Mafia Girls

Mafia Girls
Sean, Shane, Shabila


__ADS_3

Waktu begitu cepat berputar, usia mungkin bertambah dari tahun ke tahun tapi entahlah dengan sikap seseorang, karena usia bukanlah tolok ukur kedewasaan, tapi itu tak berlaku untuk Edward, dari tahun ketahun dia semakin dewasa menanggapi suatu masalah dan memutuskan beberapa hal yang tepat untuk kedepannya. Dia mungkin bercermin dari masa lalunya, karena keputusan nya di waktu lalu merenggut kekasih hati yang begitu ia cintai dan itu menjadi batu yang mengganjal di dalam hatinya sampai saat ini.


Selama itu pun, hatinya tak mudah berpaling, setiap wanita dengan mudahnya bebas merayu Edward tapi sumpah demi apapun Edward tak sedikit pun tergoda walau pakaian mereka sexi tak membuat keteguhan hati Edward goyah, di otak dan juga matanya hanya ada Ruby di sana.


" Dad ". Suara lembut begitu nyaman di pendengaran, baju dress yang dia kenakan begitu indah terbalut di tubuhnya. Dia berjalan mendekati Edward yang semakin bertambah usia semakin terasa lebih segar dan juga cool. Ketampanan nya semakin di puja-puja oleh kaum hawa.


" Sayang ". Ekspresi Edward melembut, hanya padanya dia merubah wajah dan juga tatapan nya menjadi lembut. Setelah kepergian Ruby, Edward semakin dingin dan juga semakin irit berbicara sampai David pun kadang heran dengan sikap Edward, tapi dia mengerti kenapa sikap nya berubah.


Mungkin tidak hanya Edward tapi dirinya dan juga laki-laki yang berada di keluarga Ruby semakin bersikap dingin, tapi itu hanya berlaku di luar saja, selain di luar, mereka akan bersikap sebalik nya. Bagaimana dengan Edward ? dia dingin luar dalam kecuali kepada putri kesayangan nya. Kepergian Jakson pun menambah sikap Edward semakin dingin tapi kepedulian nya tidak ikut mendingin. Jakson dan kakek Han meninggal satu bulan setelah kepergian Ruby saat itu.


" Dad, ayo kita pergi !". Ucap Nara meraih tangan Edward dengan tangan kanan nya karena tangan sebelahnya menggenggam bunga yang begitu Ruby sukai. Edward menggenggam tangan Nara, seulas senyum terbit di bibir Edward. " Dad, bisakah kau tak memasang wajah dingin mu itu lagi ? kau semakin tampan jika terus seperti ini dad !". Ujar Nara bergelayut manja di tangan Edward.


" Jadi selama ini daddy tidak tampan kah ?". Ujar Edward mengecup kepala Nara dari samping sembari berjalan.


" Kau daddy tertampan di dunia ini, tapi jika kau tersenyum seperti ini maka ketampanan mu akan bertambah dad !". Ucap Nara selalu berusaha membuat Edward tersenyum. " Daddy lio pun kalah oleh ketampanan mu dad !". Goda Nara.


" Sesuai keinginan mu sayang ! tapi daddy tak berjanji ". Edward membukakan pintu mobil untuk Nara dan melindungi kepala Nara dengan tangan nya saat Nara akan masuk.


" Kau semakin tinggi, maka berhati-hatilah saat memasuki mobil, kalau tidak kepalamu akan terbentur ". Sudah berapa kali Edward mengatakan hal itu, tapi Nara seolah tak mendengar dan selalu sengaja bersikap tengil di depan daddy nya itu.


Mereka sampai di pantai yang begitu indah, setiap tahun mereka akan berkunjung ke sana dan membawa bunga kesukaan Ruby. Tidak hanya Edward dan juga Nara tapi semua keluarga akan berkunjung ke sana mengenang kepergian Ruby.


" Mom, kau dimana ? aku merindukan mu, pulanglah ! mom, apa kau tidak merindukan ku sama sekali ? kenapa kau pergi begitu saja mom ?! Lihatlah, aku sudah tumbuh besar, tinggiku hampir mengejar Daddy ! setiap orang mengatakan jika aku semakin cantik seperti mommy !". Nara menyeka air matanya memandang jauh lautan yang menghampar indah.

__ADS_1


" hiks,,hiks,,hiks,, mom kembalilah !". Nara menangis meraung di pelukan Edward, Edward menahan tangis nya dan menatap lurus air laut yang begitu menenangkan, tapi ketenangan itu pula yang merenggut nyawa istrinya. " Dad, hiks,,hiks ". Edward mengeratkan pelukan nya dan mengusap lembut rambut panjang milik Nara.


