
Hidup memang lah siapa yang tahu, semua manusia memiliki takdir nya masing-masing yang tidak dapat di rubah oleh siapapun. Begitupun kehidupan Ruby yang akan terus dia jalani sampai dia menutup usia, perangai cantik di lengkapi dengan hati yang tulus dan juga baik membuat nya menjadi diri yang di hargai dan di hormati.
Peristiwa itu membuat dirinya mengerti akan kehidupan yang di jalaninya dan peristiwa itu juga awal dari kebahagian nya, Ruby bersyukur untuk itu karena dia memiliki keluarga baru yang sangat menyayangi nya dan dia sangat bersyukur dan berterimakasih atas apa yang terjadi, membuat dirinya menemukan kekasih yang mungkin tidak akan ada yang sebanding dengan dirinya
" Baby, bisakah kau tidak melamun terus ? berbagi akan lebih ringan untuk mu, ada apa ?!". Mereka berdua terduduk, Ruby menyandarkan kepalanya di pundak kekar milik Edward, sembari kedua nya bersandar di sofa. Tangan Edward menjadi bantalan dan dengan senang hati Edward melakukan nya sesekali tangan Edward mengusap-usap dagu milik Ruby dan setengah melingkar di leher.
Ya, Ruby telah keluar dari Rumah sakit dan sehat bugar kembali.
" Tidak, tidak ada yang sedang aku pikirkan hanya saja kenapa semuanya begitu cepat dan itu tidak dalam perhitungan ku !". Seru Ruby menaikkan kedua kaki nya ke atas dan menekuk nya.
" itu bagus, lalu kenapa ?!". Ujar Edward .
" tidak, huffhhhhh akhirnya semuanya selesai ! honey terima kasih untuk semuanya !". Rengut nya menghembuskan nafas dan mengucapkan terima kasih pada Edward seolah kini beban nya telah hilang.
" Tak masalah, apapun untuk mu !". Seru nya tersenyum halus dari sudut bibirnya.
Rasa itu tak mampu untuk di utarakan dengan ucapan tak cukup jua dengan pembuktian yang rasanya membuat tentang rasa ini terombang ambing tanpa tujuan dan tanpa menepi, tapi Edward terus berusaha untuk mencapai yang selalu dia inginkan tapi tidak dengan ke egoisan, bergerak menepi dengan hati yang penuh dengan rasa damai membuat semuanya pasti.
__ADS_1
Ruby pun demikian, hatinya membeku untuk seorang laki-laki yang begitu dia cintai, hatinya seakan sekuat karang di laut tak goyah walau di terjang badai dan tetap kokoh pada tempatnya walau angin kencang menerpa, hembusan angin membuat nya seolah berdamai tapi tetap tidak terbuai akan hal itu karena dia tetap milik satu hati.
" Ayo bersiaplah, mereka menunggu kita di rumah !". Tutur Edward mengingatkan Ruby jika orang rumah menyuruh mereka pulang. Ya, sekarang mereka sedang berada di mansion Ruby setelah dirinya pulih dari lukanya dan memilih untuk pulang ke mansion nya dari pada ke rumah orang tuanya.
" Haishh aku malas, mereka pasti akan bertanya hal itu aaaaa ". Rengut Ruby gemas nya sampai rambut panjang yang terurai berantakan dan juga kedua alis yang terus tertaut lengkap dengan mulut cemberut dan pipi menggembul kemerah-merahan.
" Ayoo, tidak ada alasan !". Edward menarik tangan Ruby, Ruby masih tidak ingin berdiri membuat nya di gendong paksa ala koala oleh Edward, celana pendek dan kaos dengan ukuran jumbonya membuat Ruby semakin terlihat lucu.
" Yak, yak turunkan aku ! ". Ruby mengguncang kan kaki nya dan memukul punggung Edward dengan keras tapi tak membuat Edward mengindahkan nya.
Sekarang Ruby telah berada di rumah orang tuanya beberapa menit yang lalu dari kedatangan nya.
" Pak Alan ". Sapa Ruby meregangkan suasana. Kedatangan nya di sambut selidik oleh orang rumah, di sana sudah terlihat keluarganya yang sedang memberikan tatapan sengit dan juga penasaran dari semua mata yang memandang nya sampai akhirnya Ruby menyapa pak Alan yang kebetulan tertangkap oleh penglihatan nya.
