Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 131


__ADS_3

Ruby dan Edward telah mendarat di Irlandia, mereka tidak langsung pulang ke mansion Jakson tapi lebih memilih bermalam di hotel yang lumayan dekat dengan bandara karena suhu badan Nara tiba-tiba meninggi. Setibanya di bandara sudah terlihat Lucky yang sedang menunggu kedatangan mereka dengan mobil mewah keluaran terbaru, entah berapa mobil yang sekarang terparkir di garasi bawah tanah nya.


" Luck, kita ke hotel terdekat saja dan langsung hubungi dokter segera !". Ujar Edward. Lucky tak banyak tanya karena sepertinya keadaan tak memungkinkan untuk bertanya.


" Baik king ". Jawab nya melirik Edward dan Ruby yang tengah mendekap Nara di pangkuan nya dari kaca depan yang menggantung.


Akhirnya mereka tiba di hotel dan sudah menerima kunci kamar nya, Edward terus mendekap Nara dengan Ruby menjinjing selimut dan juga baju hangat milik Nara yang di belinya.


" Ka cepat hubungi dokter dan langsung antar dia ke atas, cepatlah ! ". Resah Ruby kepada Lucky dengan wajah cemas nya.


" Kau cepat kejar Edward, biar saya yang urus semuanya ". Ujar Lucky ikut sibuk menghubungi dokter, Lucky memilih dokter yang berada di kemafiaan nya agar lebih cepat. " Cepatlah kau kemari ke hotel x, jangan pakai lama atau kau tahu akibat nya !". Seru Lucky pada telpon genggam nya yang masih berada dalam panggilan dan tidak lama Lucky mengakhirinya.


" Baby, cepatlah !". Ruby segera membuka pintu kamar hotel dengan terburu-buru.


" Ayo masuk, cepat honey baringkan dia ". Edward bergegas membaringkan Nara di atas tempat tidur berukuran besar di dalam sana. " masih panas honey ". Ucap Ruby setelah menyentuh kening dan juga lehernya mencoba memeriksa suhu badan nya kembali.


Ruby langsung naik ke atas tempat tidur, tubuhnya bergetar seolah sedang kedinginan. Ruby mengalihkan Nara dalam pangkuan nya, gadis kecil yang begitu lucu dan menggemaskan membuat Ruby dan Edward ingin memilikinya.


" Kenapa dokter itu lama sekali, apa dia bosan hidup ?!". Kesal Ruby terus menoleh pada pintu kamar yang tak kunjung terbuka atau pun di ketuk. " Honey coba kau hubungi kak Lucky apa dokter nya sudah tiba ! ini lama sekali, lihatlah wajahnya semakin memerah !". Tutur Ruby mengusap-usap wajah Nara.


Ketika Edward hendak meraih handphone nya, suara ketukan pintu terdengar semakin jelas. Edward langsung bergegas membuka pintu dimana di sana terlihat Lucky dan seorang dokter yang datang bersamanya.


" Selamat malam King ". Sapa nya sedikit menunduk.


" Cepat masuklah !". Titah Edward.


" Dia demam, dia tidak akan tahan dengan air hujan karena tubuhnya tidak terbiasa dengan itu maka dari itu tubuhnya sock ! apa sebelum nya dia hujan-hujanan ?". Jelas Dokter itu dan kembali bertanya yang kemungkinan penyebab nya adalah air hujan. Ruby dan Edward menganggukkan kepalanya atas pertanyaan yang dokter itu lontarkan.


" Kalau begitu jangan dulu membiarkan dia terkena air hujan dan juga dia tidak kuat jika berdiam di bawah terik matahari ! ini resep obatnya, anda bisa menebusnya di apotek dan saya sudah mencantumkan obat untuk mempertahan kan kekebalan tubuh nya dan beberapa vitamin yang harus dia makan ". Jelas Dokter itu, Lucky tanpa perintah mengambil resep obat itu dan langsung berlalu pergi dari sana tanpa menunggu dokter itu selesai dengan pekerjaan nya.


" Apa tidak ada yang harus kita lakukan lagi ? soal makanan nya mungkin !". Ujar Ruby bertanya aktif kepada dokter itu, Edward menyiapkan kertas untuk pengingat nya.