" Baby, pulanglah !". Hati Edward berbicara seolah sedang berbisik, wajah dan juga tatapan nya begitu sendu. Edward semakin mengeratkan pelukan nya pada Nara yang masih menangis, terasa getaran dari tubuh Nara efek menangis sesenggukan. " Ayo kita pulang ". Ajak Edward merangkul tubuh Nara.


*****


Di suatu tempat, terlihat wanita yang begitu cantik dengan olesan sederhana di wajah nya. Dia terduduk sembari memperhatikan putra-putrinya yang sedang asyik bermain, senyumnya terus mengembang menambah kecantikan nya semakin mempesona.


" Apa kepalamu masih sakit ?". Tanya seorang laki-laki yang lebih tua darinya.


" Tidak paman, kepalaku semakin membaik !". Ucap Ruby. Ya, dia adalah Ruby yang kini tengah tersenyum.


" Ayo kita makan, kau masih perlu memakan obat mu Al !". Ucap nya lembut. " Bisakah kau tak memanggilku paman terus ? usiaku tak terlalu tua untuk kau sebut paman Al !". Protes nya seolah tak terima.


" Paman Andro ". Teriakan mereka mengagetkan Alejandro yang masih mematung di tempat nya.


" Anak sama ibu sama saja ". Ketus Alejandro meninggalkan mereka.


" Hahaha dia imut sekali ". Tawa mereka bersamaan.


Di depan meja, mereka makan dengan hidmat, walaupun masih kecil, mereka bertiga sudah mandiri. Saat ini mereka berusia 5thn dan beberapa hari lagi mereka akan memasuki usia 6thn.


" Mom, aku sudah selesai !". Ucap Sean membereskan bekas makan nya.

__ADS_1


" Aku juga mom, aku sudah selesai !". Ucap Shane mengikuti kaka nya yang pertama.


" kau belum menghabiskan makanan mu Shan ". Seru Shabila menegur adik bungsunya. " Anak pintar harus makan banyak !". Shabila menghidangkan kembali sayuran di atas piring Shane.


Ruby dan Alejandro selalu saja di suguhkan dengan kasih sayang antara saudara itu, Ruby sangat bahagia dengan kehadiran mereka.


" Mom, ini obat mu !". Sean menyiapkan obat untuk Ruby makan dan menata obat di atas meja dekat Ruby. " Mom, apa kepalamu masih sakit ?". Tanya Sean begitu pengertian kepada Ruby, walaupun mereka masih lah anak kecil tapi mereka seakan telah dewasa dengan pemikiran nya. Shane dan juga Shabila menghentikan aktifitasnya dan menatap mommy nya sekarang ini.


" Tidak sayang, kepala mommy semakin membaik sekarang, jadi tak perlu khawatir ". Seru Ruby, Sean tersenyum manis. Senyum Sean sangat langka, dia hanya bisa tersenyum kepada mommy dan juga kedua adik nya, kepada Alejandro pun Sean jarang tersenyum entah kenapa.


" Kaka, aku juga sakit ! ". Manja Shabila turun dari tempat duduk nya, Shane hanya mendelik geli jika kembaran nya itu sudah bertingkah aneh di depan kaka pertamanya.


Sean bergegas mengecek Shabila. " Mana yang sakitnya ?!". Sean terlihat panik saat adik perempuan satu-satunya ini mengadu kesakitan di bagian tangan.


" Dia berbohong ka !". Ujar Shane, Shabila melirik tajam pada adik tengil nya itu.


" Kalian ini selalu saja ". Lerai Ruby sampai geleng kepala.


" Jangan lupa, kau juga harus minum obat adik kecil ". Ujar Sean, memberikan botol obat berukuran tinggi lengkap dengan sendok nya.


" Sean !". Shane tiba-tiba kesal jika Sean terus saja menyuruh nya meminum obat karena dia sangat tidak suka bau obat apalagi memakan nya.


" Kaka !, panggil aku kaka, usiaku lebih tua satu jam dari mu adik kecil, jadi jangan memanggilku dengan sebutan nama !". Ucap Sean. " Jika kau makan obat mu maka kau boleh meminta apapun padaku !". Ujar Sean, Shane jika sedang marah maka dia akan memanggil kedua kaka nya dengan namanya saja, tapi biarpun seperti itu, Sean dan Shabila tidak pernah bisa untuk marah kepada adik kecil nya.

__ADS_1


" Baik pak dokter ". Hormat Shane, Sean memanglah seperti seorang dokter di kediaman nya saat ini karena setiap ada yang merasakan sakit pasti Sean berdiri di garis terdepan.


__ADS_2