
Ruby masih dalam penanganan dokter di dalam, Leya tak bisa duduk diam, dia terus resah dengan matanya menatap pintu yang tak kunjung terbuka.
" Bibi !". Ucap Shane. " Bibi, mommy ku akan baik-baik saja bukan ?!". Sendu Shane, Sean meraih tangan Shane dan menggenggam nya. Leya tertegun saat pertanyaan dari Shane yang tak bisa dia jawab.
" Percayalah, mommy kita pasti baik-baik saja, berdoalah !". Seru Sean menenangkan Shane, Shabila memeluk Shane.
" Mommy kita kuat Shane, percayalah padaku !". Ucap Shabila.
Nara yang masih berada di sana hanya dapat memandangnya tanpa bisa menenangkan mereka, Nara melihat bagaimana mereka saling menyayangi satu sama lain. Jantungnya menggebu ingin sekali mengucapkan kata tang dapat membuat mereka tenang tapi semua itu tercekat.
" mom, siapa mereka ? apa mereka adik-adik ku ?". Sembari menengadah menahan tangis, Nara terus bergumam di dalam hatinya.
Edward terlihat berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa.
" Apa pemeriksaan nya belum selesai ?". Suara Edward memburu dengan nafas yang tak berjalan dengan normal.
" Belum dad ! Dad, mommy akan baik-baik saja bukan ?!". Nara berdiri dan memeluk Edward.
" Pasti, mommy mu pasti baik-baik saja ! tenanglah !". Ucap Edward.
Setelah menunggu beberapa jam, dokter terlihat keluar sembari membuka masker di wajahnya.
" Bagaimana keadaan istri saya dok ?!". Tanya Edward tanpa memperdulikan Leya dan si kembar yang mengerutkan keningnya.
" Dia baik-baik saja, tidak ada luka serius ! pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan dan kalian boleh mengunjunginya, tapi usahakan jangan terlalu banyak !". Tutur dokter itu dan pamit pergi.
" Suami ?". Leya memincingkan matanya, Edward dan juga Nara menolehkan tatapan nya.
" Sejak kapan paman menjadi suami mommy ku ?". Ucap sean kembali.
Edward dan Nara membisu tanpa ekspresi apapun saat anak yang berusia 5thn bertanya dengan kata-kata tajam. Edward dan juga Nara saling pandang, Shabila dan Shane pun menatap Edward dengan tatapan tajam penuh selidik.
" Dad ". Ucap Nara menarik baju lengan Edward, Edward melirik Nara.
Saat Edward hendak berbicara, suara teriakan terdengar keras di telinga.
" Le ". Teriak Alejandro yang langsung berangkat dari tempat kerjanya saat Leya memberi tahu jika Ruby masuk rumah sakit.
__ADS_1
Semua orang dengan serentak menatap Alejandro yang tengah berlari.
" Bagaimana keadaan nya ? apa dia baik-baik saja ? sekarang dimana dia ?!". Alejandro dengan satu nafas bertanya beruntun pada Leya dengan kedua tangan nya memegang lengan Leya.
" Tenanglah, dia baik-baik saja ! sekarang dia akan di pindahkan keruang rawat !". Ucap Leya.
" Paman ". Tarik Sahbila pada celana Alejandro.
" Sayang, apa kau baik-baik saja ? apa ada yang terluka ?!". Alejandro menekuk kan kakinya menyetarakan tingginya dengan Shabila.
" Aku baik-baik saja paman !". Ucap Shabila.
" Sean, Shane ! kemarilah ". Alejandro memeluk mereka berdua dengan hati yang nyatanya telah dilanda ketakutan.
" Kami baik-baik saja, jangan cengeng seperti ini ! kau sudah tua paman ". Bisik Sean di telinga Alejandro, Shane mendengarnya karena kepalanya menumpu di bahu kiri Alejandro sedangkan Sean di sebelahnya lagi. Alejandro bernafas sebal dengan kata-kata Sean.
" Kaka ku benar paman ". Timpal Shane.
" Tch kalian ini menyebalkan ". Alejandro berubah kesal.
Alejandro kembali berdiri. " Apa kau yang membawanya kesini ?". Tanya Alejandro, Edward menganggukkan kepalanya pelan. Nara masih berdiri di samping Edward dengan tangan yang masih memegang lengan Edward yang perlahan dia cengkram.
Pintu terbuka, di sana terbaring Ruby dengan masih setia memejamkan matanya, para perawat perlahan mendorong brangkar yang di tempati Ruby untuk di pindahkan ke ruang rawat.
" Al ". Aleya dan juga Alejandro segera mendekati Ruby. Sean dan kedua kembaran nya tak mengikuti paman dan bibinya, mereka terlihat berdiri di belakang Nara dan juga Edward yang terlihat masih terdiam mematung.
