
Dua minggu berlalu, pencarian Ruby masih di lakukan tapi tanpa tim SAR yang membantu karena mereka memiliki batas waktu pencarian tersendiri yang mungkin telah terorganisir di dalam peraturan nya.
Selama itu pun Edward masih mencari keberadaan Ruby, dia tak menyerah mencari Ruby, Lio dan Leo pun bertemu dengan Edward satu minggu yang lalu saat mereka pun melakukan pencarian dengan di bantu oleh para bawahan nya.
David pun telah menghabisi para bawahan Jake yang dia perintahkan untuk meratakan wilayah nya dan itu tak ada habisnya, mereka terus berdatangan ke sana di saat telah banyak korban yang gugur tapi mereka dengan dada busung nya menantang sang Prince Red Pheonix. Jake masih belum menyerah, dia pun tak peduli dengan anak nya yang tengah David sandra, hanya uang yang dia sayangi dan dia cintai melebihi apapun.
Jakson pun masih betah dengan memejamkan matanya. Nameera dan juga Luis terbang ke China menemui ayah mereka yang juga masuk rumah sakit setelah mendapat kabar kecelakaan Ruby di temani Agatha dan juga Ronald beserta Jasmine. Revan dan juga Revin kembali bolak-balik Jerman-Irlandia karena pekerjaan yang tidak bisa mereka abaikan.
" Ed ". Ucap Savira yang tengah menggendong Nara. Terlihat Rayzen mengikuti nya juga Lio dan juga Leo.
" Biar saya yang menggendong nya !". Lio mengambil alih Nara di pangkuan Savira yang terlihat pulas dalam tidurnya.
" Daddy merindukan mu sayang ". Gumam Lio mengecup kening Nara begitupun dengan Leo yang sangat merindukan keponakan cerewet nya itu.
" Bagaimana keadaan nya ka ?!". Tanya Edward memerhatikan Jakson yang tengah berbaring di atas kasur.
Mereka memilih merawat Jakson di rumah agar lebih efektif dan Savira pun akan lebih leluasa merawat nya. " Masih sama Ed, belum ada perkembangan !". Sahut Savira. Savira memperhatikan keadaan Edward saat ini yang begitu tak terurus, Savira menatap Rayzen yang juga terlihat kurus.
" Kalian bersihkan diri kalian dan makanlah yang banyak !". Savira mendorong mereka keluar dan menutup pintu kamar Jakson dengan rapat nya.
" Pergilah, istirahat terlebih dahulu ". Dengan baiknya, mereka berdua menurut apa kata Savira.
Savira terus memperhatikan punggung Rayzen dan juga Edward. " Kau dimana by !". Gumam nya meneteskan air mata.
Di sore hari, Edward sudah terlihat lagi bersiap pergi namun Rayzen mencegah nya.
" Tetaplah di rumah !". Cegah Rayzen, Leo menatap Edward tanpa berkata apapun karena mungkin dia bingung harus mengatakan apa di saat seperti ini. Leo seakan tak mengenali Edward yang seperti ini.
" Aku harus pergi ka ". Ronta nya menatap lurus.
" Daddy ". Teriak Nara.
Edward mematung tegas di tempat nya, telinganya seakan ikut sedih mendengar suara putri yang sangat dia sayangi, dalam tuntunan Lio, Nara meminta di lepaskan pegangan nya dan saat itu pula dia berlari mendekati Edward.
Air mata yang tertetes dalam diam membuat Edward enggan untuk menoleh, ekspresi dingin nya masih terpatri dari wajah nya seolah dia tengah menyembunyikan kesedihan nya di balik ekspresi itu.
" Daddy ". Nara meraih tangan Edward. " Daddy, lihat aku ". Pinta Nara tapi Edward masih tak kuasa menatap Nara, Edward masih merasa bersalah karena ulah dirinya Nara kehilangan mommy yang sangat di cintai.
__ADS_1
" Daddy ". Lirih Nara menarik-narik tangan Edward.
" Daddy lihat aku". Ucap Nara terdengar sendu.
Semua orang menyaksikan mereka berdua dalam hening nya ruangan.
Edward perlahan menolehkan tatapan nya.
