
" Al, jangan bicara seperti itu, nanti kepala mu sakit !". Ucap Leya.
" Kaka ku yang cantik, kepalaku sudah sembuh ! sudah tak sakit lagi, jadi bisakah kalian tidak mengkhawatir kan kesehatan ku !". Ucap Ruby.
" Al, kenapa dengan mu ? kenapa hari ini kau jadi cerewet seperti ini !". Leya dan Alejandro masih bingung dengan perubahan dari Ruby.
" Apa tidak boleh ?". Sendu Ruby, Leya dan juga Alejandro saling pandang.
" Bukan tidak boleh, hanya saja, ini baru pertama kalinya kau cerewet ! tapi tak apa, sebaiknya kau bersikaplah seperti ini ! ". Peluk Leya pada Ruby. Alejandro pun mengelus kepala Ruby yang masih berada dalam pelukan Leya.
" Baiklah, sekarang mana uang jajan nya !". Senyum tengil Ruby.
" Ini ambillah, main sepuasnya !". Alejandro memberi kartu debit nya, Ruby tersenyum puas.
" Sekarang kalian pergilah ! yang semangat ya kerja nya !". Ucap Ruby mendorong mereka keluar dan memberi semangat kepada Leya dan juga Alejandro.
Mereka keluar beriringan. " Le, hari ini dia sangat manis sekali !". Gemas Alejandro.
" kau benar, semoga dia selalu seperti itu ".
Mereka berdua pergi bersamaan karena jalan mereka satu arah.
" Bagaimana pekerjaan mu ?". Tanya Alejandro.
" Baik, aku sepertinya akan betah di sana !". Sahut Leya.
" Syukurlah jika kau nyaman di sana !". Seru Alejandro.
" Tapi ka, sepertinya aku pernah ke sana ! tapi entahlah, kepalaku akan sakit jika terus mengingatnya !". Seru Leya menepuk-nepuk kepalanya.
" Bersabarlah, kita perlahan saja ". Ucap Alejandro lembut.
Alejandro lebih dulu menepikan mobilnya di depan rumah sakit yang kini menjadi tempat kerja Leya.
" bye bye, semangat mencari uang nya yaa ". Teriak Leya melambaikan tangan nya pada Alejandro
Saat, Leya hendak masuk, suara sirine mobil ambulance terdengar lebih keras, Leya membalikan tubuh nya saat itu. Para perawat berhamburan keluar menyambut korban yang baru saja akan di pindahkan ke atas stretcher.
Mereka semua sibuk dan juga panik karena korban kecelakaan masihlah muda, Leya menatap korban itu dari turun sampai di baringkan di atas Stretcher. Leya terdiam saat tangan korban terulur dengan darah yang mengalir di sela jarinya. Jantung nya berdebar cepat seakan yang di sana adalah keluarganya.
__ADS_1
******
Setelah usai, mereka membawa korban ke dalam. Leya ikut berlari mengikuti korban, tubuhnya sedikit bergetar.
" Selamat pagi nona Le !". Sapa rekan kerja Leya dengan semangat pagi nya.
" Pagi juga, kalian baru datang kah ?!". Sahut Leya sembari bertanya.
" Tidak, kami sudah tiba beberapa menit yang lalu ! ada apa ?". Tanya rekan kerja nya.
" apa kalian mengenal korban kecelakaan tadi ? kasihan sekali dia !" Ucap Leya yang tidak langsung bertanya tentang anak itu.
" Korban tadi ?". Tanya rekan nya, Leya menganggukkan kepala pelan.
" Apa sungguh kau tidak tahu ?". Leya menggeleng cepat.
" Ya ampun, sebenarnya kau orang mana nona Le sampai tidak tahu anak muda itu siapa !". Seru rekan nya heboh. Leya menatap bingung rekan nya itu.
" Memangnya dia siapa ?". Tanya Leya datar.
" Dia putra tunggal dari Direktur rumah sakit besar di ibukota dan rumah sakit ini cabang nya ! apa kau masih tidak tahu ?!". Ujar nya menjelaskan, tapi Leya masih tetap tidak tahu. " Ah sudahlah, kau sebaiknya cari berita tentang nya agar kau mengetahuinya ". Lanjut nya.
" Di sekolahnya sedang ada study banding sekaligus study tour ! dia mengalami kecelakaan tunggal di tempat kegiatan ". Jelas rekan nya dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku baju yang berada di depan bajunya.
" owh begitu ". Sahut Leya.
" Apa kau tahu Le, dia anak yang pintar dan juga tampan, dia juga anak yang baik walaupun tanpa ibu, dia terlihat tumbuh menjadi anak yang sangat baik !". Tutur nya terduduk.
" tanpa ibu ? memangnya kemana ibunya ?". Leya menjadi penasaran dengan kisah korban tadi.
