
Seruan orang yang melihat aksi mereka tidak henti-henti nya berbisik.
" DIAM, diam kalian !". Teriak Sean marah bagai suara singa yang sedang kesakitan. Keramaian menjadi hening seketika kala sentakan Sean dan juga tatapan nya membuat mereka terdiam. Ruby pun tersentak dengan aungan Sean dan juga Shabila.
" Shane, hentikan kedua kaka mu !". Pinta Ruby yang malah khawatir jika mereka terluka.
" Biarkan saja mom !". Sahut nya acuh.
" Shane ". Kening Ruby mengerut.
" Mom, mereka menyakitimu ! lihatlah tangan dan wajahmu memerah seperti ini ". Kesal Shane.
" Kau ini, bagaimana jika terjadi apa-apa dengan kalian hmm ? jika itu terjadi, mommy tak bisa memaafkan diri mama sendiri !". Tutur Ruby memberi pengertian kepada anak bungsunya itu.
" Itu tak akan terjadi mom, tenanglah ". Seru Shane.
" Tch, kalian ini masih kecil, belum bisa untuk melawan orang dewasa seperti mereka !". Jelas Ruby yang di hiraukan oleh Shane.
" Ka ". Teriak Shane menghampiri kedua kaka nya yang masih saja terbakar amarah. " Ka, biarkan mereka pergi ! ada cara lain untuk memberi pelajaran kepada mereka ". Bisik Shane.
" Ka ". Ucap Shane kembali, tak ada respon dari kedua kembaran nya itu. Dia mengedarkan pandangan nya, matanya menangkap orang-orang masih menonton nya dalam diam.
" Maaf semua, kalian boleh melanjutkan liburan kalian ! maaf kami mengganggu telinga kalian ". Shane meminta maaf dan membungkukkan setengah badan nya, mereka tanpa bicara langsung bubar pergi ke tempat mereka masing-masing.
" Kalian juga pergilah ". Titah Shane kepada mereka bertiga.
" tch, dengan anak kecil saja takut !". Gumam Shane menetap kepergian mereka bertiga.
" SEAN, SHABILA !". Teriak Shane di telinga mereka karena sedari tadi tak bergeming.
" Akan ku bunuh mereka !". Ancam Sean membalikkan badan nya tanpa memperdulikan Shane yang sedari tadi memanggilnya walaupun dengan teriakan seperti itu, Shane hanya menatap kepergian Sean yang tengah mendekati mommy nya.
" Jangan berteriak seperti itu lagi, nanti tenggorokan mu sakit ". Sadar Shabila dan merangkul pundak Shane dengan mood yang kembali ceria.
" Kalian memang menyebalkan ". Gerutu nya.
Sean memeriksa wajah Ruby yang masih saja memerah. " Aku akan membunuh siapa saja yang menyentuh keluargaku, tidak akan ada pengampunan untuk mereka ". Ucap Sean, pernyataan nya membuat Ruby tertohok dan terdiam.
" Lakukan lah jika itu memang perlu, tapi kau harus terlebih dahulu memikirkan nya sebelum mengambil nyawa mereka ! bukan kah tidak semua dari mereka itu jahat ? hanya saja mungkin proses mereka yang salah untuk mencapai tujuan nya ". Tutur Ruby.
" Sesuai perkataan mommy !". Shabila yang masih merangkul Shane.
" Mom, dari mana kau bisa beladiri seperti itu ? tadi kau hebat melawan mereka ?!". Tanya Shane penasaran.
" Entahlah, itu mungkin hanya reflek !". Ruby pun tidak tahu, karena seingatnya, dia tak pernah belajar ilmu beladiri.
" Sepertinya ada yang aneh mom ! ayo, besok kita pergi ke Dojo untuk melatih beladiri kita !". Yakin Sean sekilas menatap curiga kepada mommy nya itu.
" Terserah kau saja, mommy ikut ". Ucap Ruby.
" Apa ada yang masih kalian inginkan sebelum pulang ?". Tanya Ruby.
" Kita beli makanan untuk di rumah dulu ya mom ". Pinta Shabila.
" Yasudah ayo kita belanja ".
Mereka akhirnya pergi, keluarga kecil mereka terlihat bahagia dengan saling sayang dan juga saling peduli. Ruby dapat melihat dengan jelas sifat ketiga anak nya itu, walaupun mereka bertiga kembar tapi hanya itu saja, wajahnya pun tak dominan mirip satu sama lain bahkan sikap dan sifat mereka sangat berbeda.