" Daddy ". Ucap Nara kembali, Edward langsung memeluk nya begitu erat dengan tangis yang terdengar menyakitkan. " Daddy kenapa kau menangis ? apa kau merindukan mommy juga ? kenapa mommy belum menghubungiku juga Dad ? apa dia meninggalkan ku dan juga daddy ? Nara mau mommy !". Tangis nya memeluk Edward penuh kasih.
" Nara, putri daddy ! percayalah jika mommy suatu saat akan kembali ! berkumpul lagi bersama kita ! maaf kan daddy yang tidak bisa melindungi mommy mu ! maaf, maaf, maafkan daddy !" Tatap Edward pada Nara dengan air matanya. Savira tak kuasa lagi menahan tangis nya sampai Rayzen pun memeluk Savira.
" Kenapa daddy berkata seperti itu ? dimana mommy ku dad ? ". Nara menyeka air mata Edward dan seketika menjauh melangkah mundur dari hadapan Edward. " Kembalikan mommy ku dad ". Tatapan yang semula lembut kini perlahan menajam, Nara seolah mengerti apa yang tengah Edward maksud, tatapan mata Nara mengedar dan melihat semua orang tertunduk begitupun daddy Lio.
" Sayang ". Ucap Edward berdiri. " Kau masih lah kecil, untuk itu jangan membuat daddy semakin sedih dengan pertanyaan mu !". Edward hendak mendekati Nara tapi Nara malah kembali berjalan mundur dan sekarang jarak antara mereka semakin menjauh.
" Tapi dad, Nara mengerti apa yang daddy maksudkan itu hiks,,hiks,,hiks !".
Edward tak heran karena Nara memanglah pintar.
" Sayang ". Lemah Edward.
" Pasti sayang, daddy berjanji ! asal kau terus berada di samping daddy maka daddy akan bertahan !". Edward kembali memeluk Nara.
" Ed ". Ucap Lio.
" Ed, bagaimana jika Nara tinggal saja dengan kami ?!". Usul Leo yang perkataan nya seolah terdengar meminta Nara untuk tinggal bersama mereka selamanya. Lio yang hendak berkata terpotong oleh Leo, tapi dia tak menghentikan nya karena itu memanglah yang ingin dia katakan.
" Alasannya ?". Ujar Edward singkat. " Jika alasan nya adalah ketidak hadiran Ruby maka aku tak akan mengizinkan putri ku pergi !". Final Edward.
" Walaupun dia adalah putri dari kaka mu tapi kau juga harus tahu jika Nara pun adalah putriku dan aku mampu merawat nya ". Ucap Edward.
" Tapi Ed, lihatlah kondisi mu saat ini ! jangan egois, Nara butuh pengawasan dan didikan Ed ! Untuk itu biarkan kali ini aku yang merawat nya ". Seru Lio mendekati mereka.
" Egois ? aku rasa itu bukan kata yang tepat kau ucapkan ! jika kau khawatir dengan pengawasan dan didikan Nara maka maaf, keduanya dapat aku berikan padanya bahkan lebih baik dari pada yang kamu bayangkan ! Aku masih menghargaimu sebagai ayah kandung dari putri ku dan aku pun memberimu kebebasan untuk menemui Nara bahkan aku tak sedikitpun menanamkan kebencian di dalam kepala anak mu ini karena aku tahu bagaimanapun dia adalah putri mu ! Untuk itu, bisakah kau tidak berkata seperti itu di saat keadaan yang bekum membaik seperti ini ?!". Tutur Edward mepertahankan Nara agar dia tak di bawa oleh Leo dan juga Lio.
" Daddy Edward benar dad, jadi bisakah kau tak berkata dan berpikir seperti itu lagi ? Dad, kau jangan mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja ! aku memiliki dua daddy yang menyayangiku, jadi apalagi yang harus aku khawatirkan ? lagi pula aku yakin jika suatu saat mommy akan pulang dan memeluk ku kembali ". Ucap Nara.
__ADS_1
" Tapi ". Sanggah Leo yang lebih dulu terpotong.
" Tak ada tapi tapian uncle ! kau sudah besar, apa uncle masih bekum mengerti ?". Decak Nara membuat suasana seketika menghangat.
" Uncle mu memang kadang seperti anak kecil ". Ledek Edward membuat semua orang tertawa namun tak menggelak.
