Mafia Girls

Mafia Girls
Aku ingin dia kembali


__ADS_3

" Lepas ! ". Ronta Rosie yang akhirnya terlepas dan sedikit menjauh dari David. ''kesayangan mu ? siapa yang kau maksud hah ?!". Teriak Rosie kesal.


" Bahkan tanpa ku beritahu pun kau tahu siapa yang aku maksud !". Seru David. " Jangan pura-pura bodoh di hadapan ku, aku mendengar semua yang kau bicarakan dengan ayah sialan mu itu !". Ucap David menahan amarah nya.


" Istri kaka mu itu kah ? Bagaimana dia menjadi kesayangan mu saat dia telah menjadi kakak ipar mu hah ?!". Rosie berucap geli seolah tak memiliki rasa takut seperti tadi.


" Kau sama sekali tidak akan tahu tentang hubungan kita dan kau pun tidak akan mengerti ! sedekat apapun kau dan aku, sekuat apapun hubungan kita walaupun itu terbilang sangat lama saat kita saling mengenal satu sama lain tak akan sebanding dengan ikatan ku dengan istri dari kakak ku ! yang harus kau ingat di dalam otak mu adalah bahwa aku sangat menyayangi, mencintai dan menghargai dia sebagai seorang saudara yang jika di ganti dengan apapun tidak akan ada yang sebanding dengan nya, termasuk kau wanita licik ". Semula David masih berkata santai tapi lama kelamaan amarah nya mulai kembali memanas.


" Cihhh, apa bagus nya wanita itu hah ! Dia orang baru di hidup kalian, tapi kenapa dengan gampang nya dia memiliki kedudukan tertinggi di hati kalian hah ?!". Marah Rosie merasa tak di hargai.


" Dia berbeda, bahkan lebih jauh berbeda jika dibandingkan dengan kau !". Tekan David.


" Hahaha maka telan saja rasa sayang kalian itu kepadanya karena dia mungkin sudah mati bersama pesawat itu ". Tawa Rosie puas membuat David tak tahan lagi ingin mencekik nya.


Greppp, Dengan sekuat tenaga, David mencekik leher Rosie.


" Kau memanfaatkan kebaikan kami hanya demi tujuan kotor mu itu hah ? tch, kenapa kami begitu bodoh di tipu oleh ular seperti dirimu !".


" Aaaaaa, le,,ppa,as !". Kuatnya pegangan David tak membuat Rosie mudah untuk melepaskan nya.


" Lepas ? Bermimpilah !". Marah David tak menyeret Rosie keluar tanpa ampun. Tatapan tajam masih tak hilang dari David.


David terus menyeret Rosie keluar apartemen, keadaan masih hening di sana. David membawa Rosie ke markas besar, ikatan di tangan dan di kaki Rosie begitu kuat, mulutnya pun David bungkam dengan kain.


Akhirnya David memarkirkan mobilnya di halaman Markas dan di sambut oleh para mafioso yang tengah berjaga di sana.


" Bawa dia ke ruang tahanan !". Perintah David pada mereka. David berjalan ke lain arah menuju ruang pengendali.


" Ka !". Ucap David yang dimana di sana terlihat keberadaan Brayn.


" Dev, bagaimana ? apa dugaan kalian benar ?". Ujar Brayn, David menganggukkan kepalanya pelan.


" Sialan !". Marah Brayn. " Lalu bagaimana ?". Ucap Brayn kembali.


" Kau boleh bermain dengan nya ! dia ada di ruang tahanan !". Smirk David, Brayn pun membalas senyum itu tak kalah sadis. " Ka, bagaimana keamanan di Zona J, apa mulai ada pergerakan di sana ?". Tanya David, memperhatikan layar besar di mana di sana pusat pengendali terlengkap.


" Seperti nya kita akan segera bermain Dev, bersiaplah ! mereka tengah bergerak ". Ucap Brayn telaten dengan pekerjaan nya.


" Baiklah, kau tetap di sini bersama Lucky dan juga Zen! aku akan berangkat bersama Kenzy ! ". Seru David bersiap.

__ADS_1


Mereka yakin jika saat ini, markas besar pun tengah mereka incar ! untuk mempermudah penyerangan mereka maka pihak musuh akan mengelabuhi mereka, tch, itu rencana biasa yang dengan mudah dapat David dan juga Brayn tebak, maka dari itu, persiapan tersusun secara rapih dan juga matang.


" Ka, apa ada kabar dari Savira ?". Tanya David.


" Kau tak usah khawatir, aku mengirim seseorang untuk menjaga mereka dan juga Nara ! Besok keluarga dari Jerman pun akan tiba di sini, Jadi kita akan lebih leluasa melancarkan aksi kita Dev ". Tutur Brayn.


" Baiklah ka, tolong kau atur-atur saja untuk keselamatan mereka ! aku pamit ". Ucap David.


Mereka pun kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Edward dan Rayzen pun sama, mereka tanpa letih mencari Ruby sampai tim SAR pun tak dapat mencegah mereka karena badai kecil sangat berbahaya jika mereka terus melanjutkan pencarian.


" Ed, ayo kita istirahat terlebih dahulu ! wajah mu semakin pucat Ed !". Ucap Rayzen tanpa di pedulikan oleh Edward, ekspresi dingin nya seolah membuat hawa di sana mendingin.


" Tidak, jika kalian ingin istirahat maka kalian istirahatlah ! aku akan tetap melanjutkan pencarian istriku ". Sahut Edward.


" Ed, jangan keras kepala seperti itu ! jika kau sakit, bagaimana kau akan terus mencari nya hah ?!". Rayzen meninggikan suara nya.