" Kalian tetap di sini atau ikut mommy ke dalam ?". Ucap Ruby saat telah sampai di depan minimarket yang semula dia kunjungi.
" Kami ikut mom ". Sahbila dan Shane dengan semangat nya masuk ke dalam mini market. Ruby menatap Sean yang sudah terduduk nyaman di kursi.
" Sean tidak ikut mom ". Ucapnya menatap Ruby.
" Baiklah, jangan kemana-mana, mommy tidak akan lama !". Seru Ruby mengacak-acak rambut anak pertamanya dengan manja.
" Mommy ". Protes Sean. " Sudah cepatlah masuk, atau kedua anak mu itu membuat keributan di dalam ". Ucap Sean membuat Ruby tersadar jika kedua anak nya sudah berada di dalam.
" Siap siap siap, tunggu di sini, jangan kemana mana !". Ucap Ruby kembali.
" Iya mommy ku yang cantik ".
Ruby langsung masuk ke dalam dengan langkah yang cepat, dia langsung menghampiri kedua anaknya yang masih berdiri memegang ranjang belanjaan seolah sedang menunggu mommy nya.
" Kenapa kalian berdiam diri seperti itu ? biasanya kalian sudah ribut masalah makanan !". Sindir Ruby.
" Kami sudah besar mom ". Delik mereka bersamaan.
" Ya ya ya, kalian sudah besar !". Ledek Ruby.
Sean terlihat menempelkan kepalanya di atas meja kecil yang lebih pendek dari tubuh nya sehingga dia dengan mudah menumpukan kepalanya di atas meja.
" Kenapa mereka lama sekali ". Gerutu Sean yang sudah kebosanan, Sean beranjak dari duduk nya dan berniat menghampiri mommy nya, tapi saat hendak masuk, langkah nya terhenti kala ada seseorang yang membekap nya. Keadaan sekitar yang sepi menjadikan mereka lebih leluasa untuk membawa Sean, keadaan seperti itu membuat mereka lupa jika CCTV yang ada di sana telah merekam tindakan mereka.
Ruby terlihat keluar dengan barang belanjaan nya diikuti oleh Shabila dan juga Shane dengan cemilan yang sedang mereka makan.
" Dimana dia ?". Mincing Ruby tak mendapati keberadaan Sean di tempat duduk nya.
" Di mana Sean mom ?!". Tanya Shabila yang ikut mengedarkan pandangan nya mencari Sean.
" Kenapa ka ?". Tanya Shane.
" kalian tunggu di sini, mommy mencari Sean dulu ! mungkin dia berjalan-jalan sekitar sini ". Ucap Ruby.
" Tidak mom, kita cari dia bersama !". Seru Shabila sembari menyimpan cemilan nya.
" Mencari siapa ka ?!". Shane masih bingung, dia bekum sadar jika Sean tak berada di tempat.
__ADS_1
" Kau ini, makan saja yang ada di pikiran mu ! lihatlah Sean tak ada di sini !". Shabila sedikit menonyor kepala Shane, Shane memandang sekitar.
" Kemana dia ?!". Gumam nya. " Mom, ayo kita cari bersama !". Shane dengan kepedulian nya langsung bersiap.
Ruby panik mencari Sean yang tak kunjung di temukan, tak sedikit orang berlalu lalang dia tanyakan di tempat yang lumayan jauh dari mini market karena sedari tadi Ruby sudah mencari di setiap sudut wilayah mini market tapi tak kunjung di temukan, untuk itu dia mencari lebih jauh dari wilayah itu.
" Paman, bibi apa kalian melihat seorang anak laki-laki seumuran kami melewati jalan ini ?!". Shabila dan juga Shane menunjukkan photo Sean yang baru saja Ruby berikan karena kebetulan di dalam dompet nya tersimpan photo mereka bertiga. Semua orang yang Shabila dan juga Shane tanyakan tidak ada yang tahu, dengan bergandeng tangan, Shabila dan juga Shane terus mencari keberadaan saudara kembarnya.
" Momm ". Panggil Shane melambaikan tangan nya.
" Bagaimana ?". Tanya Ruby, Shabila dan juga Shane menggelengkan kepalanya cepat dengan wajah yang berubah sendu. Ruby menghembuskan nafasnya sembari menyingkap rambut panjang nya.
