
Akhirnya Ruby tiba di sana dengan pakaian yang masih tidak dia ganti, bau amis tercium dari tubuh nya. Ruby terus berjalan mencari-cari ruangan Nara, langkahnya terhenti saat banyak sekali orang berkumpul di depan pintu, siapa lagi kalau bukan Teman nya dan juga Agatha bahkan Lexi dan juga Andrew masih terlihat di sana.
" Baby ". Panggil Edward dari belakang dan Ruby pun menolehkan kepalanya. Edward berlari mendekati Ruby.
Mereka berjalan beriringan mendekati mereka.
" Kenapa kalian berkumpul di sini, dimana putri ku kak ?". Ucap Ruby pada Agatha, mereka ingin menjawab tapi bingung harus mengatakan apa.
" Ada apa ? dimana putri ku ? ". Giliran Edward menatap Lexi dan juga Andrew.
" Jawab !". Teriakan Edward menggema di sepanjang koridor sampai yang ada di sana terkejut. Lio menjadi resah karena mereka enggan untuk menjawab keberadaan putrinya.
" Kenapa kalian masih di sini ?". Ucapan dingin tiba-tiba terdengar dari arah pintu yang langsung dia tutup kembali.
Reina dan juga yang lain nya tertunduk karena masih ingat dengan perkataan pria itu , seolah mereka yang membuat Nara terluka.
" Kaka ". Teriak Ruby pada Bryan. Ya, dia adalah Brayn yang keluar dari ruang rawat Nara.
" Berhenti ". Cegah Brayn dengan dingin nya.
" Kenapa ? apa kau marah kepadaku eum ?". Cemberut Ruby yang sekarang manjanya mulai keluar lagi.
" Gantilah bajumu, kau juga Ed ! setelah itu kalian harus jelaskan pada kami bagaimana kalian bisa seteledor ini mengurus Nara ". Datar Brayn yang langsung kembali masuk ke dalam.
Ruby dan juga Edward segera mengganti pakaian nya karena mereka tahu ini juga kesalahan mereka.
Reina yang lain bukan nya pergi tapi malah duduk kembali begitupun Lio ikut duduk di samping Lexi dan juga Andrew.
" Mei, bukankah dia teman sekelas kalian dulu ? tapi apa aku salah lihat ? dia yang ini sangat dewasa sekali dan lihatlah, Ruby dan juga Edward sampai mematuhi perkataan nya !". Ucap Agatha pada Meilu yang sedang memainkan kancing baju nya yang belum dia ganti juga semalam.
" Kau benar Tha, dia seperti bukan Genzi yang kuta kenal lagi !". Ujar Reina yang entah harus senang atau tidak dengan keberadaan Brayn.
__ADS_1
" Genzi ?". Ucap ulang Agatha.
" Eum, dia Brayn Genzi dan hanya Ruby yang memanggil nya Brayn di kelas kami bahkan panggilan Brayn untuk Ruby adalah sweetie, awalnya kami kaget, Genzi yang pendiam bisa tersenyum pada Ruby dan juga hanya pada Ruby dia berkata lembut ". Ujar Meili flashback awal kedatang Ruby di kelas mereka.
" Begitu Kah ?, berarti kau benar Mei, dia hanya bisa lembut pada Ruby saja ! ". Ucap Agatha. Para pria yang ada di sana hanya mendengarkan nya saja seakan mereka menjadi penyimak yang baik.
" Apa kau pertama kali ini melihat nya Tha ?". Tanya Reina.
" Tidak, saat sekolah aku hanya pernah melihat nya sekali saja Rei ! Aku bertanya pada kalian hanya memastikan jika dia adalah orang yang sama, Apa kalian tahu ? semua yang kalian katakan adalah benar, kelembutan dia benar-benar berbanding terbalik saat itu, saat dia berusaha membunuh ku dan juga mengancamku karena adiknya yang begitu dia sayangi telah aku sakiti, aku melihat rasa sakit juga dari matanya dan juga tangan nya yang bergetar menambah keyakinan ku jika dia benar-benar menyayangi Ruby dan hari ini yang ketiga kalinya aku melihat dia dari dekat ! ". Ucap Agatha menerawang jauh saat dirinya berada di sebuah ruangan tempat dirinya dikurung dan disiksa.
