
Rumah yang tak sebesar mansion Ruby kini tengah gaduh, langkah Ruby semakin panjang tak membiarkan kepala pelayan yang baru saja membukakan pintu memberitahu kedatangan nya pada semua orang yang sedang bersenda gurau di dalam.
Tangan sebelah kanan Ruby kini menuntun memegang tangan mungil milik Nara dan saat itu pula beberapa orang yang sedang bersama kepala pelayan, heran dengan keberadaan anak manis di samping nona muda nya.
" ekhem ". Dehem Ruby, orang-orang yang berada di sana masih belum sadar akan kehadiran Ruby saat ini. " Ekem". Deheman Ruby meninggi tapi tak membuat tenggorokan nya sakit masih tak diindahkan oleh mereka.
Tidak membutuhkan orang luar untuk membuat suasana di rumah ramai, hanya dengan mereka berkumpul saja suasana begitu berisik. " Apa mereka tuli berjamaah ?!". Batin Ruby memandang mereka yang masih belum sadar akan keberadaan dirinya.
" mommy ". Seru Nara menengadah kala melihat orang-orang di depan sana masih tak mengindahkan keberadaan nya, yang lebih tepat nya belum menyadari. Reaksi Nara tiba-tiba merengut dan tak bersemangat, karena Nara berfikir mereka yang ada di sini akan merespon persis seperti keluarga Ruby yang berada di Irlandia, tapi nyatanya tidak. Begitulah menurut Nara yang pikiran nya benar-benar menunjukkan jika dia adalah anak kecil yang belum cukup dewasa untuk mengerti keadaan sekitar.
" ayo ". Langkah Ruby semakin mendekati mereka yang masih saja bersenda gurau menarik lembut tangan Nara.
Benturan sepatu dengan lantai sudah tak terdengar, terlihat Ruby sudah berada tegap di antara mereka yang sedang duduk tak beraturan.
" Al ". Teriak Semua kaka nya penuh keterkejutan.
" Ruby ". Giliran Kedua orang tuanya yang berteriak dengan nada tak kalah tinggi dengan anak nya.
" Apa ? Apa hah, terus saja mengabaikan aku ! menyesal aku pulang kesini ". Malas tercampur kesal membuat mata Ruby berputar acuh. " Apa kalian tuli, sampai suara ku tak terdengar ". Cemberut nya, Ruby langsung duduk dan mendudukkan Nara di atas pahanya tanpa mengucapkan salam seperti biasanya.
" Maaf sayang, suara mu benar-benar tidak kami dengar, iya kan ?!". Maaf Revan melirik saudaranya satu persatu dan mereka secara bersamaan menganggukkan kepalanya termasuk kedua orang tuanya.
" Ya ampun, suara ku yang begitu tinggi tidak kalian dengar ?! benar-benar harus periksa telinga secepat nya ". Kesal Ruby.
" Maaf ". Ucap mereka begitu tidak ingin jika Ruby marah.
__ADS_1
" oh iya sayang, siapa anak kecil ini ? Cantik sekali !". Tanya Nameera yang sedari tadi menatap intens anak kecil di pangkuan Ruby, mungkin bukan hanya Nameera yang penasaran tapi juga mereka semua yang ada di sana.
" Hay anak manis, siapa nama mu ?!". Seru Revin beralih mendekati Ruby, wajah dingin Nara masih tersemat di sana tanpa menginginkan mengucapkan salam. " Kau mendapatkan anak ini dari mana Al ?". Tanya Revin merangkul pundak Ruby.
" Iua Al, siapa dia dan apa hubungan mu dengan nya, tidak biasanya kau begitu dekat dengan anak kecil seperti ini ?!". Ujar Ronald.
Wajah Ruby berubah lembut begitu cepat, Agatha menangkap perubahan itu dan membuat dirinya bertanya-tanya di dalam hatinya. " Bagaimana dia dapat melakukan perubahan per sekian detik begitu?!". Batin Agatha yang terus saja berlomba ingin tahu.
" Sayang perkenalkan dirimu pada keluarga mommy ". Tutur Ruby, saat menyebut mommy untuk panggilan Ruby membuat mereka tertohok kaget.
