Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 140


__ADS_3

" Apa Jasmine sudah pulang tadi van ?". Tanya Ronald karena sibuk dengan pekerjaan dan juga adik nya.


" Sudah, tadi dia pulang duluan ! tch, pria macam apa kau ini membiarkan wanitanya pulang sendiri ". Ledek Revan mencap gas melajukan mobil nya. Ronald mengirim beberapa pesan singkat kepada Jasmine dan langsung memasukan nya kembali ke dalam sakunya.


Lio dan yang lain nya masih sibuk mencari Nara terhitung dari siang hari tadi masih nihil, keadaan cuaca waktu itu tak dapat membantu menemukan jejak Nara sama sekali.


IRLANDIA MANSION


" iya mom ?". Ucap Ruby menerima panggilan dari Mommy nya di Jerman, bertanya kapan dia pulang ke sana. " dua hari lagi kami pulang mom, kenapa ?!". Seru Ruby.


" Ya sudah, tidak ada sayang, hanya saja mommy merindukan mu, cepatlah pulang ". Ujar Nameera.


" Baiklah mom, cuaca di sini masih buruk dan tidak aman untuk melakukan penerbangan ! ". Ucap Ruby


" Baik lah, jaga kesehatan mu di sana dan sampaikan salam mommy pada kakek mu ". Seru Nameera, mereka langsung mengakhiri panggilan nya.


" Apa itu glandma mommy ?". Tanya Nara, Ruby mengangguk kan kepalanya.


" Cepatlah tidur, apa kau masih belum mengantuk sayang ?". Ruby menemani Nara tidur karena malam sudah mulai pekat.


" mommy, Nala ingin tidur sama Uncle Brayn , apa boleh ?". Nara terduduk dari tidurnya menyingkap selimut kecil yang menghangatkan tubuh mungil itu.


" Ayo mommy antar !". Ruby beranjak dari sana dan menggendong Nara dalam dekapan nya.


Ruby mengetuk pintu kamar Brayn berkali-kali tapi tidak ada sahutan dari dalam, Tanpa permisi Ruby pun membuka kamar Brayn perlahan, saat pintu terbuka lebar tak ada siapapun di dalam.


Ruby dan juga Nara celingak-celinguk mencari nya. " Di mana Uncle mu ?". Ucap nya pada Nara.


" tidak tahu! ". Jawabnya pelan.


Mereka berdua mencari keluar dengan bergandengan dan turun ke bawah.


" uncle ". Teriak Nara saat dirinya melihat uncle nya tengah mengobrol dengan yang lain, Edward dan juga Jakson pun masih berada di sana.


" Jangan lari-lari nanti kau terjatuh ". Seru Brayn langsung menangkap tubuh Nara.

__ADS_1


" Kenapa kau masih terjaga sayang, apa kau belum mengantuk sama sekali ?". Ucap Jakson.


" Nala ingin tidur sama uncle Brayn Grandpa apa boleh ?". Polos nya Nara.


" Sama uncle Ray aja yuk ". Ajak Rayzen hendak mengambil alih Nara.


" Tidak mau, Nala mau tidur sama uncle Brayn saja malam ini ". Ucap Nara gemas.


" Sama aunty aja mau ? uncle Brayn baru pulang kerja sayang, pasti dia lelah ! ayoo,,, " Giliran Savira mengajak Nara. Mereka selalu saja berebut Nara di malam hari, di pagi hari pun mereka tidak terlewat untuk memperebutkan Nara.


" Siapa bilang aku lelah, !". Ujar Brayn mengecup singkat pipi tembem milik Nara.


" Apapun untuk keponakan uncle, ayo kita ke atas !". Gendong nya berlalu dari kumpulan orang tidak normal.


" Kenapa kalian masih berada di sini ? apa ada hal penting yang sedang kalian runding kan ?". Tanya Ruby duduk di samping Edward dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik Edward.


" Kami sedang menentukan tanggal pernikahan kita baby !". Ujar Edward mengejutkan Ruby, sehingga dirinya menjauhkan kasar kepalanya.


" Iya sayang, apa kau keberatan ?". Ucap Jakson.


" cehhhh, alasan saja kau ini sweety ". Ucap David tiba-tiba.


" diihhh alasan apa maksud mu Dev, yang jomblo diamlah !". Sarkas Ruby menciutkan semangat David dan mulutnya langsung membungkam.


" Lebih cepat lebih baik loh Sayang !". Bujuk Kakek nya, jika Ruby sudah dalam keputusan nya pasti susah untuk di rubah.


" Tapi yang cepat itu kadang juga tidak baik kakek ku sayang ". Jawab nya yang terdengar memang ada benar nya.


" Besok kalian harus menikah ". Jawab Edward enteng pada makhluk di depan nya, Rayzen dan juga Savira langsung bubar dari sana termasuk David.


" Jangan memaksa juga kali honey, apa kehidupan mereka nantinya kau yang akan tanggung ?". Ujar Ruby membenamkan kembali kepalanya.


