
Semua orang menatap Ruby dan Nara bergantian, Edward melangkahkan kakinya sedikit mendekati Nara tapi masih ada jarak antara mereka.
" Mommy ". Lirih Nara menundukkan kepala nya karena Ruby masih tak mengenali jika dia adalah putri nya
" mommy ? ". Ucap Ruby mengulang panggilan Nara, semua orang semakin menegang menatap mereka bergantian.
Sean, Shabila dan juga Shane menatap tajam menyelidik pada orang-orang baru di depan mereka, tidak lain tidak bukan adalah ke empat kaka dari Ruby yang sedari tadi di pandang nya.
" Hiks,,hiks,,hikss,hikss ". Tangis Nara dari berdirinya.
" Apa kau merindukan mommy mu ? kemarilah peluk aku ". Ruby mengulurkan tangan nya, Nara berjalan pelan mendekati Ruby.
" hiks,,hiks,,hiks, !". Nara terus menangis di pelukan Ruby.
" Apa kau begitu merindukan mommy mu ?".
Nara menganggukkan kepala pelan dengan masih berada di pelukan Ruby.
" Jika begitu maka peluklah aku sepuasmu !". Seru Ruby.
Nara masih enggan melepaskan pelukan nya dan terus saja menangis.
" Kau sudah tumbuh tinggi Nara ! mommy merindukan mu ". Bisik Ruby mengeratkan pelukan nya. Nara tertegun dengan suara hangat di telinganya, jantungnya seakan berhenti saat mendengar perkataan Ruby.
Nara semakin meraung dengan air mata yang seakan tak ada habis nya. " Mommy hiks,,hiks,hiks,mommy ! Mommy Nara merindukan mommy, jangan tinggalkan Nara lagi mom ! Nara mohon !". Ucapan Nara tercekat-cekat karena nafas yang memburu berebut tangis dan juga perkataan.
Tak ada yang tidak menangis di dalam sana, mereka menangis dalam diam. Alejandro memeluk Leya karena tahu jika Leya menangis dan terlihat tubuhnya yang sedikit lemas dan bergetar. Matew menatap mereka berdua, matanya sendu melihat kenyataan jika istri nya yang selama ini dia cari sedang berdiri di hadapan nya tapi dengan seorang pria yang sama sekali tidak dia kenali. Hatinya sakit bagai di sayat silet tajam dan saat ini hanya matanya yang dapat berbicara.
Tadinya Matew tak menyapa Leya lebih dulu karena pasti Leya mengenali dirinya pikirnya. Tapi hal itu sama sekali tidak terjadi. Pikiranny saat ini melanglang buana dengan segala pemikiran nya terhadap pria itu.
" Apa benar kau juga tak mengenali siapa keluarga mu Sayang ". Batin Matew terus menatap Leya yang sedang menangis di pelukan pria lain.
" Nara, sejak kapan kau cengeng seperti ini hmm ? apa daddy mu tak mengurus mu dengan baik selama mommy tak ada ?!". Ucap Ruby yang hanya terdengar oleh Nara saja. " Jangan menangis lagi, jika terus seperti ini orang lain akan mengira jika mommy sangat-sangat telah menyakitimu !". Lanjut Ruby.
" tidak ada yang menyakitiku mom, kepergian mu yang tiba-tiba membuat ku tak mengikhlaskan semuanya ! hatiku sangat sakit, mommy yang aku cintai meninggalkan aku tanpa pamit dan saat bertemu kembali pun kau tak mengenaliku ku dan juga daddy !". Ucap Nara di sela tangis nya.
" Mom, yakinkan aku jika ini bukanlah mimpi, aku lelah jika terus bertemu dengan mu lewat mimpi yang akhirnya hanya berakhir sebagai bunga tidur saja ! aku mohon katakanlah ". Sendu Ruby.
" Lepas dulu pelukan nya, mommy sedikit susah bernafas sayang !".
Nara melepaskan pelukan nya, Ruby menatap Nara dengan intens. Tiba-tiba Ruby mencubit pipi Nara dengan gemas nya.
" Aww, sakit ". Usap Nara di pipinya, bukan protes, Nara malah kembali memeluk Ruby dengan rasa bahagianya. " Terimakasih mom, kau telah kembali ". Ucap nya pelan.
" Sudah-sudah, lihatlah daddy mu ! bukan kah tatapan nya itu berbicara jika dia iri melihatmu aku peluk ". Seru Ruby, Nara menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap daddy nya.
Nara mengulaskan senyumnya pada Edward dan berdiri di samping Ruby.
