Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 170


__ADS_3

" Tapi Ray, apa ada orang yang ke toilet hingga berjam-jam ? tidak ada bukan ! ". Sentak Savira dengan segala kekhawatiran nya.


" Kau ini kenapa, emangnya suara mu itu merdu gitu ? pake teriak-teriak segala !". Logai David seraya meledek Savira. " Sudahlah, aku ke bawah lobi dulu ! Ka, kau ikut tidak ?!". David berlalu pergi dari sana dengan tebar pesona di setiap langkah nya tapi tidak dengan menggoda wanita di sepanjang koridor, tegap, dingin dan kalem itulah yang dia tebarkan.


" Sudah berapa jam dia pergi ke toiletnya Ra ?". Rayzen bukan nya mengikuti David tapi malam ikut resah dan juga khawatir.


" Jam sepuluh, berarti sudah 6 jam dia tak kembali Ray ! bagaimana ini ?". Ucap Savira mengecek jam nya, menghitung sudah berapa jam Ruby tidak kembali.


" Jangan beritahu siapapun dulu, aku akan berusaha mencarinya di sekitar rumah sakit !". Seru Rayzen segera pergi, dia akan sangat menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan Ruby karena dia masih ingat kata demi kata yang dia ucapkan tadi, walaupun itu hanya akting saja.


Savira kembali duduk sesekali jalan mondar mandir di depan pintu masuk ruang rawat Nara dengan kuku yang dia gigit menggambarkan betapa khawatirnya dia.


Sedangkan di dalam ruangan, mereka mengobrol ringan, Revan dan juga Revin tahu alasan keberadaan mereka di sini karena Jakson menceritakan semuanya. Mereka selaku kaka kandung Ruby pun sudah menyiapkan kejutan kecil di rumah dan tinggal menunggu kedatangan Ruby.


" Ed, di depan ada Lio, apa berarti dia sudah tahu jika putrinya ada padamu sekarang ?". Tanya Revan serius.


Edward merespon pertanyaan Revan langsung menolehkan kepala pada asal suara. " Sudah, semua nya sudah mengetahuinya ". Jawab Edward langsung mengalihkan tatapan nya kembali pada Nara.


" Lalu apa kau akan menyerahkan Nara pada dia ?". Serobot Revin penasaran.


" Tidak, aku tidak akan menyerahkan nya ! tapi bukan kah aku egois jika melakukan itu ? jadi semuanya akan aku pasrahkan pada Nara dan aku akan menerima apapun keputusan nya, walaupun dia ayah yang buruk tapi tetap saja dia adalah ayah kandung nya bukan !". Ucap Edward terus menatap Nara dan menggenggam tangan nya dengan erat dan juga lembut sesekali mengecup nya.


" Kau memang anak ku Boy ". Bangga Jakson meremas pundak Edward begitu terharunya.


" Kau benar Ed, tak perlu seegois itu untuk memiliki !". Seru Brayn beranjak, langkahnya terhenti saat Edward mengatakan sesuatu.


" Nara ! kau sadar sayang ?!". Bahagia Edward saat mata Nara perlahan terbuka. " Ka, cepat kau panggil dokter ". Brayn yang tadinya hendak keluar terhenti saat mendengar Nara tersadar dari tidur nya, dia segera memanggil dokter dan dengan tidak sabar nya dia menekan bel khusus untuk memanggil dokter dan juga perawat.


Di luar suara langkah kaki terdengar begitu cepat, para dokter dan juga perawat berlarian ke sana dan saat itu pula kebetulan Lio sudah berada di koridor menuju ruang rawat anak nya, melihat para dokter itu masuk hatinya mulai tak enak takut terjadi apa-apa dengan Nara. Beberapa orang keluar kecuali Edward setia menemani anak nya di dalam.

__ADS_1


" Maaf ada apa ini, apa Nara baik-baik saja ?". Tanya Lio kepada mereka semua tapi tidak ada yang menjawab nya, Savira berdiri dan menghadapkan tubuh nya lurus ke arah Lio.


" Tidak ada apa-apa dia baik-baik saja, mereka mencoba mengecek keadaan Nara karena baru saja dia membuka matanya ". Ucap Savira sedikit memberi penjelasan.


" Begitukah ? Syukur lah ". Elusan dada dilakukan oleh Lio dan diapun ikut menunggu pemeriksaan selesai.


Dari jauh, David dan juga Zen terlihat kembali dengan kue dan beberapa kado serta bunga di tangan nya sampai kepala Zen pun sedikit tidak terlihat sama sekali.


" Kau kembali Dev, sini biar aku yang pegang ". Ucap Savira mengambil alih kue tart dari tangan David.


" Apa dia sudah kembali ?". Bisik David pada Savira, Savira menggelengkan kepalanya. " tch, kemana dia ?!". Pikir nya.


