
Di ruang rawat hanya ada Kaka-kakanya Ruby sekarang ini dan mereka bukannya memejamkan mata mengistirahatkan tubuhnya, tapi mereka malah mengobrol ke sana kemari.
" Mereka bertiga seolah telah dewasa ! kalian lihat, Sean sangat menyayangi kedua kembaran nya ! ini benar-benar celaka jika salah satu dari mereka tersakiti !". Tutur Brayn dengan segala prediksinya.
" Kau benar Brayn, saat ini mereka masih kecil tapi telah memiliki sifat dan sikap seperti ini ! apa kau bisa membayangkan bagaimana jika mereka beranjak dewasa ? mereka akan melebihi Nara dalam segala hal, aku yakin itu ! bahkan mungkin mereka akan melebihi orangtuanya ! siapa yang tahu bukan !". Timpal Rayzen.
" Aku rasa juga seperti itu Ray, setiap aku menatap mata mereka seolah di sana telah tertulis jika mereka telah di takdir kan menjadi Raja yang menguasai daratan di belahan dunia terutama Sean, dari pertama melihatnya, dia memiliki karismanya sendiri ! huffhhh aku tak tahu lagi harus mengatakan apa tentang mereka !". Ucap Brayn kembali.
Revan dan juga Revin hanya mendengarkan obrolan di antara mereka tanpa ingin menimpali karena mereka pun sedang bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
" Monster apa yang telah adik kita lahir kan Vin ?!". Ucap Revan sembari menggigit-gigit kuku di jari nya.
" Entahlah ka, aku juga tak tahu !". Sahut Revin.
" Apa disini hanya aku saja yang bingung sedari tadi ka ?! Apa kalian tak merasa disetiap perkataan yang keponakan kita itu ucapkan kita tak bisa menyanggah atau menjawab nya ! Terutama Sean, mulutku seakan di buat bungkam terus oleh nya ". pikir Revin.
" Kita sama seperti mu Vin ! huffhh, mulutnya terlalu tajam ". Helaan nafas di antara mereka mengakhiri kebingungan mereka.
Pukul 07.00 waktu Makau, banyak orang lalu lalang di rumah sakit yang tengah merawat Ruby.
" Selamat pagi tuan !". Ucap Salam Zen dengan menenteng paper bag di tangan nya, dia baru saja tiba di makau dengan membawa pakaian ganti untuk para tuan nya itu, di tambah dia membawa pakaian untuk Nara dan juga si kembar.
" Pagi juga Zen !". Sahut mereka. " Simpan di sana". Tunjuk Brayn pada sofa dan Zen langsung menyimpan nya, mereka terlihat sudah selesai menganyam bulu mata mereka. Zen menundukkan kepalanya memberi salam kepada Ruby yang mulai terbangun, matanya sedikit mengembun seolah terharu akan kehadiran Lady nya saat ini dan matanya menangkap tak ada perubahan dalam wajah nya, masih tetap cantik dan mempesona.
" Jika begitu saya pamit ". Pamit Zen dan langsung keluar.
Nara beranjak dari tidur nya dan mendekati para uncle nya. " Morning uncle ". Nara memberi salam pagi pada mereka dan berakhir memeluk Revan juga duduk di pangkuan nya.
" Dasar manja ". Cubit Revan di pipi Nara.
" Sayang, apa kau sudah baikan ?". Tanya Revin.
" Sudah ka, aku sudah baik-baik saja ! ayo kita pulang, Ruby tak suka berlama-lama di rumah sakit ". Ucap nya.
" Jika dokter mengizinkan nya, kita langsung pulang hari ini ". Ucap Revin dan Ruby pun menganggukkan kepalanya.
" Di mana mereka ? kenapa aku tidak melihatnya !".
Revin menautkan alis nya berpikir siapa yang di maksud Ruby. " Si kembar ?". Tanya nya.
" Iya ka, siapa lagi ".
" Owh, mereka mungkin masih tidur Al ". Ujar Revin.
" Tumben mereka belum bangun ! biasanya mereka selalu lebih awal jika bangun di pagi hari ".
" Mungkin mereka kelelahan sayang, sudahlah jangan khawatir, ada Edward yang menemani mereka di sana !". Seru Revin.
Setelah mengumpulkan nyawa mereka di pagi hari dari tidurnya, mereka membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian yang di bawa oleh Zen tadi.
