Mafia Girls

Mafia Girls
Baby terimakasih


__ADS_3

Luapan bahagia yang kini tengah di rasa oleh keluarga membuat penantian selama bertahun-tahun terbalaskan, mereka percaya jika kesayangan mereka masihlah bernyawa dan hidup di kota yang nan jauh di sana, keyakinan mereka yang seperti itu mampu meruntuhkan ketidakpastian itu sendiri.


" Kaka, mana baju ku !". Teriak Sean dari kamar mandi yang kebetulan ada di ruang rawat. Nara mendekati pintu dan melihat Sean sedang mengintip di sana.


" Sedang apa kamu ? Keluarlah, kaka bantu ganti baju kamu !". Jail Nara hendak menarik tangan Sean.


" Mommy ka Nara nakal ". Adu Sean berteriak memanggil Ruby karena dia masih malu jika Nara yang mengganti bajunya.


" Sayang, biarlah kakak mu membantu ! lihatlah, mommy masih belum bisa berjalan ". Geli Ruby dengan tingkah Sean yang terlihat malu.


" Iya Sean kemarilah, kaka akan membantu mu !". Nara gemas dengan adik tampan nya ini, jadi Nara terus saja menggoda nya.


" Ada apa ini ?". Terlihat Edward baru saja datang dengan wajah yang telah kembali segar. Dia melihat Ruby yang sedang tertawa dan juga Nara yang sedang menggoda Sean.


" Ada apa ini Baby ?!". Tanya Edward kembali, Ruby menolehkan kepalanya menatap Edward.


" Itu lihatlah tingkah malu-malu putra pertamamu honey !". Dengan tawa rendah nya, Ruby menunjukan drama yang sedang terjadi di depan nya.


" Tch, kalian kenapa menggodanya hmm ?!".


Edward menghampiri Nara yang masih saja berusaha menarik tangan Sean yang enggan untuk keluar.


" Sayang, berhentilah menggoda adikmu !". Sentuh Edward pada kepala Nara.


" Dia sangat menggemaskan Dad !".


" Daddy, tolong aku !". Mohon Sean dengan penuh harap.


" aaaaahh, kenapa kau semakin tampan sayang ". Gemas Nara beralih mencubit pipi Sean.


" Nara ". Seru Edward membuat Nara berlari mendekati Ruby.


" Mom, terimakasih kau memberiku adik kecil yang mengemaskan !". Nara berhamburan memeluk Ruby.


" Sesuai permintaan mu bukan ". Ujar Ruby.


" Ayo boy, daddy yang akan membantumu ". Edward membawa Sean kedalam pangkuan nya.


" Daddy turunkan aku, aku sudah besar !". Rengek Sean mengguncang kaki nya dengan tubuh yang hampir tertutup handuk.


" Sudah besar ? jika benar, lalu kenapa tadi kau meminta tolong padaku hmm !".


Sembari Berjalan mendekati Sofa yang telah terlihat baj Sean yang sudah siap dipakai, Edward terus saja mencium pipi Sean.


" Daddy hentikan !". Kesal Sean.


" Hahah maaf, maaf !". Tawa Edward tapi dia melanjutkan nya.

__ADS_1


" Kau juga sama saja honey !". Seru Ruby karena kejahilan Edward.


" Aku benar bukan dad, dia sangat menggemaskan !". Nara mendekati Sean dan juga Edward.


" Kalian semua menyebalkan !". Kemarahan Sean saat ini tidak membuat mereka merasa takut tapi mereka semakin membuatnya gema


" Sean ". Teriak Shabila dan juga Shane yang telah terlihat di dekat pintu dengan Alejandro dan juga Leya bersama mereka.


Ruby, Edward dan juga Nara langsung menoleh melihat siapa yang berteriak, tapi tidak dengan Sean, dia tak menoleh sama sekali.


" Sayang, kalian baru bangun hmm ! Apa kantuk kalian sudah hilang hmm ?!". Ruby dengan pelan beranjak dari ranjang nya dan mendekati Shabila dan juga Shane begitupun Edward.


" Sayang, apa sudah tak pusing lagi ?!". Edward segera mengecek keadaan mereka berdua.


" Ada apa honey ?!". Tanya Ruby tapi tidak langsung di jawab oleh Edward.


" Ka, Paman, kenapa ?!". Tanya Ruby pada Leya dan juga Alejandro.


" Tidak apa Al, mereka berdua tadi hanya sedikit panas ! tapi sekarang mereka sudah baikan !". Jelas Leya.


" Sayang, apa kalian benar-benar sudah tidak pusing lagi hmm ?!". Khawatir Ruby.


" Mommy, tadi kau bilang belum bisa berjalan bukan ? lalu yang itu apa ?! tch, pembohong !". Sindir Sean, Ruby hanya memperlihatkan gigi rapih nya.


