
" Tidak ada, hanya saja kami kecewa padamu Ed apalagi kepada Ruby ! bukan kah Nara itu putri kalian, dari awal kalian harus siap saat memutuskan untuk mengadopsinya, segala tanggung jawab harus sempurna apalagi kita bukan orang biasa yang dengan mudah berkeliaran di luar sana Ed ". Ujar Rayzen berucap.
" Begitu Kah ? Aku tahu aku salah, tapi bisakah kalian jangan seperti ini kepadaku !". Lirih Ruby dengan tatapan yang sudah berembun, Ruby mendekati Brayn dan berdiri di hadapan nya. " Ka apa kau marah kepadaku ?!". Ruby berjongkok di hadapan Brayn yang terduduk7l dan menatap nanar mata nya, Ruby tidak terbiasa dengan sikap Brayn yang seperti ini, karena biasanya dia memanjakan dirinya tapi masih dalam batas.
Brayn memalingkan wajah nya menghindari tatapan Ruby karena itu adalah kelemahan nya. Ruby menoleh pada Rayzen yang kebetulan duduk di samping Brayn. " Ka apa kau juga marah kepadaku eum ?!". Ujar Ruby tak mendapat respon juga dari Rayzen. Ruby masih menahan agar air matanya tidak keluar dengan nafas yang dia buang secara perlahan.
" Baiklah ". Ruby berdiri menjauh dari mereka.
" Maaf kan aku, maaf jika aku belum pantas menjadi seorang ibu, maaf !". Ruby menundukkan badan nya masih dengan air mata yang dia tahan. Ekspresi mereka semakin melemah saat mendengar sura Ruby semakin lirih , Savira pun tidak tega melihat Ruby seperti itu. " Eum kalau begitu, Ruby permisi keluar dulu, jika ada kabar tentang Nara langsung hubungi Ruby ". Ucap Ruby berlalu dari sana dan segera membalik kan badan nya.
" Baby ". Edward berteriak pelan, saat tubuh Ruby tak terlihat lagi oleh mata Edward, akhirnya Edward menatap tajam manusia-manusia yang ada di sana.
" Kalian ini kenapa ?". Heran Edward.
" hahahaha maaf kak, aku hanya berusaha mendalami peran ku ". Tawa David menyatu kan kedua tangan nya meminta maaf.
" Yak, tapi perkataan mu itu keterlaluan, bukan kah kau juga tahu jika Ruby tidak suka sikap yang seperti ini ". Ujar Edward masih tidak percaya akan apa yang tengah terjadi di sini.
" Memangnya kami tega melakukan ini pada kesayangan kami Ed ? tentu tidak bukan ! Tapi apa kau lupa hari ini ulang tahun nya ". Ujar Rayzen mengingatkan.
" Oh ia aku sampai lupa karena terlalu serius dengan masalah Nara ". Edward menepuk kepalanya pelan.
" Apa tidak apa seperti ini, apa kalian tidak lihat jika Ruby tengah menahan tangis nya ?!". Khawatir Savira karena ini baru pertama kalinya secara bersamaan mereka semua marah pada Ruby.
" Kau tenanglah, daddy yakin dia baik-baik saja ". Yakin Jakson. " Coba kau lihat Ruby , daddy yakin dia berada di luar ". Ucap Jakson pada Savira dan Savira pun langsung menuruti perkataan daddy nya.
" Apa kalian sudah menyiapkan kue nya ?". Tanya Edward.
" Sudah, Zen sedang membelinya dan sekarang dia sedang menuju ke sini ". Seru David.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu ? Oh ia, apa kalian akan tinggal lama di sini ?". Ucap Edward.
" Tidak boy, setelah memberikan kejutan pada Ruby, kami akan pulang lagi ke Irlandia ". Jawab Jakson.
" Owh, okeh baiklah !". Ujar Edward.
Mereka memang sengaja terbang ke Jerman hanya demi memberikan kejutan untuk Ruby tapi saat mereka sampai di sana, Zen asisten David menerima telpon dari Maxim jika Key berada di rumah sakit yang akhirnya Maxim pun menceritakan semuanya.