" Dimana dia ?". Gumam Ruby. " Ayo kita kembali ke minimarket ". Ruby dan kedua anaknya kembali ke sana berharap Sean kembali ke tempat duduk nya.
" Tidak ada mom, kemana sebenarnya dia ?!". Ruby terduduk lesu. " Mom lihatlah, bukankah itu CCTV ". Tunjuk Shane pada sudut jalan yang terlihat menyala. Ruby langsung cepat menolehkan kepalanya ke sudut jalan.
" Kalian tunggulah di sini ". Ruby terlihat buru-buru masuk ke dalam minimarket. " Ayo ". Ajak Ruby setelah keluar dari sana dengan buru-buru.
" Kita mau kemana mom ?". Tanya Shabila.
" Kita ke kantor keamanan dekat sini, penjaga toko bilang kantornya tidak jauh dari sini ".
Ruby terus berjalan bersama kedua anak nya tanpa lelah, Shabila dan juga Shane keduanya tidak ada yang mengeluh kelelahan.
" Mom, kita hubungi paman dan bibi terlebih dahulu ". Saran Shane.
" Tidak sayang, mommy tidak mau jika mereka khawatir, lagipula mereka pasti masih sibuk, mommy tidak mau mengganggu mereka ! kita berusaha dulu sendiri ". Ucap Ruby yang sudah sampai di depan kantor keamanan sekitar wilayah itu.
Ruby masuk kedalam di ikuti Shane dan juga Shabila.
" maaf pak, bisakah kau periksa CCTV yang berada di sudut jalan dekat minimarket ? putraku belum kembali sampai saat ini, terakhir dia menunggu di depan minimarket !". Pinta Ruby sembari melapor. Tanpa hambatan, petugas keamanan itu langsung memeriksa cctv yang merekam sekitar wilayah itu.
" Itu dia ". Ruby memincingkan matanya sembari tangan nya mengepal. " Siapa mereka ?!".
" Mereka ?". Ucap penjaga pos menunjuk dua orang pria berbaju hitam.
****
Di lain tempat, Sean di bekam dengan kain yang di lilit di mulutnya.
" Kau anak nakal ! hahah siapa tadi yang berani menyentak ku hah ?". Kesal seorang pria yang sebenarnya dia adalah tuan muda yang menggoda mommy nya di pantai.
Pintu terbuka, terlihat bawahan nya melapor memberitahu keberadaan bos besar nya ada di sini.
" Apa ?!". Teriaknya, Sean hanya menatap kesal pria itu karena sedari tadi dia terus saja mengeraskan suara nya. " Kenapa kau baru memberitahuku !". Pria itu langsung berlari meninggalkan Sean yang sebenarnya tali yang mengikat lengan Sean sudah terbuka.
Tempat itu seketika kosong, tak ada penjagaan ketat yang mungkin mereka sedang menyambut kedatangan bos besar itu. Sean melangkah mengendap dan waspada atas keadaan sekitar.
Di ruang tengah. " Selamat malam tuan !". Ucap salam mereka menunduk sopan. Pria itu hanya mengangkat tangan nya merespon.
" Bagaimana keadaan di wilayah ini, apa tak ada yang mencurigakan ?". Ucapnya berjalan menuju tempat duduk yang sudah di siapkan.
Mereka berbincang lumayan lama sampai dimana suara ke gaduhan pun terdengar dari depan pintu masuk.
Pria tengil itu langsung memeriksa apa yang terjadi, dia terdiam mematung saat bawahan nya sudah tergeletak di atas lantai.
" Dimana putraku ?! ". Garang Ruby berdiri tepat di depan pria itu. " Katakan dimana putraku ". Ruby dengan cepat berdiri di belakangnya dan mencekik pria itu tanpa ampun.
Langkah kaki cepat berhamburan keluar, mereka tak ada yang berani mendekat.
" Katakan dimana putraku !". Marah Ruby mendorong pria itu sampai tersandung bawahan nya yang masih tak sadarkan diri di atas lantai.
" Apa yang kalian lihat hah ?! Hajar wanita gila itu !". Akhirnya mereka menyerang Ruby dengan bersamaan, pria itu masuk ke dalam dengan tertatih tatih.
" Maaf tuan, ada sedikit masalah di luar ". Ucapnya pada tuan nya yang masih terduduk santai di atas kursi.
