Mafia Girls

Mafia Girls
Keahlian si triplet


__ADS_3

Suasana haru dan hangat sangat mendominasi rumah itu sekarang, mereka dengan sesenggukan melahap masakan yang sudah Ruby siapkan.


" Shane ingus mu ". Ujar Shabila memberikan tisu kepada Shane yang ingusnya terus saja keluar. Shane menoleh dan nyengir memperlihatkan giginya.


" Apa kau mau !". Jail Shane memberikan kembali tisu itu kepada Shabila. Mereka tertawa di sela harunya karena ekspresi Shabila yang mengapit tisu itu jijik.


" Itu jorok Shane ku sayang ". Tatap tajam Shabila mengangkat sendok di genggaman nya seolah akan di pukulkan pada kepala Shane.


" mommy, lihatlah !". Ujar Shane mengadu.


" Kalian ini, sudah-sudah habiskan makanan nya !".Seru Ruby.


" Mommy apa kau sudah memakan obatmu ?!". Ucap Sean.


" Sudah sayang, kau tidurlah ! apa adik-adik mu sudah tidur ?". Ucap Ruby bertanya.


" Mommy, Sean ingin tidur bersama mommy, bolehkah ?!". Pinta Sean yang kini layaknya anak kecil.


" tch tch tch, mana Sean yang dewasa tadi hmm ?!". Cubit Ruby pada Hidung Sean.


" Mommy, hidungku sakit ! kenapa semua yang ada di sini suka sekali mencubit hidungku ". Keluh nya, Ruby merasa gemas dengan tingkah Sean yang seperti ini.


" Mungkin hidungmu ini menggemaskan sayang ". Ujar Ruby, Sean cemberut di buatnya.


" aakh menyebalkan !". Sean lebih dulu pergi ke kamarnya. Ruby geli mendengar Sean jika sedang mendumel karena Sean jarang sekali bersikap seperti itu, seakan langka dengan sikap nya putra pertamanya ini.


" Pakai selimutnya !". Ucap Ruby yang melihat Sean malah menginjak-injak selimut nya. Ruby ikut membaringkan tubuhnya di samping Sean dan memeluknya.


" Mommy bolehkah aku bertanya ?". Ucap Sean menengadahkan kepalanya.


" Bertanyalah, mommy akan menjawabnya !". Jawab Ruby mengecup lembut kening Sean.


" Mommy, apa mommy sudah mengingat di mana daddy kami mom ?! cepatlah sembuh, agar kita bisa pulang !". Sendu Sean.


Ruby terdiam dengan pertanyaan Sean yang lebih condong ke dalam sebuah pernyataan, ucapan nya itu seolah dirinya begitu menginginkan sosok ayah di dalam hatinya.

__ADS_1


" Maafkan mommy sayang, mommy akan lebih berusaha lagi agar memory mommy cepat kembali " Tutur Ruby.


" Tapi kau jangan terlalu memaksakan dirimu, Sean tak mau jika mommy semakin sakit ". Seru Sean memeluk erat leher Ruby.


" Sesuai keinginan mu sayang ! Love You !". Ruby menenggelamkan tubuh Sean ke dalam pelukan nya sembari mengusap lembut kepala anak nya itu sampai mereka berdua terlelap dalam tidur nya.


Di malam hari, Shane terbangun dari tidurnya dan mendapati ketidak beradaan Sean di sisinya, hanya ada Shabila di sisi kirinya.


" Kaka bangunlah ". Guncang Shane pada bahu Shabila, suara khas Shane membangunkan Shabila yang tengah terpejam.


" Ada apa Shan ?". Shabila mengucek matanya yang sedikit perih karena matanya terbuka cepat.


" Ada apa ?". Tanya Shabila menolehkan kepalanya.


" Ka, ka Sean tidak ada, lihatlah !". Shabila mengikuti arah pandang Shane. Shabila menormalkan penglihatan nya dengan memincingkan matanya.


" Ayo, mungkin dia bersama mommy ". Shabila meraih tangan Shane dan menggenggam nya erat dan beranjak dari tempat tidur. " Jangan lepaskan tangan kaka ". Ucap Shabila karena takut jika Shane terjatuh atau tersandung, jika dia terluka maka dia akan sangat bersalah dan mungkin sampai menghukum dirinya sendiri.


Mereka berdua berjalan telanjang kaki dan mengendap-endap sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar Ruby yang terlihat terbuka sedikit.


Tempat tidur Ruby terhalang oleh dinding sehingga Shabila dan juga Shane harus berjalan berbelok.