" Sekitar enam tahun lalu dia meninggal karena kecelakaan pesawat dan sampai sekarang jasad nya belum di temukan ! Suaminya pun sampai sekarang belum menikah lagi ! waah begitu setianya dia pada istri nya itu ! iri aku, adakah yang sama seperti dia ?!". Seru nya.
" Kenapa ? kenapa bisa begitu !".
" Entahlah! apa kau tahu jika kejadian itu adalah peristiwa terbesar sepanjang tahun, beritanya masih tersebar luas saat itu ! kalau di ingat tahun lalu beritanya tak heboh lagi dan seiring berjalannya waktu, berita itu tak mumcul lagi di berita". Ucap nya heboh.
" Wah, berita di luar begitu banyak dan aku tidak tahu satu pun ! tch,,tch,,tch menyedihkan ". Ejek nya pada diri sendiri.
" Ya itu sih dapat di maklum, lagian kau tinggal di pelosok, jadi tertinggal berita ! sudahlah kenapa jadi bergosip ". Ujar nya.
__ADS_1
" Yak yak yak, kenapa kau jadi berbicara formal kepadaku ?!". Leya baru sadar jika sejak tadi mereka bertukar cakap dengan bahasa formal layaknya seumuran.
" Ya apa salahnya nona Le !". Acuh nya. " Paling juga kita beda setahun saja atau dua tahun, tak masalah lah, iya kan ?!". Seru nya.
" hahaha, apa aku semuda itu sampai kita beda usia sangat tipis ?!". Tawa Leya yang nyatanya dia masih terlihat muda di usia yang menginjak kepala empat.
" Memang nya aku salah ?!". Tanya nya.
" Salah besar nona Pim ! bukankah kau berusia 30thn ?! jadi kita beda 10thn di usia kita !". Ucap Leya, Pim terkejut mendengar usia Leya yang sudah kepala empat, dilihat dari wajahnya, Leya tak menunjukkan jika dia beda 10thn dengan nya.
" Apa kau bilang ?! itu, akh pasti kau bohong ! wajahmu tak menunjukkan jika kau sudah tua !". Pim sangat terkejut.
" Haih sudahlah jika kau tak percaya !". Ucap Leya.
" aaaa kau pasti berbohong ". Pim terus berbicara dengan reaksi yang masih terkejut.
Pim masih berbicara karena masih tak percaya, Leya memberikan indentitas dirinya pada Pim dan membuatnya langsung terdiam.
" Percayakan sekarang ?!". Seru Leya menyunggingkan senyumnya.
" Tapi kenapa kau masih terlihat muda ". Ucap nya polos.
" Ya aku tidak tahu nona cerewet !". Jawab Leya mengambil kembali identitasnya yang masih Pim pandang. Identitas itu di berikan oleh Alejandro dan dia membuat tahun kelahiran nya pun asal saja dan Leya tak mempermasalahkan itu.
Pim malah menatap Leya selidik. " Katakan, apa rahasia awet muda mu ?!". Mata Pim memincing, Leya dibuat geli dengan pertanyaan Pim.
" Kau ini ada-ada aja Pim !". Seru Leya, Pim masih saja menatap selidik mata Leya.
" Eh sebentar, aku merasa pernah melihat wajah mu ini !" . Pim semakin membuat Leya ingin segera keluar dari ruangan nya saat ini, Pim selalu saja membuat kepala nya pusing dengan ocehan mulutnya.
" Ah terserah kau saha ! ayo bersiap ". Ucap Leya sembari menggantungkan stetoskop di lehernya.
" Aku tidak bohong, aku merasa pernah melihatmu ! tapi dimana ya ?!". Pikir Pim mengingat-ngingat.
" Sudah, berpikir nya nanti saja, sekarang ayo kita bekerja !". Leya keluar terlebih dahulu di susul oleh Pim yang masih saja berusaha mengingat-ingat wajah Leya.
Leya berjalan hendak memeriksa lebih lanjut pasien yang di tanganinya dengan jas putih yang membalut di tubuh nya, karisma kedokteran Leya terpancar seakan dia dibuat penasaran oleh para dokter dan perawat di sana. Mereka selalu bertanya-tanya siapa Leya sebenarnya, karismanya berbeda dari dokter dan perawat yang lain, seperti dia telah menekuni bidang ini lebih awal di bandingkan mereka.
Jika mereka tahu kalau Leya adalah dokter yang begitu di jadikan contoh oleh para mahasiswa kedokteran, entahlah mungkin mereka akan sangat terkejut. tidak hanya itu, diapun dijadikan contoh oleh para dokter yang berada di pusat Makau, ditambah sekarang ini dia adalah istri dari Direktur perusahaan juga. Jika mereka tahu mungkin mereka tidak akan bertanya-tanya lagi kenapa Leya memiliki karisma yang berbeda.
__ADS_1