Mafia Girls

Mafia Girls
Masih berani menggodaku ?


__ADS_3

Sayang nya Leya pun tak menyadari jika dirinya sebenarnya adalah seorang dokter, memory yang hilang itu sangat sulit untuk di kembalikan dengan cepat. Selama enam tahun ini, Ruby dan juga Leya masih terus berusaha untuk memulihkan ingatan nya.


Aneh nya juga, kenapa orang-orang di sana tidak menyadari jika Leya adalah istri dari direktur rumah sakit yang dulu hilang ? Apa mungkin berita tentang dirinya telah tertelan oleh waktu ? buktinya berita yang menghebohkan itu sudah tak terdengar lagi di telinga.


Sebenarnya Leya menjadi asisten dokter di sana atas permintaan dokter senior di rumah sakit itu yang kebetulan dia juga yang berkunjung ke desa tempat tinggal nya. Keahlian yang di perlihatkan oleh Leya menjadikan dokter itu semakin percaya akan kemampuannya, jadi Leya sedikit di beri kebebasan dalam tugasnya.


Leya masih mengecek keadaan pasien dengan teliti. " Kondisimu semakin membaik, bersemangat lah agar cepat sembuh !". Ucap Leya kepada pasien.


Setelah itu diapun keluar hendak mengecek yang lain nya juga, saat itu dia berpapasan dengan seorang pria yang berjalan di ikuti oleh para dokter yang lain, dia berjalan terdepan di antara yang lain dengan sangat cepat tanpa menoleh kan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


" Siapa dia ?". Gumam nya.


" Dia ? dia kepala rumah sakit yang aku bicarakan nona Le yang cantik !". Pim tiba-tiba menyahuti ucapan Leya dari belakang membuat Leya terperangah.


Dengan mulut yang tertahan ingin mencaci, Leya menggeremet kesal karena Pim selalu saja datang tiba-tiba. Pim hanya memperlihatkan gigi rapihnya saat Leya menahan kesalnya.


Beda lagi dengan Ruby yang kini tengah jalan-jalan bersama ketiga anak kembar nya yang sama sekali tidak mirip satu sama lain hanya sedikit saja kemiripan di antara mereka.


Ruby menggandeng tangan Sean dan seterus nya.


" Ayo kita ke sana, apa kalian mau eskrim ?". Tunjuk Ruby pada minimarket kecil di sana.


" Yeay eskrim ! ayo kita ke sana !". Riang Shabila dan juga Shane, Sean hanya berjalan santai saja seakan dia ingin bersikap cool di luar rumah yang padahal dia memang seperti itu aslinya, di tambah dia sedari tadi heran dengan sikap mommy nya yang begitu cerewet melebihi hari-hari sebelum nya.


Mereka semua terduduk di bangku minimarket sembari menikmati eskrim yang baru saja di beli.


" Waah rasa ini sangat lezat ! ka coba yang ini dan aku akan coba milikmu !". Shane menyodorkan eskrim nya dan mengambil eskrim milik Shabila.


" Wahh ini memang sangat enak ! apa yang itu enak Shan ?!". Semangat Shabila saling menukar eskrim itu dengan Shane, Sean hanya memperhatikan kedua kembarannya itu. Ruby pun ikut menikmati es krim di tangan nya sembari mata mengedar pada setiap sudut.


" Ini habiskan lah milik ku jika masih kurang !". Ujar Sean memberikan es krim miliknya kepada kedua kembaran nya karena melihat mereka begitu menyukai eskrim itu.


" Kau memang terbaik ". Heboh mereka berdua.


" Apa yang sedang mommy cari ?". Tanya Sean yang sedari tadi memperhatikan Ruby.


Ruby menanggalkan tas gendong yang sedari tadi dia bawa dan mengambil sesuatu dari sana.


" Kenapa mommy membawa iPad itu ?". Tanya Sean, Shabila dan Shane berhenti sibuk dengan eskrim nya dan kini mereka fokus kepada mommy nya.

__ADS_1


" Lima menit kau retas dan kembalikan pada semula !". Ucap Ruby meletakan iPad itu di tengah mereka. Mereka saling pandang dan itu tak lepas dari tatapan Ruby. " Tanpa di ketahui tentunya ". Mereka bertiga melihat telah ada konfigurasi pemasukan server di sana dan tanpa didiamkan mereka langsung beraksi.