" Bagaimana kabar paman dan keluarga apa sehat semuanya, apa salam ku sudah kau sampaikan pada bibi ?!". Ruby terus mengalihkan agar mereka semua tidak ada kesempatan untuk bertanya kepada dirinya.
" Sekali lagi kau bertanya kepada pak Alan jangan salahkan siapapun jika besok tak ada yang namanya pak Alan lagi di sini ". Tekan Revan serius membuat pak Alan kelabakan dengan situasi seperti ini. Nameera dan juga Luis sebenarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi, diam nya mereka sebenarnya bukan ingin bertanya sama halnya dengan ketiga anak laki-lakinya yang sedari tadi hanya menatap selidik pada Ruby tapi mereka bingung apa yang sedang mereka lakukan dan mereka pikirkan sampai seolah suasana ini berada di ruang introgasi yang berada tepat di tempat kepolisian.
__ADS_1
" Juara deh kalau soal ngancam ". Dengus Ruby.
" yee kamu nya si Al, kita lagi serius ini, jangan aneh-aneh deh !". Timpal Revin memdengus kasar.
" langsung saja, jangan belibet !". Ujar Ruby.
Mereka langsung saja bertanya dengan santainya mengenai dirinya yang sebenarnya adalah seorang mafia. Ruby membenarkan semuanya, tidak ada yang Ruby tutupi lagi mengenai semua hal. Terkejut pasti, kaka mana yang akan tidak terkejut mendengar kenyataan jika selama ini adiknya yang manja dan menggemaskan ini adalah seorang pemimpin dari mafia yang kebanyakan orang menakutinya dengan kewibawaan dan juga kekejaman nya.
Luis dan Nameera akhirnya mengerti apa yang sebnarnya mereka bicarakan, tadinya biasa aja tidak ada reaksi yang berlebihan tapi saat mereka berdua tersadar, mata mereka melotot seakan bertanya apa mereka tidak salah dengar ?.
" sejak kapan ? itu sangat berbahaya sayang, jangan membuat kami khawatir dengan kau menjadi seseorang yang berpengaruh dalam organisasi itu sangat tidak aman untuk hidup mu, tidak,, tidak mommy yakin kau sedang bercanda, ia kan ?!". Begitulah hati seorang ibu akan sangat khawatir mengenai semua hal yang di anggap nya tidak masuk akal dan berlebihan apalagi Ruby adalah seorang perempuan yang masih terbilang sangat muda, bagaimana bisa dia menjadi orang yang begitu penting dalan dunia kejam seperti itu.
" tidak mom jangan khawatir, semuanya akan sangat baik-baik saja ! lagi pula aku tidak berdiri sendiri, banyak orang hebat di samping ku, tidak hanya hebat tapi juga cerdas ! Ada banyak hal yang tidak orang ketahui mengenai bagaimana sebenarnya mafia yang aku dirikan, mereka hanya kenal jika yang berada dalam ruang lingkup mafia ku adalah manusia-manusia kejam yang tak kenal ampun dan tak berprikemanusiaan tapi yang sebenarnya tidak, itu tidak benar ! Kami akan baik pada orang baik dan kami akan jahat pada orang jahat sekalipun dia hanya bersandiwara !". Tutur Ruby dengan lembutnya namun tegas dan menekan, ekspresi dingin nya seolah dia sedang mengingat kejadian demi kejadian yang telah dia lalui dalam kemafiaan nya. Ruby menatap telapak tangan nya, membolak-balik kan berulang membatin jika tangan inilah yang telah menghukum mereka yang bersalah.
" Apa tujuan mu sebenarnya Al, kaka masih belum mengerti ! kau pun tahu jika berurusan dengan hal seperti itu hidup mu tidak lagi normal Al !". Revan sebagai seorang kaka tertua seolah terus saja mengintrogasinya sebelum mendapat jawaban yang tepat dan meyakinkan dari adik nya itu.
" Tidak ada, jikapun ada biarlah aku sendiri yang tahu !". Seru Ruby berujar membuat Revan menghela nafas dengan kasar nya, Ronald, Revin berdiam tak bersuara dan menyuarakan kebimbangan serta kekhawatiran nya, mereka hanya menatap lekat bola mata yang legam indah itu seolah sedang mencermatinya, Luis pun demikian, dia begitu terkejut dengan kenyataan ini sampai mulut nya tak bisa terbuka.
__ADS_1