Mafia Girls

Mafia Girls
Katakan jika itu tidak benar


__ADS_3

" MI171, itu pesawat yang Ruby tumpangi ! Ada apa ? ". Ucap Jakson terdiam dan melangkah kaki nya cepat mendekati telivisi yang sedang menayangkan berita kecelakaan pesawat.


" MI171 !". Ucap Jakson pelan, tubuhnya tiba-tiba melorot.


" Ray ". Ucap lirih Brayn, air matanya mulai keluar perlahan. Rayzen pun ikut menangis, jantung mereka berdetak begitu cepat. Melihat Brayn yang seperti ini membuat Edward dan juga David ikut tersayat.


" Ka, apa benar ?!". Edward terus mencari jawaban dari mereka karena Edward sama sekali tidak tahu pesawat mana yang di tumpangi Ruby. Edward terdiam mematung dengan tubuh yang terlihat mulai gemetar.


" Dad ". David membantu Jakson untuk berdiri, Jakson meremas jantung nya pelan.


" Ada apa ?". Tanya Savira yang baru saja kembali dari atas. Savira dengan cepat menuruni anak tangga dan langsung berdiri di depan televisi yang nasih menayangkan kecelakaan pesawat. "MI171". Jantung Savira berdetak, dengan tubuh gemetar, Savira melihat data penumpang yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. " Ruby Alderia,,". Ucap lirih Savira dengan pelan menyebut nama Ruby yang terpampang di sana.


" Hikss,,,hikss,, Ruby,, hiks ! Dad ". Savira berhamburan memeluk Jakson yang masih terkulai lemas di atas sofa.


" Cepat cari informasi mengenai Ruby, laporkan setiap saat kepadaku ". Gentar Edward tak karuan, jantungnya mendadak sakit dan nafas pun seakan terhenti.


David pun sibuk dengan telpon nya begitupun Rayzen dan Brayn dengan cepat mencari informasi tentang kecelakaan pesawat itu. Kabar ini membuat jantung mereka terus berdetak kencang apalagi Edward yang dihantui rasa bersalah nya.


" mommy, hikss,,hikss, mommy ". Tangis Nara terdengar sampai di lantai bawah, Edward dengan cepat naik ke atas.


" mommy, Nara mau mommy ". Nara menangis semakin kencang, mungkin mereka telah satu hati sampai Nara merasakan kehilangan yang begitu mendalam saat ini.


" Sayang ". Sendu Edward memeluk erat tubuh Nara, air mata nya menetes. Tubuh Edward bergetar, tangan pun yang menahan tubuh Nara terus saja bergetar. Edward terduduk sembari memeluk Nara.


" Maafkan dady !". Lirih Edward terus meneteskan air matanya.


" Mommy,,hiks,,hiks ". Nara terus memanggil Ruby dengan pedih nya.


" Ka ". Remas David di bahu Edward, David menggendong Nara ke dalam pangkuan nya.


" Baby, maaf, maafkan aku ". Edward terus menangis, David menenangkan kaka nya sembari terus menepuk bahunya pelan. Nara pun masih menangis di pangkuan David.


" Brayn, Rayzen ". Teriak Savira memanggil Brayn dan Rayzen yang terlihat tengah mencari informasi terbaru saat ini dengan suara panik nya.


" Ada apa, ada apa ?!". Mereka berdua langsung mendekati Savira dengan berlari, begitupun Edward dan juga David.


" Daddy, lihatlah daddy tak mau membuka matanya hiks,,hiks,,hiks ". Savira mengguncang tubuh Jakson tapi tetap saja tak terganggu, Brayn segera memeriksa nadi Jakson.


" Ray, cepat siapkan mobil ! cepat ". Teriak Brayn, matanya memerah dan juga panik.

__ADS_1


" Dad,, dad ! bangunlah ". Edward dengan sisa tenaganya memegang tangan Jakson seraya mengguncang nya. " Dad, bangunlah aku mohon !". Lirih Edward, David dan Rayzen terlihat mengusap wajah nya kasar.


Akhirnya Jakson dilarikan ke rumah sakit, saat ini Jakson sedang berada dalam pemeriksaan intensif.


" Kemarilah sayang ". Edward mengambil alih Nara dari pangkuan David.


" Mommy, bisakah daddy menghubungi Mommy, aku merindukan nya dad !". Ucap Nara masih terlihat air mata yang masih keluar, pipinya memerah begitupun ujung hidung nya.


" Nanti kita hubungi mommy ok, berhentilah menangis ! jika mommy tahu kau menangis dia pasti akan ikut menangis ". Tutur Edward mencoba menenangkan Nara.


Dokter yang menangani Jakson akhirnya keluar.


" Dengan keluarga nya ?". Tanya dokter itu pada Edward.


" Ia dok, kami anak nya ! Bagaimana keadaan Daddy kami ? apa dia baik-baik saja ?". David langsung menyosor bertanya pada dokter tanpa menunggu Edward menjawab.


" Keadaan pasien kritis, berdoalah agar dia melewati masa kritis nya ! Jantung nya lemah, dia tidak bisa menerima hal yang begitu mengejutkan nya karena itu akan berakibat fatal untuk jantung nya ! Kami akan berusaha sebisa mungkin, tapi kami tak menjanjikan apapun saat ini ! Bersabarlah ". Tutur Dokter itu dan pamit pergi.