" Sudah mom !". Ucap mereka bersamaan, Ruby melirik jam di tangan nya.


" tiga menit ?". Ucap Ruby dengan kerutan di kening nya, Ruby langsung melihat kineerja mereka dan pastinya itu sangat membuat Ruby terkejut.


" Dari mana kalian belajar hal seperti ini ?". Tanya Ruby memasukan kembali iPad nya ke dalam tas.


Mereka sekarang ini lebih terbuka kepada Ruby, dari hal terkecil sampai hal terbesar mereka ceritakan dan Ruby menanggapinya dengan baik.


" Lalu mom, dari mana mommy bisa memiliki kemampuan seperti ini ?!". Tanya Shane.


" Entahlah, mommy tidak tahu !". Jawab Ruby yang diapun memang tidak tahu dari mana dia memliki kemampuan seperti ini, dia mengetahui kemampuan nya saat memperbaiki laptop milik Alejandro yang tiba-tiba bermasalah, tanpa sepengetahuan Alejandro, Ruby mencoba memeriksanya dan mencoba memperbaikinya dan itu sukses. Pada saat itulah, Ruby semakin mengasahnya walaupun keadaan di sana tidak mendukung tapi Ruby dapat mengaturnya.


" Ka, jangan-jangan mommy sebenarnya seorang peretas !". Duga Shane.


" Kau benar Shan ! Sean bagaimana menurutmu ?". Respon Shabila.


" sebentar ! jika mommy bisa dalam bidang itu kenapa mommy tak mencari data pribadi mommy, mungkin dengan itu mommy dapat menemukan keluarga mommy, walaupun peluangnya kecil tapi tetap saja kita harus berusaha ! ia kan ?!". Ujar Sean.


" Hampir setiap hari mommy melakukan pencarian, tapi tak kunjung di temukan ! ". Kecewa Ruby. Saat peristiwa itu semua data pribadi tentang keluarga Ruby ataupun yang berkaitan dengan nya telah di lock begitu kuat dan rumit.


" Mungkin kemampuan kita juga dari faktor keturunan ! ia ngga ?!". Bangga Shabila.


" Kau tak usah risau mom, kami akan membantu mencari keluargamu ! ayo kita berjuang bersama ". Ucap Sean.


" Baiklah, kalian memang yang terbaik !". Ujar Ruby mengusap kepala mereka bergantian. " Ayo bereskan semuanya ! setelah ini kalian mau kemana lagi, mumpung paman Andro memberi kartunya kepada mommy ". Ruby berdiri dan membantu Shane dan juga Shabila untuk turun, Sean sudah turun terlebih dahulu.


" Mom, ayo kita main air di pantai ". Ajak Shabila.


" Pantai ? apa kau tidak bosan jika terus bermain air di pantai ?!". Ucap Sean karena sewaktu di desa pun dia tak ada hari tanpa bermain di pantai karena kebetulan rumah yang ada di desanya dekat dengan pantai.


" Ayolah Sean, ini masih siang, jarak ke pantai juga dekat, jadi kita tidak akan pulang sampai larut malam, ia kan mom !". Shabila meminta bantuan kepada mommy agar Sean tak lagi menatap nya dengan mata yang garam.


" Sudah-sudah, jika terus beradu mulut, kapan kita akan sampai di sana ". Lerai Ruby, Ruby tak melarang Sean untuk sedikit keras kepada adiknya karena dia harus melindungi kedua adik kembarnya agar tidak terluka.


" Hanya sebentar ok ". Ucap Sean final.


" Yeay , aku cinta kamu sebanyak banyaknya ! ". Peluk Shabila pada Sean dan di balas lagi.

__ADS_1


Mereka semua akhirnya pergi ke pantai yang telah menjadi tempat rekreasi saat ini. Benar saja, jaraknya tak terlalu jauh dari minimarket tadi.


Ruby menunggu mereka di bibir pantai dengan senyum yang terus mengembang di bibir nya.


" Sendiri saja nona ! ". Ujar seorang pria yang sekarang tengah berdiri di hadapan nya.


" Tidak, aku datang bersama anak ku !". Sahut Ruby datar, pria itu bukan nya pergi tapi dia malah duduk di samping Ruby dengan tatapan memujanya. " Jangan macam-macam ". Tekan Ruby, pria itu bukan nya takut dengan tekanan Ruby tapi malah betah duduk di samping nya.