" Ka, tunggu !". Cegah Shane saat Shabila akan melanjutkan langkah nya.


" Ada apa ?". Tanya Shabila pelan.


" Apa kau mendengar sesuatu ?". Ucap Shane menajamkan pendengaran nya yang suara kecil pun dapat dia dengar. " Kemarilah ka ". Sekarang tangan Shabila yang di tarik oleh Shane. Langkah mereka terhenti saat Sean terduduk menenangkan Ruby yang tengah mengigau.


" Ka Sean, ada apa ?". Tanya Shane, Shabila mendekati mereka.


" honey,,honey,,honey,,honey ". Ruby terus bergumam memanggil nama itu yang asing di telinga Sean.


" mommy, bangunlah !". Guncang Shabila sembari menyeka keringat yang keluar dari kening Ruby.


" Honey, siapa dia ka ? apa dia orang di masa lalu mommy ?!". Ujar Shabila menatap khawatir.

__ADS_1


" Entahlah kaka juga tak tahu ". Sahut Sean.


" Ka, kita harus segera mencari orang-orang di masa lalu mommy !". Semangat Shane.


" Benar Shan, kita harus segera mencarinya ! kasihan mommy terus mengigau seperti ini ". Tegas Sean dianggukki oleh Shabila dan juga Shane.


Mereka bertekad untuk berusaha semampu mereka sembari mengasah kemampuan mereka yang selama ini beraksi di belakang para orang dewasa. Fasilitas yang tidak mumpuni membuat mereka kekurangan alat dan lagi jika berselancar di atas keyboard harus di barengi dengan sinyal yang baik pula.


" mom, bangunlah ! mom bangunlah !". Giliran Sean dan Shane yang mengguncang bahu Ruby, kerutan di kening Ruby terus saja terlihat jelas seolah dia tengah merasakan sakit.


" Mommyy ". Shane sedikit mengeraskan suaranya dan itu berhasil, Ruby terbangun dengan keringat yang membasahi keningnya begitupun keringat di leher jenjang nya.


Deru Nafas cepat terdengar di telinga, Ruby terengah-engah. Shabila dengan cepat memberikan air putih untuk Ruby minum. Setelah Ruby tenang mereka bertiga memeluk Ruby bersamaan.


" Tenanglah mom !". Sean menenangkan Ruby dengan suara lembut khas anak kecilnya.


" Apakah ini alasan nya mom, kau tak mau tidur bersama kita ?!". Seru Shane, Ruby melepaskan pelukannya dan menatap lembut ketiga anak nya.


" Bukan seperti itu sayang, hanya saja mommy tak mau mengganggu tidur kalian !". Bohong Ruby.


" Jangan berbohong mom, matamu tak menunjukkan jika jawaban mu adalah kebenaran nya !". Ujar Sean menatap tajam Ruby, Ruby kembali menghela nafas nya.


" Tidak, itu benar sayang !". Sangkal Ruby.


" Ceritakan ! ceritakan apa yang ada di dalam mimpimu mom ". Shane tiba-tiba berucap yang membuat Ruby sampai mengerutkan kembali kening nya.


" Ceritakan apa sayang ? mommy tak bermimpi sama sekali !". Ujar nya kembali berbohong.


" Ayolah mom, jangan seperti ini ! kau membuat kami semakin ingin terus bertanya !". Seru Shabila.


" Mommy tak apa sayang, hanya saja setiap malam ada seorang pria dan juga anak perempuan yang tengah menangis di sudut ruangan, tapi mommy tak dapat melihat jelas wajah nya ! mommy selalu mendengar pria itu memanggil baby dari mulutnya dan panggilan seseorang dari pintu membuat jantung mommy berdebar, wanita itu memanggilnya honey dari mulutnya seolah mereka memiliki panggilan sayang satu sama lain ". Ucap Ruby panjang lebarnya.


Sean dan kedua adik nya saling pandang dan menganggukkan kepalanya.


" Mom, bisakah besok kita menyusul bibi Leya dan juga Paman Alejandro ke kota ! Sean ingin melihat gedung besar di sana ! ". Ujar Sean seakan tengah membujuk mommy nya.

__ADS_1


Ruby menatap mereka menampilkan mata yang penuh harap. " Baiklah, sesuai keinginan kalian !". Ujar Ruby membuat Sean, Shabila dan juga Shane semakin menyayangi Ruby. Bukan maksud tidak baik, tapi mereka bertiga harus segera meningkatkan pengobatan Ruby dan juga mengasah keahlian otodidak mereka.


__ADS_2