Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 148


__ADS_3

Hari esok pun menjemput, Ruby masih bergelut dengan keringat di tubuh nya, sasak menjadi sasaran pukulan dan tendangan tangan kakinya.


Deru nafas kian mendesak berlomba-lomba keluar dan masuk lewat indra, Air mineral menjadi tujuan nya saat ini, dengan sekali teguk, Ruby bisa sampai menghabiskan seisi botol itu yang berukuran kecil.


" euuuhh, hufhhh ". Deru nya langsung terduduk di atas matras dan tidak lama membaringkan tubuh nya secara lurus. Mata tertutup tapi Ruby masih mengatur nafas nya perlahan.


Tak lama, suara yang Ruby kenal sedang berteriak memanggil namanya dan siapa lagi kalau bukan Nara si suara cempreng menggemaskan juga menggelikan di telinga.


" Di sini ". Balas Ruby berteriak, langkah kaki berbenturan dengan lantai kian terdengar di telinga.


" mommy, ayo, ayoo ! bukan kah hari ini kita akan berkunjung ke rumah grandma ?!". Sembari menarik Ruby, ekspresi Nara kembali membuat Ruby menautkan alis nya heran ada apa dengan putrinya sangat tidak sabar bertemu keluarga Ruby tapi di dalam hati Ruby pun bersorak jika dirinya sangat bahagia bila Nara begitu antusias dengan pertemuan yang mungkin akan membuat semua orang di sana jantungan.


" Ayo tarik mommy, lutut mommy sakit ". Manjanya kepada Nara seolah Ruby begitu sengaja mengulurkan tangan panjangnya agar lekas Nara tarik.


" mommy kan berat ". Ledek nya tapi dengan berusaha menarik mommy nya agar berdiri.


" tchh, anak nakal ! badan mommy kecil begini bagaimana bisa berat ". Decak nya langsung berdiri.


" Daddy bilang kalau mommy berat dan itu benar ". Cengir Nara, Ruby tidak menyangka jika Edward berani mengumpat di belakang nya, dengan melenggangkan kakinya tidak merubah rasa kesalnya walaupun tangan kirinya menarik lembut tangan Nara tapi masih ada rasa jengkel di dalam hatinya, jika Nara dibiarkan dekat dengan Edward pasti sifat nya tidak akan beda jauh ! Batin Ruby.

__ADS_1


" Baiklah, ayo kita berangkat !". Seruan Ruby membuat Nara berjingkrak di atas kasur nya seusai mandi dan juga berdandan feminim tapi masih terkesan tomboi. Mereka berdua mengenakan baju yang senada, benar-benar terlihat sangat serasi dan juga mirip.


" Aku jalan sendiri, kan punya kaki ". Laga nya melenggangkan kakinya menuju mobil yang telah siap untuk di pakai, wajah nya berseri sehingga bibir pun ikut tersenyum dengan semangatnya.


" ckckck, Awas minta gendong ". Rengut Ruby mengekori Nara dari belakang tanpa di indahkan.


" Aku kan udah besal mom ". Lirik nya menoleh ke samping belakang.


" diihh, ayo masuk ". Ucap Ruby tak membukakan pintu mobil nya sengaja karena begitu gemas dengan tingkah sok dewasa dari putrinya. Nara mencoba membuka pintu mobil, segala usaha telah dia kerahkan tapi tak kunjung terbuka, Ruby menatap santai sembari tangan nya melipat dan kunci mobil pun masih di kalung kan di jari telunjuk nya.


" mom ". Kesal Nara dengan rengekan pada mommy nya, Ruby menaikkan satu alisnya dan juga sunggingan bibir terlukis dari sana. " mom, boleh minta tolong bukakan pintu ini tidak ?!". Polos nya nyengir kuda sampai bola mata pun tak terlihat saking sipit nya itu mata.


" Yaudah awas jangan disitu ". Tarik Ruby sedikit menjauhkan tubuh Nara dari pintu.


" shhh, kau memang putri daddy mu !". Ujar Ruby segera memasangkan sabuk pengaman untuk Nara begitupun dirinya yang saat ini tengah duduk di kursi kemudi yang biasanya di isi oleh Edward.


" putri mommy juga ". Bangganya mencium pipi Ruby sesaat setelah mobilnya melaju. Ruby menatap lembut mata polos itu dengan senyum yang kesini semakin menghangat dan juga lembut.


Sepanjang perjalanan yang kebetulan melewati perkotaan dan berujung dengan melewati pedesaan, mata Ruby tak henti-hentinya melihat banyak sekali orang hilir mudik mencurigakan dan terlihat pula beberapa divisi intai yang sedang membaur dengan para pengguna jalan.

__ADS_1


" Tch, apa mereka masih saja bertugas seperti ini ?!". Batin Ruby, tidak usah bagaimana dia tahu jika mereka adalah mafioso nya dan sebagian dari mereka adalah musuh yang sedang berpencar, terlihat beberapa dari mereka menunjukkan sebuah photo yang entah apa yang ada di sana. Seketika senyum smirk tersungging dari bibir Ruby.


" Daddy ". Ucap Nara sedikit dengan nada tingginya, Ruby menoleh saat itu juga.


" mom, itu daddy ". Tunjuk Nara.


Ruby mengira jika daddy yang Nara maksud adalah Edward tapi nyatanya bukan, dia adalah Sehalio ayah kandung dari Nara. Terlihat dia sedang berjalan bersama Leo, Lexi dan juga Andrew. Wajah mereka begitu frustasi dan juga lelah, tersemat di wajah mereka masing-masing.


Tadinya Ruby menepikan mobil nya agar Nara lebih leluasa dan juga jelas melihat orang itu tapi yang benar saja saat kaca mobil dibuka mereka telah tak ada di sana membuat kedua mata mereka mengedar.


" Tidak apa sayang, nanti bila sudah waktunya nya bertemu pasti akan di pertemukan ".


" eumm ". Jawab nya.


Setelah membelah jalan yang tidak sedekat itu, akhirnya mereka sampai di rumah yang sudah di pastikan jika penghuni Rumah kini sedang berkumpul di dalam sana.


" Ayo, kenapa kau masih duduk sidakep di situ ". Ruby membuka pintu mobil dan mengulurkan tangan kanannya meraih tangan Nara. Terlihat pak Alan menghampiri Ruby.


" non ". Sapanya menunduk sekilas dan kembali tegap.

__ADS_1


" Pak tolong ambilkan koper saya di dalam mobil yah". Ujar Ruby sopan, Pak Alan terus menatap Nara begitu selidik dan perlahan berjalan mendekati mobil dengan pintunya yang masib terbuka.


" mommy aku bisa sendiri ". Nara memaksa ingin berjalan sendiri ke dalam tanpa tuntunan dari Ruby


__ADS_2