Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 174


__ADS_3

Langit terlihat begitu terang seakan bersemangat menerangi semua penghuni bumi dengan mentari yang mulai naik ke atas singgasana. Setiap hari seperti itu, langit selalu cerah seolah memberikan senyum dan semangat kepada setiap penghuni bumi yang sedang beraktifitas. Begitupun yang terjadi pada si kecil Nara yang selalu bersemangat, pancaran wajahnya tak elak selalu dirindukan keluarga nya.


Kejadian waktu itu yang hampir saja membuat nyawa Nara melayang seolah tak pernah terjadi, terlihat dari reaksi Nara yang biasa saja dan juga tidak ada sedikitpun rasa trauma atau semacam nya dari dalam diri Nara, membuat Ruby yakin jika Nara memanglah putri nya, putri yang dia didik, walaupun singkat tapi dia tetaplah putrinya yang akan memiliki jiwa pantang menyerah dan juga pantang mundur untuk segala hal apapun.


Sudah dua bulan telah berlalu. Pagi itu, dimana Nara masih di rawat, semua orang tak ada yang sedikitpun melangkah kan kakinya pergi dari rumah sakit, begitupun Lio. Saat semuanya istirahat, Ruby membuka matanya dengan masih memeluk Nara dalam dekapan nya, dengan perlahan dia beranjak dari ranjang hendak pergi ke kamar mandi.


Tidak lama setelah dari kamar mandi, Ruby berjalan perlahan, di pagi yang masih gelap itu dia berdiri di depan pintu keluar, saat pintunya dia buka, matanya menangkap orang-orang yang begitu dia sayangi dan dia cintai sedang memejamkan matanya bersamaan. Senyum pun mengembang dari bibir mungil itu, dia membuka lebar pintu, saat tubuh Ruby berada di ambang pintu suara Lio mengagetkan nya.


" Apa ada yang kau perlukan ?". Tanya Lio yang mungkin saat itu dia tak terlalu lelap dalam tidurnya, hingga suara pintu yang terbuka pun terdengar di telinga nya. Ruby menolehkan kepalanya ke samping kiri dimana Lio berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Ruby mendekati Lio dan duduk di samping nya dengan jarak yang lumayan jauh, wajah Ruby tetap cantik walau rambut yang dia ikat berantakan.


" Kenapa ?". Ucap Lio saat mata Ruby enggan untuk dia alihkan. Ruby menggelengkan kepalanya seperti anak kecil yang enggan untuk mengatakan sesuatu yang dia inginkan dan tercekat di tenggorokan nya.


Setelah lama mereka terdiam, Ruby pun mengucapkan sesuatu. " Apa Nara berharga untuk mu ?". Tanya Ruby memandang dinding di depan nya dengan duduk tegap sembari jari tangan nya dia mainkan.


Lio menatap Ruby sekilas dan ikut duduk tegap sembari memandang dinding di depan nya.

__ADS_1


" Sangat berharga ! ya, dia sangat berharga untuk ku tapi aku telat menyadari itu, aku telat menyadari jika Nara benar-benar begitu berharga dalam hidupku ! Aku terima dan aku akan mengerti jika dalam hidupnya dia membenci ku.


Ya, karena semua itu adalah kesalahan ku, aku pikir anak seusia itu tidak akan mengerti apa-apa, tapi aku salah, benar-benar salah total !". Ucap Lio menjadikan pahanya sebagai tumpuan lengan berotot nya.


" Dia memang sangat berharga, bagaimana kau bisa mengacuhkan seorang putri yang begitu cantik dan menggemaskan seperti dirinya ? Apa kau tahu akibatnya dengan setiap apa yang kau lakukan dan kau perbuat ? apa kau tak pernah berpikir jika di usia nya yang masih kecil sangat begitu membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya ? Jangan jadikan dia korban pelampiasan mu atas meninggalnya istri yang sangat kau cintai itu tuan ! ". Seru Ruby, Lio menolehkan kepalanya cepat seakan bertanya apa yang dia maksudkan itu.


" Bukan kah begitu ? Kau sangat mencintai istri mu yang telah lama tiada karena berusaha melahirkan buah hati kalian bukan ?! Di lain sisi pun kau takut jika Orang tuamu menyakitimu putri mu dan kau berusaha menyembunyikan nya ". Smirk senyum Ruby.


" Dan aku menyesali itu, semua yang kau katakan benar, aku tak akan menyangkalnya karena itu adalah faktanya ! setiap kali melihat wajah nya, entah mengapa hatiku sangat sakit, karena itu lah egoku terus meluap dan akhirnya mengacuhkannya. Di lain sisi, aku pun merasa takut jika orang tua ku mengetahui jika aku telah memiliki seorang putri dari wanita yang tidak mereka sukai !". Jeda nya.


" Kau harus tahu, jika putri mu tak sedikitpun membencimu ". Ujar Ruby membuat Lio memancarkan ekspresi terkejut nya dengan rasa di hati yang seolah jika Tuhan masih mempercayai nya sebagai seorang ayah untuk putrinya.


" Benarkah ? lalu kenapa aku merasa dia enggan untuk memanggilku dengan sebutan daddy jika dia tidak membenciku ?". Seru Lio. Ruby menatap mata Lio bergantian.


" Entahlah, tapi yang aku tahu, dia sama sekali tidak membencimu ! bukan kah putri mu terlalu baik untuk seseorang yang telah mengacuhkan nya ?!". Ucap Ruby penuh sindiran.


" Maaf ". Ucap Lio pada Ruby tang sedari tadi terus saja menampilkan wajah datar nya.

__ADS_1


" Tak masalah, aku mengerti ! Apa kau tahu, pertama dia memanggilku dengan sebutan mommy, rasanya itu menggelikan dan aku menyarankan padanya untuk memanggilku dengan sebutan kaka saja, bukan kah aku ini terlihat masih muda untuk di panggil dengan sebutan mommy ?!". Ujar Ruby tersenyum geli mengingat pertama kali Nara memanggilnya mommy di saat bangun tidur di pagi hari itu.


Lio ikut tersenyum saat sunggingan bibir mungil Ruby terlihat manis. Ruby menoleh kembali pada Lio.


" Begitukah !". Ujar singkat Lio.


" Eum ".


" Selamat ulang tahun ". Ucap Lio tiba-tiba dengan senyum manis nya yang baru pertama kali ini dia pancarkan.


" eumm, jangan lupa hadiah nya ". Ruby berdiri dan memutuskan untuk menemani Nara kembali.


" By, apa boleh jika Nara tinggal bersamaku ?". Ucap Lio ikut berdiri. Ruby membalikkan tubuh nya, sembari tersenyum.


" Itu bukan keputusan ku, dari awal aku tak pernah memaksa apapun atas egoku, semuanya aku serahkan kepada Nara. Keluarga ku pun seperti itu, kami hanya dapat menjadi perisai untuk nya saja, apapun yang menjadi keputusan nya akan kami terima ! ". Ujar Ruby berlalu pergi.


" Pantas saja Nara begitu pintar dan cerdas ! haaah apa benar dia anak ku ?! ". Ucap Lio dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2