Dokter itu menjelaskan dan memberitahu Ruby dan Edward pola makan untuk si kecil dan juga makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dia makan, terlihat seperti seorang ibu dan ayah yang sedang berkonsultasi dengan dokter spesialis. Mereka berdua begitu antusias dengan hal semacam itu sampai Lucky pun sudah kembali dari apotek menunjukkan bahwa mereka telah menghabiskan beberapa jam dalam pembahasan tentang anak.


" Jika tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi ! selamat malam King, Lady saya pamit undur diri ". Pamit dokter itu berjalan mundur dan setelah lumayan jauh dia berbalik dan berjalan ke luar.


" Terimakasih ". Ucap Ruby dan Edward bersamaan.


" Kalau begitu saya juga pamit ". Ucap Lucky ikut undur diri. " oh ia, semua obat sudah lengkap di sana !". Lanjutnya sebelum benar-benar hilang dari penglihatan Ruby dan juga Edward.


" Terimakasih ka ! ka, jangan sampai ada yang tahu mengenai masalah ini, cukup kita saja yang tahu terlebih dulu !". Ucap Ruby di acungkan jempol oleh Ruby tanda persetujuan.


Ruby memeriksa obat yang baru saja Lucky tebus, dia membaca instruksi pemakaian nya dengan teliti.


" Honey pegang obat yang ini ". Ruby mengambil obat sirup penurun panas untuk di berikan kepada Nara sebelum dirinya benar-benar tertidur.


Edward meraih obat itu sedangkan Ruby membangunkan Nara perlahan agar dirinya lebih leluasa menyuapinya.


" Honey tolong ambilkan air putihnya ". Dengan gesit, Edward mengambil air putih yang sudah tersedia di sana dan menuangkan nya ke dalam gelas bening.


" Nara sayang, sekarang tidur lah !". Elus lembut Ruby.


Nara sudah terlihat tenang sekarang dan dia sudah terlihat damai dengan tidurnya begitupun Ruby yang tidur di samping nya tanpa mengganti baju terlebih dulu. Edward memilih tidur di sofa yang sudah berada di sana karena kamar hotel yang di pesan oleh Edward memiliki fasilitas terlengkap di sana.


Malam dingin masih menyergap kota yang sedang Lio dan juga Leo tinggali, hujan yang turun tak kunjung menyurut membuat nya tak segan menerobos hujan demi mencari anak nya yang tak kunjung di temukan.


" Bagaimana apa sudah ketemu ?". Tanya Andrew yang masih ikut mencari, dia menghubungi Leo dan menyambungkan nya dengan Lexi yang sedang ikut mencari di sudut yang berbeda, mereka berpencar untuk menemukan Nara, CCTV pun tak ada yang terlewat untuk mereka periksa tapi hasilnya tetap nihil tak menemukan apapun.


" Belum, aku masih mencari nya ! Bagaimana ini Le, hari semakin gelap, apa kita akan melanjutkan pencarian nya ? hujan pun tak kunjung mereda ". Tutur Lexi melalui telpon nya.


Leo melihat jam tangan yang melingkar di tangan nya. " Ini sudah jam 1 malam, ya ampun kenapa secepat ini ! Kalian pulanglah, besok kita lanjutkan pencarian nya !". Seru Leo baru sadar jika hari semakin larut dan mungkin ini sudah mendekati pagi.


" Baiklah kalau begitu, kau juga pulang lah ! kita harus jaga kesehatan untuk mencari nya lagi besok ". Ucap Andrew di seberang sana. Mereka semua akhirnya pulang dan akan melanjutkan nya besok.


" Kalian juga pulang lah ". Titah Leo pada anak buah nya yang sudah terlihat kelelahan dengan baju yang basah kuyup. Mereka langsung undur diri setelah Leo memerintahkan mereka untuk pulang.


" Ka, ayo kita juga harus pulang dan beristirahat agar besok tubuh kita kembali fit dan fokus untuk mencari Nara ?". Ajak Leo pada kaka nya yang ekspresi nya sudah tidak dapat di baca. Lio menengadah dan tidak lama menunduk kan kepalanya kembali dari posisi duduk nya.