" Dad, siapa pria itu ?". Ucap Nara bertanya dengan suara yang tercekat-cekat. Edward tak menjawab ucapan Nara, matanya masih memperhatikan mereka yang panik dan sendu dengan kondisi Ruby. Mereka telah menjauh dan akhirnya punggung mereka tak terlihat lagi.
" Dad, bagaimana ini ? kenapa mommy tak mengenali kita hiks,,hiks ?!". Tangis Nara yang masih bisa di tahan. Edward masih terdiam, awal pertemuan nya kembali dengan Ruby tak seindah yang dia bayangkan, hatinya yang seharusnya tersenyum malah sebaliknya.
" Dad ".
Panggilan dari Sean dan juga kedua kembaran nya membuat Nara mengehentikan tangis nya, telinganya tersentak saat seseorang memanggil daddy nya. Edward semakin menegang dari lamunan nya saat telinganya pun sama halnya mendengar panggilan daddy untuk dirinya.
" Dad !".
Sekali lagi, mereka memanggil Edward bersamaan. Saat Edward dan juga Nara hendak membalikkan tubuhnya, tangan hangat dan kecil lebih dulu menggenggam tangan Edward dan juga Nara, kaki mereka bergeser menjauh saat tubuh Shane membelah mereka berdua yang akhirnya Shane berdiri di antara mereka dan Sean di sebelah Edward juga Shabila di sebelah Nara. Edward dan juga Nara menundukkan kepalanya melihat siapa gerangan yang memegang tangan mereka.
__ADS_1
Edward dengan lemas melorotkan badannya sehingga terduduk di atas lantai, dia menyembunyikan tangisnya di antara tangan nya. Tangisnya akhirnya terdengar oleh mereka berempat.
" Dad ". Peluk Sean pada leher Edward saat dirinya berhasil menyingkirkan lengan kokoh Edward yang menutupi wajah nya. Shabila dan juga Shane memeluk Nara yang kembali menangis.
" Dad, tenanglah ! jika kau benar adalah daddy ku maka jangan pernah menangis seperti ini, aku mohon !". Ucap Sean menenangkan Edward.
Edward menjauhkan tubuh Sean sedikit agar lebih jelas melihatnya, bola mata Edward seolah tengah menyusuri setiap tubuh Sean. Tangan Edward mengulur mengusap lembut pipi Sean.
" Apa pria tadi ayah kalian ?". Tanya gusar Edward memastikan jika dugaan nya adalah salah.
Shabila dan juga Shane melepas pelukan mereka kepada Nara saat mendengar pertanyaan dari Edward, Nara menatap mereka berdua dengan air mata yang masih membasahi pipinya dan Nara pun tengah menunggu jawaban dari Sean.
" Menurutmu bagaimana ?". Tatap Sean kepada Edward.
" Dia bukan ayah kami, tapi dia sudah seperti ayah kami semua karena sedari dulu dia pun yang merawat mommy dan juga bibi ! itu yang bibi ceritakan ". Ucap Shabila dengan lancar nya menimpali pembicaraan Edward dan juga Sean.
" Jadi dia bukan ayah kalian ? lalu, apa mereka berdua tidak memiliki status melebihi keluarga ?". Tanya Nara semakin penasaran.
" bukan ! bahkan mommy ku memanggilnya paman dan bibiku memanggilnya kaka !". Ucap Shabila.
" Dad, bisakah kita duduk di kursi ? kaki ku pegal jika terus berdiri ". Keluh Shane yang mengacaukan suasana haru mereka.
" Sebentar ! satu pertanyaan lagi !". Tahan Edward.
" Bagaimana jika aku bukanlah daddy kalian ?". Ucap Edward.
Pertanyaan Edward membuat Sean menjauh dainya dan membalikkan tubuhnya berjalan seolah hendak menyusul mommy nya. Shabila dan juga Shane menghentikan langkah Sean.
" Sean, tunggu kami ! kau mau kemana ?". Teriak Shabila. Edward dan Nara menjadi bingung kenapa Sean malah menjauh pergi.
Nara menoleh pada Shane hendak bertanya tapi bingung harus memanggil dengan sebutan apa.
" Shane ka, panggil aku Shane !". Seru nya.
" Baiklah ". Jawab Nara. " dia kenapa ?". Tanya Nara.
" Dia baik-baik saja ! mungkin hari ini dia terlalu banyak bicara ka jadi dia seperti itu hahha ". Ujar Shane tertawa dan mendapat jitakan dari Shabila.
__ADS_1
" Aww sakit kaka ku yang cantik ". Ringis Shane mengusap kepalanya.
" Maaf ". Ucap Shabila mengusap kepala Shane.