Mafia Girls

Mafia Girls
Eps 173


__ADS_3

Ronald menolehkan kepalanya dan melihat Ruby yang sedang memejamkan mata. " tidak usah khawatir, dia baik-baik saja ". Seru Ronald. " kita bertemu di sana, kalian kembalilah !". Ucap Ronald memutuskan sambungan telpon nya. Saat dia hendak meletakan handphone nya, dering ponsel terdengar berbunyi, di sana tertera nama Jasmine. Ronald enggan untuk menjawab, dia malah mengganti handphone nya ke mode silent.


" Ruby bangunlah, kita sudah sampai ". Ucap Ronald sedikit mengguncang tubuh Ruby. " Al bangunlah ". Ucap Ronald kembali. Perjalanan mereka tak ada hambatan menjadikan Ronald lebih leluasa melajukan mobil nya.


Ruby terbangun dan menyelaraskan pandangan nya. " Kenapa malam ini dingin sekali ". Ucap Ruby sembari menguap. Ronald membuka jaket nya dan memakaikan pada tubuh Ruby.


" Pakailah !". Seru Ronald.


Mereka berjalan beriringan dengan tangan Ronald merangkul pundak Ruby. " Ka gendong aku ". Ruby sudah malas untuk berjalan saat ini, dengan sigap Ronald menggendong nya ala koala.


Banyak pasang mata yang menatap mereka tapi Ronald tidak peduli akan hal itu.


Di ruang rawat Nara, mereka sudah berdatangan tapi belum ada yang masuk karena memberi ruang terlebih dahulu untuk Lio bahkan Jakson dan juga Savira tidak tahu jika mereka sudah berada di depan pintu.


Di dalam sana suasana begitu hening saat Nara mengucapkan jika Lio bukan lah daddy nya, Jakson dan juga Savira pun tak menyangka perkataan itu keluar dari mulut Nara. Lio mematung, tubuhnya bergetar, kakinya lemas, untuk berdiri pun dia tidak bisa, jantungnya terus berdebar, saking kencang nya membuat nafas Lio memburu.


Nara terus memandang lekat wajah Lio, perubahan demi perubahan tidak Nara lewatkan, reaksinya begitu memilukan jika di pandang.


" Nara sayang, kau tak boleh berkata seperti itu kepada daddy mu, itu sangat kasar sayang ". Ucap Savira yang masih tidak percaya akan perkataan keponakan nya itu sampai dirinya dan juga Jakson terdiam lama bergelut dengan argumennya masing-masing yang terus berputar di kepala.


Jakson Berdiri dan mendekati Nara. " Ia sayang, itu sangat kasar sekali, kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu lagi,mengerti !". Seru Jakson seakan sedang memberi pepatah kepadanya.


" Tapi itu benar Grandpa, dia bukan daddy ku !". Ucap Nara kembali mengatakan jika Lio benar-benar bukan lah ayah nya. Lio memangku dagunya dan melamun seolah kata yang Nara ucapkan adalah hukuman baginya.


" Bicaralah kembali ". Ucap Jakson yang sudah berdiri dan menepuk bahu Lio , Jakson berucap pelan pada Savira dan mengajak nya keluar.


Saat mereka keluar. " Apa yang kalian lakukan ? Apa Ruby sudah di temukan ? Apa kalian tidak dengar, jangan dulu pulang jika kesayangan ku belum di temukan ?!". Ujar Jakson yang matanya menangkap mereka sedang duduk bersampingan.


" Dia sedang menuju ke sini dad ". Seru Edward berdiri hendak masuk.


" Jangan ke dalam dulu, biarlah dia mengobrol dengan anak nya !" Cegat Savira pada Edward.

__ADS_1


Nara masih tidak mengakui jika Lio adalah daddy nya. Mereka masih terdiam dengan tatapan yang terus beradu.


" Nara jangan seperti ini, daddy mohon !". Lirih Lio kembali menggenggam tangan Nara dan mengecupnya berkali-kali. " Maaf, maafkan daddy !". Ucap Lio.


" Daddy ku sangat tampan, aku memandangi potret nya setiap hali ! Apa kau sedang membohongiku ?". Seru Nara tiba-tiba seolah tidak terima jika dia mengaku-ngaku sebagai daddy nya, karena terakhir dia melihat daddy nya, dia begitu tampan dan juga manis dengan wajah yang tegas melengkapi ketampanan nya.


Lio yang mendengar itu langsung ternganga, dia tidak mengakuinya hanya karena wajah nya yang seperti ini. Karena memang nyata nya sekarang tubuh Lio kurus dan juga wajahnya semakin tirus.


" Bagaimana bisa aku membohongi putri kecilku hmm ?". Seru Lio, terselip senyum tipis dari bibir Lio.


" Tapi kenapa kau berbeda dengan di photo ? ". Ucap Nara menatap setiap inchi wajah Lio. " Apa kau jarang makan ?". Ujar langsung Nara. Lio tersenyum kecut.


" Hem, Apa benar kau daddy ku ?". Tanya Nara kembali sembari berusaha untuk duduk, Lio dengan sigap membantunya, mungkin agar dirinya lebih leluasa menatap Lio. " Nala penah melihat wajah mu saat pertama Nara pulang dari Irlandia, tapi saat mommy menepikan mobilnya, Nara tidak melihatmu lagi. Saat itu wajah daddy ku sangat tampan dan berisi ". Ujar Nara polos membuat Lio begitu gemas, dia berpikir kenapa Nara sangat cerewet, apa dia benar-benar putrinya yang pendiam itu ?.


