Mafia Girls

Mafia Girls
Mengandung


__ADS_3

Ruby tengah berada di dalam pesawat, wajah nya begitu pucat saat ini dengan bola mata yang memerah. Ya, saat ini Ruby sedang menangis pelan sendirian di sudut kursi pesawat VVIP sehingga tidak banyak orang yang melihat nya.


" Nona, apa kau baik-baik saja ?". Seorang wanita cantik mendekati Ruby dan duduk di samping, Ruby menyeka air matanya cepat agar dia tak mengetahui jika Ruby sedang menangis.


" Ah, oh aku baik-baik saja ". Jawab Ruby ramah.


" Tapi sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja nona ". Ucap nya juga ramah.


" Tidak apa, aku hanya sedikit pusing dan mual ! kalau begitu saya ke belakang dulu ". Ruby beranjak pergi dari tempat duduk nya.


" Apa perlu aku temani nona ?". Ucap nya menawarkan bantuan.


" Oh tidak perlu, terimakasih !". Ruby langsung pergi ke kamar mandi karena perutnya tiba-tiba mual.


Tidak lama, Ruby kembali dan duduk di tempat semula, wanita itu masih duduk di sana tanpa bergeser sedikit pun.


" Apa benar kau baik-baik saja ? wajahmu semakin pucat ". Ucap wanita itu dengan cepat mengambil perlengkapan pemeriksaan nya dari tas yang dia simpan bersamanya.


" Kau seorang dokter ?". Ucap Ruby.


" Iya, aku seorang dokter ! namaku Leya ". Mereka akhirnya berkenalan satu sama lain. Wanita itu berusia 35th, dia berasal dari Makau dan sedang ada pekerjaan di Irlandia. Leya memiliki seorang putra yang masih berusia 7thn, dia meninggalkan anak nya bersama suaminya yang juga sama berprofesi seorang dokter di Makau karena pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Disela pemeriksaan nya, mereka berdua masih bertukar cakap. Leya berhenti memeriksa Ruby dan membereskan kembali peralatan nya ke tempat semula.


" Berapa usia mu By ?". Tanya nya tersenyum.


" Dua puluh tahun , masih muda bukan ?!". Tawa nya, tapi tidak dengan Leya yang mengerutkan kening nya.


" Sudah menikah ?". Tanya nya singkat, Ruby menganggukkan kepalanya sekilas. " Lalu dimana suamimu ?". Tanya nya lagi.


" Suamiku di Irlandia, aku ada beberapa urusan di Makau yang harus aku lakukan sendiri, jadi aku tidak memintanya untuk menemaniku !". Ucap Ruby menatap Leya. " Ada apa ?". Tanya Ruby.


" Panggil aku kakak saja ". Ucap nya saat Ruby menjeda ucapan nya karena bingung harus memangil Leya dengan sebutan apa.


" Ada apa kak ?! apa ada yang salah ?". Ucap Ruby penasaran.


" Tidak ada yang salah, hanya terkejut saja di usiamu yang masih muda kau sudah mengandung !". Ujar nya membuat Ruby melongo.


" Mengandung ? aku ?". Ucap Ruby terbengong dan menunjuk dirinya sendiri.


" Iya By, kau sedang mengandung ! Saat tiba di Makau kau harus langsung memeriksa kandungan mu lebih lanjut, jagalah kesehatan mu karena cabang bayi yang masih muda akan rentan oleh segala guncangan ". Ucap Leya. " Apa kau tidak tahu mengenai ini ?". Leya melihat reaksi Ruby yang masih terbengong.

__ADS_1


" Tidak kak, aku baru tahu sekarang jika aku sedang mengandung !". Ruby yang semula terbengong kini heboh sendirinya dan memeluk Leya begitu erat. Ruby mengusap-usap perutnya.


" Kakak turut bahagia atas kehamilan mu ini !". Ucapan selamat dari Leya membuat Ruby tambah bahagia.


" Terimakasih ka ". Ujar Ruby. " Pasti Putri dan suamiku senang kak mendengar hal membahagiakan ini !". Mata Ruby berbinar begitu sangat bahagia.


" Kalau boleh tahu, siapa suamimu itu yang beruntung mendapatkan gadis secantik dirimu ini By ?!". Goda Leya.