" Bagaimana jika nantinya ada wanita yang menginginkan Edward, apa kau tidak takut ?". Uji Jakson.


" jika seperti itu maka aku akan melenyapkan nya, aku tidak akan mengizinkan siapapun menyentuh milik ku ". Tekan nya membuat Jakson salah mengucapkan hal seperti itu, Jakson dan juga Edward mengeluarkan keringat dingin kala Ruby mengeluarkan aura kejam.

__ADS_1


" ya ya ya, aku terserah kamu saja baby ! dan kau perlu encamkan ini juga, aku pun akan melenyapkan siapapun yang menyentuh milik ku ". Peringatan Edward membuat Ruby bukan nya takut atau kesal tapi malah tersenyum bangga dengan keputusan Edward.


" tch pasangan serasi ". Gumam Jakson dalam hatinya, betapa cocok nya mereka jika menjadi sepasang suami istri, yang satu kejam dan yang satunya lagi lebih kejam, lalu bagaimana nanti mereka memiliki anak ? mungkin akan lebih dari itu, helaan nafas Jakson terdengar seolah dirinya tengah pasrah dengan kedua insan yang tengah bermesraan di depan nya.


***


Keesokan harinya di Markas Red Phoenix sedang gempar dengan ultimatum dari king mereka jika Lucky dan juga Kenzi harus segera menikah, jika bulan depan mereka tidak menikah maka mereka selamanya tidak boleh memiliki istri.


" Ken, apa king mu itu sedang kerasukan ? pagi-pagi buta membuat ultimatum mengerikan seperti itu !". Protes Lucky terbangun kan oleh gedoran pintu dari luar yang ternyata Kenzi pelakunya. Pagi buta wajah Kenzi terlihat kusam, mungkin efek bangun tidur dan juga tatapan nya penuh keterkejutan.


Kenzi dengan rusuh nya mengucapkan kata-kata yang tidak masuk di akal, tanggapan Lucky awalnya biasa saja tapi tiba-tiba suara Edward terdengar keras di telinganya dan ya begitulah.


" Diamlah Luck, jangan nyerocos mulu, kuping ini jadi sakit !". Ujar Kenzi pusing, rambut nya masih acak-acakan dan matanya pun terlihat sembab karena masih belum mencuci mukanya.


" Apa Ruby sudah tahu kegilaan yang di buat oleh nya ?". Tanya Lucky yang tiba-tiba teringat akan Ruby. Kenzi memainkan pundak nya sebagai jawaban ketidak tahuan nya. Lucky menoleh ke sana ke mari tak mendapati kembali Edward dan langsung beranjak pergi lari ke kamarnya hendak mengambil handphone untuk menghubungi Ruby.


" Apa yang sedang kau lakukan ?". Seru Kenzi bingung siapa gerangan yang hendak Lucky hubungi pagi buta seperti ini. Lucky meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai tanda jika Kenzi harus diam. Panggilan tersambung, terdengar suara Ruby yang serak.


" By ". Ucap Lucky pelan.


" mmm ". Jawab malas Ruby masih memejamkan matanya enggan untuk di buka dengan selimut yang masih menutupi seluruh badan nya sampai kepala pun tak terlihat sama sekali.


" By, King sudah gila, pagi buta gini sudah membuat seisi markas gempar ! cepatlah ke sini !". Lucky berbicara dengan sangat pelan dan juga beritme takut tiba-tiba Edward datang dari arah yang tidak terduga.


" Masalah ? apa maksudmu ka ?!". Ruby langsung terduduk melihat jam yang tergantung di dinding kamar dan ini masih benar-benar pagi.


" menikah, pagi-pagi aku dan Kenzie di perintahkan untuk segera menikah By ! bagaimana aku ngga sebut dia gila coba, pagi buta gini membuat jantung mau copot !". Adu nya seolah berdrama singkat. Ruby membulatkan matanya sangat tidak percaya dengan ke ubnormalan kekasih nya itu.


" Sebentar ". Ruby beranjak dari ranjang nya dan segera berlari keluar menuju kamar Edward tanpa memutuskan panggilan nya dan benar saja di dalam kamar, Edward tak berada di sana. " Ya ampun ka, sekarang dia di mana ?". Tepukan di jidat seolah menandakan jika Ruby heran dan juga geli dengan tingkah Edward.


" Di tempat pelatihan senjata by, cepatlah kemari ! oh ia bisakah kau ajak Nara ke sini, kami merindukan nya !". Jawab Lucky dan meminta Nara ikut dengan nya, dengan senang hati Ruby membawanya.


" Baiklah tapi tidak sekarang, Nara masih tidur dan aku tidak mau membangunkan nya ". Jawab Ruby mengakhiri sambungan nya.


" Haihhhhh kau terlalu semangat honey !". Gumam Ruby berjalan menjauh dari kamar Edward dengan senyum yang terulas dari salah satu sudut bibir nya.

__ADS_1


__ADS_2