
Edward menghentikan langkah nya dan sekilas memperhatikan Sean yang sama sekali Edward tidak dapat menebaknya ada apa dengan Sean.
" Sean ". Ucap Edward di campur dengan suara sendu nya. " Sean, berhentilah bersikap dewasa ! kau tak perlu lagi melakukan itu di usiamu ini boy ! percayalah, sekarang ada daddy di samping kalian yang akan melindungi dan juga menjaga kalian dengan baik ". Tutur Edward menurunkan Shabila terlebih dahulu dan menarik Sean ke dalam pelukan nya.
" Maafkan daddy yang membuatmu menjadi anak yang dengan terpaksa menjadi dewasa di usia kanak-kanakmu, maaf, maaf !". Edward mengeratkan pelukan nya pada Sean. Rayzen pun terlihat menyelaraskan tingginya bersama Sean.
" Daddy mu benar boy, jangan seperti ini, kami mohon ! sedari kami datang, kau tampak dewasa dengan segala perkataan mu dan itu membuat kami merasa semakin bersalah ! ". Ucap lembut Brayn, Sean hanya menatap nya tajam dengan masih dalam pelukan Edward.
" Baiklah, tapi Sean tak berjanji ! ". Sahutnya melepaskan pelukan. Mereka menahan nafasnya dengan kedinginan Sean, mereka pikir mungkin ini karena baru saling kenal dan bertemu pun baru pertama kali ini makanya dia bersikap seperti itu.
" Sean sudah terbiasa dengan sikap nya itu dad, kami tidak memintanya tapi dengan adanya Sean yang seperti ini membuat hidup kami seolah terjaga dan terlindungi !". Ucap Shabila.
" Ka Shabila benar ! kami memang seusia tapi entah kenapa melihat Sean seolah dia lebih tua dibanding kan kami hhahaha tapi itu tak masalah, dia tetap terbaik untuk kami ". Ujar Shane terselip gurauan di sana.
" Jadi biarkanlah kami dengan sifat dan sikap kami yang alami ini, karena kami tidak suka berpura-pura ". Rangkul Shabila pada leher Sean dan menarik nya pergi.
" Eehh tunggu aku ". Kejar Shane pada kedua kembaran nya.
" Sshhhh, kenapa mereka begitu menggemaskan ! Hey tunggu uncle !". Ujar Revin sembari mengejar keponakan nya diikuti oleh Rayzen.
" Tak perlu di ragukan lagi, mereka memang satu darah dengan kita Ed !". Tepuk Revan pada bahu Edward yang masih menampilkan wajah konyol nya lengkap dengan alis yang saling bertautan menyaksikan tingkah ketiga anak kembar nya.
" Tch tch tch, kau benar !". Brayn melangkah mendahului Revan dan juga Edward. Terlihat Revan berjalan sembari merangkul leher Edward dan menariknya seolah masih bingung dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut anak-anak nya.
Di lain tempat di ruangan Leya, Alejandro dan Matew sedang mengobrol dengan Leya berada di samping Alejandro.
" Ini, ini istriku yang enam tahun lalu mengalami kecelakaan pesawat tapi sampai sekarang jasadnya belum di temukan, seperti halnya dengan Ruby, istri dari Edward dan putri dari tuan Smith ". Matew menunjukkan photo yang ada di handphone nya.
" Mereka menjadi penumpang dari pesawat yang sama, hanya mereka berdua yang belum di temukan ! kami mencarinya selama ini sampai kami tak mencapai batas kami !". Lanjutnya.
Alejandro menatap photo Leya bersama suami dan juga putranya dan sesekali dia menatap bergantian memandang Matew dan juga Photo yang sedang di genggamnya begitupun kepada Leya.
" Memang mirip ". Ucap Alejandro. " Le, coba lihat ini ! apa kau ingat sesuatu ?!". Alejandro menyerahkan selembar photo pada Leya.
" Kenapa dia mirip sekali dengan ku ka !". Ujar Leya pada Alejandro.
" Maaf tuan, apa dia putra kalian ?". Matew menganggukkan kepalanya sembari tatapan nya enggan untuk berpaling. " Dia sangat tampan ". Usap nya pada photo itu dengan senyum yang terlukis di sana.
