
Tujuh bulan pun berlalu, kini Ruby menetap di Irlandia bersama dengan Edward yang sekarang telah sah menjadi suaminya. Nara pun ikut bersama dengan Ruby dan juga Edward karena keputusan yang dia buat telah lama dia ucapkan sebelum bertemu kembali dengan Lio.
Tidak jadi beban untuk Lio melepaskan anak perempuan nya itu karena dia tidaklah tinggal dengan orang sembarangan dan dia tidak menjadikan iri hati terhadap Ruby dan juga Edward karena diapun bebas bertemu dengan anak nya itu. Nara mengucapkan kepada mereka semua jika keputusan nya atas kemauan nya sendiri dan tidak ada yang memaksanya saat Lio bertanya pada anak nya itu.
Perpisahan Ruby dengan keluarganya begitu haru tapi dia harus bagaimana lagi saat sudah menikah maka dia harus ikut dengan suaminya. Nameera tak henti-hentinya memeluk Ruby seakan tak mengizinkan untuk Ruby meninggalkan nya, begitupun dengan Luis.
Revan, Revin dan juga Ronald pun terlihat sendu yang padahal mereka masih bebas untuk menemuinya tapi mereka berkata jika hal ini sangat berbeda. Kasih sayang kaka terhadap sang adik begitu besar, sampai kadang Ruby pun berpikir, apa di keluarga yang lain juga begitu ?.
" Mom ". Ucap Nara yang terlihat memperhatikan Ruby yang tengah melamun.
Ruby menoleh saat suara yang dia kenal terdengar.
" Kenapa ? apa kau butuh sesuatu ?!". Tanya Ruby beranjak dari duduk nya.
" Tidak mom, apa kau sakit ? ". Nara mencoba mencocokkan suhu tubuhnya dengan Ruby.
" Mommy baik-baik saja Sayang !". Ucap Ruby melepaskan tangan mungil itu dari kening nya. " Oh ia, kenapa kau belum bersiap hmm ?!". Seru Ruby menaik turunkan pandangan nya pada Nara karena dia belum juga mengganti bajunya.
" Aku ada baju di markas mom, jadi nanti saja menggantinya ". Seru Nara.
" Baiklah ayo kita berangkat !". Ruby menggendong Nara seakan tubuh itu begitu ringan nya.
" Mom, aku bisa jalan sendiri ! tubuhku berat ". Ucap Nara yang tak ingin di gendong dengan alasan sekarang ini tubuh nya semakin berisi.
" Hahah, siapa bilang kau berat eum ? ringan begini !". Tawa Ruby di sela langkah nya, Nara melipatkan kedua tangan nya sembari cemberut. Nara merasa kasihan kepada mommy nya yang terus saja menggendong tubuh berisi nya.
Kini Ruby dan juga Nara telah sampai di depan markas besar Red Pheonix, mereka berdua berjalan berdampingan sembari tangan Ruby menuntun tangan mungil di samping nya. Setiap langkah mereka mendapatkan salam hormat dari mafioso yang sedang hilir mudik di sana. Angin sepoi menghembus mengiringi langkah ibu dan anak yang karisma nya hampir sama hanya saja di dalam tingkat yang berbeda.
Ruby yang telah menetap di Irlandia kini lebih fokus dan leluasa pada organisasinya, Ruby melimpahkan semua tanggung jawab perusahaan kepada kaka-kaka nya dan dia tidak mau ambil pusing untuk itu, toh mereka pun mampu menjalankan semuanya. Dia pun tak menyesali hal apapun saat yang dia lakukan nya berdampak positif terhadap orang di sekeliling nya khusus nya keluarganya.
Setiap harinya, Ruby bersama Nara berlatih mengasah keahlian nya dan juga fisik nya. Ibu dan anak itu seolah tak bisa dipisahkan satu sama lain dan selama kebersamaan mereka kemiripan selalu terpancar dari anak dan ibu itu yang padahal mereka tidaklah sedarah.
__ADS_1
" Sayang kemarilah ". Ucap Ruby kepada Nara yang tengah sibuk merakit senjata berupa senapan laras panjang bersama dengan Kenzi di sana.
" Ada apa mom ?!". Nara menghampiri Ruby.
" ayo kita latihan memanah, apa kau sudah selesai merakit senjata itu ?!". Ajak Ruby sembari bertanya kegiatan nya saat ini.
" Sudah mom, ayo, aku tak sabar ". Nara pun semangat kala Ruby mengajak nya memanah. Mereka pun pergi ke samping gedung, di sana sudah terlihat alat-alat memanah yang di siapkan untuk mereka berlatih.