" Honey, apa kau hanya akan diam di sana ?! Apa kau tidak merindukan aku ! apa jangan-jangan selama aku tak ada kau memiliki wanita baru !". Ketus Ruby.
Semua orang terkaget saat Ruby berbicara ketus kepada Edward dengan nada kesalnya.
Edward berlari cepat dan langsung memeluk Ruby.
__ADS_1
" Baby ". Edward terduduk di ranjang samping dan memeluk erat Ruby dengan tangisnya.
" Apa sekarang kau sedang menangis honey ?!". Ruby pun mengeratkan pelukan nya dengan nyaman.
" Baby ". Dengan suara beratnya, Edward terus memanggil Ruby dengan sebutan sayang nya.
" Aku sudah lama tak melihat wajahmu honey, aku yakin selama aku tak ada, semua wanita berusaha mendekatimu ! kenapa wajahmu semakin tampan honey ?!". Ucap Ruby.
" Kau berpikir terlalu jauh baby, hanya ada kau di hatiku dan selamanya akan seperti itu ! jadi jangan pernah pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu ! jika ingin pergi maka harus ada aku di sampingmu, jangan membuat jantungku berhenti berdetak lagi baby aku mohon !". Sendu Edward mengusap lembut kepala Ruby.
" Benarkah ? apa aku harus mempercayaimu jika sekarang hanya ada aku saja di hatimu hmm ?!". Tutur Ruby seolah sedang menyudutkan Edward.
" Jika kau tak percaya maka kau boleh mengambil nyawaku sekarang juga !". Serius Edward dengan perkataan nya.
" Tch, jika kau mati lalu bagaimana dengan aku dan juga anak kita ?! bahkan sekarang bukan hanya Nara anak kita, ada tiga anak lagi yang harus kau jaga honey ". Pukul Ruby di punggung Edward.
Edward yang sedang menangis berubah menjadi tertawa geli.
" Akhirnya kau kembali Baby ! terimakasih tuhan, kau mengabulkan doa ku ".
Ruby masih memeluk Edward dengan nyaman begitupun Edward sendiri. Obrolan mereka yang sedikit keras itu terdengar oleh mereka yang berada di sana.
" Al ! apa kau masih tak mengenali kami ?!". Canggung Revan.
" Menurutmu bagaimana kaka ku tersayang ?!". Tengil Ruby.
" Al, kau sedang tak bercanda bukan ?". Ujar Rayzen. " Siapa namaku ?" Tunjuknya pada dirinya sendiri.
" Rayzen, namamu Rayzen, di samping mu Brayn ! Apa sudah cukup ".
" Ka, kemarilah peluk aku !". Pinta Ruby pada Revan, dengan semangat Revan pun memeluk Ruby.
" Kau kembali sayang ! maafkan kaka yang tak bisa menjagamu, maaf !".
Baru saja Revan memeluk Ruby, Revin sudah lebih dulu menarik Revan karena dia sudah tidak tahan untuk segera memeluk adik tercintanya tapi keinginan nya itu terhenti kala suara tegas dan imut menghentikan nya.
" STOP ".
Mereka menolehkan kepalanya pada asal suara dan itu tertuju pada Sean, Shabila dan juga Shane.
" Kalian harus membiarkan mommy kami istirahat terlebih dahulu ! dia baru saja sadar dan butuh banyak istirahat, bukankah begitu bi ?!". Ujar Sean ketus dan meminta bantuan Leya agar mereka semua berhenti dulu melepas rindunya karena dia takut jika mommy nya kenapa-napa.
" Sean benar, biarkan Al istirahat dulu ! takutnya proses pemulihan nya akan melambat ". Tutur Leya.
" Kau !". Tunjuk bersamaan seolah tersadarkan.
" Bukankah kau istrinya dokter itu ?! Ini benar-benar keajaiban, mereka berdua kembali lagi !". Heboh Revin, Leya mengerutkan keningnya seakan tengah meminta penjelasan, tak elak matanya menatap Matew yang masih berdiri di dekat sofa yang diapun masih tak memalingkan wajahnya.
Alejandro mendekati Ruby. " Al, apa masih ada yang sakit ?!". Elus nya di kepala.
" Tidak paman, aku sungguh baik-baik saja !". Ucap Ruby meyakinkan.
" Ingatan mu sudah pulih, istirahatlah lebih awal agar kau kembali segar !". Alejandro membantu Ruby untuk merebahkan kembali tubuhnya dan langsung menyelimuti, Edward terlihat tidak rela jika mereka sedekat itu.
__ADS_1
" Tidurlah, kita semua akan keluar dulu ". Ucap Revan mengelus rambut Ruby dan mengecup nya.
