Mafia Girls

Mafia Girls
Dimana adik ku


__ADS_3

" Hiks,,hiks,,hiks,, Ka !". Agatha terus menangis, Nameera semakin bingung karena belum mengerti. Revan dan juga daddy nya ikut lari mengikuti Revin.


Terlihat Revin mematung di depan layar besar sembari matanya tak sedikitpun berkedip. Revan menggeser tubuh Revin dan memperjelas penglihatan nya begitupun Luis.


" Ruby ? Ruby yang mereka maksud bukan adik kita kan Vin ?!". Revan masih menatap lekat daftar penumpang pesawat yang di sertakan di layar itu, semakin Revan membacanya semakin pula jantung nya berdetak kencang, tubuh nya menegang seolah tak menerima pemberitaan itu.


" Tidak mungkin, ini pasti salah ". Lirih Daddy Luis yang benar-benar terkaget kan, lutut nya tak mampu lagi menumpu, sampai dia pun bertekuk di ayas lantai.


Revin dan Revan masih tidak karuan saat ini, mereka tak dapat berpikir saat berita itu terus di tayangkan di setiap channel televisi. Tangis Agatha masih terdengar, Nameera mendekati Luis dengan langkah panjang nya.


" Ada apa ini hah ?!". Tanya Nameera dengan nada rendah nya, Nameera melihat Revin dan juga Revan bergantian dan tatapan nya terkunci pada berita yang masih tayang di depan nya.


Suara klakson mobil terdengar sampai ke dalam rumah, suara ban yang bergesekan dengan aspal pun begitu mengilukan. Terlihat Ronald menginjak rem nya dengan keras dan juga mendadak seakan tak peduli jika istrinya berada di samping nya. Tanpa menunggu Jasmine, Ronald berlari ke dalam rumah dengan begitu tergesa-gesa nya.


" Mom ". Ucap Ronald sedikit berteriak, keadaan semua orang masih dalam keterkejutan. Ronald berlari memeluk Nameera, matanya seolah mencari pembenaran jika yang dia lihat itu adalah salah.


" Hiks,,hikss,,hikss ". Nameera menangis di pelukan Ronald, Jasmine pun menangis sembari memeluk Agatha.


Luis dengan tatapan kosong nya menatap lurus ke depan. Revan dan Revin menangis tapi tak memperlihatkan nya kepada mereka.


" Tidak, dia pasti baik-baik saja !". Yakin Revan langsung menghubungi seseorang. Tak ada yang menjawab telpon dari Revan, Revan terus menghubungi kelurga yang berada di Irlandia.


" Hallo ". Ucap Savira, dari sekian orang yang Revan hubungi akhirnya ada yang menjawab.


" Dimana adik ku ?". Resah Revan. Savira terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia pun masih shock mendapat musibah yang berturut-turut. " Jawab aku, dimana adik ku ?!". Sentak Revan dengan air mata yang mulai keluar lagi.


" Hiks,, maaf ". Savira hanya bisa menangis saat ini.

__ADS_1


" Katakan jika semua itu tidak benar !". Tegas Revan dengan nafas yang semakin memburu.


" Maaf,,hikss,,hikss ! itu memang benar !". Jawab Savira dengan tangis nya, Revan tak tahan lagi, dia akhirnya menangis meraung. Revan yang menangis seperti ini membuat orang-orang di sekitar nya menangis keras, malam yang gelap ini ditemani oleh tangis semua orang yang menyayangi Ruby.


Setelah beberapa jam, Keluarga Smith sibuk mencari informasi mengenai kecelakaan pesawat yang Ruby tumpangi tapi mereka masih menunggu kepastian dari kejadian ini karena pengevakuasian akan di lakukan esok hari.


Tak peduli seberapa gelap nya malam, kedua teman Ruby yang tidak lain adalah Meili dan juga Reina berangkat ke kediaman Smith untuk memastikan kebenaran tentang kecelakaan pesawat yang menewaskan teman nya. Bersamaan dengan itu, Lio dan juga Leo pun sama, mereka terlihat memarkirkan mobil mereka di depan kediaman Smith.