" Apa iya ? Apa sekarang daddy tidak tampan lagi ?". Seru Lio, dia menunggu sedari tadi untuk Nara memanggilnya dengan sebutan Daddy.


" eum". Angguk Nara. Lio menatap haru, dia tidak menyangka jika putri tumbuh dengan sangat pesat, walaupun hanya sebentar saja dia tinggal bersama Ruby tapi perkembangan nya begitu tidak masuk akal. " Daddy ". Ucap Nara menatap Lio yang terbengong.


Lio langsung memeluk nya, suara tangis terdengar lirih dan juga menderu, Lio memeluk Nara begitu erat namu lembut. " Maaf, maafkan daddy ! kembalilah kepada daddy, jangan tinggalkan daddy !". Lirih Lio. Entah kenapa, Nara pun ikut menangis saat Lio menangis.


" Hiks,,,hiks,,hiks,,hiks ". Tangis Nara, Lio langsung melepaskan pelukan nya dan mengusap lembut air matanya.


" Maaf, apa daddy menyakitimu ? mana yang sakit nya, maaf daddy tidak sengaja !". Resah Lio memeriksa tubuh Nara takut dia menekan lukanya.


" hikss,,ti,tid,ak, hiks ". Nara malah sesenggukan dan berbicara gagap membuat Lio merasa bersalah. Nara perlahan berhenti sesenggukan dan saat itu pula pintu ruang rawat Nara terbuka.


" Mommy ". Teriak Nara yang berubah ceria saat melihat Ruby datang ke tempat nya.


" Yak yak yak,, jangan teriak seperti itu nanti tenggorokan mu sakit ". Ucap Ruby tang semakin mendekat ke ranjang Nara dengan mata kantuk nya. Ruby mengacuhkan Lio yang masih berada di sana.


" Mommy kemana saja?, sedari tadi Nara menunggumu ". Seru Nara langsung memeluk pelan Ruby yang sudah duduk di samping nya. Lio hanya menyaksikan mereka saja tanpa mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


" Mommy tadi ada urusan sebentar sayang, kenapa kau tidak tidur dan istirahat hmm, lihatlah ini sudah larut malam ?!". Ucap Ruby membaringkan tubuh Nara dan sekilas menatap jam dinding yang berada di sana. " Tidurlah, mommy akan menemanimu ". Seru Ruby yang ikut juga membaringkan tubuhnya di samping Nara karena kebetulan ukuran ranjang itu besar.


" Siap kapten ". Semangat Nara karena malam ini akan tidur bersama mommy nya jadi dia tidak kesepian saat tidur. Ruby menarik selimutnya dan memejamkan matanya yang lelah, Lio masih belum beranjak dari sana, dia heran dengan Ruby dan juga anak nya saat ini. Mereka anggap apa aku ini ? Batin Lio berdiri.


" Jangan lupa matikan lampunya ". Ujar Ruby yang sebenarnya belum terlelap, hanya matanya saja yang terpejam. Lio melanjutkan langkah nya dan sebelum membuka pintu, dia mematikan lampunya terlebih dahulu.


" Selamat malam ". Ucap Lio memutar kenop pintu, Ruby memeluk Nara erat seakan tidak ingin kehilangan nya.


Keadaan diluar masih ramai, Lio menutup kembali pintu itu. Semua mata menatap nya seolah mereka akan melahap nya mentah-mentah.


" Mereka tidur dan menyuruh ku mematikan lampu nya ". Ucap Lio yang tidak tahu harus bicara apa saat dirinya menjadi sorotan para mata tajam di sekelilingnya.


" Tidur, Ruby juga ?". Seru Edward dan Lio menganggukkan kepalanya.


" Dia pasti kelelahan Ed, biarlah dia tidur !". Ujar Ronald yang tahu keadaan Ruby tapi dengan tenang nya dia bisa menyembunyikan semua itu dengan wajah dingin nya.


" Bentar, apa tadi dia tidak melihat kue tart dan juga bunga nya ?". Timpal David penasaran karena semua itu diletakkan di meja.


" Tidak, saat mendekati Nara dia langsung duduk di sampingnya dan juga menyuruh Nara tidur dan dia juga pun ikut tidur di samping nya ". Ucap Lio mengatakan apa yang dia lihat.


" Yaah, jadi bagaimana dengan kejutan nya dad ? ". Cemberut David karena kejutan yang di buatnya gagal total.


" Sudahlah, kenapa kau masih memikirkan hal itu ?". Ucap Brayn.


Malam yang melelahkan membuat mereka tidak bisa menahan kantuk nya, mereka tidak mungkin untuk tidur di bangku tunggu karena itu tidak lah muat.


" Ka, kalian istirahatlah di ruangan itu, aku sudah meminta izin pada pihak rumah sakit untuk memakai ruangan itu !" Seru Edward melihat jika daddy nya sudah nampak lelah.


Akhirnya mereka beristirahat. Revan, Revin dan juga Ronald pun memutuskan untuk tetap tinggal di sana. Edward terduduk sembari memangku dagunya berpikir.


|

__ADS_1


__ADS_2