Sementara di ruang kerja Leya, Edward terlihat memeluk Shane dalam tidurnya. Alejandro pun masih memejamkan matanya dengan Shabila berada di samping nya.
Sean sudah terbangun sedari tadi dan hanya terduduk di sana, dia beranjak mendekati adik kecilnya dan menempelkan tangan nya di kening Shane untuk mengecek suhu tubuhnya karena dia takut kedua adik nya sakit.
" Panas ". Gumam Sean, setelah itu Sean mengecek suhu tubuh Shabila dan mengecek suhu tubuhnya.
" Panas juga ". Gumam nya kembali.
Sean nampak keluar seolah sedang mencari seseorang, dia akhirnya melihat Leya sedang berada di ruangan putranya dan sedang menyuapinya.
__ADS_1
" Bibi ". Sean terlihat sedikit panik.
" Sean, kamu sudah bangun !". Leya menarik Sean dan mendudukkan nya di samping ranjang Leyka dengan menyamping sehingga kaki nya menggantung di sana.
" Bibi, kaka, paman maaf mengganggu kalian di pagi hari ! bibi, kedua adik ku tubuhnya panas ! bisakah kau mengecek nya kembali ". Ucap nya. Matew terlihat mendekat dan berdiri di samping Leya.
" Benarkah ? ayo kita ke sana ! ". Seru Leya. " Ley, kau istirahatlah, ibu mengecek mereka dahulu ! kau tunggu di sini bersama ayahmu ". Ucap Leya menarik Sean dan langsung menggendong nya pergi.
Setelah obrolan kemarin, Leya memutuskan untuk mengikuti pengobatan dari Matew agar memory Leya cepat kembali dan Leya percaya kepada mereka jika mereka berdua adalah keluarganya, segala bukti yang Matew perlihatkan menguatkan pikiran nya jika dirinya adalah istri darinya dan ibu dari putranya.
" Yah, kenapa anak kecil itu bisa tahu ruangan ini ". Bingung Leyka.
" Entahlah ". Sahut Matew.
Dorongan pintu terdengar keras, Alejandro dan juga Edward terkejut dengan suara itu. Leya menurunkan Sean dan langsung mendekati Shabila.
" Dad, selamat pagi ". Sapa Sean.
" Pagi sayang ". Sahut Edward tersenyum.
" Dad, bisakah kau gendong Shane ?! tubuhnya panas ". Ujar Sean. Edward membulatkan matanya dan langsung mengecek suhu tubuh Shane, dia langsung memeluk Shane dan menggendong nya.
" Kenapa Le ? apa dia juga demam ?!". Tanya Alejandro.
" Tidak terlalu, mungkin dia hanya kelelahan ka !". Seru Leya saat mengecek tubuh Shabila.
" Sean hiks,,hiks,, !". Shabila malah menangis dan memanggil Sean. Sean mendekatinya dan menenangkan Shabila.
" Tenanglah sayang ! Shabila, apa kepalamu pusing hmm ?!". Tanya lembut Alejandro dan Shabila menganggukkan kepala nya.
" tunggulah, aku akan membawakan obat dan makanan !". Ucap Leya.
Leya mengecek Shane, di antara mereka bertiga hanya Shane yang paling mudah jatuh sakit. Karena itu Sean dan Shabila sangat menjaganya dan mereka tak pernah membebaskan Shane dalam bermain, mereka akan berada di samping nya.
" Bagaimana ? apa perlu di rawat ? tubuhnya sangat panas sekali !". Panik Edward mengeratkan pelukan nya.
" Shane bangunlah, Shane apa kau dengar aku ?!". Sean menepuk-nepuk pipi Shane.
" Dad, bagaimana ini ?!".
Edward menatap putra sulungnya yang sedang khawatir dan juga panik akan kesehatan adik bungsunya.
" Tidak apa boy tenanglah, daddy ada di sini sekarang ! kau tak perlu khawatir ". Ucap Edward.
" Padahal aku selalu menjaganya, tapi kenapa dia sampai sakit lagi ". Sean kecewa pada dirinya sendiri saat ini.
" Boy, lihat daddy !". Usap Edward di wajah Sean.
" Ini tak apa, tenanglah ! jangan seperti ini ! Kau membuat daddy seolah tak berguna dengan reaksi mu yang seperti ini boy ". Seru Edward.
" Tapi dad, aku terlalu menyayangi mereka ! jadi saat mereka sakit aku seperti tak berguna menjadi kaka mereka ". Sendunya.