" Ini untuk mu, peganglah !". Ucap Ruby memberikan busur sesuai ukuran tubuh nya karena jika terlalu besar akan berat di angkat. Ruby mengajari Nara dengan begitu telaten dan apik nya.
Saat Ruby sedang berlatih Edward yang terlihat baru saja datang tengah menghampirinya.
" Coba sekali lagi ". Ucap Ruby menahan sikut Nara agar terlihat seimbang. " Tajamkan penglihatan mu dan buatlah pegangan mu senyaman mungkin ". Tutur Ruby, Nara langsung mecoba semua yang di ucapkan mommy nya saat sudah siap, Nara menembakkan panah ke tiganya tepat sasaran.
prok,,prok,,prok,, Edward bertepuk tangan saat dirinya sudah berdiri tegap di belakang samping kanan Ruby.
" Yeeaayyy poin 10 ". Girang Nara berjingkrak.
" Anak pintar ". Ucap Ruby yang masih bertekuk menyetarakan tingginya. Nara mengecup kening Ruby saking gembiranya.
" Daddy, kau sudah pulang ! kemarilah ". Nara pun mengecup dagu Edward dan setelah itu Nara mengecup pipi tegas milik Edward.
" ucch, anak pintar ". Gendongnya pada tubuh Nara.
" Baby ". Rangkul Edward pada pinggang Ruby dengan tangan kirinya karena tangan kanan masih menggendong Nara.
Cupp,,cupp,,cupp,,cupp,,Cup. Edward mengecup seluruh wajah Ruby dengan begitu menggodanya, Ruby hanya mengecup kilas bibir sexy Edward karena jika mengecup wajah nya tidak sampai dan Edward jika menunduk pun akan sangat susah karena Nara masih di gendong nya.
" Nara juga mau di kecup di sini, di sini, di sini dan di sini daddy !". Ujar Nara cemburu jika Edward mengecup Ruby sebanyak itu.
" Kau ini !". Cubit Ruby pada hidung Nara, Edward yang gemas langsung mencium wajah Nara.
__ADS_1
" Di mana lagi ?!". Ujar Edward.
" jangan, itu menggelikan daddy ". Tolak Nara saat Edward hendak mengendus pangkal lehernya karena Nara tidak akan geli jika seseorang menyentuh pangkal lehernya.
Mereka mengakhiri aktifitas nya dan beristirahat,
" Mom, kapan kau akan memberikan ku adik bayi ". Ucap Nara mengelus perut Ruby yang sedang terduduk di atas meja pendek. Edward tersenyum dengan rengekan Nara.
" Secepat nya sayang, kau sabarlah ! memangnya kau menginginkan berapa adik dari mommy Ruby hmm ?". Elus Edward saat Nara masih saja berbaring dengan paha Ruby sebagai bantalan nya.
" Tiga, itu sudah cukup dad ". Nara terus menerus mengelus perut Ruby.
" Yak,,yak,,yak ! kalian ini sedang apa ? ". Seru Ruby yang tengah memperhatikan anak dan juga suaminya yang seolah sedang bernegosiasi masalah bayi.
" Sedang mengobrol saja kita mom ". Ujar Nara.
" Adik bayi, cepatlah tumbuh di sini yaah !". Seru Nara mengusap perut Ruby berkali-kali.
" Kau ini ada ada aja ! bersabarlah dan berdoalah pada yang di atas sebanyak-banyak nya jika kau menginginkan adik bayi mu tumbuh di sini ". Ucap Ruby.
" Siap mom ". Nara duduk dan memberi gerakan hormat pada Ruby.
" Honey, beritahu mereka ada yang harus aku bicarakan !". Ucap Ruby pada Edward dengan wajah serius nya.
Edward dengan patuh nya langsung beranjak. Edward tak mempermasalahkan itu, dia mengerti jika saat ini Ruby sedang memerintah sebagai Lady dari Mafia Red Pheonix.
Tidak lama, mereka sudah berkumpul di ruangan khusus tempat biasa mereka memperbincangkan sesuatu.
Ruby membuka pintu ruangan itu dengan langkah tegas nya, mereka semua sudah nampak duduk di kursinya masing-masing.
Ruby tidak langsung duduk, dia berdiri di depan dengan langsung menghadap mereka. Di sana ada Edward, David, Brayn, Rayzen dan juga Savira di tambah Kenzi dan juga Lucky.
__ADS_1
" Bagaimana kelanjutan nya ?". Ucap Ruby memeriksa beberapa laporan yang sudah siap di depan nya.
" Mereka pemegang kasino terbesar di Asia dan sekaligus pengendali penuh atas beberapa organisasi di sana ". Lapor David dengan berkas yang sudah dia kumpulkan.