Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 161


__ADS_3

Tidak terasa obrolan mereka mengabiskan beberapa jam dan waktu menunjuk kan jika hari semakin pagi, merek memutuskan untuk tidur di kamar yang sudah di sediakan sedari awal.


Di pagi hari, Nara terus merengek minta pulang karena dari semalam dia menunggu mommy maupun daddy nya tak kunjung datang.


Key yang kebetulan ada di sana seusai menyelesaikan tugas membantu Alex dan juga Maxim menenangkan Nara yang terus menangis karena tak mendapati Ruby di samping nya.


" Apa kau sudah menghubungi Lady dan juga King max ?". Tanya Key masih menggendong Nara di pangkuan nya.


" Sudah, tapi mereka tidak ada yang menjawab nya, sudah beberapa kali aku menghubungi mereka tapi tetap tak ada yang menjawab ". Tutur Maxim masih berusaha menghubungi mereka berdua.


" Nara mau mommy,,, hiks,,hiks,,, mommy ". Tangis nya semakin mengeras.


" Iya iya, tenanglah nanti uncle akan mengantarmu ke sana, jadi tenanglah ". Ujar Alex sembari mengusap-usap pipi Nara.


Pagi ini mereka bertiga terlihat seperti baby siter yang sedang mengurus anak majikan nya dan mereka kelabakan menghadapinya karena selama ini mereka tidak pernah mengalami hal seperti ini.


" Coba kau hubungi orang rumah Lex ". Ucap Key kembali tapi Alex mengatakan jika di tidak memiliki kontak yang harus dia hubungi saat ini begitupun Maxim.


" Aku mau mommy,,aku mau mommy uncle ". Rengek Nara terus menerus.


" Bagaimana ini ".


Mereka frustasi di hadapkan dengan hal seperti ini.


Mereka memutuskan untuk mengantar Nara ke rumah besar Smith, Alex menyiapkan mobil dan Key menggendong Nara, Maxim tetap berada di sana untuk mengontrol beberapa tugas yang setiap harinya dia kerjakan.


" Ada apa ?". Tanya Alex yang kini tengah berada di kursi pengemudi.


" Tidak biasanya Zen menelpon di pagi hari ". Seru Key menggeser ikon hijau di atas layar bening itu.


" Ada apa ?". Ucap Key saat panggilan mereka terhubung.

__ADS_1


" Tidak ada, kalian sedang dimana ? Apa Lady dan King berada bersama kalian ?". Ucap Zen yang ternyata sedang berada di kantor bersama David karena sedari tadi mereka berdua tidak bisa di hubungi dan David memerintahkan Zen untuk menghubungi orang-orang di markas cabang.


" Tidak Zen, mereka juga kami hubungi tidak ada yang merespon nya !". Ujar Alex yang kebetulan handphone nya sengaja di loud speaker agar terdengar oleh mereka berdua.


Pendengaran Zen begitu tajam sehingga tangis pelan Nara pun terdengar.


" Kalian sedang dimana ? siapa yang sedang menangis ? apa kalian membuat anak orang menangis hah ?". Cehcar Zen belum sadar jika tangis itu berasal dari suara anak kecil.


" Bicara apa kau ini zen, kita bukan orang seperti itu ya asal kau tahu ". Protes Key.


" Lalu siapa ?". Seru Zen.


" Nara, nona muda kita ". Jawab nya pelan.


" Siapa kau bilang ?". Teriak David yang sudah mengambil alih handphone dari tangan Zen dan langsung mengaktifkan pengeras suara.


" Selamat pagi Prince ". Sapa mereka berdua menundukkan kepalanya walaupun orang nya tidak terlihat.


" Uncle, hiks,,hiks,,hikss ". Panggil Nara di sela tangis nya yang kini kian terdengar.


" Sayang kamu kenapa, apa mereka menyakitimu ? jika benar akan uncle bunuh mereka sekarang juga karena mereka telah membuat mu menangis !". Ucap David tanpa henti, kini wajah nya di selimuti rasa khawatir pada keponakan nya itu.


