
" Bisa, mommy akan membuatnya kembali seperti dulu ! mommy akan menebusnya asal kau tidak marah lagi pada mommy !". Nameera megeratkan pelukan nya sampai Ruby mengaduh kesakitan.
" Mom sakit, ini aku tidak bisa bernafas ". Keluh Ruby mengguncang lengan Nameera.
" Mom lepas, lihatlah kau menyakitinya ". Luis melepas pelukannya dan sedikit menjauhkan tubuhnya.
Revan, Revin dan juga Ronald masih sibuk dengan pikiran nya sesaat setelah Ruby mengatakan jika dirinya mengurung dan menyiksa Agatha yang mengingatkan mereka jika adiknya adalah seorang Mafia seperti yang di katakan mafioso yang berjaga di markas.
" Kemarilah ". Nameera merentangkan tangan nya agar Agatha segera memeluknya. Agatha berdiri dan berjalan canggung mendekati Nameera.
GREPPPPP
Nameera langsung memeluk Agatha sesekali mengelus rambutnya begitupun Luis ikut mengelus lembut kepalanya.
" hikss,hikss,hikss, maaf, maafkan aku ". Agatha menangis tersedu di pelukan Nameera.
" ssstttt sudah, sudah jangan terus menangis membuat baju mommy basah !". Seru Nameera membuat Agatha merengut.
" maaf ". Ucapnya lagi membuat Ruby bosan mendengarnya.
" sekali lagi kaka mengatakan itu akan ku lempar kau dari sini ". Candanya cemberut gemas.
" emang bisa ?!". Ujar Agatha memainkan alis nya menatap Ruby dari atas sampai bawah yang dengan kebenaran nya jika Ruby sedang terbaring lemah di atas ranjang.
" Issshh ". Rengut Ruby.
" Sudah-sudah kalian pulang lah dan istirahat, aku tahu kalian pasti belum tidur ". Usir Ruby secara tidak langsung karena dirinya ingin segera mengecek luka di perutnya yang semakin terasa perih. Ruby memberi isyarat kepada Edward agar dirinya membantu untuk membuat mereka pergi dari sini.
Akhirnya mereka keluar dengan segala rayuan dan juga alasan dari Ruby dan juga Edward begitupun kaka nya yang sudah pergi walaupun Edward tahu jika mereka sedang menyimpan banyak pertanyaan untuk Ruby. Edward berjanji akan menjelaskan semuanya pada mereka setelah Ruby pulih dan mereka menyetujuinya saat mulut mereka terus menguap dan mengeluarkan air mata.
" Ken, Luck kalian antar nona ini ke ruangan nya ". Ucap Edward menunjuk Agatha.
" Laksanakan ". Ujar mereka serempak.
__ADS_1
Ruangan Ruby pun akhirnya hening, telinga Ruby kini terasa dingin dan juga tentram.
" Honey, lihatlah jahitan nya terbuka kembali !". Adu Ruby menyingkap selimutnya dan benar saja darahnya sudah menembus baju rawat nya.
" Baby ". Seru Edward langsung menghubungi Sasya.
Tidak lama, Sasya pun datang dengan terpongong-pongoh. Perintah Edward begitu mutlak di telinganya membuat nya tidak bisa berjalan dan bernafas dengan teratur saat dirinya tiba-tiba di telpon oleh Edward masih dengan makanan yang masih menempel di ujung mulutnya.
hoss,,hosshhh,,,hoshh nafas Sasya masih belum teratur.
" Tenanglah dulu, atur nafas mu dengan baik ". Ucap Ruby seperti biasa tanpa ekspresi.
" Sudah, terima kasih ". Sasya langsung menyiapkan alat-alat nya dan langsung menjahit ulang lukanya di sana.
" Apa di jahit seperti ini enak ?". Batin Sasya yang tidak melihat reaksi apapun dari wajah Lady nya itu padahal lukanya dalam tapi apa ini ? dia sesikitpun tidak meringis kesakitan.
" Ada apa ?". Tanya Ruby melihat gelagat dari Sasya yang tak seperti biasanya.