" Bukankah kau tuan muda yang di takuti di wilayah ini paman ? kenapa kau malah memiliki seorang tuan ? tch, aku kira kau bos besarnya !".
Pria itu dan tuannya langsung menoleh ke asal suara.
" Yaak kenapa kau bisa terlepas !". Teriak nya panik dia menatap Sean dan juga tuan itu bergantian. Tatapan ketakutan terpancar karena baru kali ini di tempat nya ada seorang anak kecil.
" Kenapa ada anak kecil di tempatku ?". Selidik tuan itu pada pria tengil yang menculik Sean dan dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
" Kau tidak tahu ? atau pura-pura tidak tahu ? kenapa kau hanya diam membisu seperti itu ? mana pria yang sedari tadi nyerocos sembari tertawa di hadapan ku huh ?!". Tajam Sean menatap nyalang padanya.
" Katakan padaku siapa dia ?". Sentak nya.
" Aku di bawa oleh nya ke sini dan aku di pisahkan dari mommy dan juga kedua adik ku ! apa kau mengerti apa yang aku maksud ?!". Santai Sean seolah tak ada rasa takut dalam dirinya. Tuan itu bertanya kepada pria tengil itu tapi Sean terus memotongnya.
Tuan itu terus memandang Sean selidik.
" Maaf tuan, maafkan kelancangan saya ! tapi anak ini sangat tidak sopan ". Adu nya.
" Tidak sopan bagaimana yang kau maksudkan itu ! dasar pria tidak tahu malu ". Ruby tiba dengan tegap nya dan berbicara tajam. Tatapan nyalang nya tercampur sendu dan berbagai rasa terlihat dari sorot tatapan nya.
" Mom ". Sean berlari menghampiri Ruby.
" Tidak apa sayang, semuanya baik-baik saja !". Ruby menenangkan Sean. Dia tahu, walau Sean bersikap santai tapi pasti ada rasa takut di dalam dirinya.
" Kau yang tidak tahu malu ! Dasar wanita murahan ". Caci nya pada Ruby.
" Murahan ? katakan sekali lagi !". Nyalang Ruby.
" Ya, kau murahan ".
Dengan tak terprediksi, pria itu terpental karena tendangan kaki Ruby, tubuh pria itu menyusut dan berhenti di depan kaki tuan nya. Ruby berjalan mendekati pria itu dan segera meraih baju nya dan langsung mencengkram tanpa memperdulikan jika di depan nya ada seorang pria yang tengah menatap nya sendu.
__ADS_1
" Baby ". Ucap nya lirih.
" Sean ". Teriak Shabila dan juga Shane langsung memeluk Sean sembari tangisnya yang terdengar pilu.
" Sudah-sudah kalian ini cengeng sekali ". Ucap Sean.
" Hiks,,hikss,,hikss Kau baik-baik saja bukan ?!". Ujar Shabila mengeratkan pelukan nya.
" Aku baik, lihatlah ". Sean melepaskan pelukan mereka.
" Aku tahu kakaku pasti selamat ". Seru Shane.
" oh ia, cepat ucapkan salam pada nya ! dia kaka cantik yang kebetulan bertemu dengan ku di depan sana ! Nama nya Nara !". Tunjuk Shabila kepada Nara yang masih mematung.
Ya, Tuan pria tengil itu adalah Edward yang kebetulan sedang ada pemeriksaan di makau dan dia mengajak Nara terbang ke Makau.
" Mommy ". Teriak Nara berlari menuju Ruby. Sean menghentikan langkah nya saat akan mendekati Nara.
" Mommy ". Lirih Nara yang langsung mengenali wajah Ruby. Edward masih terdiam mematung.
Ruby yang masih mencengkram baju pria itu dengan mudah langsung membantingnya ke dinding.
Nara menyentuh lengan Ruby memastikan jika dia adalah mommy nya. " Mom ". Suara nya terdengar bergetar begitupun tangan nya. Ruby menoleh kan kepalanya, Nara tersentak saat wajah yang dia rindukan akhirnya bisa dia lihat kembali.
" Mom, hiks,,hiks,,hiks, kau kembali !". Nara menangis dengan memegang tangan Ruby dengan kedua tangan nya.
" Baby ". Ucap Edward yang perlahan mendekati Ruby. " Baby, kau kembali ". Lirih Edward mengangkat tangan nya yang bergetar hendak menyentuh wajah kekasih hatinya. Ruby hanya menatap bingung tanpa bergerak, dia tak mengerti dengan keadaannya saat ini.