" ini semua salah aku, aku Ayah terbodoh di dunia, bagaimana bisa aku menelantarkan anak ku dan hanya di urus oleh baby siter saja ! Bagaimana aku tega membuat nya terus menunggu tanpa aku ingin mengunjunginya, kenaaappppaa !?". Lio menangis dalam diam, air matanya kini berhamburan keluar seperti halnya air hujan yang kini masih membasahi tanah.


Leo menenangkan kaka nya sembari duduk di samping nya. " Tenanglah ka, kita pasti menemukan nya ". Ucap Leo terus menepuk-nepuk bahunya.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang saat itu juga sesaat setelah Lio tenang.


***


" morning mom, dad , tha !". Seru Revin yang sudah siap dengan stelan kantor nya.


" Pagi juga ". Jawab mereka bersamaan. Tidak lama Ronald dan juga Revan pun turun bersamaan.


" Pagi semua !" Sapa nya dan di jawab bersamaan oleh mereka.


Mereka sarapan bersama dalam dentingan sendok yang memecahkan suasana. Baru pertama kali ini Agatha merasakan bagaimana hangat nya keluarga ini tanpa hati yang kotor. Ini kah rasanya ? Batin Agatha bergumam, senyum nya sedikit terulas seolah semangat di dalam dirinya kini membara.

__ADS_1


" Apa semalam kau salah minum obat Tha ?". Ujar Revin dengan mulut pedas nya yang belum berubah tapi saat ini bukan sindiran maut untuk Agatha melainkan sebuah Ejekan yang sedang dia lontarkan tapi membuat Agatha masih canggung karena baru pertama kali ini Revin bersuara kepadanya.


" Obat ? obat apa ?". Dengan wajah polos nya Agatha menjawab seakan itu bukan lah sebuah candaan untuk Agatha, jika boleh jujur tak ada yang pernah melontarkan candaan kepada Agatha seperti hal nya sekarang ini.


Revan dan juga Ronald menahan tawanya dengan kepolosan Agatha yang juga baru pertama kali mereka lihat.


" Tidak, tidak jadi !". Revin kesal sendiri, biasanya jika Ruby yang di ajak bercanda akan menyenangkan, tapi apa ini ? Agatha malah sebalik nya.


" Sudah lah Vin, dia baru mulai beradaptasi lagi dengan kita ! pelan-pelan saja nanti juga dia terbiasa. Lihatlah wajah nya tegang begitu dan apa kau tidak lihat sedari tadi dia begitu canggung dengan kita ?". Lirik Revan pada Agatha. Nameera dan juga Luis pun ingin tertawa dengan sikap Agatha yang seperti ini, lebih alami menurut mereka, biasanya di pagi hari Agatha sudah berdandan layak nya tante-tante tapi tidak saat ini , perangainya semakin cantik natural tanpa polesan apapun.


" Sudah-sudah kau ini, tidak ada Ruby pun sekarang Agatha yang jadi sasaran ! ". Cebik Nameera.


" Maaf ". Agatha malah mengucapkan maaf kepada Revin membuat Revin semakin kesal tapi tidak dengan mereka yang sekarang sedang tertawa terbahak-bahak.


HAHAHAHAHAHAHA


" Tertawalah sepuas kalian ". Kesal Revin beranjak dari tempat duduk nya menuju ruang depan bersiap untuk berangkat kerja.


" Apa aku melakukan kesalahan ? maaf aku tidak bermaksud seperti itu ". Ucap Agatha merasa tidak enak dengan Revin.


" tidak-tidak kau tidak salah apapun, jadi tidak perlu merasa bersalah dengan itu ! kau harus bisa beradaptasi dari awal kembali Tha, mommy yakin semuanya akan baik-baik saja !!". Tutur Nameera.


" baik mom, terimakasih ". Jawab Agatha.


" tidak usah berterimakasih, kau juga anak ku begitupun Ronald, kalian semua anak mommy and daddy jangan merasa kalian di kesampingkan oleh kita. Kalian anak mommy jadi kasih sayang dan cinta mommy akan sama rata untuk kalian, paham !". Ucap lembut Nameera di angguki oleh Luis yang masih anteng dengan koran nya.