" Apakah kakak mengenal marga Lucifer ?". Tanya Ruby.


" Siapa yang tidak kenal dengan mereka ! tapi bukan kah mereka semua sudah tiada ?!". Seru Leya.


" Edward Lucifer, dia suamiku kak ". Ujar Ruby membuat Leya penasaran.


" Edward ? bukankah dia sudah tiada, saat pembunuhan itu bukankah tidak ada yang tersisa ? Yang kakak tahu hanya keluarga Egeune Lucifer yang masih hidup dan juga putranya bukan ?!". Ujar Leya semakin penasaran.


" Dia masih hidup, buktinya sekarang dia menjadi suamiku ". Seru Ruby menutupi setengah badan nya dengan selimut.


" Jika seperti itu maka kalian pasangan serasi ". Puji Leya.


" Oh iya kak, aku juga memiliki seorang putri yang cantik, jika anakmu berumur 7thn berarti hanya beda 2thn dengan putriku !". Ucap Ruby.


Leya terbengong. " Ya ampun by, sebenarnya kau menikah di usia berapa sudah memiliki anak usia 5thn ?!". Ujar Leya masih dengan keterkejutan nya.


" Haihh, kau bikin aku jantungan ! kakak saja yang umurnya udah tua masih punya satu, masih kecil pula ". Heboh nya.


" Kau bisa saja kak, kau masih muda belum tua ! ". Obrolan mereka terus berlanjut sampai apapun yang Leya ingat pasti dia ceritakan.


" Tidurlah ". Leya membenarkan selimut yang Ruby pakai sampai menutupi dadanya.


" Putramu sangat tampan kak ! Bagaimana kalau kita jodohkan Putriku dan juga Putramu itu, sepertinya mereka pasangan yang cocok !". Seru Ruby sebelum memejamkan matanya dan masih memegang photo yang Leya berikan padanya.


" Tentu saja ". Semangat nya. " Tapi kita tetap saja tak boleh memaksanya bukan ? mereka pasti nanti memiliki pilihan nya sendiri !". Ujar Nya.


" Tentu ! aku menyayangi nya kak, jadi aku tidak akan membiarkan nya tertekan hanya karena keinginan ku yang konyol ini ". Tatap nya pada Photo Nara dan juga Putra dari Leya. Ruby membalikkan photo nya dan di sana tertulis Leyka Tanawat. " Namanya sangat cocok dengan putramu ka !". Seru Ruby.


" Terimakasih, ayo tidurlah !". Leya mengusap wajah Ruby agar segera terpejam karena sedari tadi Ruby terus saja berbicara.


****


Edward baru saja pulang begitupun dengan David, mereka terlihat pulang bersamaan saat ini.

__ADS_1


" Daddy ". Teriak Nara menyambut kedatangan Edward, kecupan hangat di pipinya di berikan oleh Nara. Wajah dingin nya seolah menutupi ke bodohan nya saat ini karena hari ini adalah hari dimana dia membohongi Ruby, dia terlalu menganggap hal ini adalah hal enteng dan biasa saja karena dirinya dan juga Ruby telah mengikat janji jika mereka akan saling percaya walau apapun yang terjadi.


Savira berdiri seolah bersiap mengintrogasi mereka berdua. " Baru pulang ! apa pekerjaan kalian begitu menumpuk sampai lupa jika hari ini adalah hari dimana Ruby berangkat ke Makau hemm ?!".


" Ia kak, pekerjaan kami begitu menumpuk !". Seru David menarik Savira duduk di samping nya dan meletakan kepala nya di bahu savira.


" Begitukah, termasuk menjemput wanita di bandara ?!". Ujar Savira menekan kata wanita di akhir ucapan nya. David segera menarik kepalanya dan saling pandang dengan Edward.


" Tapi ka, darimana kau tahu ? ". Seru David, Edward pun sudah tak dapat berdiam diri dengan tenang karena mengingat jika dia benar-benar telah membohonginya.


" Apa kalian tahu, terutama kau Ed ! dia berkata jika dia baik-baik saja saat melihat kalian menjemput seorang wanita di bandara tadi, tapi aku tahu jika dia tidak baik-baik saja ! senyum getir itu masih terbayang di mataku ! kau benar-benar telah menyakitinya !". Kesal Savira membuat Edward dan juga David bungkam.