" Le, coba kau ingat-ingat kembali ! tapi jangan terlalu memaksakan dirimu, jika kau kenapa-napa pasti Sean dan Shane akan memarahiku ". Seru Alejandro dan sekejap menampilkan keresahan nya.
" Sean ? Shane ? siapa mereka ?". Bingung Matew.
" Itu keponakan kami tuan, yang kau temui di ruangan Al ! anak kembar yang sangat tampan dam juga cantik ". Sahut Leya. Matew menganggukkan kepalanya paham.
Tidak terasa mereka bertiga telah mengobrol begitu lama dan sekarang perut mereka merasakan lapar. Mereka bertiga memutuskan untuk pergi makan tapi tidak dengan Matew yang kembali lagi ke ruangan tempat putranya di rawat.
" Ley kau sudah bangun !".
Leyka tersenyum hangat saat ayahnya datang menghampiri.
" Apa kau baik-bai saja Ley ! Masih ada yang sakit ?". Ucap Matew memeriksa keadaan Leyka.
" Aku baik ayah ! kenapa kau jauh-jauh datang kemari ! apa kau sedang tidak sibuk ?!". Seru Leyka.
__ADS_1
" Sibuk ? setiap hari ayah sibuk Ley, tapi kau lebih berharga dari berkas-berkas itu !". Sahut Matew.
" Kau memang terbaik ". Puji nya.
" Ley, ayah menemukan ibumu ". Ucap Matew, Leyka terdiam menatap harap kepada ayahnya.
" Dad, jangan mulai lagi ! kau setiap hari pun berkata kau telah menemukannya jadi jangan terlalu berharap lebih seperti itu ".
Leyka sudah bosan dengan perkataan ayahnya itu karena hampir setiap hari dia mengatakan telah menemukan ibunya dengan kenyataan itu hanyalah di alam mimpi.
" Tidak Ley, ini nyata ! baru saja ayah mengobrol dengan ibumu, dia juga ternyata salah satu dokter di sini Ley ".
Leyka merespon nya dengan cepat. " Benarkah ? dia masih hidup ternyata ! lalu kenapa dia tidak kembali pada kita yah, apa ibuku sudah memiliki penggantimu ? ah, pasti dia punya yang baru !". Ucap Leyka dengan godaan nya.
" Anak nakal ". Tepak Matew pada kaki Leyka yang masih menjulur.
" Hahaha, ya kali aja kan ! sudah enam tahun loh ini yah ". Leyka masih saja menggoda ayahnya itu.
" Emang kau mau memiliki ayah baru ?". Decak Matew.
" Aku hanya bercanda !". Ucapnya geli.
" Ayo, agar kau percaya ! ayah akan mengantarmu menemui ibumu ".
Matew memerintahkan perawat untuk menyiapkan kursi Roda agar Leyka lebih mudah berpergian dan kaki yang terluka pun tak ikut bergerak.
" Awas saja berbohong ! ".
Di kantin, Alejandro tengah berkumpul dengan si kembar dan juga keluarganya menyantap makanan mereka bersama-sama.
" Maaf, boleh kami bergabung ?!". Ucap Matew yang sudah terlihat mendekati mereka, mereka yang berada di sana menoleh secara bersamaan sampai Shane dan juga Shabila mengentikan suapan nya.
" Dok ! oh ia silahkan, duduklah di sana ".
Revan menunjuk kursi yang masih kosong di sebelah Leya.
" Terimakasih ". Ucap nya.
" Kaka, kau sakit apa ? kenapa kau duduk di kursi roda ?!". Tanya Shane.
" Saat ini kaka tidak bisa berjalan dengan baik karena baru saja mengalami kecelakaan jadi harus duduk dulu di kursi ini ". Sahut Leyka.
" Cepat sembuh yah ". Shabila menimpali ucapan Shane.
" Terimakasih ". Ucap Leyka.
" Sepertinya kalian perlu bicara ! pergilah dengan mereka Le ". Alejandro yang sedari tadi diam memperhatikan Leya dan juga Leyka bergantian akhirnya menyuarakan pendapat nya karena dia harap dengan ini ingatan nya akan kembali.
" Tapi ka, aku tidak mau " Tariknya pada lengan baju Alejandro dengan suara seperti berbisik.