Akhirnya mereka berkumpul di satu rumah yang tak lain ialah kediaman Smith.


Di Irlandia, Edward dan juga Rayzen masih sibuk mencari informasi di bantu oleh para mafioso yang ahli di bidang nya. Dengan segala kemampuan yang dimiliki mereka semua tanpa lelah mencari dan terus mencari.


Tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, tak bisa di jelaskan dengan logika dan bisa dikatakan jika jiwa mereka pun seolah tak berada di tempatnya saat ini. Mereka seolah tak bernyawa, mata yang terus terjaga berharap tak membawa duka dalam usaha.


Kesedihan yang tak surut terus mengguncang hati mereka yang berada di sekitar Ruby, terlihat Edward pun sudah tak kuasa lagi menahan tangis nya, dia hanya dapat menunggu hasil dari usahanya. Hatinya berduka karena belahan jiwanya masih tak ada kabar menghampiri, rasa bersalah menyelimuti hatinya nya sampai Edward pun menghukum dirinya sendiri karena kebodohan yang dia perbuat.


Keesokan harinya, tim SAR bersiap mengevakusi korban, di mulai dari bibir pantai dan mulai ketengah, jatuh nya pesawat tepat di lautan yang begitu luas. Beberapa korban sudah di temukan, tinggal sepuluh penumpang yang belum di temukan, termasuk Ruby dan juga Leya di dalam nya. Berita ini menjadi trending dalam semalam, semua pembawa berita seolah berlomba menyiarkan kecelakaan itu.


Di lain tempat, seorang wanita tengah tersenyum bahagia karena rencana yang dia susun begitu sukses. " Tch kau memang bisa di andalkan ". Ujarnya tersenyum puas sembari duduk santai merapihkan kuku cantik nya yang baru daja dia rias. Telpon nya sengaja di loud speaker agar mendengar jelas suara ayah nya.


" Apapun untuk putri ku ! apa kau puas ? sekarang kau bebas mendekati pujaan mu itu sayang ". Ya, dia adalah Jake, ayah dari Rosie. Entah dari mana dia tahu mengenai Ruby dan entah dari mana dia tahu jika hari itu adalah hari keberangkatan Ruby ke makau, tapi satu hal yang dia tidak tahu, jika Ruby adalah pemimpin tertinggi dari mafia yang telah dia usik. Dia hanya tahu dari para rekan mafianya jika pemimpin Red Pheonix adalah seorang wanita yang begitu tangguh dan menyeramkan, kekejaman nya tidak ada duanya sampai mereka pun tak mau berselisih dengan Lady Red Pheonix. Hanya gambaran saja yang dia tahu tapi tak tahu jika Lady itu adalah istri dari seorang Edward yang telah sekian lama Rosie cintai.


Dari sekian banyak mafia, hanya beberapa saja yang mengetahui wajah dari sang Lady. Mencari informasi pun tidak akan teretas sampai kapanpun karena keamanan sistem yang begitu mengejutkan, tapi sesempurna apapun seseorang pastilah memiliki kekurangan, sekuat-kuatnya seseorang pastilah memiliki kelemahan nya.


" Aku tak peduli dari mana kau tahu mengenai mereka tapi tatap saja aku berterimakasih kepadamu ayah ! kau memang yang terbaik !". Ujar Rosie terlihat manja kepada ayah nya saat ini.


Jika di pikirkan, kenapa dia seegois itu hanya demi mendapatkan pujaan hatinya, dia rela melakukan.

__ADS_1


" Berusahalah mendapatkan dia, jika kau bersamanya maka bisnisku akan terus meningkat tanpa ada yang berani menghancurkan nya !". Ucap Jake seakan mengandung perintah di dalam nya, kehilangan satu nyawa demi meningkatkan bisnis nya itu adalah hal yang sudah biasa bagi Jake.


Apa dia belum merasakan bagaimana berhadapan dengan monster Red Pheonix ?, tapi masalahnya dia berpikir jika yang dia sebut sebagai KING adalah orang yang sama, yang baik hati, walaupun dia kejam dia berpikir Edward tidak akan bertindak berlebihan kepada dirinya terutama kepada putri nya.