" hiks,,hiks,, mereka baik uncle, Nara menangis karena mommy tidak ada hiks,,hiks,,hiks ". Layaknya anak kecil yang kehilangan induknya dan kini tengah melanda Nara.


" cup,,cup,,cup,, anak pintar jangan menangis loh ! memangnya kemana mommy and daddy mu sayang ? kenapa mereka tidak bersama Nara ?". Ujar David seolah sedang mencoba menenangkan keponakan cantik nya itu.


" Tidak tahu, Nara tidak tahu uncle ! kemarin mommy pergi dan Nara di tinggal mommy bersama uncle Alex dan juga uncle Max ". Adu nya, padahal kemarin sebelum mommy nya pergi dia minta izin lebih dulu dan bahkan mengajak Nara ikut tapi Nara menolaknya karena bermain di markas lebih menyenangkan menurut nya.


" Di tinggal ? Uncle akan memarahi mommy dan daddy mu jika bertemu nanti, sekarang sudah jangan menangis lagi nanti Nara tidak cantik lagi, kalau Nara tidak cantik lagi maka uncle tidak mau bermain lagi dengan Nara !". Ucap David seakan penuh dengan kesungguhan dan itu terpatri dari kata-kayanya yang padahal ucapan itu hanya untuk menenangkan Nara.


" Eum !! Nara tidak menangis lagi uncle, jika Nara tidak cantik lagi bagaimana Nara mendapatkan pria setampan uncle nantinya ". Ucapan polos Nara membuat Alex dan juga Key yang sedari tadi mendengarkan seakan ingin cepat-cepat memiliki seorang putri yang menggemaskan seperti diri nya.

__ADS_1


" Baiklah, uncle tutup telpon nya yah, semoga harimu menyenangkan ". Sambungan mereka berakhir dan Nara pun memberikan kembali handphone Key yang sedari tadi tak lepas dari tangan nya dengan senyum cantik yang mengembang dari kedua sudut bibir nya.


" Ini uncle ". Ucap Nara.


" Kau semakin cantik kalau seperti ini !". Ujar Key meraih karet untuk mengikat rambut panjang milik Nara.


" kemari lah ". Key segera mengikat nya, dengan sangat hati-hati.


" Uncle, apa kalian senang jika memiliki kekasih yang cantik ?". Ucap Nara duduk di pangkuan key dengan nyaman. Alex menoleh dan tersenyum.


" Pasti, apalagi jika dia cantik seperti mu, pasti uncle akan lebih senang ". Ujar Alex kembali menatap ke depan karena masih mengemudikan mobil nya.


" Apa Nara benar-benar cantik ?!". Tanya nya menyeru dengan centil nya.


" Apa uncle sedang terlihat berbohong padamu ? ". Ucap Alex.


" Baiklah, Nala percaya ". Nara memiringkan badan nya menghadap kaca pintu, masih dengan tubuh yang berada di pangkuan Key.


" Tidur lah jika nona muda ku ini masih mengantuk ". Peluk erat Key pada Nara seolah menghangatkan tubuh mungil nya itu.


Ruby dan juga Edward masih belum bisa di hubungi, mungkin mereka masih terlelap dengan tidur nya.


Nara pun tidur kembali begitupun Key ikut memejamkan matanya, Alex masih fokus akan kemudinya dan menyusuri jalan yang terlihat masih sepi dan udara pun masih asri.


Sebagian orang masih tenang dengan hidup nya di pagi hari tapi tidak untuk sepasang suami istri yang kini tengah mengintai jalanan yang menurut informasi dari anak buah nya jika saat kejadian mereka menemukan nya di sekitar sini dan Jeffrey pun mencoba mengawali pencarian nya dari sana bersama istri dan juga tiga anak buah nya yang dia ikut sertakan.


" Lihatlah mobil hitam itu ". Mereka segera menajamkan penglihatan nya pada mobil yang tidak jauh dari pandangan mereka.


" Hentikan mobil itu ". Perintah langsung pada anak buah nya.


Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ingin segera sampai, di ujung yang hampir memasuki kota terlihat beberapa orang yang berlalu lalang di sana dan Alex tidak curiga akan hal itu

__ADS_1


||


__ADS_2