambah kelucuan di wajah nya.


" Ka, lihatlah pria-pria ini kenapa begitu menyebalkan !". Lanjutnya lagi mengadu pada Agatha yang masih berada di ruangan Ruby dengan pakaian pasien melekat di tubuh nya, rambut Agatha yang panjang tanpa riasan di wajah nya membuatnya seperti wanita dewasa namun polos.


Ketiga kaka nya menoleh pada arah pandang Ruby dan seketika amarah mereka mulai naik sampai-sampai Revin turun dari ranjang Ruby hendak mendekati Agatha tapi tangan Ruby lebih awal mencegah nya. Wajah mereka memerah menahan amarah, Revan mengepalkan tangan nya seakan ingin memukul wanita tidak tahu diri ini di depan nya.


" Jangan coba-coba kalian menyentuh kaka ku !". Tegas Ruby melotot sembari berdecak pinggang dan pipinya perlahan mengembung, amarah mereka seketika luruh melihat kelakuan adiknya yang menggemaskan itu. " kalian menjauhlah membuatku pusing saja, biar ka Agatha yang menemaniku ". Final nya. " kemarilah ka, kenapa kau terus berdiri di sana ?!". Ruby melambaikan tangan nya menyuruh Agatha untuk mendekat.


" Tidak, kaka tidak akan membiarkan dia berada di dekat mu, mengertilah Al !". Ujar Revin menatap nyalang kepada Agatha. "Bagaimana jika menyakitimu Al, kaka tidak akan membiarkan nya mendekatimu !". Cerocos nya.


" Dia tidak akan berani menyakitiku, jika di sampingku saja banyak serigala lapar !". Serunya enteng tanpa beban dan juga rasa takut di wajah nya yang ada puppy eyes dan juga pipi cemberut nya.

__ADS_1


" Serigala ? aku ?". Tunjuk Revin pada dirinya sendiri, Ruby nyengir manis. Revin mengacak-acak rambut Ruby dengan kasar sampai rambutnya berantakan.


Sedangkan Di rumah sakit tempat Leo dan juga yang lain nya di rawat masih menunggu kedatangan orang tuanya yang masih di perjalanan, mungkin karena kendala perjalanan mereka semua belum ada yang datang.


__ADS_2