Mafia Girls

Mafia Girls
Kita memang sehati


__ADS_3

" Ka, dimana kaka ipar ? kenapa aku tidak melihat dia !". Tanya Ruby pada Ronald.


" Kaka iparmu tak bisa ikut sayang, karena Clare sedang tak enak badan !". Ucap Ronald.


" Clare ? siapa dia ?". Tanya Ruby.


" Dia putri kaka Al ". Seru Ronald.


" Waah benarkah ? pasti dia cantik seperti aunty nya haha ". Puji Ruby pada dirinya sendiri.


" Itu Pasti ". Sahut Ronald.


" Al, kau juga akan mendapatkan keponakan juga dari kaka !". Ujar Agatha yang tiba-tiba duduk di samping Ruby.


" Keponakan ? ". Bingung Ruby karena dia belum tahu jika Agatha pun telah menikah.


" iya keponakan, kaka sedang mengandung Al ! sudah masuk bulan ke empat ". Senyum Agatha.


" Ka, kau menikah dengan siapa ? apa dengan orang lain ? lalu bagaimana dengan Lio, apa kau mencampakkan nya ?!". Cerocos Ruby.


" Ucapan mu ini tajam seperti biasanya !". Gumam Agatha.


" Dia adik aku mom, bayi dari mommy Agatha dan juga Daddy Lio !". Tekan Nara dengan sangat jelas.


" Benarkah ? apa benar kalian sekarang sepasang suami istri ?! wah wah wah selamat ". Senang Ruby dengan berita membahagiakan ini.


" Tapi sebentar ! di mana dia sekarang ? kenapa dia membiarkan istrinya pergi sendirian seperti ini !". Ruby tiba-tiba kesal.


" Tenanglah, kaka tidak apa-apa ! dia sedang ada kerjaan bersama Leo di markas besarnya ! lagi pula ada ka Revan, Ka Revin dan juga Ka Ronald yang menjaga ku ". Ucap Agatha.


" Dia benar Al, ada kaka yang menjaganya ". Ronald lebih mempertegas agar Ruby percaya.


" Baiklah ! tapi awas saja, jika aku bertemu dengan suami mu akan aku cekik leher nya !". Final Ruby.


" Terserah kau saja Al, asal jangan sampai mati !'. Ujar Agatha.


" Pasti ". Seru Ruby.


" Oh ia, bagaimana dengan mereka ? apa mereka sudah ada yang menikah juga ?". Tanya Ruby bermaksud menanyakan kaka nya yang lain.


" Entah lah Al, kaka tidak tahu ! tapi sepertinya mereka sudah memiliki pasangan mereka masing-masing ". Ucap Ronald yang percaya bahwa saudara-saudara nya telah memiliki pasangan.


" Begitu Kah ?! ". Ucap Ruby sembari berpikir menduga-menduga apa mereka telah memiliki pasangan mereka sendiri.


" Biarlah mereka dengan hidup mereka, kita hanya bisa menyaksikan nya saja !". Seru Agatha.


" Aaa, kenapa sekarang ibumu sangat dewasa ?!". Usap Ruby pada perut Agatha sembari menggodanya.


" Nakal, kenapa kau masih saja nakal ! ingat, anak-anak mu telah tumbuh tinggi !". Sentil Agatha pada kening Ruby.


" Aww, sakit ka !". Ringis Ruby.


" Al, kaka tidak bisa lama di sini ! besok kaka harus segera pulang ! mungkin tidak hanya kaka, tapi kami semua harus kembali ke Jerman ! tidak apa bukan ?". Tutur Ronald.


" Tidak apa ka, besok aku akan mengantar kalian ke bandara !". Ucap Ruby.


" Tidak Al, kami pulang memakai jet pribadi saja untuk mempersingkat waktu !". Ucap Agatha.


" Baiklah, itu lebih baik !". Ucap Ruby

__ADS_1


__


Hari kepulangan mereka pun telah tiba, semua keluarga Ruby dari Jerman telah bersiap pulang. Terlihat mereka saling mengucapkan salam perpisahan terlebih dahulu. Shabila terlihat masih mengalungkan tangan nya erat di leher Revan sedari tadi. Hanya sekali tatapan tajam dari Ruby membuat Shabila dengan cepat minta di turunkan.