" Kau bilang, dari mana aku tahu hah ?!". Kesal Savira, Nara yang masih berada di sana menghampiri aunty nya dan menarik-narik celana Savira agar dia melihat Nara saat ini. Dengan tanpa mengalihkan pandangan nya kepada mereka, Savira menggendong Nara.


" Aku yang mengantar Ruby ke bandara dan kita berdua melihat kalian dengan jelas di sana ! aku melihat bagaimana kau menolak panggilan dari Ruby dan hanya mengirim pesan singkat yang membuat Ruby semakin tersenyum getir ! Aku juga melihat dan mendengar bagaimana kau berkata bohong saat itu, dengan gampang nya kalian melupakan jika hari ini adalah hari keberangkatan Ruby ! aku juga mengakui jika Ruby pun salah karena tak berbicara lagi kepadamu jika hari ini dia pergi, haiihh sudah lah aku tidak tahu lagi harus bicara apa lagi kepada kalian !". Kesal Savira meninggalkan Edward dan juga David yang masih mematung di tempat. Kenyataan nya memang ini pertama kalinya mereka membohongi Ruby.


" Jika kau tak berbohong, mungkin dia tidak akan sesakit itu Ed ! apa susahnya bicara yang sesungguhnya, mungkin Ruby tak akan kecewa kepada kalian khusus nya kepada mu Ed !". Ujar Savira menghentikan langkahnya sebentar dan melanjutkan kembali.


" Ka, bagaimana ini ? Sudah aku bilang bukan, kau harus bilang dulu kepada Ruby jika hari ini kita akan menjemput Rosie di bandara ! jika kau bilang terlebih dahulu mungkin kau akan ingat jika hari kepergian Ruby ke Makau ! Kalau begitu kita sekalian mengantar Ruby dan menjemput Rosie bukan ? ". Sesal David.


" Baby !". Lirih Edward.


" Tadinya kaka hanya tidak ingin jika terjadi masalah maka dari itu kaka mengajak mu menjemput nya ! kaka memutuskan untuk tidak memberitahu Ruby karena takut dia salah paham ". Ucap nya sesal.


" Lalu apa ini, salah paham juga bukan ?! Kenapa juga tadi kau menolak panggilan Ruby, jadi dia menghubungiku kan ?! lalu saat itu apa yang harus aku katakan kecuali membohonginya !". Kesal David pada Edward dan juga kesal pada dirinya sendiri.


Edward mulai resah, kebodohan nya membuatnya kecewa pada dirinya sendiri. Tadinya Edward hanya sekedar menjemput Rosie saja, Edward sengaja mengajak David karena masih kurang nyaman jika berjalan berduaan dengan Rosie mengingat perasaan dia padanya. Tapi diapun salah, kenapa juga harus menolak panggilan dari istrinya saat itu.


" Kenapa gue jadi sebodoh ini ". Gumam Edward di dalam hati dan merutuki kebodohan nya.


Edward terduduk resah, dia mencoba menghubungi Ruby tapi tak dapat tersambung. Edward terus mencobanya, begitupun David yang mondar-mandir di depan Edward. Dadanya mulai sesak tiba-tiba, masih sembari menghubungi Ruby, Edward meremas pelan dadanya.


Sepercayanya wanita pada pasangan nya, seteguh apapun jiwanya pasti saja akan ada rasa kecewa jika mereka membohonginya, walaupun itu adalah hal kecil.


" Kau kenapa Ed ?!". Tanya Brayn yang sudah berada di samping Edward tanpa ingin duduk, David masih mondar-mandir tidak jelas.


" Brayn, cepat nyalakan televisi ". Teriak Rayzen masih memegang tab di tangan nya, wajah nya begitu tegang dan juga ketakutan.


" Ada apa ? ". Heboh David mengambil alih tab dari tangan Rayzen, Edward dengan cepat menyalakan televisi.


" kecelakaan pesawat ? Ka, pesawat kode berapa yang di tumpangi istri ku ?!". Resah Edward bertanya pada Brayn yang terdiam mematung.

__ADS_1


" Kak, jawab aku ". Sentak Edward menarik Brayn agar menatap dirinya.


__ADS_2