" Mom, istirahatlah yang banyak ! ". Ucap gemas Shane menengadahkan kepalanya karena ranjang Ruby lebih tinggi dari badan nya dan Ruby tersenyum hangat.
" Mom, bolehkah aku di sini bersama mommy ! aku ingin tidur bersama mommy !". Manja Nara yang masih merindukan Ruby.
" Kemarilah ". Ruby menepuk-nepuk ranjang di samping nya agar Nara tidur di sebelahnya.
" Tidak mom, badan ku sudah berat ! aku tidur di kursi saja !". Tolak Nara karena takut jika ranjang itu tak kuat menampung dua orang.
" Tidak akan, percayalah ! sini mommy peluk ".
Akhirnya Nara merebahkan tubuhnya di samping Ruby dan memeluk nya rindu.
" Daddy keluar dulu ! kau mau makan apa, daddy akan belikan ?!". Ucap Edward.
" Terserah daddy, apapun akan aku makan ". Sahut Nara yang tak menolehkan tatapan nya pada Edward dan terus memeluk Ruby. " Baiklah, kalau begitu kalian istirahatlah yang banyak ". Edward akhirnya keluar paling terakhir.
Di luar, terlihat Matew berbicara dengan Alejandro dan mengajak nya untuk berbicara, Leya pun mengajak mereka keruangan nya.
" Sean jaga kedua adikmu dulu ya ! bibi dan paman ada yang harus di bicarakan terlebih dahulu, ini cemilan untuk kalian ". Leya memberikan dua plastik isi cemilan kepada Sean dan juga Shabila.
" Iya bi, jangan khawatirkan kami !". Ujar Shane melambaikan tangan nya agar Leya cepat pergi.
" dasar anak nakal ". Decak Leya mengikuti Alejandro dan juga Matew dan sekarang Leya mendahului mereka karena memandu untuk ke ruangan nya.
Sean dan juga Shabila terduduk dan membuka kantong plastik yang di berikan Leya. " Shane makanlah ini, sedari tadi perutmu kosong bukan !". Sean memberikan roti ukuran large dengan toping keju coklat kesukaan Shane.
" Terimakasih ka, kau juga jangan membiarkan perutmu kosong !". Shane sembari makan terus berbicara kepada kedua kaka nya.
Edward terlihat berjongkok di depan mereka yang sedang terduduk sembari melahap cemilan nya dengan anteng.
" Apa kalian tidak ingin memakan nasi ? tidak baik jika tak diisi dengan nasi ! ayo ikut daddy dan uncle kalian ke kantin ". Ajak Edward. Sean, Shabila dan juga Shane melirik ke empat uncle nya yang sedang menatap mereka.
" Kalian pergilah, kami sudah kenyang dengan memakan ini dad !". Seru Shabila menolak dengan halus.
" Kenapa sayang ? ini sudah lewat waktu makan, jika kalian tidak mengisi nya nanti perut kalian akan sakit !". Edward memberi pengertian kepada mereka.
" Iya, daddy kalian benar ! Bukan kah mommy kalian tidak suka jika ada yang membiarkan perutnya kosong hmm ?!". Revan dan Brayn beranjak dari duduk nya dan menghampiri mereka diikuti oleh Rayzen dan juga Revin
" eum ! uncle tidak salah, tapi kami tidak pernah makan di luar ! mommy melarang kami ". Ucap Shabila.
" Lebih tepatnya bukan melarang, hanya saja masakan mommy lebih enak di bandingkan dengan pasakan di luar ! bibi dan paman pun tak pernah mommy biarkan makan di luar, mereka selalu di bekali makan oleh mommy saat mereka hendak bekerja ". Timpal Sean meluruskan.
" Daddy tahu, bahkan dulu daddy dan semua keluarga selalu di buatkan masakan terenak untuk kita makan !". Puji Edward dan di anggukki oleh ke empat kaka nya.
" Tapi sekarang mommy kalian lagi tidak bisa masak untuk kalian, jadi sekali ini saja kalian makan di luar ! uncle janji tidak ada lain kali ". Seru Rayzen.
" Baiklah sekali ini saja ". Ucap mereka bertiga bersamaan.
" Baiklah ayo ". Edward menggendong Shabila.
" uncle gendong aku ". Manja Shane mengulurkan tangan nya kepada Revin.
__ADS_1
" Ayo tuan muda yang tampan !". Dengan sigap Revin menggendong Shane.
Sean tak sama dengan kedua kembaran nya, dia memilih berjalan sendiri seperti biasanya. Edward terus menatap Sean di sela langkah nya begitupun Rayzen dan juga yang lainnya.