" Boy, kau tak boleh bicara seperti itu ! bersikaplah sesuai usia mu, kau yang seperti ini terlihat sudah tua ". Ucap Edward mengandung gurauan di sana.
" menyebalkan ! ternyata mereka memanglah anak-anak mu, sama-sama menyebalkan !". Ketus Sean membuat Edward gemas di buatnya.
Shabila sudah di istirahatkan lagi terlebih dahulu sesudah makan dan meminum obat dan tidak lama giliran Shane yang ikut di tidurkan lagi.
" Kalian mandilah dulu, biar mereka yang aku jaga !". Seru Leya.
__ADS_1
" Baiklah ".
" Bi, jaga mereka untuk ku ". Bisik Sean dan langsung pergi menyusul daddy nya. " Dad, tunggu aku !". Teriak nya, Edward menuntun Sean saat dia sudah berada di samping nya.
" Baby ". Langkah Edward mendekati Ruby saat mereka bertiga telah sampai di ruang rawat Ruby.
" Morning honey ".
Mereka saling mengecup satu sama lain. " Masih manis !". Bisik Edward.
" Tch, jangan keterlaluan ! ada anak kecil di sini !". Tepuk Ruby pada pundak Edward.
" Morning mom !". Sapa Sean yang sudah menaiki kursi di samping ranjang.
" Morning juga tampan !". Kecup nya di kening Sean dan Sean juga mengecup singkat kening Ruby.
" Di mana mereka ?!". Tanya Ruby mengedarkan pandangan nya mencari kedua anak nya yang lain.
" Mereka bersama bibi Leya mom ". Ucap Sean singkat tanpa memberitahu apapun lagi.
" Masih tidurkah ?!". Ujar Ruby.
" Iya mom, mungkin mereka kelelahan !". Jawab Sean.
" Dad !". Panggil Nara.
" Hay sayang ! apa tidurmu nyenyak ?!". Seru Edward.
" Sangat nyenyak Dad, terimakasih !".
" Yasudah, daddy mandi dulu ! Oh ia, bantu adik mu mengganti pakaian nya ". Ucap Edward mengambil paper bag yang berisi bajunya.
" Baiklah ". Sahut Nara.
" Sean kemarilah, kita mandi dulu !". Ajak Nara pada Sean. " Waw belum mandi pun kau sangat tampan ". Puji Nara memandang Sean dari dekat.
" Aku bisa sendiri ka ! tolong siapkan baju saja ya ". Ujar Sean lembut dengan senyum yang sedikit terulas.
" Siap kapten ". Tegap Nara.
" Kau terlalu berlebihan ka ". Seru Sean menggelengkan kepalanya atas sifat Nara.
" Ini handuknya tuan muda tampan ".
Nara sangat semangat hari ini, dia memberikan handuk putih berukuran kecil untuk Sean pakai dan langsung menyiapkan pakaian Sean.
" Nara, kau semangat sekali hari ini ". Seru Rayzen.
" Pasti nya dong uncle, keluargaku telah berkumpul kembali di tambah sekarang ini aku memiliki tiga adik kembar yang tampan dan juga cantik ! ssshh mereka sangat menggemaskan ". Ujar Nara kembali menjari Nara yang ceria lagi.
" Menggemaskan ?". Ucap Revin mengulang kata menggemaskan yang Nara berikan untuk ketiga adiknya.
" Hahahaha, iya iya iya ! mereka sangat menggemaskan ". Tawa mereka yang terlihat pura-pura, karena menurut mereka ketiga adik Nara itu bukan menggemaskan melainkan sangat menyeramkan yang mereka sembunyikan di balik wajah muda mereka.
" Apa aku salah ?". Selidik Nara pada uncle nya itu. Alejandro yang sedang mengobrol dengan Ruby mendengar ucapan mereka dan sedikit menyunggingkan senyum nya.
" Keponakan ku, ketiganya memang menggemaskan ! ini baru pertama kali kalian dekat dengan mereka dan kesan nya sudah seperti ini ! lihat dan tunggulah bagaimana kesan kedua setelah saat nanti mereka tinggal bersama kalian ". Ujar Alejandro. Dia tahu di balik tawa mereka, kadang Alejandro pun merasakan jika di balik wajah menggemaskan keponakan nya ada suatu hal yang membahayakan.
" Kau terlalu berlebihan paman ". Sanggah Ruby.
__ADS_1