
Hilir mudik pejalan kaki di tengah kota menunjukkan jika waktu kerja sudah tiba, suara klakson saling bersahutan baik itu yang beroda dua atau pun yang beroda empat. Jalanan begitu macet, suara rem pun terus berderit, Ruby mengecek jam tangan yang melingkar di tangan nya, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi dan dia harus pergi ke markas di pagi yang dingin ini. Kabut seakan menebal membuat Ruby mengenakan syal yang begitu tebal begitupun Nara.
Nara terdengar menyenandungkan lagu kanak-kanaknya dengan nada yang begitu ceria, dia tidak menolak sama sekali pergi di pagi hari bersama Ruby menemui Lucky dan juga Kenzi yang telah dia anggap sebagai gurunya dalam hal memegang senjata dan juga tembak-menembak tapi itupun dengan izin dari Edward, karena mereka berdua masih sayang dengan nyawa satu-satunya yang mereka miliki.
" mommy,,,mommy,, kenapa daddy pelgi duluan ? apa daddy sedang marah kepada mommy ?". Nara masih menggoyang-goyangkan kakinya dan tangan pun masih bertepuk seakan masih berada dalam irama lagunya. Ruby menggelengkan kepalanya sembari seutas senyum terbit dari sudut bibirnya.
Ruby melajukan mobilnya dengan kecepatan normal, jalanan nampak basah dan kabut pun masih membasahi kaca depan mobil yang sedang Ruby dan Nara tumpangi.
" Sayang, apa kau tak merasa cuaca pagi ini begitu dingin ?". Ujar Ruby dengan nada yang begitu rendah dan lembut sampai hanya orang di dekat nya saja yang akan mendengar. " Benarkan syal mu jangan seperti itu nanti kau sakit !". Lirik Ruby, Nara menghentikan aktifitas nya dan segera membenarkan baju hangat dan juga syal tebal yang di pakai nya.
Pohon rindang berjejer tertata rapih membuat jalanan sedikit gelap tapi itu satu-satunya jalan menuju markas, angin semilir terus berhembus membuat Ruby enggan membuka kaca mobil nya. Udara segar masih alami di rasakan jika melewati jalan itu di pagi hari karena belum terkontaminasi oleh asap kendaran.
Akhirnya Ruby pun tiba tepat pukul 08.30, Nara berlari melepas gandengan nya dari Ruby berteriak dengan suara melengking nya sampai semua penghuni pun tahu jika itu suara dari nona muda mereka, karena kalau bukan dia siapa lagi yang memiliki suara bagai toa.
" Nara, jangan lari nanti kau jatuh !". Teriak Ruby memperingati Nara yang terus saja berlari dengan tubuhnya seakan tertelan oleh syal dan juga baju hangat nya. " Cepat kejar dia ". Ucap Ruby kepada anggota nya yang baru saja membuka gerbang utama.
" uncle, where are you !". Teriak Nara dengan keras seakan pita suaranya sangat lentur sekali.
__ADS_1
hoshh,,hoshh, mereka berdua yang mengejar Nara begitu lelahnya terdengar dari deru nafas yang sangat tidak beraturan.
" Paman, kalian sedang apa ?" . Tanya polos nya sembari wajah dan juga matanya seakan penasaran apa yang sedang dua pria dewasa ini lakukan.
" ti,,,da,,dak nona, jika begitu kami berdua pamit ". Ucap salah satu dari mereka setelah memastikan jika nona mudanya tidak terjatuh saat berlarian tadi. Nara kembali berteriak ke sana kemari agar mereka cepat merespon.
" Nara, jangan teriak-teriak seperti itu sayang ! kau mengganggu telinga mereka, bukan kah kau bisa langsung pergi ke kamar mereka hmm ?!". Gemas Ruby di pagi hari oleh tingkah putri kecilnya itu.
" Oh ia, baiklah ". Ujarnya menunjukkan gigi rapih nya dan langsung bergegas ke kamar mereka.
Ruby menanggalkan syal dan juga baju hangat nya dan menggantungnya di bahu kursi, dia berkeliling mencari seseorang yang membuat onar di pagi hari.
Ruby menyandarkan sebelah bahunya di salah satu dinding pintu masuk memandang kekasih nya yang sedang bergulat dengan keringat nya. Mata Edward menangkap keberadaan Ruby karena dinding di sana terlapisi oleh cermin, senyum manis Ruby menjadi sarapan pagi yang mengenyangkan untuk Edward.
Edward menyelesaikan aktifitas nya, dia meraih handuk kecil dan juga air yang sudah tersedia di sana. Ruby pun berjalan menghampiri Edward dengan tangan yang menyilang di depan perut nya.
" Honey !". Seru Ruby tepat di depan Edward, tanpa aba-aba Edward mencium rakus bibir Ruby sembari kedua tangan nya menangkup wajah Ruby. Ruby menekan dada Edward dengan kedua tangan nya terkejut oleh serangan Edward yang sangat tiba-tiba. Ingin menolak tapi respon dari tubuh nya tak sejalan dengan isi hatinya, Semakin lama Ruby semakin menikmati ciuman tiba-tiba dari Edward dan dia pun mengikuti ritme nya.
__ADS_1
Edward melepaskan pangutannya memberi ruang untuk mereka berdua bernafas, oksigen di dalam tempat itu seakan sedang di perebutkan oleh mereka berdua.
Edward tersenyum geli melihat Ruby saat ini yang sedang berlomba menetralkan nafas nya.
" Baby ". Ucap Edward menarik pinggang Ruby untuk mendekat padanya.
" Lepas ". Tepis Ruby menjauh dari Edward, Ruby meraih air minum bekas Edward dan segera meminum nya sampai habis. " Dasar gila ". Umpat Ruby semakin membuat Edward geli, wajah merahnya masih terlukis di wajah Ruby.
" Apa ? apa hmmm ?!". Kesal Ruby yang tadi niatnya ingin memarahi Edward tapi malah lemah dengan kecupan singkat yang Edward berikan. " Baby apa kau tahu apa kesalahan mu ?". Seru Ruby masih berusaha tidak goyah oleh godaan nya.
" mmm, aku tahu mereka pasti mengadu kepadamu, ia kan ?!". Ujar Edward, yang di maksudkan mereka adalah Lucky dan juga Kenzi.
" Honey, kau nakal sekali ! sekali-sekali kau harus ku hukum ". Gertak Ruby terlihat tidak main-main dengan perkataannya. " Sudah ku bilang, aku tidak akan kemana-mana dan aku hanya milik mu, kau tidak harus seperti ini honey ! jika seperti ini kau seakan tidak percaya kepadaku !". Lanjutnya memijit kening yang tidak terasa pusing.
" Aku hanya takut, takut kau berpaling dariku ! betapa susahnya aku mendapat kan mu dan aku tak mau berakhir melihatmu dengan orang lain, apa itu salah ?!". Edward melingkarkan kembali kedua tangan nya di pinggang Ruby, Ruby melihat tatapan ketakutan dari sorot mata Edward.
" Apa kau masih ingat dengan perkataan ku honey ? untuk apa aku mencari pria di luar sana sedangkan pria yang begitu sempurna sudah berada di depan ku !". Tutur nya mengingatkan.
__ADS_1
" Berjanjilah dan aku pun akan berjanji !". Ucap Edward memeluk Ruby, Ruby membalas dan mengeratkan pelukan nya padahal keringat Edward masih belum kering tapi aroma tubuh Edward membuat Ruby nyaman.
" Kau bisa memegang nya sayang !". Ucap Ruby.