" Uncle, salam untuk Clare ya !". Teriak Shabila pada Ronald.


Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa bahagia di dalam diri mereka dan lega di dalam dada mereka kepergian yang tak membawa luka akhirnya terasa oleh keluarga.


____


" Baby ayo kita ke markas, mereka sedang menunggumu di sana !". Ajak Edward.


" Ayo honey, aku juga rindu dengan mereka !". Ucap Ruby. " Dimana anak-anak ? apa mereka juga boleh ikut ?!". Ruby bertanya sembari mengedarkan pandangan nya.


" Mereka telah berangkat sedari tadi bersama Nara dan juga David baby ". Ucap Edward menarik pinggang Ruby.


" Baiklah !". Seru Ruby.


Saat mereka hendak pergi, terlihat Brayn dan juga Rayzen baru masuk ke dalam rumah.


" Kalian akan pergi kemana ?!". Tanya Brayn.


" Kita akan ke markas dulu ka, aku merindukan mereka semua di sana !". Ujar Ruby.


" Baiklah, kalian hati-hati ! kaka masuk dulu ". Ucap Brayn berlalu pergi terlebih dahulu.


" Ka, Ka Savira belum ada kabar ! apa dia sudah menghubungi mu ? apa dia selamat tiba di makau ? aku khawatir dengan nya !". Cegah Ruby saat Rayzen akan masuk ke dalam mengikuti Brayn.


" Tadi dia menghubungiku, dia sudah sampai di sana ! kau tak usah khawatir ! pergilah, hati-hati di jalan ! Ed jaga dia ". Ucap Rayzen dengan terdengar penekanan di akhir ucapan nya.


" Baiklah, kami pergi dulu " Seru Ruby.


Di markas, David dan juga Nara tengah memandu si kembar ke setiap sudut ruangan yang masih belum berubah.


" Ka, bukankah ini yang kita sukai ?!". Terlihat seringai kejam di dalam sunggingan bibir Shane.


" Sean, aku sepertinya akan betah di sini !". Tiba-tiba Shabila mendekati kedua saudara tampan nya itu.


" tempat bermain yang pas untuk kita ". Lanjut Sean mengikuti langkah Nara dan juga David.


" Shane, mari kita bermain !". Semangat Shabila sampai bertos ria bersama Shane.


" Uncle, bolehkah kami masuk ke ruangan itu !". Sean menghentikan pembicaraan David dan juga Nara yang tengah menginformasikan beberapa ruangan khusus yang tidak boleh sembarangan orang untuk masuk.


" Ruangan itu ? itu tidak boleh boy, tak ada yang dapat masuk selain kami para pimpinan di sini !". Ujar David.


" Kaka pun tak pernah boy ! kita berkeliling ke lain tempat saja ok ! ". Ajak Nara pada ketiga adiknya yang terlihat sangat penasaran dengan ruangan itu.


" Tidak boleh kah ? bukan nya nanti aku adalah pemimpin selanjutnya dari mafia ini kaka ?!".


Tajam Shane yang secara tiba-tiba merubah suasana menjadi menegangkan sampai David dan juga Nara tak percaya dengan tekanan yang di berikan Shane, karena Shane yang mereka kenal bukan orang seperti ini, tapi tidak dengan Sean dan juga Shabila yang mengetahui siapa mereka sebenarnya.


Sikap dingin, sikap cuek, sikap riang, sikap tengil itu hanya topeng mereka bertiga dan dari mereka bertiga hanya dapat memilih sikap mana yang harus mereka pakai dan pas untuk mereka kenakan.


" Shane, kau ada-ada saja !". Tepuk Shabila dengan sedikit tawa yang keluar dari mulut nya.


" Hahah, aku hanya bercanda ka !". Sikap Shane kembali berubah pada biasanya dan ini sangat cepat sekali.


" Tapi Little boy, dari mana kau tahu jika ini adalah markas mafia ?!". Selidik David.

__ADS_1


Sean dengan tenangnya membantu adik kecil nya berbicara. " Kita hanya pernah melihat di televisi uncle dan ruangan ini mirip sekali dengan di film-film yang kami tonton !". Seru Sean dan dengan mudahnya David dan juga Nara percaya.


