
" Uncle ". Ucap Nara di seberang sana.
" oh, kenapa kau belum tidur sayang ? kenapa handphone aunty mu bisa ada padamu hmm !". Ya, dia adalah Nara, sesaat Revan mengerutkan alis nya karena tidak biasanya Agatha menelpon dirinya di malam hari saat Agatha berada di luar luar, hanya Revin yang sering Agatha hubungi jika ada sesuatu hal dan kepada Revan ataupun Ronald itu sangat jarang.
" Aunty sudah tidur uncle ". Ucap Nara menoleh ke samping tempat tidur dan di sana Agatha sedang terlelap dengan tidur nya.
" Lalu dimana daddy mu sayang ? apa dia juga sudah tidur hmm ?!". Tanya Revan.
" Daddy sudah tidur di kamar sebelah mereka pun sama sudah tidur uncle ! Nara tidak bisa tidur, perut Nara lapar ". Tutur Nara sembari mengeluh jika perut nya sangat lapar.
" Apa sebelum tidur kau tidak makan dulu sayang ?". Tanya Revan mengkhawatirkan keponakan nya yang sedang menginap di mansion Ruby bersama dengan keluarga dari Irlandia dan juga Agatha serta Lio berada di sana.
" Tidak Uncle, mata Nara tadi mengantuk, jadi Nara tidur lebih awal ". Rengek Nara mengusap-usap perut nya.
" Bangunkan saja Aunty mu ". Seru Revan gemas.
" Tidak uncle, sepertinya aunty baru saja tidur ". Nara tidak tega membangunkan Agatha karena dia terlihat pulas dengan tidur nya.
" Keluarlah dari kamar, mungkin saja masih ada yang bangun ". Ucap Revan melihat jam di tangan nya. " Keluarlah, ini belum terlalu larut ! ". Saran Revan. Nara berjalan mengendap-ngendap berjalan ke luar kamar agar tak membangunkan Aunty nya.
__ADS_1
" Bagaimana ? Apa ada orang ?". Tanya Revan yang sambungan telpon nya belum terputus.
Nara tidak menjawab, dia terus berjalan keluar tanpa takut.
" oumm, uncle aku tutup telpon nya ok, selamat malam ". Nara memutuskan sambungan telpon nya dengan sepihak, Revan yang sedang khawatir malah gemas tercampur kesal dengan kelakuan Nara.
" Dasar gadis nakal ". Revan akhirnya masuk ke dalam kamar nya dengan masih berusaha menghubungi Nara tapi tak di jawab nya.
Mansion Ruby.
Saat Nara terus berjalan, matanya melihat kedua pria yang lumayan tampan sedang duduk mengobrol di bara kecil yang ada di mansion.
Nara terus berjalan tanpa suara sampai mereka berdua pun tidak tahu jika ada orang yang sedang mendekatinya.
Ya, mereka bedua adalah Kenzi dan juga Lucky yang ikut menghadiri acara pernikahan King dan juga Lady nya, mereka semua akan pulang besok bersamaan dan sekarang mereka tidur mengistirahatkan tubuh nya.
" Nona muda ". Ucap Kenzi dan juga Lucky bersamaan.
" Uncle aku lapar ". Rengak Nara, Lucky langsung menggendong nya.
__ADS_1
" Sebentar, biar uncle masak dulu ". Kenzi langsung pergi ke dapur dan Lucky mendudukkan Nara di atas meja setengah bundar dengan Lucky duduk di kursi berhadapan dengan Nara.
Tidak lama kemudian, Kenzi datang dengan Piring di kedua tangan nya.
" Silahkan Nona muda ku yang cantik ". Ucap Kenzi menata kedua piring itu di atas meja bar, dengan cepat Nara pun segera melahap nya.
Setelah perut nya kenyang, Nara meminta Lucky untuk mengantar nya ke kamar dan dengan sigap Lucky pun menggendong Nara.
" Selamat tidur princess uncle ". Ucap Kenzi membelai lembut kepala Nara.
Lain halnya di lain tempat, Ruby tak bisa memejamkan matanya karena masih terbayang adegan di sore hari tadi yang mengakibatkan matanya memerah begitupun jantung nya yang terus berdetak tak terkontrol, padahal mereka sering tidur berdua dan dekat satu sama lain, tapi kenapa hari ini ada yang lain di dalam perasaan nya. Edward begitu lembut dan juga bersikap kalem atas apapun yang terjadi sampai kadang Ruby pun bertanya-tanya bagaimana perasaan Edward karena tidak semua yang di rasakan Edward bisa juga di rasakan oleh Ruby.
" Baby ". Ucap Edward yang kini sudah bebas jika tidur berdua dengan Ruby. " Baby ". Tarik Edward pada tangan Ruby yang kini tidur nya sedikit berjauhan.
" Apa kau marah kepadaku ? Apa masih sakit ?". Peluk Edward pada tubuh Ruby, Ruby semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Edward, saat ini Ruby seperti anak kucing yang tengah mencari kehangatan padan induk nya. Tak seperti saat menghadapi para musuh di luar sana, sifat nya berubah 360 drajat jika di hadapkan dengan situasi seperti itu.
" Tidak, sekarang aku baik-baik saja ". Ruby menengadahkan kepalanya menatap mata Edward yang terlihat begitu bersalah. " Aku baik-baik saja honey, hanya saja itu sedikit sakit ! tapi tak apa nanti kita coba lagi !". Seru Ruby mengusap lembut pipi kanan milik Edward. Edward mengecup telapak tangan Ruby lama seperti sedang mengendusnya.
" Apapun untuk mu sayang ". Ujar Edward mengeratkan pelukan nya.
__ADS_1
" Selalu saja berkata seperti itu ! Apa kau baik-baik saja menahan nafsumu seperti itu eumm ?!". Nakal Ruby mencium bibir Edward, dengan cepat Edward mengunci tubuh Ruby di bawah nya. Ruby terus memancing Edward yang dengan kenyataan Edward tak perlu di goda karena apapun yang dilakukan oleh Ruby adalah godaan bagi Edward sekalipun marah nya Ruby seakan Edward tidak kuat untuk memakan nya.
" huuuuh huuh huu ". Mereka berdua melepaskan ciuman panas itu untuk menghisap oksigen yang berada di dalam kamar yang gersang. Edward dengan nafsunya terus memainkan lidah nya di dalam mulut Ruby, tidak luput leher jenjang milik Ruby pun menjadi sasaran kecupan Edward sampai kecupan itu membekas di sana. Suara lenguhan Ruby semakin membuat Edward semangat menjamah tubuh istri nya.