" Aku memang cantik, jadi kau tak perlu menatap ku seperti itu membuat ku malu saja ". Narsis Ruby menekam tangan nya ke belakang menumpu ranjang nya.
" bisakah kau diam baby, jangan banyak bicara !". Protes Edward.
" selesai, semuanya sudah selesai ". Sasya membereskan peralatan nya dan menyimpan pada tempat semula, setelah selesai, Sasya langsung pergi berlalu dari sana tanpa Ruby sempat berterima kasih.
" Istirahatlah ". Tutur Edward.
" Terimakasih ". Ucap Ruby.
" Terimakasih untuk apa baby hmm ?". Usap Edward di kening Ruby.
" Terimakasih sudah bersedia menjadi kekasihku yang selalu berada untuk ku dan menharahkan aku pada hal tetap untuk aku putuskan, !". Ucap Ruby mengguncang tangan Edward.
" kekasih siapa dulu dong ". Bangga nya menepuk dadanya berkali-kali.
__ADS_1
" ceeeehhh mulai deh, mana Edward yang dingin itu hmmm". Elak Ruby menggoda Edward yang ekspresi nya berubah seperti wajah humor.
" Aku bisa merubah setiap detik dari ekspresi ku jika berhadapan dengan mu tapi tidak saat di luar ". Cubit gemas Edward pada hidung mancung milik Ruby.
" Honey, i love you so much ". Ucapnya nakal membuat mata Edwars terus menatap lekat bibir Ruby yang menjadi candunya, bibir pucatnya tak merubah kesan sexi dari sana membuat Edward semakin ingin melahap nya. Ibu jari Edward mengusap perlahan bibir bawah milik Ruby seolah dirinya sudah sangat ingin memakan nya.
Dengan sekilas Edward mengecup nya sadar jika Ruby masih dalam keadaan sakit dan langsung menjauhkan wajah nya.
" Baby mendekatlah ". Ucap Ruby membuat Edward bingung, dengan perlahan Edward mendekat, tangan kanan Ruby menangkup rahang Edward sesekali ibu jarinya mengelus rahang tegas milik Edward membuat Edwars terbuai akan sentuhan lembut dari Ruby.
cupp,, cupp,,cupp. Ruby mengecup nakal bibir sexi milik Edward sehingga senyum dari sudut bibir Edward tersungging dan akhirnya Edward mencium nya lebih lama menikmati kebersamaan nya seakan menumpahkan rindu di sana setelah beberapa bulan tidak bertemu.
" masih tetap manis ". Ujar Edward mengakhiri ciuman panas itu, mereka mengatur nafas nya masing masing berebut oksigen di sana.
" boleh aku meminta lagi ?". Pinta Ruby polos seakan dia sedang meminta permen pada Edward.
" tidak, sudah cukup sampai di sini dulu, kau harus istirahat ". Edward membantu Ruby membaringkan tubuhnya.
" baiklah, tapi kau harus tetap di sini ". Ruby menggenggam tangan Edward begitu erat.
" tidurlah, aku tidak akan kemana-mana ". Tutur Edward mengelus-elus kepala Ruby layaknya bayi yang tidurpun harus terus di elus.
Edward terus menemani Ruby di samping nya tanpa bergeser sedikit pun dan akhirnya dirinya pun tertidur dalam posisi duduk.
" Kalian cepat lah sembuh, aku pamit terlebih dulu ! paman, bibi aku pamit dulu, nanti malam aku kesini lagi ". Pamit Leo sopan, mereka semua menganggukkan kepalanya.
" saja juga permisi ". Pamit Lio menundukkan kepalanya sopan.
" hati-hati ka ". Teriak Reina dan jug meili yang masih menatap kepergian mereka sampai akhirnya bayangan mereka tak terlihat lagi.
Lio sudah sampai di mansio nya, di sana Mommy and Daddy nya sedang duduk menunggu kedatangan anak nya yang hampir satu hari membuat mereka jantungan.
|
__ADS_1