Pemeriksaan intensif masih berlangsung, Edward terlihat masih menemani Nara di dalam, beberapa informasi dan percakapan antara dokter dan juga Edward terjadi. Kondisi Nara mulai membaik, tidak ada yang harus di khawatirkan dengan tubuh nya, mungkin karena kekebalan tubuh yang bagus dan fisik yang kuat tak membuat anggota tubuh nya merasa shock.


" Baiklah terimakasih atas semuanya !". Seru Edward. " Untuk kalian pun sama, terimakasih !". Ucap tulus Edward kepada perawat yang cekatan membantu mengurus Nara.


" Jika begitu kami semua permisi !". Pamit mereka sedikit menundukkan kepalanya sopan, Edward menganggukkan kepalanya.


" Ada apa ? apa kau haus ?". Tanya Edward, Nara menggelengkan kepala nya pelan.


" Mo,,mmom,,my ". Ucap Nara perlahan.


" Mommy ? ". Ujar Edward. Nara memberi tanda jika dia merindukan mommy nya.


Edward mengusap pucuk kepala Nara begitu sayang. " tunggulah eumm, mommy mu keluar dulu ".


Malam semakin larut tapi Ruby belum juga kembali, Rayzen masih mencari keberadaan Ruby di sekeliling rumah sakit bahkan tidak sedikitpun sudut yang terlewatkan oleh matanya.


" Zen kemarilah !". Panggil Savira pelan saat Zen selesai mata bunga yang dia bawa di atas meja. Zen langsung menghampiri Savira. " Bantulah Rayzen mencari Ruby dan laporkan segera kepadaku !". Bisik Savira di belakang mereka semua, Zen segera berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


" Ada apa Ra ?". Tanya Brayn yang kebetulan menolehkan kepalanya ke belakang.


" Tidak, tidak ada apa-apa ". Seru Savira menghampiri Brayn dan merangkul tangan nya.


" Ed, Lio masih berada di luar, apa tak masalah ?! kasihan dia ". Ucap Savira masih merangkul tangan Brayn dengan sedikit mengguncang nya.


Edward beranjak berdiri dan berlalu pergi, tangan nya meraih knop pintu dan membukanya lebar, benar saja jika Lio masih duduk di sana.


" Masuklah !". Seru Edward, Lio mengedarkan tatapan nya saat Edward menyuruh masuk, dia takut jika itu bukan padanya.


Lio langsung berdiri semangat saat dia diizinkan untuk masuk. " Terimakasih Ed ". Ucap nya.


" Kita keluarlah dahulu, biarkan dia di sini dengan Nara ". Ucap Edward pada mereka semua.


Awalnya mereka tidak bergerak sama sekali saat Edward memerintahkan mereka untuk keluar tapi beberapa menit kemudian mereka keluar.


Di sudut ruangan, nampak sedang duduk, menekuk lututnya dan menyembunyikan kepalanya di sana dengan tangan yang menjulur menumpu di atas lutut.


Tubuhnya di balut hanya dengan baju sport nya sampai otot pun terekspos bebas, peluh keringat bercucuran dari sana. Ruangan redup cahaya itu seakan sengaja Ruby biarkan, ya, dia Ruby yang langsung pergi ke markas tanpa handphone dan juga mobilnya.


Dia marah pada dirinya saat kebenaran mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melindungi Nara membuatnya terus menyalahkan dirinya, perkataan orang-orang di sana terus terngiang di kepala Ruby, perkataan dingin nya yang baru ia dengar dari mereka membuat nya merasa sangat bersalah.


Sasak besar menjadi pelampiasan nya saat ini, kepalan tangan yang berdarah pun seolah tidak terasa, Ruby kembali berdiri dan berjalan tertatih-tatih ke arah sasak yang terlihat masih bergelayun.


" maafkan mommy, maaf ! ". Ruby terus meneteskan air mata di sela pukulan keras nya, kakinya yang terluka terus dia paksakan untuk menendang sasak. " Maafkan mommy ". Gumam Ruby yang kini tengah memeluk sasak karena tubuhnya seolah tidak bisa lagi untuk berdiri.


" hufffhhh, kenapa hatiku sakit sekali malam ini ?!". Remas Ruby pada dadanya seolah hati pun sedang merasakan penyesalan Ruby. Ruby mengusap pipi nya oleh punggung telapak tangan secara bergantian dan akhirnya Ruby baru sadar jika punggung jemari nya terluka sampai darah pun perlahan keluar.


" Bagaimana aku bisa menemui Nara jika tangan ku seperti ini ?!". Gumam Ruby memperhatikan kedua tangan nya di bawah cahaya lampu yang lumayan menerangi ruangan. Ruby beranjak berdiri dan mencari handphone di sana.

__ADS_1


" Dimana barang itu ?!". Ruby terus mencarinya, apa dia tidak ingat jika handphone nya dia titipkan kepada Agatha tadi. " tch ". Ruby decak pinggang dengan kebodohan nya, dia gampang sekali merubah mood nya, hanya dengan hitungan menit dan sekarang Ruby sedang mengutuk kebodohan nya.


__ADS_2