Baru kali ini Agatha benar-benar merasakan bagaimana hangat nya keluarga tanpa sandiwara dan mungkin juga karena rasa benci di hatinya nya yang sekarang sudah hilang membuatnya meras tenang dan tentram.


" Jika kau butuh bantuan bisa minta tolong kepada kita, jangan sungkan ". Ucap Ronald.


" Baiklah jika seperti itu, aku tidak akan sungkan lagi kepada kalian ". Ujar Agatha..


" Oh ia, aku ingin bekerja ! apa di perusahaan ada lowongan kerja kak ?". Lanjut Agatha mengingat apa yang ingin dia katakan sejak malam tadi.


" Kerja ?". Ucap Revin yang kembali lagi hendak pamit kepada kedua orangtuanya untuk berangkat kerja. Agatha menganggukkan kepalanya cepat.


" Kau belum menyelesaikan pendidikan mu Tha, sekolah yang benar dan fokuslah belajar, di usia segini kau hanya harus menuruti ucapan orangtuamu dan juga kaka-kaka mu yang tampan ini !". Ujar Revin membenarkan kain bercorak yang melilit di kerah baju nya.


" Iya Tha, kembalilah belajar ! di sini kami masih mampu menghidupi mu, jika perlu kau habiskan uang ku karena itu tak akan pernah habis walaupun kau terus belanja ke mall !". Ujar Revan dengan bangganya.


" Kami tidak akan pernah membanding-bandingkan mu dengan Ruby karena kalian berbeda, yang pasti nasib dan takdir kalian juga berbeda, kamu tetaplah kamu dan Ruby tetaplah Ruby, hanya satu yang sama bahwa kalian adalah adik ku adik perempuan kami. Jadi jangan pernah kecewakan kami !". Timpal Ronald ikut berbicara.


Agatha benar-benar terharu dengan kasih sayang mereka, kenapa tidak dari dulu seperti ini. Jika tak ada rasa iri yang muncul dalam hatinya mungkin semua itu akan Agatha dapatkan sejak lama.


" Ingat jika ada apa-apa hubungi kami ! Oh iya kakak sudah membeli perlengkapan yang baru untuk mu, cuman satu perangkat saja karena Ruby sudah tidak belajar di kampus lagi ". Ronald mengacak-acak gemas Rambut Agatha seperti yang selalu Ronald lakukan pada Ruby. " Barang nya berada di kamar kaka, ambil saja sendiri yah ". Ucap Ronald.


" terimakasih untuk semuanya !". Ucap Agatha senang.


" Tak masalah ". Ucap Revan. " kalau begitu kami berangkat kerja dulu, mom Dad kami berangkat ". Pamit nya diikuti oleh Ronald dan juga Revin sampai punggung mereka tak terlihat lagi.


" Jangan kecewakan kami ". Tutur Luis yang sedari tadi diam kini membuka suaranya.


" Ia Tha, kami berharap lebih padamu ! jangan kau sia-siakan kebaikan yang Ruby berikan kepadamu, jadikan lah ini sebagai


pacuan untuk menumbuhkan tekad agar menjadi orang yang lebih baik lagi dan lagi ". Ucap Nameera meraih tangan Agatha dan mengelus nya lembut.


" baik mom dad, terimakasih kalian telah memaafkan semua kesalahan ku ". Ucap nya sekali lagi meminta maaf.


" tak masalah Tha, kau telah berubah pun kami sangat senang ". Ucap Syukur Luis.


...**...


" Bibi, apa Ruby nya ada ? ". Terlihat Reina dan juga Meili berada di teras Rumah hendak menjemputnya untuk berangkat bersama.


" Ruby sedang ke Irlandia sayang, dengan Edward, apa dia tidak memberitahu kalian ?!". Ucap Nameera mengajak mereka berdua untuk masuk dahulu ke dalam. Reina dan Meily saling pandang lalu langsung mengecek Handphone mereka masing-masing dengan kontak yang sudah di ganti karena handphone mereka yang sebelumnya telah ikut terbakar bersamaan dengan mobil mereka tapi Ruby sudah memiliki kontak mereka yang baru.