" Tak perlu perintah darimu, aku akan senang hati berada di sisinya !". Smirk Rosie puas. " Baiklah kalau begitu, semoga pekerjaan mu juga lancar ! kapan kau akan menjadikan wilayah itu sebagai ladang pencaharian yang kau banggakan itu ?!". Ujar Rosie berlanjut.


" Bawahan ayah sudah berada di sana tapi masih belum bisa menebus wilayah itu, keamanan nya sangat ketat ! entah siapa yang menjaga nya ! Tapi tetap saja, itu semua tak akan membuat ayah menyerah !". Ucap nya sembari meminum bir kesukaan nya.


" Baiklah, semoga sukses ! Tapi, jangan sampai kau menyakiti calon suamiku dan berhati-hatilah kepada pemimpin tertinggi di mafia itu ! bukan kah kau tahu jika di atas Edward masih ada satu orang yang perlu kau waspadai juga ? juga seorang prince yang selalu berada di antara mereka, berhati-hatilah !". Ucap Rosie dengan gaya nyentriknya.


" Ya ya ya, ayah tahu, apa kau masih tidak mengenal siapa ayah mu ini hmm ". Ujar Jake.


" Ya ya ya, terserah kau !". Rosie mengakhiri panggilan telpon nya dan beranjak berdiri menuju pantry kecil hendak mengambil cemilan dan juga minuman, setelah kedatangan dia ke Irlandia, Edward dan juga David menempatkan Rosie di apartemen luas di kawasan metropolitan.


" wah wah wah, ternyata kau sangat licik !". Ucap Seseorang dari balik dinding yang membatasi pantry dan juga ruang tengah apartemen, suara kejam nya tersengat di telinga.


" David !" Kaget Rosie sehingga gelas kecil yang dia pegang terjatuh dan pecah, reaksi Rosie menegang.


" Ya, aku David ! apa kau tiba-tiba tak mengenali wajah ku ka Rosie yang baik hati dan tidak sombong !". Keras David mendekati Rosie dengan langkah nya yang seakan di perlambat. Tatapan tajam itu tak pernah Rosie lihat dari David karena sifat dia yang humoris dan juga pandai menggobal membuat Rosie tak panjang berpikir jika David akan berubah drastis seperti ini, David yang ini sangat tidak Rosie kenali.


" Ak,,aku, ! ah mana mungkin aku tak mengenalimu Vid ". Rosie berusaha menyembunyikan keterkejutan dari wajah nya. " Ah kau membuat ku kaget, lihatlah gelas nya sampai pecah !". Rosie berbicara seolah tengah mengomeli David, Rosie segera merapihkan pecahan itu dengan tangan nya tanpa berpikir menggunakan alat bantu.


" Gunakan sapu terlebih dahulu agar tangan mu tidak terluka !". Seru David yang masih enggan menyingkir dengan kedua kaki yang menginjak pecahan gelas itu, tangan nya melipat di sertai tatapan tajam nya yang kian tak melembut.


Rosie menengadah dengan kepanikan nya yang David pun dapat melihat dari pancaran matanya, walaupun Rosie berusaha menyembunyikan nya.


" aah, aku lupa ". Ujar Rosie berdiri dan membalikkan badan nya hendak mengambil sapu dan juga pengki tapi tangan David lebih dulu menarik rambut Rosie dengan sangat kuat sampai tubuh Rosie pun tertarik keras.

__ADS_1


" Aaaaa, apa yang kau lakukan ?!". Marah Rosie memegang tangan David yang masih menjambak rambut nya. " Lepas !". Ronta nya minta di lepas.


" Lepas ? jangan harap ! ". David malah berteriak keras, suara nya begitu menyakiti telinga. " Tch, setelah apa yang kau lakukan pada kesayangan ku, kau meminta ku untuk melepaskan mu ?! Jangan harap, kau harus menerima akibat nya ! begitupun dengan ayah mu ". Garang David. Rosie meronta kesakitan dan terus meminta David untuk melepaskan nya.


__ADS_2