Zona J, di sana David masih tengah bersiap dalam posisi. " Tch, apa dia begitu menginginkan tempat ini ?!". Decih David. " Jika seperti itu maka aku tidak akan sungkan lagi melenyapkan mereka ! Kenzi, perintahkan mereka melenyapkan tikus-tikus menjijikan itu ". Perintah David tegas.
" Baik Prince !". Jawab Kenzi berlalu pergi.
David menghubungi Edward saat ini untuk misi terakhirnya. " Hallo ka, keadaan di sini mulai aman ! tapi masalahnya tua bangka itu tak ikut turun tangan ! apa perlu aku seret dia kemari ?!". Ucap David dengan tekad nya dan juga semangat nya yang terus membara.
" Apa dia di sana juga ? Itu tidak mungkin Dev, pasti dia bersembunyi di tempat nya ! Jangan pikirkan itu, biar kaka yang mengurus dia !". Sahut Edward di balik telpon David.
" Baiklah ! ka, bagaimana kabar pencarian mu, apa sudah menemukan petunjuk ?". Seru David bertanya mengenai hasil pencarian Ruby.
" Belum Dev, kaka masih mencarinya ! Dev, jika sudah usai pulanglah ! kaka akan terbang ke makau membereskan semuanya ". Ucap Edward menjadi penutup obrolan nya.
*****
Makau, dimana sekarang Edward berada, bangunan megah menjulang di pusat kota. Kasino terbesar pun tengah Edward datangi dengan keyakinan dan juga kemarahan.
" Maaf, anda tidak dapat masuk ". Cegah bodyguard yang berdiri di depan pintu, jas hitam yang di kenakan mereka seolah mencerminkan jika mereka adalah bawahan seorang bos besar.
Edward menyunggingkan senyum nya. " Tidak bisakah ? jika seperti itu maaf, kalian harus mati !". Garang Edward yang langsung menghabisi mereka berempat dengan kedua tangan nya dalam beberapa detik.
Suara ribut, mengundang beberapa pasang telinga. Edward masuk ke dalam sana dengan tegap dan juga sangar, langkah kakinya terhenti saat bodyguard yang berada di dalam pun berlarian keluar dan yang berada di luar berbondong-bondong masuk dengan senjata di tangan nya.
" Habisi dia ". Ucap Tegas salah satu dari mereka yang mungkin tangan kanan dari Jake, puluhan bahkan ratusan orang tengah menghajar Edward saat ini tapi dengan kemampuan Edward bak Singa mengalahkan mereka dengan lincah dan juga cekatan, ada beberapa luka di tubuhnya tapi tak membuat Edward tumbang.
" Ciihhh, lemah !". Ucap Edward mengejek. Mereka seakan tak terima dengan ledekan Edward membuat mereka membabi buta menyerang Edward.
Serangan mereka tak ada habis nya, Edward terbanting dan terdorong begitu keras. Tersisa beberapa orang di sana yang masih dapat berdiri, dari pintu samping terlihat seseorang berjalan, dia menghampiri Edward yang masih saja berusaha untuk bangun.
" Ini kah pemuda yang paling di takuti itu ? tch, aku rasa itu tak benar !". Ucap Jake, menginjak lengan Edward, Edward menajamkan tatapan nya dan akhirnya Edward berdiri dan mendorong Jake dengan sisa tenaganya. " ckckck, jangan macam-macam dengan ku atau hidup mu akan berakhir dan menyusul istri mu yang malang itu ". Ancam Jake.
" Aaaaa sial ". Edward tanpa terlihat gerakan nya kini tengah menyekik leher Jake, bawahan Jake bersiaga dan menodongkan pistol dari tiap sudut tubuh Edward.
__ADS_1
" Tch, Jika aku mati maka kau pun harus mati Jake sialan !". Edward semakin mengeratkan cekikan nya, bersamaan dengan itu tembakan yang tertodong pada Edward semakin menempel di kepalanya.
" Lepaskan bos kami, atau kau mati hari ini juga ". Ancam tangan kanan Jake, Jake tersenyum meledek tanpa bergerak sedikit pun. Edward bukan nya melepaskan Jake tapi malah semakin mencekik nya tanpa rasa takut. " Tembak dia ". Perintah nya saat melihat Jake seolah kehabisan nafas dan Dorr,,,Dorr,,Dorr, Suara tembakan saling bersahutan dalan ruangan itu.