" Di bunuh ? Apa yang kau katakan Tha ?". Ujar Reina
" Eum, jika bukan perintah Ruby dan juga dengan segala kebaikan nya, mungkin sekarang aku tidak berada di alam dunia lagi ! huffhh, semua yang keluar masuk tempat aku di kurung menampilkan tatapan singa nya dan itu membuat ku takut, sudah sekian kalinya aku mencoba bunuh diri tapi dia benar-benar tak membiarkan aku mati tapi di lain sisi aku terus menyesali semua perbuatan ku ". Tutur Agatha.
" Ya, mungkin itu tidak sebanding dengan apa yang Ruby alami, tapi setidak nya bisakah dulu mereka berbicara pelan dan lembut kepadaku seperti halnya pada Ruby ?! itu yang sangat aku inginkan Rei dan pada saat itu juga aku bertekad memperbaiki hidup ku jika hidup ini masih memihak padaku ". Ucap Agatha masih bercerita kejadian dimana di sana seolah tempat rehabilitasi untuk nya.
" Dan sekarang kau paham kenapa mereka menyayangi Ruby juga termasuk kami bukan ?!". Ujar Reina, Agatha menganggukkan kepalanya tersenyum.
" Yang lalu biarlah berlalu, Agatha yang dulu telah lama mati dan sekarang hanya Agatha yang ini yang kami kenal ". Peluk Meily dan di balas oleh Agatha.
" Berarti dulu itu kau berada di tangan para mafia sangar Tha, beruntunglah kau masih hidup ". Ujar Andrew tiba-tiba.
" Nimbrung aja terus ". Sindir Lexi.
" Apa sih, suka-suka dong ". Protes nya.
Lio malah terdiam dengan obrolan mereka dan sedikit menganggukkan kepalanya mengerti setiap keadaan yang dia alami.
Edward dan juga Ruby akhirnya muncul dengan pakaian yang sudah dia ganti.
" Apa dia masih di dalam ?". Tanya Ruby pada mereka yang masih terduduk di depan ruang rawat Nara. Mereka dengan serempak menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Apa kau sudah melihat keadaan nya ?". Tanya Edward pada Lio.
" Belum ". Jawab Lio
" Bagaimana mau menjenguk nya kak, di dalam sana singa semua, kami pun tidak berani masuk ". Meily begidik ngeri membayangkan jika mereka yang tidak lama itu datang mengamuk lagi pada mereka.
" Semua ? Apa tidak hanya Brayn yang di dalam sana ?". Ucap Ruby. Reina mengangkat kelima jarinya memberitahu Ruby jika di dalam sana ada 5 singa yang sedang menunggu Ruby.
" Mati aku ". Ruby tepuk jidat mengetahui hal itu. " Ayo honey ". Tarik Ruby pada lengan Edward.
" Kalian tunggu di sini ". Seru Ruby pada mereka.
Ruby membuka pintunya perlahan dan langsung masuk ke dalam sana, mata Ruby menangkap mereka sedang terduduk dan ada pula yang berdiri.
" Dad ". Panggil Edward mendekati mereka.
Edward memeluk Jakson dan tidak lama mendekati Nara yang masih memejamkan matanya.
" Bagaimana keadaan nya ?". Ruby pun ikut mendekati putrinya.
" Dia baik, semuanya normal hanya tinggal menunggunya sadar kembali ". Seru Savira.
" Lalu kemana kalian saat Nara dari pagi menghubungi kalian ?". Tanya David tiba-tiba tanpa menolehkan kepalanya.
Rayzen, Brayn dan juga Jakson seakan ingin melahap Ruby juga Edward, karena walau bagaimanapun mereka tetap salah membiarkan Nara menginap di markas dan di tinggal bersama anak buah mereka.
" Aku salah, maafkan aku eum !". Ucap Ruby benar-benar merasa bersalah karena teledor menjaga Nara.
" Tidak, itu seperti bukan Ruby yang kami kenal ! Ruby kami tidak seperti ini, melepaskan tanggung jawab hanya untuk dirinya sendiri ". Ujar David semakin dingin. Edward mengerutkan kening nya berpikir ada apa dengan mereka semua.
" Dev ". Edward sedikit menyentak adik nya itu dengan suara yang dia rendahkan agar tidak mengganggu kenyamanan pasien.
__ADS_1
" Kau juga sama kak, kemana kau sampai anakmu dalam bahaya pun kau tidak tahu, bagaimana jika Nara lebih dari ini hah ?!". Tekan David membuat Edward semakin tidak mengerti ada apa dengan mereka.
" Ada apa dengan kalian ini dan kau juga Dad kenapa kau diam sedari tadi ?!". Heran Edward.