" Kemarilah, mommy belum memeluk kalian ".


Ruby langsung mendekap mereka berdua begitupun dengan Edward.


" Kenapa aku harus memeluk kalian ?! manja sekali kalian ini !". Ucapan nya tak sesuai dengan isi hati, Sean mendekati mereka dan langsung memeluk Shabila dan juga Shane sayang.


" Maaf !". Bisik Sean di telinga mereka.


" Terimakasih, maaf selalu merepotkan mu !". Ucap Shane, Sean hanya menyunggingkan senyumnya.


" Tak masalah ". Ucap Sean dengan gayanya.


" Kaka, kenapa berdiri di sana terus ? apa kau tak mau memeluk kami ?". Ujar Shabila kepada Nara yang hanya menatapnya.


" Bolehkah ?". Seru Nara antusias.


" Kenapa tidak boleh ka, bukankah kau kaka kami ! jadi tak perlu canggung ". Ucap Shabila. Nara tak menahan lagi dan akhirnya memeluk mereka dan mencium nya gemas.


" Terimakasih telah hadir di kehidupan kaka ! kaka sangat bahagia ". Ucap Sendu Nara.


" Jangan menangis seperti itu ka, kalau tidak akan mendapat hukuman ". Shabila menenangkan Nara.


" Hukuman ?". Bingung Nara.

__ADS_1


" Lihatlah kebelakang ?!". Bisik Shabila pada telinga Nara, Nara langsung menolehkan kepalanya sekilas.


" Kenapa dia ?". Tanya Nara kepada shabila.


" Dia tidak suka jika keluarganya menangis ka ! huffh entahlah, tapi dia sangat tidak menyukainya !". Ucap Shabila menatap Sean yang tengah menatap mereka tajam dengan tangan yang sengaja dia lipat.


" Menakutkan bukan ?!". Timpal Shane.


" Tapi bagi kaka, dia sangat menggemaskan begitupun kalian, jadi jangan pernah lagi pergi jauh dari kaka ! berjanjilah ". Tutur Nara.


" Sesuai keinginan mu ka !". Ujar mereka bersamaan.


Kesehatan Ruby semakin meningkat dan hari ini dia sudah di perbolehkan untuk pulang.


" Baby, kemarilah aku bantu !". Edward sangat posesif dengan Ruby, dia sama sekali tidak mau berjauhan.


" Dad, bisakah kau tak terlalu berdekatan dengan mommy ku ?!". Iri Sean melihat keposesifan daddy nya.


" Tch, terserah daddy !". Ujar Edward.


" Sudah-sudah, kenapa kalian selalu saja merebutkan mommy !". Lerai Nara karena hampir setiap hari mereka berdua seperti itu, tidak mau kalah jika mengenai Ruby. Sudah satu minggu terhitung Ruby di rawat dan hari ini putra dari Leya pun telah di perbolehkan untuk pulang.


" Tapi ka, daddy sudah besar ! bukankah orang dewasa harus mengalah ". Sean masih tidak terima.


" Kamu juga sudah besar boy, bukankah itu yang kau bilang waktu daddy menggendong mu !". Timpal Edward sama saja tidak mau kalah.


" Honey, Sean ! kenapa kalian terus saja adu mulut ! kalau seperti ini terus, kapan kita akan pulang ?!". Kesal Ruby.


" Maaf !". Ucap Edward dan juga Sean.


" Yasudah ayo kita ke depan, Uncle dan bibi Leya sudah berada di depan ! Kasihan juga kedua adik ku yang sudah terlebih dahulu keluar ". Ajak Nara dan meraih tangan Sean hendak menuntun nya, Sean menoleh. " Kau masih kecil bukan ? jadi biar kaka menuntun mu berjalan ". Goda Nara tersenyum puas.


" Tch, kau cantik ! tapi sayang nya menyebalkan ". Gerutu Sean. Nara semakin tersenyum puas.


" Baby terimakasih ! ". Seru Edward yang sembari menyaksikan kedekatan Sean dan juga Nara.


" tiga cukup bukan ?!". Jail Ruby.


" tambah satu lagi ". Goda Edward.


" Tch, ada-ada saja kau ini honey !". Cubit Ruby di pinggang Edward.


" Aw, sakit ". Ringis Edward.


Di lobi rumah sakit, Semua orang tengah menunggu, terlihat Leya pun tengah bersiap dengan suami dan juga putranya. Alejandro sedang membaur dengan keempat kaka dari Ruby.


" Paman ". Ucap Ruby.

__ADS_1


" Al ". Sahut Alejandro.


" Paman ikutlah bersamaku, aku tak mau meninggalkan paman sendiri di sini, pasti paman akan kesepian tanpa kami !". Ruby berdiri di hadapan Alejandro dengan mata yang setiap menatap Alejandro.


__ADS_2