Mereka semua masuk bergilir karena dokter melarang jika terlalu banyak pengunjung saat ini.


" Dad ". Sendu David memegang tangan Jakson dan mencium nya. " Dad, bangunlah ". Ucap lirih David.


" Ada apa ka ? apa sudah ada perkembangan mengenai Ruby ?!". Tanya David.


" Ka, aku titip Nara ! aku dan David akan pergi mencari informasi, kami usahakan besok kembali ! kabari aku secepatnya jika ada apa-apa !" Ucap Edward mengelus Nara yang tengah tertidur di pangkuan Savira.


" Pergilah, temukan Ruby secepat nya !". Seru Savira seolah memohon kepada Edward, air matanya menggenang membuat pandangan nya memburam.


" Itu pasti ka, dia istriku dan aku akan menemukan dia secepat nya ". masih terlihat kepanikan dari mata Edward, hari ini membuat jantung nya seolah benar-benar mati. Kekasih hatinya masih belum ada kabar kelanjutan dari kecelakaan pesawat itu di tambah daddy nya masuk rumah sakit dengan kondisi kritis yang bisa dikatakan tidak dapat bertahan lebih lama lagi, hanya dapat menunggu keajaiban mendatanginya.


" Ka, hal ini aku percayakan kepada kaka ! tolong pimpin dahulu semua yang ada di markas, pasti mereka yang tahu dengan Ruby akan semangat menghancurkan kita ". Ucap Edward.


" Begini saja Ed, Brayn dan David mengurus semuanya ! aku dan kamu Ed kita berangkat dahulu untuk mencari informasi ke bandara !". Aju Rayzen dan di setujui oleh David dan juga Brayn.


" Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat ! ka, titip anak ku ". Edward mengecup kilas kening Nara dan langsung pergi bersama Rayzen.


" Ra, kita juga pergi ! kalau ada apa-apa langsung hubungi kami ". Brayn dan David pun ikut pergi untuk menekan berita yang merugikan mafianya. Savira sembari menggendong Nara masuk ke dalam ruang rawat Jakson.


Nara di tidurkan di atas sofa lebar yang ada di dalam sana. Savira dengan pelan mendekati Jakson. " Dad, bangunlah ! bagaimana ini, jangan tinggalkan aku ! berjanjilah untuk tetap sehat ". Lirih Savira tertunduk.

__ADS_1


" Dad, belum ada kabar mengenai adik kecilku, aku takut dia meninggalkan aku begitu saja tanpa pamit dan tanpa bicara apapun ! kalian berdua harus tetap berada di samping ku, karena kalian harta paling berharga ! Dad, bangunlah hiks,,hiks,,hiks !". Tangis Savira begitu pedihnya. Savira menyeka air matanya dan menahan isak tangis nya agar Nara tak terganggu.


Berita kecelakaan pesawat telah tersebar ke beberapa negara tetangga termasuk Jerman, Brayn dan juga David berhasil menekan berita agar berita mengenai pemimpin mafia Red Pheonix tak menyebar.


Edward dan juga Rayzen masih berusaha mencari informasi mengenai kecelakaan pesawat itu. Edward berhasil menembus keamanan bandara guna mencari informasi lebih dalam lagi.


Tidak ada yang tidak panik hari ini, tapi mereka tidak memperlihatkan nya seolah tidak terjadi apa-apa.


JERMAN.


" Kakaaa ". Teriak Agatha panik.


Revan yang kebetulan berada di ruang tamu langsung menghampiri Agatha karena teriakan nya begitu keras.


" Ada apa, ada apa ? kenapa kau berteriak seperti itu ?". Panik Revan hendak membuka pintu kamar Agatha tapi Agatha lebih dahulu menarik pintunya. " Kenapa kau menangis ?". Revan semakin panik saat Agatha keluar dengan air mata yang sudah membasahi wajah nya.


Revin pun terlihat barlari begitupun mommy and daddy nya.


" Ada apa ? kenapa kau berteriak seperti itu ?!". Nameera ikut panik karena saat ini dia melihat kepanikan dan juga ketakutan di mata Agatha.


" Hikss,,hikss !". Agatha malah semakin menangis.


" Bicaralah, kau membuat mommy bingung ". Peluk Nameera pada Agatha.


" Hikss, hikss Ruby mom !" Agatha semakin terisak di dalam pelukan Nameera.


" Kenapa dengan Ruby ? ada apa ?". Panik Revin.


Agatha memberikan handphone nya pada Revin.


" Katakan jika itu tak benar ka ". Ucap Agatha di sela tangis nya.


Revin membaca kabar berita kecelakaan pesawat dengan penumpang yang lumayan banyak, Revin terus menggulirkan layar bening itu sampai akhirnya jarinya terhenti pada data penumpang dari pesawat .


" Ruby Alderia ". Seru Revin tak mampu menyebutkan nama lengkap adik nya itu, jantung nya tiba-tiba sakit, Revin meremas pelan dadanya dan nafasnya seakan tercekat di tenggorokan.


" Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi ". Revin berlari hendak menyalakan televisi karena demi apapun dia tidak tahu menahu akan kabar kecelakaan pesawat itu begitu pun Revan.


" Vin ". panggil Revan dengan teriak kencang nya.

__ADS_1


__ADS_2