Di saat mereka mengecek handphone nya benar saja Ruby mengirim pesan text yang singkat tapi mereka baru saja melihat nya karena sedari kemarin mereka berdua tidak memegang handphone nya sama sekali.


" ada bi, kalau tahu gitu kami tidak akan ke sini ". Keluh Meili.


" kalau gitu kalian bareng saja dengan Agatha, kebetulan dia masih belum berangkat ". Seru Nameera.


" Agatha ? apa dia masih di tempat yang sama dengan kita bibi ?. " Tanya Reina seolah tak percaya jika Agataha memutuskan untuk kembali belajar lagi, apa dia tidak akan malu dengan mahasiswi di sana akan kejadian tentang dirinya yang tersebar luas di luaran sana ?. Batin Reina bergumam.


Ruby menceritakan semuanya kepada kedua teman nya perihal dirinya memaafkan Agatha, mereka menerima semua keputusan yang di ambil Ruby dan sekarang Agatha telah kembali lagi ke rumah Smith.


" baiklah, apa dia sudah bersiap ? Apa perlu kita menunggu nya ?". Ucap Meili pelan takut terdengar oleh Nameera


" Pagi semua ". Sapa Agatha yang tidak sempat berdandan karena waktu sekolah sangat mepet.


" bi , kami pamit yah ". ucap Reina menyalami tangan Nameera begitupun Meili dan juga Agatha, mereka langsung berangkat bersama menggunakan mobil terbaru yang dipakai oleh Meili.


" baiklah hati-hati jangan kebut - kebutan ". Ujar Nameera.

__ADS_1


...**...


Di Irlandia tepatnya di kamar hotel, tawa anak kecil menghidupkan suasana di pagi hari. Ruby mengerjap-erjapakn matanya merasa ada yang tengah menepuk lembut pipinya.


" mom bangunlah aku lapar ". Setelah senang dengan aktifitas paginya walau sendirian tapi membuat Nara begitu senang. Nara terus menepuk-nepuk pipi Ruby sampai diri nya benar-benar terbangun.


" mom aku lapar ". Ulang nya lagi berdiri di hadapan Ruby dengan syal yang masih melilit imut di leher Nara.


Ruby sadar dengan sebutan yang keluar dari mulut Nara membuatnya membulatkan matanya sempurna, masih dalam keterkejutan nya, Nara mendekati Edward yang terlihat masih memejamkan matanya nyaman.


Telunjuk mungil milik Nara menusuk-nusuk pipi milik Edward tapi tak membuat nya membuka matanya.


" dad, bangunlah aku lapar ". Ucap nya masih menusuk-nusukan telunjuknya. Edward sama hal nya dengan Ruby yang langsung membuka matanya kasar setelah mendengar Nara memanggilnya dengan sebutan daddy.


" Dad ?". Ucap Edward mengerutkan alis nya, mimpi apa dia semalam sampai-sampai pagi ini ada yang memanggilnya dengan sebutan Daddy.


" Apa tidak boleh ?". Rengut Nara beranjak mendekati Ruby yang masih terduduk di atas kasur.


" mom, Daddy jahat ". Adu nya sembari menangis di pelukan Ruby membuatnya heran.


" Apa kau sudah sembuh sayang ?". Ruby mengukur panas nya di kening milik nya.


" syukurlah kau baik-baik saja ". Ucapnya setelah mengecek keadaan Nara.


" honey, kenapa kau masih di sana hmm ? cepatlah dia sudah kelaparan ! ".Protes Ruby yang menangkap jika Edward masih tak beranjak dari sofa itu.


" ayo kita sarapan pagi di bawah, kemarilah dady cuci wajah mu lebih dulu sekalian !". Nara berlari ke pangkuan Edward dengan semangat. " Apa mommy juga mau daddy bantu cuci wajah mu !". Seringai Jail mulai terbit dari sudut bibir milik Edward.


" Alasan ! kalian duluan lah, mommy merapihkan tempat tidur terlebih dahulu ". Ujar Ruby beranjak dari tempat tidur nya.