" Pergilah, lihatlah dia ! bukankah dia sangat mirip denganmu ! ". Pungkas Alejandro membantu Leya menatap Leyka.
" Iya iya iya, masih saja cerewet ! ingat sudah tua ". Ledek Leya.
__ADS_1
" Memang kau masih muda nona Le ?! ". Tekan Alejandro berbalik meledek. Tanpa ingin berlanjut Leya beranjak mendekati Leyka.
" Ayo ".
Leya berdiri dan membantu Leyka dengan mendorong kursi roda nya.
" Kalian kemarilah ". Alejandro mengulurkan tangan nya melambai mengkode agar ketiga keponakan nya itu mendekat.
" Ada apa paman ?".
" Tidak ada, hanya saja paman ingin memeluk kalian ". Sendu Alejandro karena mungkin hari ini adalah hari terakhir dia tinggal bersama mereka.
" Tenanglah, kami tidak akan pernah melupakan mu !". Dingin Sean yang seolah tahu dengan apa yang tengah di takuti oleh Alejandro.
" Tch, kau ini selalu saja menyebalkan !". Ketus Alejandro.
Setelah acara makan mereka selesai, mereka kembali ke ruang rawat Ruby. Ruby masih terlelap dalam tidurnya dimana di pelukan nya terlihat Nara yang juga nyaman dengan tidurnya, baru kali ini setelah kepergian Ruby dia nyaman dengan tidurnya.
" Kita tidak mungkin tidur di sini bersamaan karena sofa tidak cukup untuk kita ". Bingung Rayzen.
" Tak usah khawatir, saya akan tidur di ruang kerja Leya ! di sana ada kasur tingkat tempat istirahat !" . Seru Alejandro. " Ayo, kalian ikut bersama paman !". Ajak Alejandro pada keponakan nya.
" Sean, kau harus istirahat ! kau pasti lelah karena kejadian itu !". Ucap Shabila membersihkan kotoran di kening Sean. " Bersihkan wajahmu terlebih dahulu sebelum tidur ! lihatlah ini kotor sekali ".
" Ini juga, ini kotor sekali Sean ! sepertinya kau harus membersihkan seluruh tubuhmu, kalau tidak kau akan gatal nanti ". Shane menengadahkan kepala Sean dan membersihkan keringat dan juga goresan hitam di lehernya.
" Sesuai keinginan kalian ". Respon Sean.
Mereka yang ada di sana tidak dapat lagi mengatakan apa-apa saat mata mereka melihat anak kembar yang tak terlihat mirip menunjukkan rasa kasih sayang satu sama lain.
" Kalian juga harus tidur, anak kecil harus tidur lebih awal ! ayo kita istirahat bersama !". Ajak Sean kepada kedua kembaran nya dan menarik tangan Alejandro.
" Dad, uncle ! kami istirahat dulu yah ! selamat malam !". Pamit Shane dan juga Shabila memeluk mereka satu persatu.
" Selamat malam juga sayang !". Ucap keempat uncle nya begitupun Edward yang memeluk mereka dan mengecup lama kening mereka.
" Istirahatlah ". Ucap Edward.
" Siap dad !". Seru Shabila dan juga Shane bersamaan.
" Kita tidur bersama dad, apa kau tidak ingin menemani kami ?". Ujar Sean yang seakan tahu jika Shabila dan Shane menginginkan daddy nya untuk tidur bersama.
" Bolehkah ?". Semangat Edward.
" Dari awal, tidak ada yang melarang mu dad !". Sahut Sean yang lebih dulu melangkah pergi bersama Alejandro.
" Yeaay, kaka kau memang terbaik !". Heboh Shane dan juga Shane memberi jempol tangan mereka untuk Sean karena hanya dia saja yang sangat peka akan keinginan mereka.
" Sssttt ". Sean menempelkan jari telunjuknya di depan bibir menandakan jika mereka jangan berisik karena mommy dan juga Nara masih tidur, Shane dan juga Shabila mengunci mulutnya.
" Apapun untuk kalian ". Senyum Sean mengembang sampai mereka pun yakin jika Sean sekarang ini sedang dalam mood yang baik.
" Selamat malam Tampan ". Revin melambaikan tangan nya pada Sean yang sudah terlihat di ambang pintu.
__ADS_1