Tidak berbasa-basi lagi, Zen langsung memberitahu kabar kepada para tuan nya jika Nara sedang berada di rumah sakit x dan Zen menceritakan apa yang di beritahukan Maxim kepada dirinya. Saat itupun mereka langsung ke sana mengunjungi Nara dan memerintahkan Zen untuk menyiapkan kejutan biar sisanya mereka yang urus.
Saat Savira keluar, dia tidak langsung bertanya pada mereka keberadaan Ruby tapi dia lebih memilih untuk ke toilet terlebih dahulu sembari mengecek keberadaan Ruby di sana.
Savira melangkahkan kaki nya dengan cepat sembari mata nya mengedar mencari adik kecil nya.
" Apa kalian tidak melihat Ruby ?". Tanya Savira pada teman-teman nya.
" Tidak kak, tapi tadi dia bilang mau ke toilet dulu !". Ucap Agatha menggerakkan tangan nya dan menunjuk kan ibu jarinya ke belakang.
" Coba kau hubungi dia Rei ". Ucap Meili ikut sibuk.
" Tapi handphone Ruby ada bersama ku, bukan kah kalian juga lihat jika dia menitipkannya pada ku ". Ujar Agatha memperlihatkan handphone milik Ruby.
" Oh ia lupa ". Tepuk jidat di lakukan oleh Meili.
" Kenapa ? ada apa ?". Tiba-tiba Revan muncul bersama dengan Revin karena tadi Agatha menghubungi mereka berdua.
" Tidak ada kak, hanya saja sedari tadi Ruby tidak kembali dari toilet nya ". Gelisah Agatha, Savira lebih gelisah dari mereka karena masih mengingat kejadian di dalam tadi.
" Tenanglah dia pasti kembali ! jangan terlalu khawatir ". Seru Revan.
__ADS_1
" Dimana keponakan ku ?". Ucap Revin tidak sabar menemui keponakan cantik nya itu, Lio yang sedari tadi berada di sana sangat terharu akan mereka yang begitu menyayangi Nara.
" Di dalam, masuklah ! Tunggu, apa kalian sudah steril ?". Cegah Savira tidak begitu saja membiarkan mereka masuk.
" Sudah dong ". Ujar Revin merentangkan tangan nya.
" Baiklah Ayo masuk ". Ujar Savira tidak ikut masuk, saat Revin dan Revan hendak masuk, mata mereka menangkap keberadaan Lio di sana.
" Kenapa ada tuan Lio di sini, apa ada yang sakit juga ?!". Sindir Revin.
" Diamlah dan masuk sana ". Seru Savira.
" Kau, bersihkan lah dulu tubuh mu jika ingin menemui anak mu ! kalian pun sama, bukan kah kalian belum mandi dari pagi, terimakasih sudah membantu Nara, berkat kalian keponakan ku yang cantik itu bisa selamat ". Ucap Savira pada mereka terutama pada Lio yang Savira pun tahu jika dia ingin sekali bertemu dan memeluk putrinya.
" Baiklah, kami permisi kalau begitu ! Jika butuh apapun kami siap membantu ". Ujar Reina langsung saling bertukar no.handphone.
" Baiklah, terimakasih sekali lagi ". Ucap Savira.
" Kau juga pulang lah ". Lanjutnya pada Agatha yang masih menunggu Ruby.
" Eum, baiklah ! Ini handphone Ruby, aku titip padamu ". Agatha memberikan Handphone Ruby kepada Savira karena bagaimana pun tubuh nya sudah sangat lengket.
" bye bye, hati-hati di jalan nya ". Savira melambaikan tangan nya pada mereka dan saat itu pula, Rayzen dan David terlihat keluar dari sana hendak menghampiri Zen yang sudah tiba di lobi rumah sakit.
" Dimana Ruby ?". Tanya Rayzen celingak-celinguk mencari keberadaan Ruby begitupun David.
" Dia tadi ke toilet tapi sampai sekarang belum kembali, ini sudah berapa jam dia tak kembali membuat ku khawatir ". Tengok Savira pada jam di lengan nya.
" Apa dia sudah kau hubungi ?". Tanya David.
__ADS_1
" Hubungi apa nya, handphone nya daja ada padaku dev ". Resah Savira.
" Kita tunggu saja sebentar lagi, tenanglah ". Ucap Rayzen.