" Dad, mommy ku kembali hiks,,hikss, hikss, ". Tangis Nara, Edward langsung memeluk Ruby dan juga Nara dengan tangis yang pilu.
" Maaf tapi apa maksud kalian, mungkin kalian salah orang ?!". Ruby langsung melepaskan dirinya, tatapan bingung masih terpancar dari mata Ruby. Wajah yang kotor tercampur keringat tak sedikitpun menyusutkan perbedaan Ruby yang dulu dan Ruby yang sekarang.
" Baby, apa kau tidak mengingatku ? Aku Edward, kekasih mu, suamimu ! Apa kau sudah melupakan aku ?". Ucap Edward.
" Aku, aku Nara, putri mu ! apa kau juga melupakan aku mom ?". Nara pun ikut bertanya.
" Maaf, mungkin kalian salah orang ". Dengan kebingungan, Ruby membalikkan kan badan nya.
" Baby, jangan bercanda ! apa kau melupakan suami dan putri mu ini ?". Seru Edward menahan Ruby dari langkah nya.
" Mom ". Ucap Nara dengan suara yang tercampur sesenggukan karena masih menangis.
" Baby ". Ucap Edward kembali.
" Maaf tuan, saya tidak mengenali anda dan putri anda ! anak-anak ku hanya mereka yang salah satunya telah menjadi korban penculikan bawahan mu ". Tekan Ruby melepaskan cengkraman Edward.
" Dad, kenapa dengan mommy ! apa dia benar-benar telah melupakan kita ?!". Tangis Nara, Edward langsung mendekap nya.
Ruby berjalan mendekati ketiga anak nya dan mengajak nya pulang.
" Ayo kita pulang ". Ucap Ruby.
" Mom, are you oke ?". Tatap Sean karena melihat Ruby menekan kepalanya. " Darah !" . Ucap Sean yang melihat darah yang mengalir di sudut kening mommy nya.
" Mommy baik-baik saja sayang ! ayo kita pulang, pasti yang di rumah sudah menunggu kita ". Ucap Ruby yang terdengar oleh Nara dan juga Edward.
Saat Ruby melangkah, pandangan nya menjadi kabur dan menggelap.
BRUGHHH
Ruby terjatuh dengan mata yang sudah terpejam.
" Mommy ". Teriak mereka.
" Babyy, bangunlah !". Panik Edward.
" Mom bangunlah ". Nara menepuk-nepuk wajah Ruby.
" Paman, cepat bawa mommy ku ke rumah sakit ! aku takut kepala nya semakin bermasalah ". Sean juga panik, Shabila dan juga Shane hanya menangisi mommy nya yang enggan untuk membuka matanya.
" Kepala ?". Ujar Edward dan juga Nara.
" Ia Paman, dia tidak ingat siapa keluarga sampai saat ini dan sakit di kepalanya masih belum sembuh total ! bisakah paman membantu kami membawa mommy ke rumah sakit ?!". Ucap Sean dengan tangan mengepal memohon.
Edward terkaget saat melihat tatapan Sean yang yang tak asing di matanya.
Tak membiarkan berlarut-larut, Edward langsung membawa Ruby ke rumah sakit terdekat.
" Bibiii ". Teriak shane dan juga Shabila kala mereka telah sampai di rumah sakit tempat Leya bekerja.
" Shane, Shabila ! Kenapa kalian ada di sini ?". Leya pun ikut panik karena keberadaan mereka di rumah sakit. " Dimana mommy kalian?".
" Kepala mommy berdarah dan dokter sedang memeriksanya bi ". Ujar Sean.
" Kenapa ? apa yang terjadi ?".
Sean menceritakan semuanya pada Leya, reaksi Leya tercampur aduk, kesal marah ada di sana.
" Lalu dimana paman yang menolong kalian ?". Tanya Leya.
" Tidak tahu, mungkin dia sedang ke kamar mandi ! tapi bi, ada kaka cantik yang menemani kami ". Ucap Shane.
" Ayo kita ke sana ".
" Kalian kemana saja ? apa kalian butuh sesuatu ? biar kaka yang ambilkan !". Ujar Nara seperti tengah menunggu kedatangan saudara kembar itu.
" Bi, ini kaka cantik itu ! namanya Nara ".
__ADS_1
Leya tersenyum hangat, begitupun Nara, dia menyapa dan Leya menyapa nya kembali.