" Tidak, aku bilang tidak ! apa kau tuli hah ?!". Sentak Edward sampai Rayzen pun meremas baju Edward saking kesal nya dan langsung menarik nya. Edward mencoba melepaskan pegangan Rayzen tapi hari ini tenaga Rayzen seolah lebih kuat dari biasanya.


" Jangan membuat adik ku tambah menangis dengan sikap mu yang seperti ini Ed !". Tekan Rayzen, Edward menunduk sendu.


" Bagaimana ini ka, aku ingin dia kembali ! maafkan aku ". Rayzen menepuk punggung Edward kasihan, diapun sama sedih nya, dia akan berusaha sampai Ruby di temukan karena hanya tinggal dua penumpang dari sepuluh penumpang tersisa yang belum di temukan yang salah satu dari mereka adalah Ruby.


" Dengarlah, jadilah Edward yang selama ini penuh ketegasan dan juga keteguhan ! Edward yang aku kenal bukan yang seperti ini ". Seru Rayzen meningkatkan kembali semangat Edward. " Ayo kita istirahat terlebih dahulu, langit mulai gelap ! aku tak mau terjadi apa - apa kepadamu !". Lanjutnya menepi.


Di sebuah ruangan, terlihat Jakson masih enggan untuk membuka matanya, kesehatan nya semakin menurun. Savira terlihat letih, wajah nya pun terlihat kusam.


" Aunty, Nara mau mommy !". Nara terus saja merengek minta Ruby pada nya.


" Sayang, bukankah kau berjanji pada mommy mu jika kau akan menjadi anak yang baik hmm ? masih ingatkah ?". Ujar Savira berbicara lembut sembari membenarkan sulur rambut yang menghalangi mata Nara.


" Tapi Aunty, dari kemarin mommy tidak menghubungiku ". Sendu Nara, Savira sangat tidak bisa menahan tangis nya saat ini, di tambah melihat Nara yang terus berkata lirih membuat nafasnya susah untuk berjalan normal.


" Aunty juga menunggu kabar dari mommy mu sayang ". Peluk Savira lembut.


Hari ke dua pun masih tak menghasilkan apapun, pencarian masih berlanjut.


Keluarga dari Jerman sudah tiba di Irlandia, mereka langsung pergi ke rumah sakit begitu menginjakkan kakinya di sana.


" Grandma ". Teriak Nara saat pintu ruang rawat terbuka lebar.

__ADS_1


" Nara !". Nameera memeluk sendu, dia menangis meneteskan air matanya sembari menciumi wajah Nara.


" Grandpa ". Luis mengecup sayang pada cucu pertamanya itu dengan keadaan masih di gendong oleh Nameera.


Savira beranjak dari tempat duduk nya dan memberi salam pada mereka.


" Bagaimana kabar mu ?!". Nameera memegang tangan Savira, air mata yang masih mampu Savira bendung akhirnya tumpah di pelukan Nameera.


" Hiks,,hiks,,hiks, !". Tangis Savira pilu.


Luis mengusap lembut rambut Savira seperti biasa dia lakukan kepada Ruby, savira menengadahkan kepalanya dan menatap Luis.


" Maaf, air mataku tidak bisa berhenti mengalir !". Sedikit senyum dari bibir Savira sembari menyeka air matanya lembut.


Revan dan juga yang lain nya terlihat sudah tiba di ruang rawat.


" Bagaimana keadaan nya ?!". Tanya Revan langsung menghampiri Jakson. Savira berbalik berdiri di samping Revan.


" Keadaan nya masih sama !". Ujar Savira, pandangan semua orang yang ada di sana tertuju pada Jakson.


" Aunty, dimana daddy Lio ?!". Tanya Nara minta pindah gendongan pada Agatha. " Hallo aunty Jasmin !". Sapa Nara sopan saat di sana Jasmine berdiri di samping Agatha.


" Hallo juga sayang !". Sapa Jasmine kembali dengan senyumnya.


" Aunty, apa kau kesini tidak bersamanya ?!". Tanya Nara kembali.


" Tidak sayang, daddy mu sedang ada urusan, jadi dia tidak bisa ikut ! tidak apa bukan ?!". Seru Agatha membuat Nara terlihat sendu.


" Kenapa satu pun dari mereka tidak ada yang menghubungiku !". Gumam Nara cemberut.


Sebenarnya, Lio dan Leo ikut mencari informasi mengenai Ruby saat ini dengan ikut mencari di titik terjatuh nya pesawat.


Keadaan masih sama, belum ada titik terang dari pencarian Ruby. Edward terlihat memandang jauh gelapnya langit dengan hamparan air laut yang menegaskan kekejaman nya.


" Ed, dia sudah David tahan ! lalu apa yang harus kita lakukan dengan wanita seperti itu ?!". Ujar Rayzen langsung duduk di samping Edward yang sama sekali tak mengalihkan pandangan nya.


Tatapan tajam Edward semakin menusuk, ekspresi garang di wajah nya seolah tak mengikis, rahang tegas nya semakin mengernyit berbunyi seolah giginya sengaja dia gesekkan satu sama lain.


" Biarkan dulu dia !". Jawab Edward garang, Rayzen tak menyanggah nya karena dia tahu dari ekspresi Edward saat ini menjadikan bulu kuduk nya merinding. " Ka, bagaimana keadaan putriku ?!". Tanya Edward tanpa merubah sikap nya.

__ADS_1


" Dia baik-baik saja ! hanya saja dia terus meminta Ruby kepada Savira ". Hela nafas Rayzen seakan sedang menahan sakit di sana.


Edward tak merespon, pikiran nya semakin kemana-mana saat ini. Rayzen dapat melihat rasa yang tercampur dalam diri Edward saat ini.


__ADS_2