" Kau semakin terlihat cantik jika marah seperti ini nona ". Goda pria itu mencolek dagu Ruby seenak nya. Ruby berdiri kesal dengan pria di hadapan nya.


" Lancang sekali kau ". Marah Ruby tidak terima jika di bersikap seperti ini. Pria itu berdiri dan mencekam tangan Ruby kasar.


" Cantik sekali, kau harus menjadi milik ku ". Ucap nya membuat Ruby semakin geram. Ruby seakan merasa kotor telah di sentuh oleh pria tak tahu malu itu.


" Menjadi milik mu ?". Garang Ruby menatap pria itu yang terlihat tak gentar dengan tekanan yang diberikan oleh Ruby. " Dalam mimpi saja !". Seru Ruby mengunci tangan pria itu di punggung, pria itu mengaduh kesakitan saat tangan nya Ruby kunci di punggung.


" Sekali lagi kau berusaha menyentuhku jangan harap kedua tangan mu akan berada di tempatnya ". Ancam Ruby yang terdengar sebagai ancaman untuk pria itu.


" Hahaha, kau mengancam ku ? wanita lemah seperti mu hanya bisa mengadu saja !". Ledek pria itu. Ruby menyunggingkan senyumnya dan smirk kejam itu terlihat lagi setelah sekian lama.


" Lemah ?". Ucap Ruby yang langsung melempar pria itu sampai menyusut di atas pasir, kejadian itu mengundang mata semua orang yang berada di sana. " Aku tidak termasuk wanita lemah seperti yang kau bicarakan itu tuan, aku juga wanita yang tida suka jika kau sentuh, tch menjijikan !". Tekan Ruby membuat pria itu kesal telah menjadi bahan tontonan saat ini.


" Kau ". Geramnya berlari ke hadapan Ruby dan tiba-tiba mencekram wajah Ruby dengan kasar. Ruby tidak tinggal diam, Ruby langsung memberikan pukulan di wajah pria itu sampai darah pun terlihat keluar dari hidung pria itu.


" Sudah kubilang jangan menyentuhku ". Marah Ruby, semua pengunjung tidak ada yang berani menahan pria itu karena mereka tahu siapa dia.


" Ciih munafik ". Pria itu masih berusaha memegang Ruby tapi tak berhasil karena Ruby terus dapat menangkis nya.


****


Kejadian itu mengakibatkan perkelahian antara Ruby yang terlihat seolah dia sudah terlatih, dalam setiap gerakan dan juga kemampuan memukulnya pun sudah sangat kuat dengan pria yang entah siapa dia.


" Masih berani menggoda ku ?!".Seru Ruby menepuk-nepuk baju nya, pria itu sudah tak bisa untuk berdiri, tiba-tiba pengawal pria itu datang dengan jas hitam yang membalut tubuh mereka.


" Beraninya kau membuat tuan kami seperti ini ". Teriak salah satu pengawal itu dan langsung menyerang Ruby tapi dengan mudahnya Ruby bereskan. Keramaian itu membuat Sean, Shabila dan juga Shane menghampiri nya.


" Mommy ". Teriak mereka, mata semua orang tertuju pada mereka. " Mommy, apa kau baik-baik saja ! apa ada yang terluka ?". Periksa mereka pada tubuh Ruby.


Sean melihat ada bekas merah di tangan dan juga wajah Ruby, nafasnya menderu. " Siapa yang berani menyakiti mommy ku hah ?! ". Teriak Sean menatap nyalang orang-orang di sekitar. " Katakan siapa yang begitu lancang membuat mommy ku seperti ini !". Sean semakin marah.

__ADS_1


" Kalian bawa tuan kalian yang menjijikan ini pergi, jika tidak nyawa kalian gantinya !". Ancam Ruby yang juga panik karena perubahan Sean saat ini yang begitu menakutkan menurutnya.


" Mau kemana kalian ?". Suara bulat memburu, Shabila lebih dulu mencegah mereka saat mereka akan pergi membawa tuan nya, rasa malu yang mereka terima karena banyak orang yang melihat membuat mereka ingin segera meninggalkan tempat itu.


__ADS_2