" baiklah mom ". Walaupun Nara masih terlihat dingin tapi dia pun mampu merubah ekspresinya membuat mereka semua terkagum-kagum dengan gadis kecil yang berada di hadapan nya. Dengan senyum yang hangat dan lembut, Nara memperkenalkan dirinya.
Awal pertemuan mereka di suguhkan dengan ketidak tertarikan Nara.
" Nala, panggil aku Nala ! senang bisa bertemu dengan kalian semua !". Sopan nya menggemaskan lalu kembali lagi ke pangkuan Ruby. " Mom ". Panggil Nara merentangkan tangan meminta untuk di gendong kembali. Ruby dengan sigap langsung mengangkat nya dan mendudukkan Nara di atas pangkuan nya.
" Aku tahu ". Ujar nya membuat mereka tertawa dengan penuturan dan jawaban yang Nara ucapkan.
" Kau manis sekali ! boleh aku menggendong mu ? kemarilah !". Ucap Revan antusias.
" tidak, aku tidak mau di gendong oleh mu ". Tolak Nara membuat Ruby menahan tawa nya karena tidak biasanya Nara bersikap seperti ini apalagi jika melihat pria tampan, biasanya dia akan dengan sendirinya minta di gendong seperti hal nya kepada kekuarga yang berada di Irlandia.
" hahaha, kau di tolak kam ! Makanya belajar dulu untuk merayu wanita, kan gini jadinya,, hahaha ". Ledek Revin, padahal dia sendiri pun belum memiliki kekasih.
" yaak, sesama lajang jangan saling meledek ". Cetus Revan.
__ADS_1
" Mommy ". Ucap Nara, wajahnya nampak bosan, Ruby merubah posisi duduk Nara menghadap padanya agar lebih leluasa melihat wajah putri nya.
" Ada apa sayang ?". Tanya nya lembut, suasana rumah hening seketika.
Nara turun dari pangkuan Ruby dan berdiri di atas sofa, kemudian mendekatkan mulutnya ke depan daun telinga Ruby seakan ingin membisikkan sesuatu. Ruby mengerti apa yang ingin Nara lakukan dan menempelkan tangan nya agar bisikan Nara tak terdengar. Semua orang menatap penasaran.
" Mommy,, mommy,, kenapa mereka semua begitu tampan. Apa boleh aku bermain dengan mereka, apa mereka tidak akan terganggu oleh ku ?! aku sangat bosan !". Bisik nya sangat pelan sehingga Ruby merasa geli merasakan bisikan Nara. Ruby mengira jika Nara minta pulang karena terlihat dari reaksinya yang seolah tidak berminat berkenalan dengan keluarganya tapi apa ini ? dia malah memuji ketampanan kaka nya. Tch, dasar anak nakal ! Batin Ruby gemas sendiri.
" Tidak sopan yah berbisik di hadapan banyak orang ". Seru Ronald menatap selidik mereka berdua.
" Eum, itu sangat tidak sopan ". Timpal Smith yang kini bersuara dengan mata yang ikut memandang kedua insan yang baru saja kembali dari kunjungan nya.
Ruby dan juga Nara mengakhiri aktifitasnya dan memperlihatkan gummy smile nya yang begitu manis.
" Bukan seperti itu dad, tapi,, ". Perkataan Ruby belum selesai karena tangan mungil Nara lebih dahulu membungkam nya.
" Tapi apa ? ". Tanya Agatha penasaran.
" Tidak Aunty, bukan apa-apa ". Jawab Nara masih menempelkan tangan nya di depan mulut Ruby.
" Aunty tahu kau sedang berbohong, iya kan ? ". Ucapnya dengan ekspresi bersahabat.
" Panggil Aunty Agatha ". Lanjutnya, Nara tersenyum menganggukkan kepalanya cepat.
" kau ini kenapa gadis kecil, sini kemarilah ! kita belum berkenalan bukan ?! ". Gendong Revin paksa dan mendudukkan Nara dia antara Nameera dan juga Smith.
__ADS_1
" Mommy ". Rengek Nara menatap nanar kepada Ruby, tapi yang di tatap malah tengah menahan tawa nya, mungkin Ruby melihat reaksi Nara yang seolah dirinya sedang dagdigdug menghadapi pria tampan di hadapan nya dan reaksi itu begitu lucu.