" Ahh, kalian suka dengan film-film seperti itu ?! jika begitu nanti kita nonton bersama, kaka juga suka dengan film bergenre seperti itu ". Ucap Nara. Shane dan juga Shabila saling pandang seakan mata mereka sedang saling berbicara.


" Baiklah, nanti kita nonton bersama !". Seru Sean dengan senyum penuh kepalsuan di ikuti Shabila dan juga Shane.


Sembari berjalan, mereka terus mengagumi setiap yang ada di markas sampai mulut Shane dan juga Shabila tak bisa diam. Setiap langkah mereka selalu saja mendapat salam dari para mafioso yang berada di sana dan tatapan mereka menyelidik memperhatikan tiga anak kecil yang prince nya bawa.


" Kenzi, kemarilah cepat !". Teriak Lucky yang matanya menangkap Sean dari jauh.


" Ada apa ? kenapa kau berteriak seperti itu Luck ?!". Sahut Kenzi berlari cepat.


" Cepatlah kemari !". Teriak Lucky melambaikan tangan nya.


" Apa ?!".


" Itu !". Tunjuk Lucky. Kenzi menolehkan tatapan nya dan menajamkan pandangan nya.


" Apa mereka yang kau ceritakan ?". Tanya Kenzi, Lucky menganggukkan kepalanya.


David yang melihat mereka berdua langsung menghampiri nya.


" Luck, Ken !". Sapa David, mereka berdua menundukkan kepalanya memberi salam.


" Kalian kumpulkan semua orang di aula, sebentar lagi Ruby akan kemari mengunjungi kita ! siapkan dengan baik !". Titah David dan langsung di patuhi oleh mereka.


" Uncle, siapa mereka ?". Tanya Shabila.


" Kenapa ? mereka tampan bukan ?!". Goda Nara, Wajah Shabila bersemu merah.


" Nara, menggoda adikmu ! dia tidak seperti dirimu yang gila akan pria tampan ". Seru David menyentil kening Nara.


" Tapi uncle, paman itu memang tampan !". Jujur Shabila dengan memperlihatkan gigi rapih nya.


" waw, kita memang sehati hahah !". Tepuk Nara di kepala Shabila.


" Tapi mereka lebih tampan dari siapapun, termasuk daddy juga !". Rangkul Shabila pada Sean dan juga Shane yang terlihat ketus.


" Kaka setuju dengan mu jika yang ini !". Ujar Nara.


" Sudah-sudah, mari kita ke aula ! kita tunggu mommy and daddy mu di sana ". Seru David menarik ke empat keponakan nya.


Di aula, para mafioso telah berkumpul di sana, hanya terlihat lebih sedikit dari biasa nya, karena mungkin yang lain nya sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing.


David memasuki ruangan di ikuti keponakan nya di belakang, semua mata tertuju pada mereka dan sekilas langsung menundukkan kepala mereka memberi salam.


Mereka berjalan bersamaan dengan Shabila berdiri di antara Sean dan juga Shane, memberi salam kembali kepada mereka dengan menundukkan kepalanya sekilas.


" Shabil, duduk lah di sini ! ". Seru Nara dan Shabila pun mendekati kakak nya itu.


" Kalian duduk di sini bersama uncle !". Tarik David pada lengan dua keponakan nya.


Tidak lama mereka terduduk, Ruby dan Edward telah terlihat di ambang pintu, mereka berdiri sedari tadi dan yang ada di sana tak menyadari itu, begitupun dengan mafioso yang ada di ruangan, mereka seolah tak sadar jika king dan Lady nya tengah memandang. Para mafioso lebih fokus memandang anak yang wajahnya membuat orang penasaran, siapa lagi jika bukan Sean , Shabila dan juga Shane.


___


Cerita nya sudah di penghujung nih 😍 Bagaimana Kesan dan pesan kalian terhadap novel ku ini ?


Author akan Up untuk novel yang ini 1 Chapter lagi besok ya dan akan di lanjutkan pada judul yang lain, tapi masih lanjutan dari cerita ini

__ADS_1


Di judul yang baru, author akan lebih fokus pada Si kembar ya dan mungkin akan ada kisah Nara juga di sana.


Jadi tetap Stay 😍😍😍😍


__ADS_2