Ruby tersenyum geli di pagi hari karena mendengar sebutan mommy untuk dirinya yang terbilang masih sangat muda jika di panggil mommy. Dengan cekatan, Ruby telah selesai merapihkan semuanya dan kebetulan Edward serta Nara pun keluar dari kamar mandi.


" Giliran mommy mencuci muka dan jangan lupa gosok gigi ". Cengir Nara yang sekarang sudah terlihat nyaman dengan keberadaan Ruby dan juga Edward.


" Baiklah tuan putri ". Ucap Ruby membungkukkan tubuh nya.


" Nara, bisakah kah kau panggil aku Kaka saja ? jika daddy itu terlalu tua untuk ku sedangkan usiaku masih remaja ". Tutur Edward seolah sedang berbicara pada anak dewasa, apa otak Edward sedang dalam masalah sehingga meminta hal yang belum anak kecil mengerti.


" hahaha apa yang kau lakukan honey, mana mungkin Nara mengerti apa yang sedang kau pinta itu hmm ?!". Tawa Ruby geleng kepala atas apa yang Edward katakan tadi.


" Tapi baby, sebutan itu sangat tidak nyaman untuk ku ". Keluh nya.


" Biarlah, suka-suka dia toh tidak ada ruginya bukan ? hitung-hitung belajar jadi jika nanti kita memiliki anak tidak akan kaget lagi karena kita sudah tahu bagaimana rasanya memili anak ! " . Tenang nya.


" Baiklah, ayo daddy gendong ". Edward langsung menggendong Nara, mereka bertiga turun ke bawah untuk sarapan pagi.


" Anak nya sangat cantik sekali ". Puji mereka yang berada di ruang makan yang sudah tersedia di lantai bawah lengkap dengan kolam berenang nya.


" terimakasih bibi ". Ucap Nara dengan imut nya membuat mereka semua gemas.


" mom, apa aku benar-benar cantik ? sedari tadi banyak sekali yang memujiku !". Tanya Nara begitu polos nya.


" mereka tidak bohong sayang, kau memanglah cantik, siapa dulu dong mommy nya ?". Puji Ruby pada dirinya sendiri.


" kenapa pagi ini kau begitu cerewet sayang, hmmm ". Cubit Edward di kedua pipi Nara karena perubahan yang begitu terlihat dan dapat dengan mudah Edward sadari.


" ia ini ada apa, kenapa pagi ini kau sangat cerewet sekali ?". Seru Ruby memasukkan kue ke dalam mulut Nara sehingga pipinya penuh dengan kue menggembul bulat layaknya bakpaw.


" baby pelan-pelan nanti dia tersedak ". Seru Edward mengambil tissue dan membersihkan mulut Nara yang sudah belepotan dengan kue begitupun Ruby.


" Setelah ini kita langsung pulang, baby kau hubungi Lucky untuk segera menjemput kita ". Ucap Ruby.


...**...


Di sinilah mereka sekarang, Edward dan juga Ruby kini sudah tiba di mansion Jakson beberapa menit yang lalu, kedatangan mereka di sambut dengan tatapan tanya dan curiga karena di antara Ruby dan juga Edward berdiri seorang anak perempuan yang begitu menggemaskan.


" Dad siapa mereka ?". Tanya Nara memecah suasana tegang di dalam mansion.


" pergilah, perkenalkan dirimu dengan mereka ". Ucap Edward yang langsung melepaskan genggaman tangan nya begitupun Ruby ikut melepaskan tangan nya.


" uncle tangkap aku, tangkap aku ". Teriak Nara berlari ke arah Brayn sembari merentangkan tangan nya.


GREPPPPP


Sekarang Nara berada di gendongan Brayn membuat Rayzen dan juga Savira termasuk daddy jakson ikut mengelilingi Nara.


" Siapa namamu cantik ?". Ucap Savira mencubit dagu milik Nara.


" Nara aunty, namaku Nara ". Ucap Nara, seolah lupa dengan tujuan utama mereka memanggil Edward dan Ruby.


" aaaa kau begitu cantik sekali " Gemas Savira. " Boleh kah aku mengendong mu ?".


Ujar Savira langsung mengambil alih Nara ke dalam gendongan nya

__ADS_1


__ADS_2